Lewati ke konten

Kelor Jadi Senjata Baru Lawan Mikroplastik

| 3 menit baca |Ide | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi

Riset terbaru menunjukkan biji kelor mampu menyaring mikroplastik dari air hingga 98 persen, membuka peluang solusi alami di tengah krisis kontaminasi global.

Jejak mikroplastik tak lagi berhenti di sungai atau laut. Partikel halus itu telah menembus batas paling privat di tubuh manusia. Dalam sejumlah studi yang dilakukan Lembaga Kajian Lahan Basah Ecoton, mikroplastik terdeteksi dalam darah, paru-paru, bahkan cairan reproduksi seperti sperma dan amnion.

Temuan Ecoton itu mempertegas satu hal, persoalan plastik telah berubah dari isu lingkungan menjadi ancaman kesehatan. Hal ini merupakan tantangan bagi kehidupan manusia.

Data global memperlihatkan skalanya kian mengkhawatirkan. Setiap tahun, sekitar 8 hingga 11 juta ton plastik mengalir ke laut. Partikel yang terfragmentasi itu masuk ke rantai makanan, lalu kembali ke manusia dalam bentuk yang tak bisa dilihat oleh mata.

Peneliti memperkirakan manusia menelan puluhan ribu partikel mikroplastik setiap tahun. Meski kemunculannya sedmekian membahaya. Namun angka-angka yang ada belum sepenuhnya dipahami dampaknya dalam jangka panjang.

Badan lingkungan Amerika Serikat, Environmental Protection Agency (EPA), bahkan telah memasukkan mikroplastik sebagai “kelompok kontaminan prioritas” dalam daftar terbaru mereka.

Status ini menandakan urgensi tinggi, setara dengan polutan kimia berbahaya lain yang selama ini diawasi ketat.

Dalam konteks itu, pendekatan konvensional pengolahan air mulai dipertanyakan. Koagulan berbasis aluminium dan besi, yang lazim dipakai, meninggalkan residu yang sulit terurai. Kekhawatiran terhadap toksisitas jangka panjang membuat pencarian alternatif semakin mendesak.

#Kelor dan Kimchi: Solusi Tak Terduga

Di tengah kebuntuan teknologi konvensional, solusi justru muncul dari sumber yang lama dianggap remeh, yaitu tanaman tropis. Peneliti dari Universidade Estadual Paulista menemukan, biji Moringa oleifera atau biji kelor memiliki kemampuan luar biasa dalam menyaring mikroplastik dari air.

“Ekstrak garam dari biji tersebut bekerja serupa dengan aluminium sulfat,” kata Gabrielle Batista, penulis studi tersebut. “Dalam kondisi air yang lebih basa, performanya bahkan melampaui bahan kimia.”

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dalam uji laboratorium, efisiensi penghilangan mikroplastik mencapai lebih dari 98 persen. Angka ini menempatkan kelor sejajar dengan metode kimia modern, dengan keunggulan tambahan: dapat terurai secara hayati dan minim residu berbahaya.

Peneliti utama, Adriano Gonçalves dos Reis, menegaskan dorongan di balik riset tersebut. “Ada peningkatan pengawasan regulasi terhadap koagulan sintetis. Bahan tersebut tidak terurai dan meninggalkan jejak toksik. Karena itu, alternatif berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak,” ujarnya.

Kelor bukan nama baru dalam dunia kesehatan. Tanaman ini lama digunakan untuk pengobatan tradisional, mulai dari peradangan hingga penyakit kronis. Namun, fungsi sebagai penyaring mikroplastik membuka babak baru: dari tanaman herbal menjadi teknologi lingkungan.

Di sisi lain, pendekatan berbeda datang dari dapur. Studi yang dipublikasikan di jurnal Bioresource Technology menunjukkan bahwa makanan fermentasi seperti Kimchi berpotensi membantu tubuh mengeluarkan nanoplastik. Bakteri asam laktat di dalamnya mampu mengikat partikel kecil di usus, lalu membawanya keluar melalui sistem pencernaan.

“Hasil pengujian menunjukkan peningkatan signifikan jumlah nanoplastik dalam feses,” tulis laporan yang juga dirujuk oleh ScienceDirect. Temuan ini mengindikasikan mekanisme ekskresi yang sebelumnya belum banyak dipahami.

Meski menjanjikan, kedua pendekatan ini belum bebas dari catatan kritis. Skala menjadi persoalan utama. Teknologi berbasis kelor masih diuji di laboratorium, belum diimplementasikan secara luas dalam sistem air perkotaan yang kompleks. Begitu juga dengan kimchi—efektivitas pada manusia masih membutuhkan verifikasi klinis lebih lanjut.

Di tengah krisis mikroplastik yang kian meluas, riset ini memberi sinyal penting: solusi tidak selalu lahir dari teknologi mahal. Kadang, jawaban tersembunyi di kebun tropis atau dalam toples fermentasi di dapur. Persoalannya kini bukan sekadar menemukan, melainkan memastikan bahwa solusi itu bisa bekerja di dunia nyata—di sungai yang tercemar, di kota yang padat, dan di tubuh manusia yang terlanjur terpapar ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *