Lewati ke konten

Hari Bumi 2026: Pupuk Organik Cair Jadi Solusi Petani Kota Batu Jawa Timur Tekan Biaya Produksi

| 4 menit baca |Ide | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Tonis Afrianto Editor: Supriyadi

Peringatan Hari Bumi 2026 di Kota Batu menghadirkan inovasi pengelolaan sampah organik menjadi pupuk cair, membuka peluang baru bagi petani mengurangi biaya produksi.

Peringatan Hari Bumi dimanfaatkan sebagai momentum memperkenalkan praktik pengelolaan sampah organik yang lebih bernilai. TPS3R Jalibar Berseri di Desa Oro-Oro Ombo menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu serta Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON), menggelar sosialisasi bertema transformasi sampah organik menjadi nutrisi pangan organik.

Kegiatan berlangsung di Gedung TPS3R Jalibar Berseri dan diikuti 30 peserta dari berbagai unsur, mulai dari gabungan kelompok tani (Gapoktan), Dinas Pertanian, kader PKK, hingga praktisi lingkungan.

Acara dibuka Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko, bersama perwakilan DLH Kota Batu. Kegiatan ditandai penyerahan simbolis pupuk organik cair (POC) hasil olahan rumah kompos serta penanaman pohon turi.

Dalam sambutannya, Wiweko menyoroti perubahan perlahan di kalangan petani. “Petani mulai mencoba beralih ke pertanian organik. POC yang diberikan terbukti mendukung pertumbuhan tanaman, harapannya bisa terus dimanfaatkan secara luas,” kata Wiweko, Rabu 22 April 2026.

Warga Desa Oro-Oro Ombo berfoto bersama usai kegiatan peringatan Hari Bumi 2026 | Foto: Tonis

#Inovasi dari Sampah Organik

Sementara itu Ketua TPS3R Jalibar Berseri, Titik Setyowati mengatakan, peringatan Hari Bumi menjadi momen penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam hal pengelolaan sampah. Menurut dia, sampah organik memiliki potensi besar jika dikelola dengan benar.

“Saya setiap hari menanam sayur menggunakan kompos dan pupuk cair dari hasil pemilahan sampah di TPS3R. Kegiatan yang saya lakukan ingin membuktikan kalau bahan organik sangat bermanfaat bagi kehidupan dan lingkungan,” ujar Titik.

Dari kegiatan ini mendapat respon dari Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Pengelolaan Limbah B3 DLH Kota Batu, Endang Ari Setyoningsih, S.T, M.Si. Ia pun menambahkan, pemanfaatan lindi sebagai pupuk cair masih belum banyak dikenal. Padahal, Kota Batu ini dikenal sebagai daerah pertanian yang membutuhkan alternatif pupuk.

“Selama ini fokus pengolahan sampah organik di TPS3R lebih banyak pada kompos. Padahal, lindi yang dihasilkan dapat menjadi pupuk organik cair. Ini bisa mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia,” kata Endang.

Dalam sesi pemaparan, praktisi lingkungan Heru menjelaskan keunggulan penggunaan pupuk organik cair dalam meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman. Heru juga membuka kesempatan belajar langsung bagi masyarakat yang ingin mendalami teknik pembuatan POC.

“Betapa hebatnya pertumbuhan sebuah tanama, apabila menggunakan pupuk organik dalam setiap proses pertumbuhannya, “ kata Heru, sekaligus menawarkan diri mengajak belajar gratis.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sementara itu, Tonis Afrianto, praktisi lingkugan hidup yang membidangi Zero Waste Cities dari ECOTON menekankan, pentingnya peran masyarakat dalam mendukung program zero waste di tingkat kota. Menurut dia, perubahan harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan sampah.

“Pemilahan dari sumber menjadi kunci. Selain itu, penggunaan plastik sekali pakai perlu dikurangi dan sistem guna ulang seperti refill harus diperluas,” ujar Tonis.

Diskusi bersama warga Desa Oro-Oro Ombo membahas pentingnya pengelolaan sampah dan pemanfaatan pupuk organik sebagai solusi lingkungan dan pertanian berkelanjutan | Foto: Dok.

#Harapan Petani dan Praktik Minim Sampah

Bagi petani, penggunaan pupuk organik cair memberi dampak langsung pada biaya produksi. Peteman, salah satu peserta, mengaku telah merasakan manfaatnya.

“Pupuk organik bisa menjadi alternatif dari pupuk kimia yang harganya mahal. Penggunaan POC membantu meringankan biaya petani dan bisa disebarluaskan ke petani lain,” sambung Tonis.

Selain materi sosialisasi, penyelenggara juga menerapkan konsep minim sampah selama kegiatan. Seluruh sajian menggunakan sistem prasmanan dengan wadah guna ulang seperti gelas dan piring. Tidak ditemukan penggunaan plastik sekali pakai.

Sampah organik yang dihasilkan dari kegiatan langsung dikelola di rumah kompos milik TPS3R Oro-Oro Ombo. Praktik ini sekaligus menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular dalam skala lokal.

Kegiatan Hari Bumi tersebut juga dimeriahkan dengan fashion show oleh pekerja TPS3R serta lomba kreasi daur ulang. Para kader lingkungan menampilkan berbagai karya berbasis reuse yang dinilai dari fungsi dan kreativitas. Panitia menetapkan juara pertama, kedua, dan ketiga untuk karya terbaik.

Melalui kegiatan ini, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan peluang. Pupuk organik cair menjadi salah satu bentuk konkret pemanfaatan limbah yang memberi manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.***

Artikel ini dikirim oleh Tonis Afrianto, praktisi lingkungan hidup yang fokus pada program Zero Waste Cities dari ECOTON.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *