Lewati ke konten

MOZAIK: Sampah Kali Tebu Surabaya Tembus 11 Ton

| 3 menit baca |Sorotan | 22 dibaca

Evakuasi sampah di Kali Tebu Surabaya menunjukkan aliran plastik rumah tangga terus mengalir menuju sungai dan laut setiap hari.

Tumpukan sampah masih terus mengalir di Kali Tebu, Surabaya. Dalam waktu sekitar dua pekan, tim Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) bentukan ECOTON mengangkat lebih dari 11 ton sampah dari aliran sungai melalui pemasangan trashboom di segmen tengah Kali Tebu.

Data pemantauan periode 11 – 26 Mei 2026 mencatat total sampah yang dievakuasi mencapai 11.579,77 kilogram. Sampah diangkat setiap hari oleh tujuh petugas lapangan menggunakan karung dari titik penahan sampah yang dipasang melintang di aliran sungai.

Pemantauan menunjukkan volume sampah naik turun cukup tajam. Pada 13 Mei, volume sampah mencapai angka tertinggi, sekitar 1.572 kilogram atau setara 141 karung. Dua hari kemudian jumlahnya sempat turun menjadi sekitar 255 kilogram. Setelah itu sampah kembali meningkat hingga menembus lebih dari satu ton per hari.

Manager Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahmatullah, mengatakan pola itu memperlihatkan pasokan sampah dari kawasan permukiman masih sangat tinggi.

“Setiap hari ada sampah baru yang masuk. Artinya sumber pencemar di kawasan hulu belum terkendali. Sungai masih menjadi tempat pelarian sampah rumah tangga,” kata Alaika, Jumat, 29 Mei 2026.

Menurut Alaika, sebagian besar sampah yang tertahan berupa plastik sekali pakai, kantong kresek, kemasan makanan, styrofoam, popok sekali pakai, hingga ranting dan limbah domestik lain yang terbawa arus drainase kota.

“Pemkot Surabaya, sebenarnya sudah menetapkan fungsi dan kualitas air yang harus dijaga. Masalahnya ada pada pengawasan sungai yang kurang intensif. Dan keasadaran warganya pembuangan sampah yang masih sering terjadi dibuang ke sungai,” ujar Alaika.”

Selama 16 hari, tujuh petugas mengevakuasi 11,5 ton sampah dari trashboom Kali Tebu Surabaya. Krisis sungai terus mengalir. | Sumber MOZAIK | Desain AI

Diketahui, Kali Tebu memiliki panjang 4,64 kilometer, berada di hulu Makam Umum Rangkah berujung di Kelurahan Tambak Wedi. Secara administratif sungai Kali Tebu melintasi wilayah vital, yaitu Kecamatan Simokerto, Tambaksari, dan Kenjeran.

Sebagaimana dalam landasan hukum Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 02 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Kualitas Air, Kali Tebu ditetapkan sebagai bagian dari saluran Tambak Wedi dengan klasifikasi Kelas III.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Berdasarkan mandat itu, seharusnya sungai ini memilik kategori sebagai budidaya ikan air tawar, peternakan, serta irigasi tanaman. Namun kenyataannya, sungai dipenuhi sampah dan limbah domestik serta acap mengeluarkan bau yang kurang sedap.

#Plastik Mengalir Menuju Laut

Koordinator Evakuasi Sampah MOZAIK, Heri Purnomo, mengatakan proses pengangkutan harus dilakukan rutin agar trashboom tidak penuh dan meluap kembali ke sungai.

“Kalau terlambat diangkut, sampah bisa menumpuk sangat cepat. Kadang sehari langsung puluhan karung. Saat arus deras, sampah datang terus tanpa berhenti,” ujar Heri.

Kenaikan volume kembali terlihat pada 19 – 21 Mei. Pada rentang itu tim lapangan mengangkat lebih dari tiga ton sampah. Tanggal 20 Mei menjadi salah satu hari dengan volume tertinggi, mencapai sekitar 1.202 kilogram.

Temuan di lokasi memperlihatkan sungai masih menjadi jalur utama perpindahan sampah plastik dari daratan menuju wilayah pesisir. Plastik yang terus berada di perairan lambat laun akan terpecah menjadi partikel lebih kecil akibat panas matahari, gesekan air, dan aktivitas biologis.

Partikel itu kemudian berubah menjadi mikroplastik yang sulit terlihat mata. Mikroplastik dapat mengendap di sedimen sungai, masuk ke laut, lalu dikonsumsi ikan maupun biota perairan lain.

Alaika menilai pemasangan trashboom hanya menjadi langkah pengendalian di hilir. Volume sampah yang terus tertahan justru memperlihatkan persoalan utama masih berada di kawasan permukiman dan sistem pengelolaan sampah kota.

“Trashboom membantu menahan sampah supaya tidak langsung masuk laut. Tapi kalau produksi sampah plastik terus tinggi, sungai akan tetap penuh,” kata Alaika.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *