Lewati ke konten

Warga RW 13 Simokerto Surabaya, Aktifkan Bank Sampah dan Biopori demi Jaga Kelestarian Kali Tebu

| 5 menit baca |Ide | 50 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Muhammad Isomudin Editor: Supriyadi

Gerakan warga RW 13 Simokerto Surabaya Utara mengelola sampah melalui bank sampah dan biopori menekan pencemaran Kali Tebu serta memperkuat ekonomi warga berbasis komunitas.

Suasana hening pada tengah malam kerap memunculkan persoalan yang berulang di bantaran Kali Tebu, Surabaya Utara. Ketika aktivitas warga berhenti, sebagian orang justru memanfaatkan situasi untuk membuang sampah ke aliran sungai.

Praktik ini masih kerap terjadi dan selalu ditemukan, meski warga RW 13 Kelurahan Simokerto telah berupaya menjaga lingkungan secara bersama-sama.

Ketua RW 13, Yuli Arwoko mengungkapkan, melihat kondisi ini dengan nada prihatin. Dia menyebut biasanya yang membuang sampah bukan warga sini.

“Ironisnya, memang, mas. Pelaku sering kali bukan warga sini. Mereka datang, ataiu sekadar melintas lalu membuang sampah, lalu pergi. Itu dilakukan saat suasana sepi,” ujar Yuli, saat ditemui, Kamis, (16/4/2026).

Dalam pantauan warga aktivitas pembuangan sampah itu terjadi sekitar pukul 12 malam hingga dini hari. Bisa jadi waktu itu dipilih karena pengawasan minim dan lingkungan dalam kondisi lengang. Perilaku ini menjadi tantangan serius bagi warga yang telah berkomitmen menjaga kebersihan sungai.

Kampung RW 13 berada persis di bantaran Kali Tebu, kawasan padat dengan tekanan lingkungan yang tinggi. Sampah rumah tangga berpotensi langsung mencemari sungai apabila tidak dikelola dengan baik.

Kesadaran terhadap kondisi ini memunculkan kegelisahan kolektif di tengah masyarakat. Forum warga seperti pertemuan RT dan kegiatan PKK dimanfaatkan sebagai ruang edukasi. Yuli bersama tokoh masyarakat terus mengingatkan pentingnya pengelolaan sampah mandiri dari tingkat rumah tangga.

“Kalau warga tidak disiplin, sungai akan terus jadi tempat pembuangan,” kata Yuli.

Kesadaran tersebut perlahan tumbuh. Warga mulai memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan kerja bersama yang membutuhkan konsistensi.

Ketua RW 13 Simokerto, Yulis Arwoko, merawat tanaman di lingkungan rukun warga dengan memanfaatkan ruang sempit untuk penghijauan di tengah tekanan lingkungan perkotaan. | Foto: Isomudin

#Sampah Menjadi Aset Warga

Perubahan signifikan di RW 13 dimulai dari cara pandang terhadap sampah. Limbah domestik yang sebelumnya dianggap sebagai beban kini dilihat sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Bank Sampah diaktifkan kembali sebagai pusat pengelolaan sampah anorganik. Plastik, kertas, dan logam dipilah sejak dari rumah. Setiap jenis sampah memiliki harga yang dicatat dalam sistem tabungan warga.

Warga membawa hasil pilahan ke titik pengumpulan secara berkala. Petugas kemudian menimbang dan mencatat nilai setoran dalam buku tabungan. Sistem ini memberi insentif langsung kepada warga untuk terus memilah sampah.

“Sekarang warga lebih semangat karena ada manfaat ekonomi. Sampah tidak dibuang, tapi ditabung,” ujar Yuli.

Manfaat tersebut terasa nyata. Pendapatan tambahan dari sampah membantu kebutuhan rumah tangga sekaligus mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.

Perubahan ini juga dirasakan oleh petugas kebersihan kota. Volume sampah yang diangkut dari RW 13 menurun signifikan. Kondisi ini menjadi indikator keberhasilan pengelolaan sampah berbasis komunitas.

“Petugas pernah bilang sampahnya sedikit. Itu tanda warga sudah mengolah sendiri,” kata Yuli.

Mayoritas sampah yang tersisa kini merupakan residu yang sulit didaur ulang. Jenis ini mencakup popok sekali pakai, pembalut, puntung rokok, tisu kotor, serta styrofoam. Jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Dukungan dari Kelurahan Simokerto memperkuat sistem ini. Lurah Simokerto, Arief Insani, memfasilitasi akses penjualan hasil pilahan warga ke Bank Sampah Induk Surabaya.

“Kami membantu agar hasil bank sampah warga bisa terserap dengan baik dan terjadwal,” ujar Arief.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Akses tersebut memberi kepastian pasar sekaligus menjaga stabilitas harga. Warga tidak lagi kesulitan menjual sampah yang telah dipilah.

Petugas mengangkut karung-karung sampah menggunakan kendaraan roda tiga di Kecamatan Simokerto, Surabaya, hasil pengumpulan dari lingkungan warga untuk mencegah masuk ke aliran Kali Tebu. | Foto: Isomudin

#Biopori dan Masa Depan Kampung

Pengelolaan sampah di RW 13 juga menyasar limbah organik. Warga memasang lubang resapan biopori di berbagai titik gang sempit perkampungan. Inisiatif ini menjadi solusi atas keterbatasan lahan.

Lubang biopori berfungsi menyerap air hujan sekaligus mengolah sampah organik. Saat musim hujan, genangan air dapat dikurangi karena air lebih cepat meresap ke dalam tanah.

Sisa makanan dan daun kering dimasukkan ke dalam lubang tersebut. Proses alami mengubahnya menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali.

“Biopori membantu sekali, terutama saat hujan. Air cepat surut dan sampah organik tidak terbuang,” ujar seorang warga.

Kelurahan Simokerto turut mendorong pengembangan produk kompos. Pemerintah setempat membantu proses pengemasan agar kompos memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Kami mendukung warga dengan membantu pembuatan kemasan untuk hasil kompos,” kata Arief.

Langkah ini membuka peluang ekonomi baru. Kompos yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan internal kampung, tetapi juga berpotensi dipasarkan lebih luas.

Semangat inovasi warga terus berkembang. RW 13 merencanakan program budidaya ikan lele dalam ember atau budidamber. Program ini dinilai cocok untuk wilayah dengan lahan terbatas.

Ember digunakan sebagai media budidaya ikan sekaligus tempat menanam sayuran. Sistem ini memungkinkan pemanfaatan ruang secara efisien.

“Kami ingin mencoba budidaya lele di ember. Lahan terbatas, jadi harus kreatif,” ujar Yuli.

Harapan besar tertuju pada keberlanjutan program-program tersebut. Warga ingin menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus mandiri secara ekonomi.

Gerakan di RW 13 menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari tingkat paling kecil. Disiplin memilah sampah dari rumah menjadi fondasi utama dalam menjaga lingkungan.

Kesadaran kolektif menjadi kunci keberhasilan. Ketika warga memiliki tujuan yang sama, berbagai keterbatasan dapat diatasi bersama.

Semangat ini diharapkan menyebar ke wilayah lain di sekitar Kali Tebu. Sungai yang bersih hanya dapat terwujud melalui partisipasi luas masyarakat.

“Harapannya, tidak ada lagi yang membuang sampah ke sungai. Kali Tebu bisa bersih dan jadi kebanggaan bersama,” kata Yuli.***

Penulis: Muhammad Isomudin, Project Officer Mission on Zero Plastic Leakage (Mozaik), program kolaborasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama United Nations Development Programme (UNDP).

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *