Lewati ke konten

Tekan Plastik Sekali Pakai, Siswa SMAN 1 Driyorejo Tawarkan Solusi ‘Water Refill Station’ ke Dewan

| 5 menit baca |Ide | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease Editor: Supriyadi

Pelajar SMAN 1 Driyorejo mengusulkan program TEPAR kepada DPRD Gresik, menawarkan solusi pengelolaan sampah dan fasilitas isi ulang air guna menekan plastik sekali pakai.

Tiga pelajar kelas X SMAN 1 Driyorejo, Junnatun Nafiah, Krisna Wahyu Sahaja, dan Chantika Amira Ramadhani, menyuarakan kegelisahan terhadap tingginya penggunaan plastik sekali pakai dalam forum Dialog Publik Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPRD Kabupaten Gresik.

Forum yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Bumi, tepat 22 April 2026 ini, menghadirkan Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir, Ketua Fraksi PKB Imron Rosyadi, serta perwakilan Dinas Lingkungan Hidup.

Dalam forum tersebut, ketiganya mengajukan program Tempat Edukasi dan Pengelolaan Sampah Terpadu (TEPAR). Usulan yang lahir dari temuan selama melakukan survei kepada generasi muda di wilayah Driyorejo, Gresik, Jawa Timur.

“Kami melihat masih banyak masyarakat bergantung pada plastik sekali pakai. Teman-teman sekolah sebenarnya senang membawa tumbler, tetapi kesulitan menemukan fasilitas isi ulang air sehingga tetap membeli air kemasan,” kata Junnatun Nafiah dalam forum, pada Rabu, 22 April 2026.

Hasil survei terhadap ratusan responden Gen Z di Driyorejo menunjukkan tingkat kesadaran terhadap bahaya plastik sudah tinggi, tetapi belum diikuti perubahan perilaku karena minimnya dukungan sistem dan fasilitas di ruang publik maupun sekolah.

“Kalau fasilitas isi ulang air tersedia dan mudah diakses, kami yakin lebih banyak pelajar akan beralih menggunakan tumbler dan mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai,” ujarnya.

#Kesenjangan Kesadaran dan Fasilitas

Sementara itu, dilihat dari paparan para pelajar hasil survei yang dilakukan terhadap 878 responden Gen Z di Driyorejo, menunjukkan 98 persen responden telah mengetahui bahaya plastik sekali pakai. Namun tingkat penggunaan tetap tinggi, karena faktor kepraktisan serta keterbatasan fasilitas pendukung.

Dan sebanyak 51 persen responden menggunakan setidaknya dua plastik sekali pakai setiap hari. Di sisi lain, 76,4 persen mengaku masih menggunakan plastik di rumah, dipengaruhi kebiasaan lingkungan sekitar.

Alasan penggunaan plastik didominasi faktor kepraktisan sebesar 45,1 persen. Kebiasaan membawa plastik serta belum terbiasa membawa wadah sendiri mencapai 30,2 persen.

“Kondisi ini menunjukkan ada jarak antara kesadaran dan praktik yang dilakukan oleh teman-teman setiap harinya ,” ujar Krisna Wahyu Sahaja. “Banyak yang sudah tahu risikonya, tetapi sistem pendukung belum tersedia.”

Ketua Fraksi PKB DPRD Gresik Imron Rosyadi menyambut baik dan menyebut jika kegiatan yang dilakukan para siswa menjadi wadah penting bagi generasi muda, baik sekarang maupun mendatang.

“Dialog publik ini bisa menjadi ruang diskusi, penyaluran aspirasi, dan temuan riset mahasiswa maupun pelajar untuk solusi pengelolaan sampah di Gresik,” ucap Imron.

Imron juga menghimbau, perlu dilkaukannya kesempatan  bersama. Dalam hal ini, FPKB mengusulkan kebijakan pengurangan sampah di lingkungan DPRD, termasuk larangan penggunaan air minum dalam kemasan di setiap kegiatan resmi. “Penerapan sistem tanpa kertas, serta pengurangan penggunaan plastik dan Styrofoam, “ imbuh Imron.

Pelajar SMAN 1 Driyorejo menyerahkan hasil survei persepsi Gen Z terkait penggunaan plastik sekali pakai di Driyorejo, Gresik sebagai dasar usulan solusi pengurangan sampah plastik. | Dok. Ecoton

#Program TEPAR dari Pengamatan Lapangan

Program TEPAR yang diusulkan terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, penguatan TPS3R sebagai pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat desa. Para pelajar menilai praktik pengelolaan sampah masih belum konsisten.

“Kami masih melihat sampah dari rumah sudah dipilah, tetapi sering dicampur lagi dalam proses berikutnya. Di sekitar sekolah juga masih ditemukan praktik pembakaran sampah terbuka,” ujar Chantika Amira Ramadhani.

Komponen kedua adalah Polisi Sampah, sebuah inisiatif pengawasan berbasis masyarakat. Program ini melibatkan ibu-ibu, karang taruna, serta komunitas lokal untuk mengurangi penggunaan plastik melalui edukasi dan pendekatan sosial.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Komponen ketiga berupa Water Refill Station, fasilitas isi ulang air minum di ruang publik. Usulan ini muncul sebagai respons terhadap minimnya akses isi ulang air yang mendukung kebiasaan membawa tumbler.

“Kami melihat di kota lain fasilitas ini sudah tersedia. Di Gresik belum, padahal penting untuk mengurangi sampah plastik. Survei kami menunjukkan anak muda enggan menggunakan tumbler karena tidak ada tempat isi ulang,” ujar Krisna.

Program tersebut merupakan bagian dari keikutsertaan para pelajar dalam Jawa Timur Young Changemaker Award (JAYCA) 2026. Kegiatan ini mendorong generasi muda melakukan identifikasi masalah lingkungan, analisis dampak, hingga penyusunan solusi berbasis aksi.

Dalam tahapan program, peserta mendapatkan pengetahuan melalui kuliah daring dan diskusi film lingkungan. Mereka juga melakukan praktik mendeteksi kontaminasi mikroplastik dalam air hujan sebagai bagian dari pembelajaran langsung.

Selain itu, peserta menyusun gambaran kondisi ideal yang ingin dicapai serta melakukan advokasi kepada pembuat kebijakan. Hasil survei kemudian dipresentasikan kepada DPRD dan Dinas Lingkungan Hidup sebagai dasar rekomendasi kebijakan.

#Dari Nobar Menuju Advokasi Kebijakan

Gerakan lingkungan di SMAN 1 Driyorejo berawal dari kegiatan sederhana berupa nonton bareng film bertema lingkungan. Aktivitas tersebut berkembang menjadi diskusi, riset, hingga advokasi kebijakan.

“Awalnya hanya nobar, lama-lama kami tertarik dan ingin bergerak lebih jauh. Dari situ muncul berbagai inisiatif, termasuk gerakan sampah terpilah di sekolah,” kata Krisna.

Dalam audiensi yang sama, DPRD Gresik juga menerima paparan dari enam mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Penelitian mereka menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik di Kepulauan Bawean.

Temuan tersebut mencakup ikan layur, ikan cakalang, zooplankton, anggur laut, serta vegetasi mangrove yang terindikasi tercemar mikroplastik. Sumber pencemaran berasal dari sampah plastik yang ditemukan di pantai dan dasar perairan.

Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir menyambut baik partisipasi generasi muda dalam isu lingkungan.

“Kami senang ada generasi muda peduli lingkungan dan terus bergerak. Dukungan akan diberikan,” ujar Syahrul.

Guru pendamping kelompok lingkungan SMAN 1 Driyorejo, Siti Mutmainah, menyebut keterlibatan pelajar dalam forum kebijakan merupakan bagian dari pendidikan kewarganegaraan yang konkret.

“Pelajar ingin berkontribusi melalui pemikiran dan aksi. Perubahan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler, memilah sampah, hingga mengusulkan kebijakan,” kata Siti.

Momentum Hari Bumi 2026 menjadi pengingat bahwa upaya menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Inisiatif dari sekolah menunjukkan bahwa generasi muda mampu berperan sebagai penggerak perubahan berbasis data dan pengalaman lapangan.

Usulan program TEPAR menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan sistemik dapat dirancang dari tingkat sekolah menuju kebijakan daerah. Dengan dukungan fasilitas, pengawasan sosial, serta edukasi berkelanjutan, pengurangan plastik sekali pakai diharapkan dapat berjalan lebih efektif di Gresik.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *