Lewati ke konten

Peringati Hari Bumi 2026, Kabupaten Gresik Sinarkan Sinergi Penanganan Polusi Plastik

| 3 menit baca |Mikroplastik | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease Editor: Supriyadi

Upaya pengendalian mikroplastik di Gresik diperkuat melalui sinergi pemerintah, peneliti, pelajar, dan masyarakat untuk mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan dari desa hingga pesisir.

Kolaborasi lintas sektor di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, diperkuat dalam peringatan Hari Bumi 2026 untuk mengendalikan pencemaran lingkungan, terutama mikroplastik dan sampah. Dialog publik digelar Forum Fraksi PKB (FPKB) di Kantor DPRD Gresik dengan menghadirkan pemerintah daerah, legislatif, peneliti, pelajar, dan mahasiswa.

Ketua PKB Gresik, Imron Rosyadi, mengatakan pengelolaan lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar berjalan efektif. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang menyatukan langkah dan memperkuat sinergi.

“Mengelola lingkungan tidak bisa berjalan sendiri, tapi perlu memprioritaskan kebersamaan. Forum ini untuk memperkuat kolaborasi agar langkah yang dilakukan semakin nyata dan dirasakan masyarakat,” kata Imron dalam forum, Rabu, 22 April 2026.

Peneliti lingkungan Prigi Arisandi menilai persoalan mikroplastik membutuhkan pendekatan berbasis riset yang diikuti tindakan konkret. Temuan mikroplastik di sungai dan biota perairan menunjukkan pencemaran telah meluas dan berdampak pada ekosistem.

“Pengendalian harus dimulai dari sumber, terutama dengan mengurangi plastik sekali pakai dan memperbaiki sistem pengelolaan sampah,” ujar Prigi, pendiri Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton).

Kepala DLH Gresik, Sri Subaidah,memaparkan data kondisi pengelolaan sampah kabupaten dalam forum dialog publik, menyoroti tantangan dan capaian di tingkat daerah. | Dok. Ecoton

#Penguatan Sistem dari Hulu ke Hilir

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, menyampaikan pemerintah daerah terus memperkuat pengelolaan sampah melalui pendekatan kolaboratif. Program yang dijalankan mencakup pemilahan sampah dari sumber, pengolahan di tingkat lokal, serta pelibatan masyarakat.

“Pemerintah Kabupaten Gresik terus memperkuat pengelolaan sampah melalui pendekatan kolaboratif, mulai dari pemilahan di sumber, pengolahan di tingkat lokal, hingga pelibatan aktif masyarakat,” kata Sri.

Sri menambahkan, Gresik termasuk daerah yang menunjukkan perkembangan dalam pengelolaan sampah di tingkat nasional. Penguatan kolaborasi dinilai penting untuk menjaga konsistensi program.

“Penguatan kolaborasi menjadi kunci agar sistem pengelolaan berjalan konsisten dan memberi dampak jangka panjang,” ujarnya.

Praktik di tingkat desa menjadi contoh konkret. Di Desa Randuboto dan Wringinanom, warga telah melakukan pemilahan dan pengolahan sampah organik. Upaya tersebut membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir serta memberikan manfaat ekonomi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Model pengelolaan berbasis masyarakat dinilai dapat diterapkan di wilayah lain, termasuk kawasan pesisir yang menghadapi tekanan pencemaran berbeda.

Forum juga menyoroti pentingnya penguatan implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 3 Tahun 2021 tentang pengurangan plastik sekali pakai. Peserta mendorong perluasan pembatasan plastik di instansi pemerintah, sektor perdagangan, sekolah, serta ruang publik.

Pelajar dan mahasiswa bersama Ketua Fraksi PKB Gresik, Imron Rosyadi, menunjukkan hasil inisiatif pengelolaan sampah dalam dialog publik Hari Bumi 2026 di DPRD Gresik. | Dok. Ecoton

#Sorotan Pesisir dan Peran Generasi Muda

Mahasiswa Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya turut menyampaikan hasil pengamatan di Pulau Bawean. Perairan terlihat bersih secara visual, tetapi tetap mengandung mikroplastik.

“Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan sistem pengelolaan sampah di wilayah pesisir, termasuk edukasi dan pengawasan yang berkelanjutan. Bawean juga merupakan bagian dari wilayah Gresik,” kata perwakilan mahasiswa, Davin Jauhar Bernarddien.

Forum juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan lingkungan. Siswa SMAN 1 Driyorejo memperkenalkan program Tempat Edukasi dan Pengelolaan Sampah Terpadu (TEPAR) sebagai upaya membangun kesadaran sejak dini.

“Kami ingin berkontribusi melalui edukasi dan praktik pengelolaan sampah di sekolah,” kata perwakilan siswa, Krisna Wahyu Sahaja.

Diskusi tersebut menegaskan pengendalian pencemaran lingkungan memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dunia pendidikan, dan masyarakat. Kolaborasi dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong perubahan perilaku dan memperkuat sistem pengelolaan sampah.

Upaya yang telah berjalan diharapkan mampu memperkuat langkah Gresik menuju lingkungan yang lebih bersih dan sehat, dengan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *