Desa Oro-Oro Ombo di Kota Batu memulai langkah sistematis pengelolaan sampah berbasis sumber melalui analisis komposisi, kolaborasi lintas pihak, serta penguatan peran warga.
Pemerintah desa bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, TPS3R Jalibar Berseri, dan Ecoton menggelar konsultasi publik hasil Analisis Karakteristik Sampah (AKSA), Senin, 27 April 2026.
Forum ini menjadi pijakan awal pengembangan kawasan pilah sampah mandiri dalam kerangka program Zero Waste Cities di wilayah tersebut, dengan melibatkan 78 peserta.
“AKSA menjadi langkah awal yang krusial untuk memastikan kebijakan pengelolaan sampah tidak dilakukan secara seragam. Setiap kawasan memiliki karakteristik berbeda, sehingga pendekatan yang diambil harus berbasis data,” kata Manajer Program Zero Waste Ecoton, Tonis Afrianto dalam rilis yang dikirim ke TitikTerang, Senin, (27/4/2026)
Peserta berasal dari unsur RT, RW, kepala dusun, kader lingkungan, serta praktisi. Pertemuan berlangsung di balai desa dengan agenda utama pemaparan hasil AKSA yang dilakukan selama delapan hari, pada 11–18 Februari 2026, dengan melibatkan 50 rumah tangga.
Analisis yang dilakukan juga memetakan komposisi dan jenis sampah rumah tangga sebagai dasar perumusan strategi pengelolaan. Hasilnya menunjukkan dominasi sampah organik mencapai 66 persen dari total timbulan. Data kemudian menjadi rujukan penting dalam menentukan arah intervensi program di tingkat desa.
Tonis menilai AKSA sebagai fondasi kebijakan pengelolaan sampah berbasis data. “AKSA memberikan gambaran pola konsumsi warga dan jenis sampah yang dihasilkan. Dari situ dapat ditentukan metode pengelolaan yang sesuai, terutama penguatan pengolahan sampah organik,” ujarnya.
Selanjutnya Tonis juga mengatakan ada lima rekomendasi untuk kawasan mandiri. Lima itu tentu saja ada kewajiban yang harus dijalani.
“Pertama, kewajiban memilah sampah di tingkat rumah tangga. Kedua, pembentukan sistem pengangkutan terpilah. Ketiga, optimalisasi pengelolaan sampah organik mengingat 66 persen timbulan berasal dari jenis tersebut. Keempat, pembentukan tim penyuluh zero waste di tingkat RT, RW, dan desa. Kelima, penyusunan peraturan desa terkait pembatasan plastik sekali pakai,” jelas Tonis.

#Strategi Desa dan Perubahan Sistem
Sementara tu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni menyampaikan, arah kebijakan melalui program Kota Batu Greenation atau Green Action for Sustainable City Transformation.
Program ini mendorong perubahan paradigma pengelolaan sampah dari sistem terpusat menjadi desentralisasi berbasis kawasan.
“Pendekatan pilah-olah menjadi kunci. Warga didorong untuk mengelola sampah dari sumbernya, sehingga beban pengangkutan dan pembuangan dapat ditekan,” kata Dian dalam pemaparannya.
Ia juga menambahkan capaian pengurangan sampah Kota Batu yang mencapai 64,50 persen pada 2025. Angka tersebut melampaui target nasional sebesar 30 persen. Capaian ini, menurut Dian, menjadi modal penting untuk memperluas implementasi program berbasis komunitas.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Dalam forum tersebut, pemerintah desa turut menandatangani komitmen kerja sama lintas pihak. Kesepakatan ini mencakup dukungan kebijakan, pendanaan, serta pendampingan teknis guna memastikan keberlanjutan program di tingkat lokal.

#Ancaman Plastik dan Peran Warga
Direktur Eksekutif Ecoton, Daru Setyorini, menyoroti dampak plastik sekali pakai yang kian meluas, termasuk temuan mikroplastik dalam tubuh manusia. Dalam presentasinya, Daru mengaitkan persoalan sampah dengan kesehatan lingkungan dan manusia.
“Paparan mikroplastik sudah terdeteksi hingga pada ibu hamil. Situasi ini menunjukkan pencemaran plastik telah masuk ke rantai kehidupan manusia. Upaya pengurangan harus dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari,” ujar Daru.
Ia mendorong penggunaan wadah alami seperti daun dan sistem isi ulang sebagai alternatif untuk mengurangi limbah plastik, terutama dari kemasan sachet. Menurut dia, perubahan gaya hidup menjadi elemen penting dalam keberhasilan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, kegiatan ini juga disertai pemberian penghargaan kepada 15 rumah tangga yang konsisten melakukan pemilahan sampah. Mereka menerima wadah rantang guna ulang sebagai bentuk apresiasi sekaligus insentif perubahan perilaku.
Seluruh sajian dalam acara disiapkan tanpa plastik sekali pakai. Panitia menggunakan sistem prasmanan dengan peralatan makan guna ulang, termasuk gelas dan piring, untuk menekan timbulan sampah selama kegiatan berlangsung.
Langkah ini menjadi simulasi langsung penerapan prinsip zero waste dalam kegiatan komunitas. Pemerintah desa berharap pendekatan serupa dapat diterapkan dalam kegiatan warga sehari-hari.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Desa Oro-Oro Ombo diproyeksikan menjadi kawasan percontohan Zero Waste Cities di Kota Batu. Pengelolaan sampah berbasis sumber, didukung data dan partisipasi warga, diharapkan mampu menekan aliran sampah ke tempat pembuangan akhir serta mendukung target nasional bebas sampah pada 2030.***

Artikel ini dikirim oleh Tonis Afrianto, praktisi lingkungan hidup yang fokus pada program Zero Waste Cities dari ECOTON.Top of Form