Universitas Mataram menghentikan pemutaran film dokumenter Pesta Babi karya Watchdoc. Mahasiswa menilai pelarangan berlebihan dan memicu pertanyaan publik tentang isi film
Rencana pemutaran film dokumenter Pesta Babi di lingkungan Universitas Mataram dibubarkan pihak kampus pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Penghentian kegiatan memicu reaksi mahasiswa dan memperluas perhatian publik terhadap isi dokumenter yang mengangkat persoalan masyarakat adat Papua Selatan.
Kegiatan nonton bareng itu digelar mahasiswa di area kampus Universitas Mataram. Sejak sore, peserta mulai berkumpul dan menyiapkan layar pemutaran. Situasi berubah tegang ketika puluhan petugas keamanan kampus mendatangi lokasi acara.
Wakil Rektor III Universitas Mataram, Sujita, datang menemui peserta dan meminta kegiatan dihentikan. Menurut dia, kampus ingin menjaga situasi tetap kondusif.
“Jadi mohon harap dimengerti untuk kebaikan bersama, menurut pandangan kita untuk menjaga kondusifitas, sebaiknya film ini tidak ditonton. Karena alasan yang semestinya kalian tahu sendiri sebagai mahasiswa,” kata Sujita di hadapan peserta pemutaran film dikutip Mistar,Jumat, 8 Mei 2026.
Sujita mengatakan kampus menilai film tersebut berpotensi menimbulkan ketersinggungan berbagai pihak. Pihak kampus meminta mahasiswa membatalkan agenda pemutaran.
“Intinya untuk menjaga kondusifitas demi persatuan dan kesatuan bangsa kita, supaya tidak ada ketersinggungan oleh siapa pun dan kepada siapa pun. Karena film ini tidak baik untuk ditonton, lebih baik nonton film yang lain. Unram menolak demi kondusifitas,” ujarnya.
Mahasiswa yang hadir mempertanyakan alasan pelarangan tersebut. Sejumlah peserta menilai pemutaran film dokumenter merupakan bagian dari ruang diskusi akademik yang seharusnya tetap dibuka di lingkungan kampus.
#Mengangkat Konflik Hutan Adat Papua
Film dokumenter Pesta Babi atau Pig Feast diproduksi oleh Watchdoc bersama sejumlah lembaga masyarakat sipil. Dokumenter itu disutradarai Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale.
Film tersebut mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua Selatan yang menghadapi proyek pembukaan hutan skala besar terkait Proyek Strategis Nasional (PSN). Cerita berfokus pada ekspansi agribisnis dan perkebunan tebu untuk kebutuhan bioetanol di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
Dokumenter memperlihatkan perubahan kawasan hutan adat menjadi area industri. Warga adat dalam film menyampaikan kekhawatiran terhadap hilangnya ruang hidup, sumber pangan, serta kerusakan sungai dan hutan yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Film juga menampilkan dokumentasi keterlibatan aparat keamanan dalam pengamanan proyek pembukaan lahan. Kesaksian masyarakat adat menjadi bagian utama dokumenter, terutama penolakan terhadap pembukaan hutan adat dalam skala besar.
Salah satu adegan pembuka memperlihatkan masyarakat adat Suku Awyu memanggul batang kayu besar dan menancapkannya sebagai salib merah di Distrik Fofi, Kabupaten Boven Digoel. Adegan itu menjadi simbol penolakan terhadap pembabatan hutan adat.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Dokumenter kemudian memperlihatkan pembukaan kawasan hutan pada wilayah adat Suku Malind, Awyu, dan Muyu. Film juga memuat penjelasan mengenai proyek ketahanan pangan dan energi nasional yang dikembangkan pemerintah melalui pembukaan lahan dalam skala luas.
#Masyarakat Adat Jadi Sorotan
Film Pesta Babi menempatkan masyarakat adat Papua sebagai pusat cerita. Salah satu tokoh yang muncul dalam dokumenter adalah Wilem Wungim Kimko. Dalam film, Wilem menjelaskan makna hutan adat bagi kehidupan masyarakat setempat.
Dokumenter menampilkan upacara Awon Atatbon atau pesta babi yang digelar Wilem di Kurinbin, Kabupaten Boven Digoel. Upacara adat tersebut dipersiapkan selama sekitar 10 tahun dengan memanfaatkan hasil hutan ulayat.
Melalui dokumentasi itu, masyarakat adat menggambarkan hubungan erat antara hutan dan keberlangsungan hidup mereka. Hutan dipandang sebagai sumber pangan, ruang budaya, sekaligus bagian dari identitas komunitas adat Papua.
Film juga menyinggung sejarah proyek pembukaan lahan besar di Papua sejak masa pemerintahan Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo. Dokumenter menyebut proyek pangan dan energi terus berkembang dalam berbagai periode pemerintahan.
Kolaborasi produksi film melibatkan Jubi, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, serta Greenpeace Indonesia.
#Respons Mahasiswa dan Publik
Pembubaran pemutaran film di Universitas Mataram memicu diskusi luas di media sosial. Banyak pengguna internet mempertanyakan alasan kampus menghentikan kegiatan pemutaran dokumenter tersebut.
Sejumlah mahasiswa menilai kampus semestinya membuka ruang dialog terhadap isu lingkungan dan masyarakat adat. Mereka menilai film dokumenter merupakan medium diskusi yang penting dalam kehidupan akademik.
Larangan pemutaran film juga memunculkan rasa penasaran publik terhadap isi dokumenter Pesta Babi. Cuplikan dan poster film kemudian banyak dibagikan di media sosial setelah pembubaran acara terjadi.
Hingga Jumat, 8 Mei 2026, belum ada keterangan tambahan dari pihak Universitas Mataram terkait kemungkinan pemutaran ulang film tersebut di lingkungan kampus.***