Lewati ke konten

Studi Sperma Sri Astika: Polietilena dan Fragmen Plastik Menjadi Musuh Baru Kesuburan Pria

| 12 menit baca |Sosok | 35 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Sperma kini tak lagi steril dari polusi: riset Sri Astika menemukan mikroplastik, dengan polietilena dan fragmen plastik diduga mengancam kualitas serta masa depan kesuburan pria.

Persoalan plastik tak lagi berhenti di sungai, laut, atau tanah, benda itu telah menembus batas paling intim dalam tubuh manusia. Partikel mikroplastik yang dahulu dipahami sebagai persoalan lingkungan, kini perlahan mengarah pada isu kesehatan, bahkan hingga ke sistem reproduksi.

Data dari World Health Organization menunjukkan tren penurunan kualitas sperma dalam lima dekade terakhir, bersamaan dengan meningkatnya angka infertilitas pria secara global. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: sejauh mana faktor lingkungan—termasuk mikroplastik—berperan dalam perubahan tersebut?

Berangkat dari keresahan itu, Sri Astika, mahasiswa perempuan Biologi, Angkatan 2023, Universitas Negeri Surabaya, melakukan penelitian yang menyoroti keberadaan mikroplastik dalam cairan sperma. Penelitian yang masih jarang dilakukan di Indonesia ini mencoba membuka tabir awal tentang kemungkinan keterkaitan antara paparan mikroplastik dan kualitas reproduksi pria.

Melalui proses ilmiah yang dilakukan secara bertahap, mulai dari studi literatur, pengambilan sampel di Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya, hingga analisis di laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON).

Riset ini menghadirkan gambaran awal yang mengundang perhatian sekaligus kekhawatiran. Hasilnya tidak sederhana. Mikroplastik ditemukan dalam seluruh sampel yang diteliti, menandai paparannya telah mencapai sistem reproduksi manusia. Lebih jauh, terdapat indikasi keberadaan partikel berkaitan dengan penurunan kualitas sperma, baik dari jumlah, bentuk, maupun pergerakannya.

Temuan ini menempatkan mikroplastik bukan lagi sekadar ancaman lingkungan, tetapi juga sebagai isu kesehatan yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan generasi manusia.

Melalui wawancara bersama jurnalis TitikTerang, Supriyadi, Sri Astika memaparkan proses penelitian, temuan utama, hingga refleksi atas keterbatasan dan urgensi riset lanjutan. Sebuah upaya awal untuk memahami bagaimana plastic yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, diam-diam memasuki tubuh dan mungkin mengubah masa depan reproduksi manusia.

Berikut petikan wawancaranya, yang berlansung di sela-sela kesibukan Sri Astika yang sedang studi independen di Ecoton, Rabu, 1 April 2026.

 

Apa yang melatar belakangi Anda memilih topik penelitian tentang mikroplastik dalam cairan sperma?

Ya, pertama karena adanya rasa risau terhadap paparan mikroplastik yang semakin meluas dan sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, meningkatnya kasus infertilitas secara global juga menjadi perhatian, termasuk di Indonesia yang turut menghadapi kecemasan terkait polusi plastik.

World Health Organization, WHO ya, juga merilis data yang menunjukkan penurunan kualitas sperma dalam 50 tahun terakhir, disertai peningkatan persentase infertilitas pria yang berkisar antara 30–40%. Hal ini mengindikasikan adanya faktor lingkungan yang berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi.

Dari sisi novelty, penelitian mikroplastik di Indonesia masih tergolong terbatas, terlebih lagi hem.. secara spesifik meneliti keberadaan mikroplastik dalam cairan semen. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat mengisi kekosongan data ilmiah sekaligus menjadi dasar awal untuk memahami dampak mikroplastik terhadap sistem reproduksi manusia.

Peneliti Ecoton Sofi Azilan Aini saat mendampingi Sri Astika dalam proses analisis sampel di laboratorium. | Dokumen

Sejak kapan penelitian ini mulai dilakukan, dan bagaimana proses awalnya?

Penelitian ini mulai dilakukan sejak pertengahan bulan Februari (2026 ini), yang diawali dengan studi literatur melalui penelusuran berbagai kajian dan penelitian sebelumnya terkait mikroplastik dan kesehatan reproduksi.

Tahap ini penting untuk membangun dasar ilmiah serta menentukan pendekatan yang tepat dalam penelitian. Selanjutnya, dilakukan penyusunan metodologi penelitian, termasuk penentuan teknik pengambilan dan analisis sampel agar hasil yang diperoleh valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada tanggal 26 Januari 2026, saya melakukan pengambilan sampel di Rumah Sakit Dr. Soetomo sebagai lokasi penelitian klinis. Setelah itu, sampel dibawa untuk diuji dan dianalisis di laboratorium Ecoton.

Seluruh rangkaian melalui proses dengan dilakukan secara bertahap dan sistematis untuk memastikan kualitas serta keakuratan data yang dihasilkan.

Metode apa yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan mikroplastik dalam sampel cairan sperma?

Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, yaitu untuk mengidentifikasi keberadaan mikroplastik sekaligus mengorelasikannya dengan kualitas semen dalam satu waktu pengamatan tertentu.

Pendekatannya memungkinkan saya melihat gambaran awal hubungan antara paparan mikroplastik dan parameter reproduksi tanpa menunggu waktu yang panjang.

Dalam prosesnya, sampel yang telah saya peroleh terlebih dahulu melalui tahap preparasi selama kurang lebih tiga hari untuk memastikan kondisi sampel siap dianalisis.

Setelah itu, saya melakuka proses filtrasi guna menangkap partikel-partikel mikroplastik yang terdapat dalam cairan sperma. Partikel yang tersaring kemudian saya amati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400× untuk mengidentifikasi bentuk, ukuran, dan jumlahnya.

Selanjutnya, untuk mengetahui jenis polimer penyusun mikroplastik tersebut, saya lakukan pengujian menggunakan metode Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Teknik ini memungkinkan identifikasi karakteristik kimia dari partikel plastik secara lebih spesifik, sehingga hasil analisis tidak hanya menunjukkan keberadaan mikroplastik, tetapi juga jenis materialnya.

Jenis mikroplastik apa saja yang paling banyak ditemukan dalam penelitian Anda?

Jenis mikroplastik yang paling banyak saya temukan dalam penelitian ini adalah berbentuk fragmen, yaitu pecahan-pecahan kecil dari plastik yang telah mengalami degradasi di lingkungan.

Fragmen ini umumnya berasal dari plastik yang lebih besar yang terurai akibat paparan sinar matahari, gesekan, maupun proses kimiawi, sehingga lebih mudah masuk ke dalam tubuh manusia.

Sementara itu, berdasarkan jenis polimernya, yang paling dominan saya temukan adalah Polyethylene (PE). Temuan ini sejalan dengan fakta bahwa PE merupakan salah satu jenis plastik yang paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh yang terjadi sehari-hari, penggunaan kantong belanja sekali pakai, kemasan plastik, serta berbagai produk rumah tangga lainnya. Tingginya penggunaan plastik jenis ini meningkatkan peluang terjadinya pencemaran mikroplastik yang pada akhirnya dapat terpapar ke tubuh manusia, termasuk melalui jalur makanan, udara, maupun air.

Bagaimana Anda memastikan bahwa sampel yang diteliti tidak terkontaminasi dari lingkungan luar?

Untuk meminimalkan risiko kontaminasi, penelitian ini saya menerapkan prosedur ketat sejak tahap awal. Pertama, sampel diambil dan disimpan menggunakan wadah berbahan kaca, no plastic, guna menghindari potensi masuknya partikel mikroplastik dari bahan penyimpanan.

Kedua, selama proses preparasi, seluruh kegiatan saya lakukan di meja kerja yang steril dengan menggunakan Laminar Air Flow (LAF), sehingga paparan partikel dari udara sekitar dapat diminimalkan. Selain itu, saya juga menggunakan alat dan bahan yang bebas plastik sejauh mungkin untuk menjaga kemurnian sampel.

Ketiga, setelah tahap preparasi dan memasuki proses analisis lanjutan, sampel saya usahakan tidak terpapar udara terbuka serta tidak bersentuhan dengan material plastik. Seluruh tahapan ini saya lakukan secara konsisten untuk memastikan kalau partikel yang terdeteksi benar-benar berasal dari sampel, bukan dari kontaminasi lingkungan selama proses penelitian.

Apa temuan paling mengejutkan atau signifikan dari hasil penelitian ini?

Temuan yang paling mengejutkan ketika mikroplastik terdeteksi pada 100% sampel yang saya teliti, yakni pada keempat sampel yang saya analisis. Hal ini memperkuat dugaan kalau keberadaan mikroplastik dalam cairan semen itu nyata dan bukan hanya asumsi saja. Dan tentunya itu selaras dengan berbagai temuan dalam jurnal-jurnal ilmiah sebelumnya.

Selain itu, temuan terpenting lainnya adanya indikasi hubungan yang signifikan antara keberadaan mikroplastik dengan penurunan kualitas sperma. Sampel yang mengandung mikroplastik menunjukkan kecenderungan penurunan pada parameter kualitas semen, seperti motilitas, morfologi, maupun konsentrasi sperma.

Hasil ini menjadi perhatian serius saya, karena menunjukkan paparan mikroplastik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi manusia secara langsung.

Temuan ini bisa kita membuka ruang penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme bagaimana mikroplastik dapat memengaruhi fungsi dan kualitas sel sperma.

Sejauh mana keberadaan mikroplastik dapat memengaruhi kualitas sperma, seperti jumlah, bentuk, atau pergerakannya?

Dampaknya bisa dibilang sangat signifikan. Dari sisi jumlah, terjadi penurunan yang cukup tajam secara global. Data dari WHO sendiri menunjukkan rata-rata jumlah sperma mengalami penurunan dari sekitar 101 juta/mL pada tahun 1973 menjadi sekitar 49 juta/mL pada tahun 2018.

Tentu ini mengindikasikan adanya faktor lingkungan yang berperan, salah satunya diduga paparan mikroplastik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Selain jumlah, aspek bentuk (morfologi) dan pergerakan (motilitas) sperma juga dapat terganggu. Mikroplastik berpotensi memicu peradangan serta meningkatkan stres oksidatif di dalam tubuh.

Kondisi dapat kita yakini sangat berpengaruh pada sel sperma yang menjadi salah satu sel yang paling rentan terhadap stres oksidatif, sehingga mudah mengalami kerusakan struktur maupun penurunan kemampuan bergerak.

Akibatnya, kualitas sperma secara keseluruhan dapat menurun, yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi tingkat kesuburan pria. Hal ini menunjukkan keberadaan mikroplastik bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga memiliki implikasi serius terhadap kesehatan reproduksi manusia.

Apakah ada indikasi bahwa mikroplastik dapat memengaruhi kesuburan pria dalam jangka panjang?

Ada indikasi ke arah itu. Kita lihat paparan mikroplastik yang terjadi secara terus-menerus. Ini tentu sangat berpotensi menimbulkan efek kumulatif di dalam tubuh. Artinya, partikel yang masuk tidak langsung hilang, tetapi dapat terakumulasi dan dalam jangka panjang berisiko mengganggu sistem reproduksi pria.

Sebagai gambaran, isu ini juga diangkat dalam film dokumenter The Plastic Detox, yang menunjukkan bagaimana paparan mikroplastik dapat berdampak pada hormon, kesuburan, hingga potensi gangguan reproduksi lintas generasi.

Meskipun demikian, menurut saya penting untuk dipahami kalau film itu meski sebagai atau bersifat pemantik diskusi, sementara bukti ilmiah terus berkembang melalui penelitian.

Secara biologis, paparan jangka panjang mikroplastik berpotensi menyebabkan stres oksidatif, peradangan, serta gangguan fungsi sel, yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas sperma secara bertahap.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa intervensi, maka risiko infertilitas pada pria menjadi semakin besar. Oleh karena itu, penelitian saya ini memperkuat pentingnya penelitian lanjutan untuk memastikan hubungan sebab-akibat secara lebih mendalam.

Sri Astika didampingi Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, saat melakukan analisis sampel di laboratorium. | Dokumen

Bagaimana temuan ini dibandingkan dengan penelitian serupa di negara lain?

Hasil yang diperoleh dalam penelitian saya ini, sejalan dengan temuan dari berbagai penelitian di negara lain, yang juga menunjukkan mikroplastik terdeteksi dalam cairan semen manusia.

Hal ini tentu memperkuat konsistensi bukti ilmiah kalau paparan mikroplastik telah mencapai sistem reproduksi pria secara global, tidak hanya terbatas pada wilayah tertentu.

Keselarasan ini menurut saya penting. Karena menunjukkan fenomena ini bukan kasus lokal, melainkan bagian dari masalah lingkungan berskala dunia. Berbagai studi internasional juga melaporkan kecenderungan serupa terkait potensi dampak mikroplastik terhadap kualitas sperma, baik dari sisi jumlah, motilitas, maupun morfologi.

Dengan demikian, menurut saya temuan ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari akumulasi bukti ilmiah global yang semakin menguatkan kekhawatiran terhadap dampak mikroplastik bagi kesehatan manusia, khususnya dalam aspek reproduksi.

Sri Astika juga menjelaskan yang ia kutip dari Science Alert: Sebagaimana telah ditemukan mikroplastik dalam tubuh manusia. Setelah sebelumnya terdeteksi dalam jaringan testis oleh peneliti di Amerika Serikat, studi terbaru di China menemukan partikel serupa dalam sperma manusia.

Penelitian yang melibatkan 36 pria di pedalaman China ini mengungkap bahwa seluruh sampel sperma mengandung pecahan plastik mikroskopis.

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan polistiren (PS), yang mencakup sekitar sepertiga dari total partikel dalam sampel rata-rata. Selain itu, polietilen dan PVC juga terdeteksi.

Para peneliti menduga partikel-partikel ini masuk ke tubuh melalui makanan atau udara, kemudian menyebar melalui aliran darah dan menembus penghalang darah-testis hingga mencapai vesikula seminalis.

Penelitian ini juga menemukan berbagai kelainan pada sel sperma, seperti bentuk yang pendek, bengkok, melingkar, serta ekor yang tidak beraturan. Sejumlah sperma bahkan menunjukkan pergerakan yang lemah. Meski demikian, hubungan sebab-akibat langsung antara paparan mikroplastik dan kelainan tersebut belum dapat dipastikan.

Secara global, jumlah sperma diketahui terus menurun dengan cepat, dan sekitar 40 persen pria mengalami gangguan produksi sperma tanpa penyebab yang jelas.

Studi pada tikus menunjukkan paparan polistiren dapat menurunkan jumlah sperma dan meningkatkan abnormalitas, menandakan perlunya penelitian lanjutan pada manusia.

Terus, apa saja keterbatasan dalam penelitian yang Anda lakukan saat ini?

Salah satu keterbatasan utama dalam penelitian saya ini, jumlah sampel yang masih terbatas. Kalau kita bandingkan dengan penelitian di luar negeri, umumnya digunakan minimal sekitar 30 sampel atau lebih untuk mendapatkan gambaran yang lebih representatif.

Dengan jumlah sampel yang masih sedikit ini, hasil penelitian ini belum dapat sepenuhnya menggambarkan hubungan sebab-akibat secara kuat dan menyeluruh.

Selain itu, dalam penelitian ini saya masih berfokus pada tahap identifikasi keberadaan mikroplastik dalam cairan sperma serta indikasi dampaknya terhadap kualitas sperma.

Artinya, tidak mudah mengaitkan temuan dengan kondisi medis tertentu, seperti kelainan sperma atau diagnosis klinis infertilitas pada individu.

Keterbatasan lain yaitu pendekatan yang digunakan masih bersifat cross-sectional, sehingga hanya memberikan gambaran pada satu waktu tertentu dan belum dapat menjelaskan efek jangka panjang secara pasti.

Oleh karena itu, perlu penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar, pendekatan longitudinal, serta integrasi data klinis agar hubungan antara mikroplastik dan kesehatan reproduksi dapat dipahami secara lebih komprehensif.

Sampel cairan diproses secara hati-hati di laboratorium sebagai bagian dari penelitian mikroplastik dalam sistem reproduksi manusia. Tahap ini menjadi kunci untuk mengidentifikasi partikel asing yang tak kasatmata namun berpotensi berdampak besar bagi kesehatan. | Dokumen

Menurut Anda, apa sumber utama paparan mikroplastik yang berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia hingga mencapai sistem reproduksi?

Sumber utama paparan mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia umumnya berasal dari makanan, udara, dan kontak dermal (kulit). Mikroplastik dapat ditemukan dalam berbagai jenis makanan dan minuman, terutama yang terkontaminasi dari lingkungan, serta dapat terhirup melalui udara dalam bentuk partikel halus.

Selain itu, kontak dengan produk berbahan plastik juga berpotensi menjadi jalur paparan meskipun kontribusinya relatif lebih kecil dibandingkan jalur konsumsi dan inhalasi.

Menurut saya, tidak semua mikroplastik dapat masuk ke dalam sistem tubuh secara mendalam. Partikel yang berpotensi masuk ke aliran darah umumnya yang berukuran sangat kecil sekali, yaitu kurang dari 8 µm.

Ukuran yang sangat kecil ini memungkinkan partikel menembus penghalang biologis tubuh, masuk ke dalam sirkulasi darah, lalu menyebar ke berbagai organ, termasuk sistem reproduksi.

Hal ini menjadi perhatian penting karena once berada dalam aliran darah, mikroplastik berpotensi terdistribusi secara sistemik dan terakumulasi di jaringan tertentu. Oleh karena itu, paparan sehari-hari yang tampak kecil dapat menjadi signifikan dalam jangka panjang jika terjadi secara terus-menerus.

Apa rekomendasi Anda bagi masyarakat untuk mengurangi risiko paparan mikroplastik terhadap kesehatan reproduksi?

Rekomendasi utamanya saya, yaitu satu: STOP penggunaan plastik sekali pakai. Langkah ini menurut saya menjadi kunci. Karena plastik sekali pakai merupakan salah satu sumber utama terbentuknya mikroplastik di lingkungan. Dengan mengurangi penggunaannya, kita turut menekan sumber paparan sejak awal.

Selain itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam memilih produk, termasuk produk rumah tangga sehari-hari. Pilih alternatif yang lebih aman seperti bahan kaca, stainless steel, atau material ramah lingkungan lainnya.

Hal ini tentu saja penting pastinya. Karena berbagai penelitian yang ada telah menunjukkan mikroplastik banyak tersebar di dalam ruang, indoor environment, berasal dari debu, tekstil sintetis, hingga perabot rumah tangga berbahan plastik.

Upaya lain yang bisa kita lakukan antara lain mengurangi konsumsi makanan berkemasan plastik, tidak memanaskan makanan dalam wadah plastik, serta menjaga kualitas udara di dalam rumah.

Dengan perubahan kebiasaan sederhana ini namun konsisten, risiko paparan mikroplastik terhadap kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi, dapat diminimalkan secara signifikan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *