Lewati ke konten

Hasil Audit Merek Kelurahan Mrican Kota Kediri: Wings dan Mayora Jadi Produsen Sampah Terbanyak

| 4 menit baca |Mikroplastik | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Tonis Afrianto Editor: Supriyadi

Audit merek di Kota Kediri menemukan dominasi sampah sachet dari produk harian, mendorong solusi refill, perubahan konsumsi, serta desakan tanggung jawab produsen dan kebijakan daerah.

Tumpukan sampah rumah tangga di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojorotom, Kota Kediri, Jawa Timur, memperlihatkan wajah konsumsi sehari-hari warga. Dari sana, sepuluh relawan Bank Sampah Pringgodani melakukan brand audit untuk membaca pola penggunaan produk sekaligus sumber timbulan sampah, pada Rabu, 1 April 2026.

Kegiatan yang merupakan lanjutan dari Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) sebelumnya. Relawan memilah sampah, mencatat merek pada kemasan, lalu menghitung jumlahnya.

Hasilnya menunjukkan dominasi kemasan sachet yang sulit didaur ulang. Ditemukan produk dari Wings tercatat paling banyak dengan 149 kemasan. Disusul kemudia Mayora, tercatat 113 kemasan.

Sementara Tanobel ditemukan 78 kemasan, Unilever 76 kemasan, dan Danone 75 kemasan. Kemudian disusul bawahnya, ada CV. Primarasa dengan 41 kemasan, PT Bisco 35 kemasan, PT Jaya Prima Abadi 29 kemasan, dan PT Forisa Nusa Persada 28 kemasan, serta CV. Pangan Arta Sejahtera Madiun sebanyak 21 kemasan.

Data yang tercata memperlihatkan, produk kebutuhan harian dalam kemasan kecil masih menjadi pilihan utama warga. Kemasan ini mudah dijangkau secara harga dan praktis digunakan, terutama untuk konsumsi cepat.

Relawan Bank Sampah Pringgodani menimbang sampah hasil pemilahan dalam kegiatan brand audit untuk mengetahui volume dan jenis kemasan yang paling banyak dihasilkan warga. | Foto: Tonis Afrianto

#Kesadaran Tumbuh dari Proses Partisipatif

Kegiatan brand audit yang dilakukan secara terbuka dan melibatkan kader lingkungan setempat. Selain menghasilkan data, proses ini menjadi ruang belajar bersama bagi warga.

Siti Fatimah, kader lingkungan Kelurahan Mrican, mengaku baru menyadari banyaknya variasi merek setelah terlibat langsung. “Saya baru dari brand audit ini bisa menemukan banyak merek, malah terlalu banyak sampai membuat bingung sedikit,” ujarnya di sela acara brand audit itu.

Pengalaman ini menunjukkan kalau sampah dapat menjadi sumber informasi penting mengenai perilaku konsumsi. Terutama warga dapat melihat secara langsung jenis produk apa yang paling sering digunakan, sekaligus dampaknya terhadap lingkungan.

Sementara itu Eka, pengurus Bank Sampah Pringgodani menilai, perubahan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah. Ia mencontohkan, penggunaan bumbu dapur sebagai salah satu sumber sampah sachet.

“Mungkin kita bisa mulai mengurangi sampah sachet. Kebanyakan dari bumbu masakan, jadi bisa mulai membuat sendiri, mengulek sendiri, sehingga sampah plastik berkurang,” kata Eka.

Pernyataan Eka sekaligus menegaskan jika pengurangan sampah tidak selalu bergantung pada sistem besar. Langkah kecil di tingkat rumah tangga tetap memiliki pengaruh jika dilakukan secara konsisten.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Diagram hasil brand audit menunjukkan dominasi kemasan sachet dari berbagai merek produk rumah tangga di Kelurahan Mrican, Kota Kediri, dengan jumlah tertinggi berasal dari Wings dan Mayora. | Desain: Tonis Afrianto

#Refill System dan Tanggung Jawab Produsen

Dari hasil audit, relawan merumuskan sejumlah rekomendasi untuk mengurangi timbulan sampah sachet. Salah satu yang didorong adalah perubahan perilaku konsumsi masyarakat, dari kemasan kecil ke kemasan isi ulang atau ukuran besar.

Selain itu, pembangunan sistem layanan isi ulang atau refill di tingkat lokal menjadi langkah strategis. Dengan akses yang dekat dan harga terjangkau, warga memiliki alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Upaya ini perlu didukung oleh produsen. Inovasi kemasan yang dapat digunakan kembali atau lebih mudah didaur ulang menjadi bagian dari tanggung jawab industri. Pengurangan produksi kemasan sekali pakai juga dinilai mendesak.

Di sisi lain, pemerintah daerah diharapkan memperkuat regulasi pembatasan penggunaan sachet. Dukungan terhadap inisiatif berbasis masyarakat, seperti bank sampah, komposting, serta layanan refill, menjadi bagian dari strategi yang lebih luas.

Hasil brand audit ini menjadi pijakan awal untuk advokasi kebijakan dan kolaborasi lintas pihak. Data yang terkumpul menunjukkan arah intervensi yang lebih tepat, berbasis kondisi lapangan.

Relawan berharap temuan ini tidak berhenti sebagai laporan kegiatan. Data tersebut dapat digunakan untuk mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah di Kota Kediri menuju konsep Zero Waste Cities.

Dengan keterlibatan masyarakat, komitmen pemerintah, dan tanggung jawab produsen, pengurangan sampah sachet dapat bergerak dari wacana menjadi praktik sehari-hari.***

Penulis Tonis Afrianto, Kepala Program Zero Waste Ecoton. Tulisan ini disusun sebagai bagian dari upaya mendorong pengurangan sampah melalui pendekatan brand audit dan sistem isi ulang.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *