Lewati ke konten

Kejamnya Sungai Kota Mengalirkan Sampah Plastik ke Laut

| 12 menit baca |Eksploratif | 13 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus

Sungai kota penuh plastik tersembunyi. Mikroplastik masuk laut, termakan ikan, lalu kembali lagi ke tubuh manusia perlahan diam-diam.

Polusi plastik terus tumbuh menjadi ancaman lingkungan paling serius dalam beberapa dekade terakhir. Sampah plastik tak lagi hadir sebagai tumpukan limbah di bantaran sungai, pesisir, atau tempat pembuangan akhir. Material sintetis itu pecah menjadi partikel sangat kecil yang sulit dikenali mata manusia.

Meta-analisis 83 studi mengungkap dominasi pencemaran plastik laut Indonesia, sementara riset sungai dan daratan masih sangat terbatas. | Desain AI

Fragmen plastik mengalir lewat drainase kota, masuk sungai, lalu bergerak menuju laut. Di perairan, partikel itu termakan plankton, ikan kecil, kerang, hingga berbagai biota laut lain. Dari situ pencemaran berubah menjadi siklus panjang yang kembali ke manusia melalui rantai makanan.

Ancaman plastik bergerak perlahan. Sulit dilihat dan dihitung utuh.

Berbagai estimasi global menunjukkan antara 0,8 juta hingga 30 juta ton metrik sampah plastik masuk ke lingkungan perairan dunia setiap tahun. Angka itu memperlihatkan kebocoran sampah terus terjadi di banyak negara, terutama kawasan dengan sistem pengelolaan limbah yang lemah.

Indonesia masuk dalam pusaran persoalan itu.

Jurnal Plastic Pollution Research in Indonesia: State of Science and Future Research Directions to Reduce Impacts yang dipublikasikan pada 8 Juni 2021 mencatat penelitian polusi plastik di Indonesia masih sangat terpusat di wilayah laut dan Pulau Jawa.

“Indonesia diperkirakan menjadi salah satu negara dengan emisi polusi plastik terbesar di dunia,” tulis Laurent C.M. Meijer dalam publikasi ilmiah itu.

Penelitian lintas institusi yang melibatkan 16 peneliti memperlihatkan sebagian besar sampah plastik di perairan berasal dari aktivitas manusia di daratan. Limbah dari kawasan permukiman, perdagangan, industri rumah tangga, sampai konsumsi plastik sekali pakai perlahan masuk ke drainase dan sungai sebelum hanyut ke laut.

Kajian itu juga menunjukkan persoalan plastik sudah melebar ke banyak sektor. Mulai pola konsumsi masyarakat, tata kelola kota, kualitas air sungai, sampai ancaman terhadap ekosistem laut.

Para peneliti menilai sungai menjadi jalur utama perpindahan sampah plastik dari daratan menuju pesisir. Ironisnya, penelitian di kawasan sungai masih sangat terbatas.

Padahal pengamatan di daerah aliran sungai penting untuk melacak sumber pencemaran sejak awal.

“Karena itu penelitian di wilayah sungai dan daratan menjadi penting untuk menelusuri sumber pencemaran sejak awal agar strategi penanganan lebih efektif,” tulis peneliti.

Penelitian lain yang dipublikasikan jurnal Science pada 18 September 2020 memperkirakan sekitar 19 – 23 juta ton metrik plastik masuk ke ekosistem perairan dunia sepanjang 2016. Jumlah itu setara sekitar 11 persen total sampah plastik global pada masa itu.

Riset yang menganalisis 173 negara itu juga memproyeksikan emisi plastik dunia masih dapat mencapai 53 juta ton per tahun pada 2030 meski banyak negara mulai membuat kebijakan pengurangan sampah.

Para peneliti menyimpulkan persoalan plastik tak cukup diatasi lewat aksi bersih sungai dan pantai. Dunia membutuhkan perubahan besar pada sistem produksi, pola konsumsi, sampai tata kelola sampah.

Indonesia menghadapi tekanan cukup berat. Kepadatan penduduk pesisir, lemahnya pengelolaan sampah, serta tingginya konsumsi plastik sekali pakai membuat kebocoran sampah menuju sungai dan laut terus meningkat.

Kajian internasional bahkan menempatkan sistem drainase perkotaan Jakarta sebagai salah satu aliran perairan paling tercemar plastik secara global.

Kondisi Mangrove Wonorejo Surabaya usai pasang memperlihatkan hamparan sampah plastik yang tersangkut di akar-akar mangrove. Pemandangan ini bukan sekadar kotor—serpihan plastik tersebut menjadi sumber kontaminasi mikroplastik yang masuk ke rantai makanan laut dan mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir, 21 April 2025 | Foto: Ecoton

#Kota-Kota Besar Memproduksi Sampah Raksasa

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan timbulan sampah Jakarta mencapai sekitar 3,17 juta ton per tahun pada 2025 atau setara 8.664 ton per hari.

Sekitar 22,95 persen berupa sampah plastik.

Jika dihitung berdasarkan proporsi itu, volume sampah plastik Jakarta mencapai sekitar 1.989 ton per hari atau sekitar 728 ribu ton per tahun. Jumlah itu memperlihatkan tingginya ketergantungan masyarakat kota terhadap plastik sekali pakai. Mulai kantong belanja, botol minuman, kemasan makanan, sampai plastik multilapis yang sulit didaur ulang.

Produksi sampah Jakarta juga fluktuatif. Pada musim hujan dan periode konsumsi tinggi, volume sampah harian dapat mencapai 9.200 ton per hari.

Komposisi sampah Jakarta memperlihatkan dominasi limbah organik dan plastik. Sampah sisa makanan mencapai 49,87 persen, plastik 22,95 persen, sedangkan kertas dan karton mencapai 17,24 persen.

Persoalan hampir sama muncul di Surabaya.

Data SIPSN mencatat timbulan sampah Surabaya pada 2024 mencapai sekitar 660.946 ton per tahun atau setara 1.810 ton per hari.

Dari jumlah itu, sekitar 22,01 persen berupa sampah plastik. Jika dihitung kasar, volume sampah plastik Surabaya mencapai sekitar 398 ton per hari atau sekitar 145 ribu ton per tahun.

Sebagaimana dikutip Detik, 9 April 2022, data penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sampah plastik Surabaya mencapai sekitar 111 ribu ton per tahun, atau 14 persen dari total timbulan sampah kota. Angka itu kemudian menjadi salah satu dasar Pemerintah Kota Surabaya menerapkan pembatasan kantong plastik sekali pakai melalui Peraturan Wali Kota Nomor 16 Tahun 2022.

Meski memilik perangkap Perwali, Surabaya tidak bisa membatasi kantong plastik. Justru yang terjadi pada data 2026 ini, volume sampah di Surabaya justru memberi angka cukup fantastis. Sampah yang diangkut menuju TPA Benowo masih mencapai sekitar 1.600 ton per hari.

Plastik tetap menjadi jenis sampah terbesar kedua setelah sisa makanan.

Situasi itu terlihat dalam kegiatan brand audit yang dilakukan Ecological Conservation and Wetlands (ECOTON) pada peringatan Hari Bumi, 22 April 2026.

Melalui pemantauan di Kali Tebu kawasan Kenjeran, tim menemukan 679 potongan sampah plastik dari berbagai produk konsumsi harian masyarakat.

Lima produsen mendominasi temuan sampah di sungai. Wings Group menjadi penyumbang terbesar dengan 17,8 persen atau 121 item. Disusul Indofood sebesar 12,4 persen atau 84 item, Unilever 8,8 persen atau 60 item, Mayora 7,4 persen atau 50 item, serta Santos Jaya Abadi 4,6 persen atau 31 item.

Koordinator Brand Audit ECOTON saat itu, Alaika Rahmatullah, menilai temuan itu menunjukkan hubungan langsung antara pola konsumsi masyarakat dan pencemaran sungai.

“Melalui brand audit terlihat jelas sampah plastik di sungai berasal dari produk yang digunakan sehari-hari,” kata Alaika, Rabu, 22 April 2026.

Jenis plastik yang ditemukan didominasi kemasan makanan dan minuman sekali pakai. Banyak di antaranya berupa plastik fleksibel multilapis yang sulit masuk sistem daur ulang.

Sampah seperti itu akhirnya bocor ke lingkungan. Masuk ke drainase. Lalu hanyut ke sungai.

Mikroplastik ditemukan di seluruh titik pemantauan Kali Tebu Surabaya. Partikel plastik berukuran sangat kecil itu mengalir bersama limbah rumah tangga, cucian sintetis, hingga pecahan kemasan sekali pakai menuju hilir sungai. Kondisi ini menunjukkan ancaman pencemaran plastik telah bergerak diam-diam dari drainase kota menuju rantai makanan manusia. | Sumber: MOZAIK

#Mikroplastik Mengendap di Aliran Hilir

Persoalan plastik tak berhenti pada limbah yang terlihat mata.

Di balik aliran sungai keruh, mikroplastik bergerak diam-diam dalam ukuran sangat kecil. Sebagian hanya beberapa mikrometer.

ECOTON menemukan kontaminasi mikroplastik di lima titik pemantauan kawasan Kali Tebu. Total akumulasi mencapai 410 partikel per 100 liter air.

Tambak Segaran tercatat 40 partikel per 100 liter. Jalan Pogot 52 partikel. Taman Toga 107 partikel. Gang Seropati 88 partikel. Wilayah hilir Tambak Wedi menjadi titik tertinggi dengan 123 partikel per 100 liter air.

Peneliti ECOTON, Sofi Azilan Aini dalam berbagai kesempatan menyebutkan, pencemaran mikroplastik sudah menyebar di sepanjang aliran sungai.

“Jenis mikroplastik yang ditemukan meliputi fiber, fragmen, pellet, film, dan foam. Fiber menjadi jenis dominan,” kata Sofi.

Fiber atau serat sintetis banyak berasal dari cucian pakaian berbahan polyester, nilon, dan akrilik. Saat pakaian dicuci, jutaan serat mikro terlepas bersama air limbah domestik.

Sebagian besar instalasi pengolahan limbah rumah tangga di Indonesia belum mampu menyaring partikel mikro.

Akibatnya, serat sintetis langsung mengalir ke drainase lalu masuk sungai.

Temuan serupa muncul dalam penelitian Muhammad Rofi’ul Ihsan, mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya. Dalam penelitian berjudul Uji Mikroplastik dan Kualitas Air di Kali Tebu Surabaya, Rofi’ul menemukan mikroplastik di seluruh stasiun sampling.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Kami menemukan total partikel mikroplastik di setiap titik, dengan jumlah tertinggi di Stasiun 5 wilayah hilir Tambak Wedi sebanyak 123 partikel,” kata Rofi’ul dalam kesempatan acara diskusi di Kantor MOZAIK pada 27 April 2026.

Data penelitian itu memperlihatkan pola peningkatan pencemaran menuju hilir. Pada Stasiun 1 ditemukan 40 partikel mikroplastik. Jumlah itu meningkat menjadi 52 partikel di Stasiun 2. Di Stasiun 3 mencapai 107 partikel. Stasiun 4 tercatat 88 partikel. Stasiun 5 menjadi titik tertinggi dengan 123 partikel.

Pola distribusi itu memperlihatkan adanya akumulasi mikroplastik di sepanjang aliran sungai pesisir Surabaya. Semakin dekat ke kawasan hilir yang padat aktivitas manusia, jumlah partikel cenderung meningkat.

Kondisi itu menunjukkan sungai perkotaan seperti Kali Tebu bekerja sebagai jalur distribusi sampah plastik. Limbah rumah tangga, kawasan perdagangan, industri, hingga drainase kota bermuara pada aliran yang sama.

Menurut Rofi’ul, jenis mikroplastik paling dominan berupa fiber. “Fiber biasanya berasal dari limbah domestik seperti cucian pakaian sintetis. Selain itu kami juga menemukan fragmen, film, pellet, dan foam,” ujarnya.

Selain fiber, penelitian itu menemukan fragmen plastik dalam jumlah cukup merata di seluruh titik pengamatan. Fragmen umumnya berasal dari pecahan plastik besar seperti botol minuman dan wadah makanan yang terurai akibat paparan lingkungan.

Film dan foam lebih banyak ditemukan di wilayah hilir. Film biasanya berasal dari kantong plastik tipis dan bungkus makanan. Foam banyak berasal dari styrofoam.

“Film dan foam cenderung meningkat di wilayah hilir yang padat aktivitas manusia,” kata Rofi’ul.

Meski jumlahnya kecil, pellet plastik juga ditemukan dalam penelitian itu. Pellet merupakan bahan baku plastik industri berbentuk butiran kecil.

Keberadaan pellet di sungai mengindikasikan adanya kebocoran limbah industri plastik.

Dalam penelitian itu, sampel air sungai disaring lalu dipisahkan menggunakan larutan natrium klorida sehingga partikel lebih mudah diidentifikasi lewat mikroskop stereo.

Pendekatan itu membantu peneliti membedakan bentuk dan jenis mikroplastik secara rinci.

Selama 16 hari pemantauan di Kali Tebu Surabaya, lebih dari 11,5 ton sampah dievakuasi dari aliran sungai. Tingginya volume limbah memperlihatkan kebocoran sampah dari kawasan permukiman dan drainase kota masih berlangsung setiap hari. Sungai perlahan berubah menjadi jalur pengangkut sampah menuju laut. | Sumber MOZAIK

#Sungai Menjadi Jalur Perpindahan Sampah

Temuan di Kali Tebu menjadi gambaran kondisi yang terjadi di banyak sungai Indonesia.

Dalam beberapa bulan terakhir, tim Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) bentukan ECOTON melakukan identifikasi timbulan sampah di Kali Tebu melalui pemasangan trash barrier atau alat penahan sampah di aliran sungai.

Pemantauan itu mengukur volume sampah yang terbawa arus dari kawasan permukiman, drainase kota, hingga aktivitas perkotaan menuju hilir.

Dalam 24 jam pertama pemasangan uji coba alat pada 24 – 25 April 2026, tim mencatat sebanyak 907 kilogram sampah berhasil dievakuasi. Dari jumlah itu, 757 kilogram berupa sampah anorganik, sedangkan 150 kilogram lain berupa sampah organik.

Kali Tebu segmen tengah memperlihatkan persoalan sampah sungai di Surabaya masih berlangsung dalam intensitas tinggi. Pada periode 11 hingga 26 Mei 2026, total sampah yang dievakuasi mencapai 11.579,77 kilogram dengan melibatkan tujuh petugas lapangan.

“Volume sampah yang terus tinggi memperlihatkan kebocoran limbah dari daratan masih berlangsung setiap hari,” kata Alaika Rahmatullah, Manager Data dan Informasi MOZAIK.

Puncak timbulan sampah terjadi pada 13 Mei 2026 dengan berat mencapai 1.572 kilogram atau setara 141 karung sampah.

Volume terendah tercatat pada 15 Mei 2026 dengan 255,5 kilogram atau 28 karung.

Fluktuasi itu mengindikasikan produksi sampah sungai sangat dipengaruhi curah hujan, aliran drainase kota, serta kebiasaan pembuangan sampah masyarakat.

“Ketika hujan meningkat, sampah dari saluran permukiman langsung terdorong menuju sungai. Trash boom bekerja sebagai penahan terakhir sebelum sampah bergerak ke laut,” ujar Alaika.

Pada rentang 19 – 21 Mei 2026, tren kembali meningkat. Sampah yang diangkut berkisar antara 1.029 hingga 1.202 kilogram per hari.

Kondisi itu memperlihatkan pendekatan pembersihan sungai saja tak cukup menyelesaikan persoalan. Evakuasi ribuan kilogram sampah setiap pekan menunjukkan beban ekologis terus diproduksi dari daratan.

Tanpa pengurangan sampah dari sumbernya, sungai akan tetap berubah menjadi saluran pengangkut limbah menuju laut.

Ketika sistem pengelolaan sampah kota gagal menahan kebocoran limbah, sungai menjadi tempat pelarian paling mudah. Di kawasan padat penduduk, sebagian warga masih membuang sampah langsung ke saluran air. Sebagian lain membakar limbah rumah tangga karena layanan pengangkutan tak menjangkau seluruh kawasan.

Kondisi itu diperparah tingginya penggunaan plastik sekali pakai. Kantong plastik, sachet multilapis, styrofoam, sedotan, hingga botol minuman terus diproduksi dalam jumlah besar.

Masalah muncul karena banyak jenis plastik memiliki nilai ekonomi rendah sehingga tak menarik bagi sektor daur ulang informal.

Sampah akhirnya bocor ke laut.

“Sebagian besar sampah plastik fleksibel sangat sulit didaur ulang. Tanpa pembatasan produksi dan pengurangan konsumsi, volume sampah akan terus meningkat di sungai,” kata Alaika.

Di Indonesia, kebutuhan data mengenai paparan mikroplastik terhadap manusia masih sangat besar. Penelitian mengenai toksisitas dan risiko kesehatan akibat mikroplastik juga masih terbatas.

Padahal masyarakat pesisir Indonesia memiliki tingkat konsumsi hasil laut cukup tinggi sehingga potensi paparan mikroplastik ikut meningkat.

“Mikroplastik sudah bergerak dari persoalan lingkungan menuju persoalan kesehatan manusia. Data paparan terhadap manusia di Indonesia masih sangat minim,” kata Alaika.

Pemerintah sebenarnya telah menetapkan target pengurangan sampah plastik laut sebesar 70 persen melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut.

Pemerintah juga menetapkan target peningkatan pengelolaan sampah nasional lewat Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017.

Masalah utama muncul karena penelitian polusi plastik di Indonesia masih tersebar dengan pendekatan berbeda-beda. Sebagian fokus pada laut, sebagian lain pada sungai, sedimen, pantai, maupun organisme laut.

Dalam kajian terhadap 83 artikel ilmiah yang dipublikasikan antara 1986 – 2020, peneliti menemukan masih banyak kesenjangan penelitian polusi plastik di Indonesia. Sebagian besar riset masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan wilayah pesisir tertentu.

Sementara banyak sungai di luar Jawa belum memiliki data mikroplastik memadai.

Penelitian di Kali Tebu memperlihatkan, bagaimana limbah domestik sehari-hari dapat berubah menjadi ancaman ekologis jangka panjang. Mikroplastik bergerak diam bersama aliran sungai tanpa terlihat mata. Partikel itu terus terakumulasi menuju hilir sebelum akhirnya bermuara ke laut.

Indonesia menghadapi tantangan besar, karena memiliki ribuan sungai yang bermuara langsung ke laut. Pada saat sama, Indonesia berada di kawasan Coral Triangle yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia.

Kawasan itu menjadi rumah bagi berbagai spesies karang, ikan, lamun, dan mangrove yang sangat rentan terhadap pencemaran plastik.

Penyu sering ditemukan mati, akibat menelan kantong plastik yang dikira ubur-ubur. Burung laut ditemukan membawa pecahan plastik di saluran pencernaan.

Dalam jangka panjang, pencemaran plastik dapat mengganggu rantai makanan laut dan menurunkan produktivitas perikanan.

Mikroplastik akhirnya mengalir mengikuti arus air, memasuki rantai makanan, lalu kembali lagi ke tubuh manusia melalui cara yang nyaris tak disadari.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *