Kolaborasi perusahaan dan komunitas di Bojonegoro menghadirkan edukasi lingkungan, distribusi fasilitas sampah, serta penanaman pohon untuk membangun kesadaran ekologis masyarakat sejak usia dini.
Suasana Desa Mlideg, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tampak berbeda dari hari biasanya pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Saat itu warga berkumpul di satu titik, bukan untuk hajatan atau perayaan, melainkan untuk mengikuti kegiatan penyuluhan lingkungan dan penanaman pohon yang diinisiasi PT Raharja Energi Cepu Tbk bersama Komunitas Sanggarjati Bojonegoro.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh penting. Direktur PT Raharja Energi Cepu Tbk, Alexandra Sinta Wahjudewanti, terlihat hadir langsung di tengah masyarakat. Ia didampingi Kepala Desa Mlideg, Erry Cahyono, beserta perangkat desa, kader PKK, tenaga kesehatan, hingga anggota karang taruna.
Kehadiran para pemangku kepentingan ini menandakan bahwa program tersebut bukan sekadar agenda simbolis. Alexandra menegaskan bahwa keterlibatan langsung perusahaan menjadi bagian dari komitmen jangka panjang terhadap wilayah operasionalnya.
“PT Raharja Energi Cepu Tbk terus berkomitmen memberikan dampak baik bagi masyarakat, khususnya di Bojonegoro,” ujar Alexandra dalam sambutannya.
Tak hanya orang dewasa, kegiatan ini juga melibatkan siswa dari MI Nurul Islamiyah dan SD Negeri Mlideg. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias, mulai dari penyuluhan hingga praktik penanaman pohon.
Partisipasi anak-anak dinilai sebagai langkah strategis. Edukasi lingkungan sejak dini diharapkan mampu membentuk kesadaran jangka panjang tentang pentingnya menjaga alam.
#Mengurai Sampah dari Hulu Permasalahan
Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah penyuluhan pengolahan sampah. Masalah sampah, yang kerap dianggap sepele, mulai menjadi persoalan serius di wilayah pedesaan yang berkembang seperti Mlideg.
Dalam sesi penyuluhan, masyarakat diperkenalkan pada cara memilah dan mengelola sampah rumah tangga. Tidak berhenti pada edukasi, perusahaan juga mendistribusikan bak sampah ke sejumlah titik strategis, termasuk fasilitas umum dan lingkungan sekolah.
Langkah ini bertujuan untuk membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat. Dengan ketersediaan sarana yang memadai, warga diharapkan lebih disiplin dalam membuang dan mengelola sampah.
Seorang perangkat desa yang turut hadir menyebutkan bahwa selama ini persoalan sampah sering kali muncul karena kurangnya fasilitas pendukung dan minimnya kesadaran warga.
Program ini mencoba menjawab dua persoalan tersebut sekaligus. Di satu sisi, masyarakat diberikan pengetahuan. Di sisi lain, mereka juga difasilitasi dengan sarana yang memadai.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar imbauan. Perubahan perilaku, menurut para penggiat lingkungan, hanya bisa terjadi jika edukasi dan fasilitas berjalan beriringan.

#Menanam Harapan untuk Generasi Mendatang
Selain persoalan sampah, kegiatan ini juga menyoroti isu penurunan jumlah pohon di wilayah Bojonegoro. Berkurangnya tutupan hijau dinilai berdampak pada keseimbangan lingkungan, termasuk ketersediaan air dan kualitas udara.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSebagai respons, dilakukan gerakan penanaman pohon bersama. Bibit-bibit ditanam di sejumlah lokasi yang telah ditentukan, melibatkan warga dan pelajar secara langsung.
Bagi Alexandra, kegiatan ini bukan sekadar menanam pohon, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan.
“Dengan menanam hari ini, kita sedang melindungi generasi mendatang dari risiko lingkungan,” katanya.
Pohon memiliki fungsi vital, mulai dari penyedia oksigen hingga penjaga struktur tanah. Dalam konteks pedesaan, keberadaan pohon juga berperan penting dalam menjaga sumber air.
Kesadaran akan pentingnya pohon inilah yang ingin ditanamkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
#Filosofi “Jaties Ngaruh” dan Perubahan dari Hal Kecil
Founder Sanggarjati Bojonegoro, Fahrudin Imam Nurkolis, menambahkan dimensi kultural dalam kegiatan ini melalui konsep “Jaties Ngaruh”. Filosofi tersebut menekankan bahwa perubahan besar berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Menurut Fahrudin, pembangunan desa tidak bisa hanya mengandalkan program besar. Justru, perubahan perilaku sehari-hari menjadi fondasi utama.
“Kita ingin membangun karakter anak-anak agar peduli lingkungan. Itu dimulai dari hal sederhana, seperti menyiram tanaman atau membuang sampah pada tempatnya,” ujar Fahrudin.
Ia mencontohkan kebiasaan kecil seperti mengambil sampah yang berserakan atau saling mengingatkan antar teman sebagai bentuk nyata kepedulian lingkungan.
Bagi Sanggarjati, kegiatan ini bukan hanya soal lingkungan fisik, tetapi juga pembentukan karakter. Anak-anak didorong untuk menjadi individu yang bertanggung jawab terhadap lingkungannya.
Fahrudin berharap nilai-nilai tersebut akan tertanam kuat dan terus dibawa hingga mereka dewasa.
Kolaborasi antara perusahaan, komunitas, dan pemerintah desa ini menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan membutuhkan kerja bersama. Tidak ada satu pihak pun yang bisa berjalan sendiri.
Di Desa Mlideg, langkah kecil itu telah dimulai. Bibit pohon telah ditanam, dan kesadaran mulai tumbuh. Jika dirawat dengan konsisten, keduanya berpotensi menjadi fondasi bagi masa depan Bojonegoro yang lebih hijau dan berkelanjutan.