Lewati ke konten

Rafika Membuktikan: Polyethylene dari Wadah Sekali Pakai Mendominasi Tubuh Kita

| 7 menit baca |Sosok | 57 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi

Film The Plastic Detox memantik kekhawatiran baru: mikroplastik diduga mengganggu hormon hingga kesuburan. Lalu, seberapa kuat bukti ilmiahnya di Indonesia?

Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap paparan mikroplastik, film dokumenter The Plastic Detox memantik perdebatan baru, benarkah partikel plastik yang nyaris tak terlihat ini telah mengganggu hormon, kesuburan, bahkan diwariskan lintas generasi?

Narasi yang dibangun film tersebut terasa kuat, bahkan mengkhawatirkan. Sejauh mana temuan itu benar-benar relevan dengan kondisi di Indonesia?

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mikroplastik di Indonesia memang berkembang pesat. Sejumlah studi telah menemukan keberadaan partikel ini di berbagai komponen lingkungan, mulai dari air, tanah, hingga biota perairan. Bahkan, temuan mikroplastik kini mulai merambah ke dalam tubuh manusia, dari feses, urin, darah, hingga cairan amnion ibu hamil. Meski demikian, sebagian besar riset tersebut masih berhenti pada tahap identifikasi keberadaan, belum sepenuhnya mengurai dampaknya terhadap kesehatan manusia secara komprehensif.

Di sinilah pentingnya membaca temuan ilmiah secara lebih hati-hati sekaligus kontekstual. Berikut jurnalis TitikTerang, Supriyadi dalam wawancara dengan Kepala Laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Rafika Aprilianti. 

Jebolan Biologi Universitas Islam Negeri Malang ini juga menjelaskan bagaimana posisi riset mikroplastik di Indonesia saat ini, temuan terbaru yang mulai mengaitkannya dengan respons biologis tubuh, hingga potensi dampaknya terhadap kesehatan reproduksi.

Rafika yang sudah menggeluti penelitian selama lima tahun terakhir, juga menyoroti kesenjangan antara perkembangan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan cara isu ini dikomunikasikan kepada masyarakat- termasuk melalui film dokumenter yang sarat pendekatan emosional. Berikut wawancara kami yang berlangsung di kawasan Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, Senin, 30 Maret 2026.

Dalam film The Plastic Detox, disebutkan bahwa mikroplastik dapat mengganggu hormon (endocrine disruption). Sejauh mana temuan ini relevan dengan kondisi di Indonesia?

Penelitian mikroplastik di Indonesia mulai ramai sekitar tahun 2017 hingga saat ini, namun penelitian mikroplastik di Indonesia banyak dilakukan di komponen lingkungan, misalnya air laut, sungai, tanah, biota perairan, misal ikan udang dan lain-lain, termasuk produk perawatan diri hingga sampai meneliti keberadaan mikroplastik di sampel biologis manusia, feses, urin, darah, amnion.

Penelitian mikroplastik di Indonesia sampai saat ini lebih banyak hanya mengetahui keberadaannya saja, untuk penelitian mikroplastik di Indonesia yang meneliti dampak kepada penurunan kesehatan manusia masih belum ada, namun ada beberapa ahli peneliti yang sudah meneliti di hewan coba secara laboratorium. Dan terbukti ada dampak mikropastik terhadap kesehatan tubuh.

Sedangkan di luar negeri misalnya Cina dan Amerika sudah banyak yang membuktikan bahwa mikroplastik dan senyawa plastik ini berbahaya bagi tubuh manusia dan penurunan kesehatan tubuh. Salah satunya mengganggu hormon karena ada salah satu senyawa plastik yaitu plasticizer yang termasuk EDC (Endocrine Destrupter Chemical).

Maka penelitian lanjutan dampak mikroplastik pada tubuh manusia di Indonesia penting dilakukan. Salah satunya bulan Februari 2025 Greenpeace bersama Fakulta Kedokteran Universitas Indonesia (Jakarta) membuktikan bahwa adanya mikroplastik dalam darah, urin dan feses memengaruhi penurunan kognitif seseorang.

Dilanjutkan temuan ECOTON bersama Fakultas Kedokteran UNAIR (Surabaya) membuktikan bahwa adanya mikroplastik pada cairan amnion (ketuban ibu hamil) meningkatkan kadar Malondialdehid (MDA) sebagai respon inflamasi (peradangan) pada cairan amnion tersebut.

Apakah penelitian di Indonesia, khususnya oleh Ecoton, juga menemukan mikroplastik dalam tubuh manusia seperti darah atau organ?

Ya, Ecoton telah menemukan adanya mikroplastik berdampak pada cairan. Ee… amnion ibu hamil. Dan mikroplastik ini berkorelasi dengan adanya peningkatan kadar MDA (Malondialdehid), sebagai respon inflamasi (peradangan) jenis polimer plastik yang dominan ditemukan adalah jenin polyethylene (PE) yang banyak digunakan sebagai botol plastik sekali pakai, mika plastik, dan lain-lain

Dan saat ini Ecoton dengan FK UNAIR sedang running meneliti mikroplastik pada cairan sperma untuk membuktikan apakah mikroplastik benar-benar mikroplastik berpengaruh pada kesehatan reproduksi pria di Indonesia.

Film ini mengaitkan mikroplastik dengan masalah kesuburan. Bagaimana pandangan Anda terhadap hubungan antara paparan mikroplastik dan infertilitas?

Sudah banyak bukti ya jurnal ilmiah yang membuktikan bahwa senyawa plastik termasuk mikroplastik mengganggu kesehatan tubuh manusia termasuk ganguan reproduksi. Penelitian ini kebanyakan memang sudah dilakukan peneliti luar negeri. Penelitian-penelitian tersebut membuktikan bahwa plastik benar-benar mengganggu kesehatan tubuh manusia.

Mungkin orang-orang belum banyak menyadari karena dikemas sebatas jurnal ilmiah, dan dengan adanya film The Plastic Detox ini sangat membantu. Jadi orang bisa memahami secara langsung bukti nyata yang dialami oleh orang-orang bahwa plastik bisa mengganggu kesehatan reproduksi diketahui dengan adanya ftalat dan BPA salah satu senyawa plastik pada urin, dan kesehatan sperma dan ovum pasangan sudah menikah.

Dan dengan adanya reduce penggunaan plastik terbukti bisa membantu memperbaiki kesehatan pasangan tersebut. Karena 40% bahan kimia yang ada di lingkungan memengaruhi kesehatan tubuh kita ya ftalat dan BPA- nya jadi menurun dan jumlah spermanya meningkat.

Di film tersebut dijelaskan bahwa senyawa plastik ini dapat diturunkan ke calon bayi bahkan sampai 3 keturunan.

Rafika Aprilianti berpose di depan instalasi seni berbentuk keran air yang “mengalirkan” botol plastik, simbol krisis mikroplastik yang kian dekat dengan kehidupan manusia—bahkan hingga ke dalam tubuh. Instalasi ini menjadi pengingat bahwa polusi plastik bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan. | Dok

Dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang digambarkan dalam film, kita sangat dekat dengan plastik. Menurut Anda, sumber paparan mikroplastik terbesar bagi masyarakat Indonesia berasal dari mana?

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pertama penggunaan plastik sekali pakai untuk wadah makan dan minuman, apalagi makanan dan minuman panas. Karena mikroplastik tersebut langsung masuk dalam tubuh manusia.  Misalnya saat kita beli bakso atau soto dan lain-lain, panas langsung diwadahi plastik tipis.

Kedua mikroplastik di udara karena adanya mikroplastik di lingkungan salah satunya karena tumpukan dan pembakaran sampah liar.  Ketiga, ini yang perlu kita perhatikan, yait barang-barang plastik sekali pakai yang kita gunakan sehari-hari. Misal spons cuci piring, parfum ada ftalatnya, produk perawatan diri ada microbeads-nya, teh celup kantongnya dilapisi plastik.

Rafika Aprilianti berdiri di depan paparan bertajuk “Mitigation of Microplastic Pollution”, menegaskan pentingnya upaya ilmiah dalam memahami dan menekan dampak mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. | Dok

Film ini juga menyinggung lemahnya regulasi dan pengaruh industri plastik. Bagaimana Anda melihat kondisi kebijakan plastik dan pengendalian mikroplastik di Indonesia saat ini?

Masih kurang karena terbukti di lingkungan masih ditemukan sampah plastik tercecer di sungai dan laut yang dapat meningkatkan cemaran mikroplastik. Meskipun ada beberapa kota/kabupaten yang sudah mempunyai regulasi pembatasan plastik sekali pakai. Tapi tidak dilakukan dengan masif pembatasan Tersebut. Hanya melarang penggunaan kantong plastik di supermarket saja.

Padahal sumber plastik sekali pakai ada banyak. Misalnya styrofoam, popok sekali pakai, sedotan, plastik mika, botol plastik sekali pakai, sachet, sekarang malah kalau beli jajan semua dibungkus plastik.

Seberapa besar peran industri dibandingkan individu dalam menyumbang krisis mikroplastik ini?

Semua siklus hidup plastik ya menjadi masalah, mulai dari pembuatan, penggunaan hingga jadi sampah. Jadi harus saling berkolaborasi dalam pengurangan mikroplastik ini. Apalagi tidak hanya dampak lingkungan yang dihasilkan.

Tapi juga dampak kesehatan sudah terbukti, salah satu yang harus ikut andil adalah produsen penghasil plastik, harus redesign kemasan bisa kok mengurangi plastik buktinya zaman dulu masih minim plastik, misalnya kalau ada acara konsumsinya bisa model prasmanan dan airnya refil.

Sekarang konsumen dimanjakan dengan adanya produk yang serba instan. Jadi konsumen jadi ketergantungan

Dalam film The Plastic Detox, eksperimen terhadap enam pasangan diakui bukan studi ilmiah formal. Menurut Anda, apakah etis menjadikan eksperimen dengan keterbatasan metodologis sebagai dasar narasi publik yang kuat?

Itu termasuk salah satu contoh bahwa dampak plastik menganggu kesehatan resproduksi. Dengan adanya eksperimen tersebut menjelaskan secara langsung kepada masyarakat bahwa dampak plastik sampai ke gangguan reproduksi.

Etis saja ya selagi sudah ada kesepakatan dengan responden, ini juga tidak menguntungkan peneliti saja tapi juga responden.

Film ini cenderung menyederhanakan penyebab infertilitas menjadi paparan bahan kimia dari plastik. Bagaimana Anda melihat risiko penyederhanaan ini terhadap pemahaman publik tentang isu kesehatan yang sebenarnya multifaktor?

Dampak plastik memang cukup kompleks. Dengan adanya film ini bisa memahamkan orang awam sekalipun, bukti ilmiah dan visul datanya juga mendukung.

Film ini sangat mengandalkan pendekatan emosional. Apakah menurut Anda penggunaan rasa takut (fear appeal) dalam isu lingkungan seperti mikroplastik efektif sebagai edukasi, atau justru berpotensi menyesatkan?

Efektif untuk edukasi, bukan sekedar meningkatkan rasa takut tapi ini membuktikan secara ilmiah, bagaimana plastik mengganggu kesehatan reproduksi.

Ada kritik bahwa film ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi komunikasi yang didukung pendanaan besar, termasuk dari Minderoo Foundation. Sejauh mana pendanaan dapat memengaruhi independensi narasi dalam film dokumenter?

Dalam penelitian memang dibutuhkan dana cukup besar dan harus berkolaborasi antar peneliti, pemerintah, swasta, produsen, karena bukan hanya kepentingan satu pihak saja ini kepentingan bersama.

Menurut Anda, apakah film seperti ini lebih banyak mendorong perubahan kebijakan berbasis bukti, atau justru membentuk opini publik yang bisa melampaui atau bahkan mendahului konsensus ilmiah?

Harusnya bisa mendorong kebijakan publik khususnya di Indonesia dan yang paling penting mememahamkan masyarakat terkait bahaya penggunaan bahan kimia plastik. ***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *