Lewati ke konten

Warga Surabaya Bersiap Hadapi Ancaman Musim Kemarau

| 6 menit baca |Sorotan | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Suhu panas mulai menyengat Kota Pahlawan akibat fenomena El Nino. BMKG memprediksi kemarau tiba akhir Mei, memaksa warga bersiap menghadapi cuaca yang jauh lebih terik.

Lidah api seolah menjulur dari balik aspal hitam Jalan Basuki Rahmat, menciptakan fatamorgana yang menari-nari di cakrawala kota. Pemandangan di jantung Surabaya belakangan ini menyajikan atmosfer yang mencekam. Cahaya matahari memantul tajam pada permukaan gedung-gedung kaca, sementara gelombang hawa panas yang kasatmata mengepung setiap sudut jalanan.

Suasana cerah yang biasanya menyuntikkan semangat kini bertransformasi menjadi tantangan fisik yang menyesakkan. Penetrasi radiasi surya mulai terasa jauh lebih agresif di Kota Pahlawan dalam hitungan hari terakhir, menandai pergeseran anomali cuaca yang kian ekstrem. Siang hari tidak lagi sekadar cerah, melainkan membara, memaksa siapa pun yang melintas untuk merasakan sengatan yang menusuk pori-pori kulit.

Berdasarkan data presisi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kering di Surabaya diprediksi akan menyapa secara resmi pada akhir Mei 2026. Prakirawan BMKG Juanda, Levi Ratnasari, memberikan peringatan bahwa fase awal musim gersang ini diperkirakan jatuh pada pekan-pekan pamungkas bulan tersebut.

Akan tetapi, persebaran suhu ekstrem tidak menyentuh seluruh wilayah secara serempak. Ahli meteorologi tersebut menjelaskan bahwa Surabaya bagian barat diperkirakan akan menjadi garda terdepan yang memasuki musim kemarau, tepatnya pada pertengahan Mei. Perbedaan waktu ini menjadi alarm bagi masyarakat di wilayah barat untuk melakukan mitigasi lebih awal dibandingkan wilayah lainnya.

Staf BMKG Juanda tersebut memaparkan bahwa karakteristik kemarau pada tahun ini membawa beban berat akibat pengaruh masif fenomena El Nino. Kehadiran anomali iklim tersebut menyebabkan kelembapan udara merosot tajam, sehingga suhu terasa lebih kering dan membakar jika dibandingkan dengan catatan historis tahun-tahun sebelumnya.

Selain memaparkan data teknis, Levi Ratnasari juga meluruskan simpang siur mengenai istilah “Godzilla El Nino” yang sempat memicu keresahan di jagat digital. Menurut pakar cuaca tersebut, sebutan itu sama sekali bukan terminologi resmi yang diadopsi oleh BMKG dalam sistem klasifikasi cuaca nasional. Penegasan ini penting guna meredam spekulasi yang tidak berbasis sains di tengah kegerahan warga.

“Secara umum awal musim kemarau di Surabaya terjadi pada akhir Mei. Kondisi kemarau akan terasa lebih kering dan terik karena dipengaruhi El Nino,” ujar Levi Ratnasari, saat dihubungi, Kamis, 7 Mei 2026.

#Panas Gerus Stamina

Eskalasi suhu yang drastis ini mulai menggerus stamina dan pola mobilitas penduduk. Di berbagai sudut kota, banyak orang mulai mengeluhkan kondisi udara yang membuat raga cepat merasa lunglai. Ayu, seorang perempuan berusia 24 tahun yang menetap di kawasan Surabaya Pusat, menceritakan perjuangannya melawan cuaca yang kian tidak bersahabat. Sosok muda tersebut mengaku bahwa dalam beberapa waktu terakhir, hawa di Surabaya terasa seolah sedang memanggang kulit. Hanya dengan melangkah keluar rumah dalam durasi singkat, rasa gerah langsung menyergap dan memicu kelelahan fisik yang tidak lumrah.

Kondisi alam yang menyengat ini memaksa Ayu untuk merombak total ritme aktivitas hariannya. Bagi perempuan yang sering bergantung pada transportasi umum atau berjalan kaki ini, paparan sinar ultraviolet terasa langsung menghunjam pertahanan tubuh.

Untuk mengantisipasi ancaman dehidrasi, Ayu kini mengharuskan diri selalu menenteng tumbler berisi air mineral guna memastikan pasokan cairan tetap terjaga di tengah panas yang menguras keringat. Apabila tidak ada agenda yang bersifat mendesak, wanita ini lebih memilih untuk menunda keberangkatan hingga sore hari, menunggu matahari sedikit melunak di ufuk barat.

“Kalau sekarang siang itu panasnya benar-benar terasa. Baru keluar rumah sebentar saja sudah gerah dan bikin cepat capek. Sekarang saya jadi lebih sering bawa tumbler sendiri karena memang cepat haus kalau di luar,” tutur Ayu.

Potret getir dari kerasnya aspal juga dirasakan oleh Handy, seorang pria berusia 37 tahun yang mencari nafkah sebagai pengemudi ojek daring. Sebagai pekerja lapangan yang menghabiskan mayoritas waktunya di bawah langit terbuka, Handy merasakan degradasi fisik yang sangat nyata. Suhu panas yang berada di ambang batas kewajaran membuat daya tahan tubuh Handy meluruh lebih cepat dibandingkan periode biasa. Di bawah siraman terik, pengemudi ojek tersebut merasa kepalanya terus-menerus dihantam panas, yang pada ujungnya memicu rasa pening dan dahaga hebat hanya dalam hitungan jam setelah mulai bekerja.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Cuaca panas mulai menyelimuti Surabaya dalam beberapa hari terakhir. Terik matahari yang kian menyengat membuat suhu udara terasa lebih tinggi, sementara hawa panas dari jalanan menambah rasa gerah bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. | Foto: Shella

Sebagai bentuk adaptasi paksa terhadap iklim, pria ini sekarang lebih sering menepi untuk mencari suaka di bawah rimbun pohon atau sekadar membeli minuman dingin demi menjaga kesadaran. Handy juga melengkapi diri dengan proteksi tambahan untuk meminimalisir kontak langsung dengan radiasi matahari. Jaket berbahan tipis namun rapat serta masker penutup wajah kini menjadi perlengkapan krusial bagi sang pengemudi saat membelah aspal Surabaya yang seolah mendidih.

“Belakangan ini panasnya memang terasa sekali, terutama mulai siang sampai sore. Kalau di jalan itu rasanya kepala seperti kena terik terus-menerus. Saya juga pakai penutup wajah dan jaket yang agak tipis supaya tidak terlalu terasa panas,” jelas Handy.

#Ancaman Dehidrasi Mengintai

Menyikapi ancaman krisis air dan kesehatan yang membayang, BMKG telah mengedarkan serangkaian imbauan taktis bagi publik. Langkah antisipasi menjadi sangat krusial mengingat kelembapan yang rendah dapat memicu berbagai gangguan fisiologis. Levi Ratnasari menggarisbawahi urgensi bagi warga untuk mulai mempraktikkan penghematan air bersih serta sangat menyarankan pembatasan aktivitas di ruang terbuka, terutama saat posisi matahari tegak lurus di atas kepala.

Kewaspadaan terhadap risiko dehidrasi akut menjadi poin sentral yang ditekankan oleh otoritas pemantau cuaca tersebut. Defisit asupan cairan di tengah radiasi tinggi tidak hanya memicu keletihan, tetapi juga berisiko tinggi menyebabkan sinkop atau pingsan yang berbahaya bagi keselamatan para pengguna jalan. Pesan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan elektrolit tubuh menjadi narasi utama yang harus dipatuhi sebelum warga benar-benar terperosok dalam puncak musim kemarau yang sesungguhnya.

“Kurangi aktivitas di luar ruangan saat siang hari dan perbanyak minum agar tidak dehidrasi,” tegas Levi Ratnasari menutup keterangannya.

Secara visual, pergeseran cuaca ini telah mendistorsi denyut nadi kehidupan di Kota Pahlawan. Di beberapa titik strategis, pemandangan siang hari kini tampak lebih lengang karena warga memilih untuk berlindung di balik tembok berpendingin udara.

Sebaliknya, para pedagang minuman dingin di trotoar justru mendapatkan momentum ekonomi dengan lonjakan jumlah pembeli yang mencari kesegaran instan. Diskusi mengenai hawa yang memanggang ini juga beresonansi kuat di ruang digital, di mana penduduk kota saling bertukar keluh kesah mengenai panas yang bahkan mampu menembus ventilasi rumah.

Fenomena alam yang kian garang ini merupakan sinyal bagi seluruh elemen warga untuk terus beradaptasi dan meningkatkan resiliensi. Walaupun puncak kemarau belum sepenuhnya menghunjam, kesiagaan terhadap kondisi kebugaran dan lingkungan sekitar menjadi kunci pertahanan diri.

Di tengah hiruk-pikuk kota yang menolak berhenti, menjaga stamina dan memastikan kecukupan hidrasi adalah langkah paling rasional agar produktivitas tetap terjaga tanpa harus mengorbankan keselamatan nyawa. Surabaya sedang diuji oleh matahari, dan warga hanya punya satu pilihan: bersiap atau terpanggang.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *