Lewati ke konten

MOZAIK: Kali Tebu Moncer, Warga Mulai Bergerak?

| 5 menit baca |Ide | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Warga Surabaya Utara bersama mahasiswa dan Ecoton mengangkat 1,4 ton sampah plastik dari Kali Tebu, mendorong Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan regulasi dan sistem pengendalian sampah permanen.

Muhammad Isomudin berdiri di tepi Kali Tebu, sembari menyaksikan tumpukan sampah plastik yang baru diangkat dari aliran sungai pada Senin, 11 Mei 2026.

Ketua Komunitas Pemuda Kali Tebu (Pekat) itu mengaku terdorong untuk terlibat langsung membersihkan sungai yang mengalir di kawasan Sidotopo Wetan, Surabaya Utara ini.

“Sebagai warga Suroboyo utara kami terpanggil untuk ikut mewujudkan sungai-sungai di Surabaya bebas sampah plastik. Saya ingin aksi nyata ini membersihkan Kali Tebu,” kata Isomudin.

Menurut Isom, seakraban menyapanya, Kali Tebu sebenarnya memilki potensi menjadi ruang publik yang bersih dan lokasi yang cukup menarik. Hanya saja kurang mendapat prioritas perhatian, sehingga membuat Kali Tebu menjadi sungai dipenuhi sampah dan limbah domestik.

Melihat kenyataan yang terjadi, Isom yang kemudian tergabung dengan Pekat mengusung gagasan “Kali Tebu Moncer”, akronim dari model sungai yang bersih, sehat, dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana wisata lingkungan.

“Keinginan kami sederhana, Kali Tebu Moncer, menjadi sungai yang bersih dan bisa menjadi sarana wisata,” ujar Isom.

Untuk mewujudkan gagasan ini, Isom kemudian mengajak 25 anak muda dari Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Jurusan Biologi Universitas Negeri Surabaya, dan relawan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).

Prigi Arisandi, pendiri Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), bersama Elsa Pratiwi, mahasiswa Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya, membentangkan papan peringatan bertuliskan “Kali Tebu Bukan Tempat Sampah” di bantaran Kali Tebu, Surabaya, sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat agar menjaga sungai dan menghentikan kebiasaan membuang sampah ke aliran air. | Foto: Supriyadi

Mereka saling membahu dengan warga Platuk Donomulyo Utara. Setelah alat penjaring sampah “Barakuda” dipasang pada Ahad, 10 Mei 2026.

Tim yang dipimpin Isom ini kemudian melakukan penirisan, serta evakuasi sampah dari Kali Tebu. Dalam satu hari, yang dilakukan mereka mengevakuasi sampah dengan volume cukup fantastis,  yaitu mencapai 1,4 ton.

#Pemerintah Siapkan Penghalang Sampah dan Perwali

Sebagaimana dalam evakuasi sampah Kali Tebu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser menjambangi mereka. Apresiasi pun mereka peroleh. Sebut Fikser, kehadiran mereka dalam restorasi Kali Tebu perlu sekali dihargai.

Menurut Fikser, pemasangan Barakuda memberikan gambaran nyata, mengenai besarnya aliran sampah plastik di sungai perkotaan. Maka apa yang dilakukan Ecoton dan Pekat, tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Pekerjaan mereka perlu kita apresiasi, “ ucap Fikser.

Fikser juga mengatakan, pekerjaan yang dilakukan Ecoton dan Pekat in, tentu ada batas waktunya. Dari sini Pemerintah Kota Surabaya akan menindaklanjuti gerakan menjadi kebijakan.

“Pekerjaan yang dilakukan Ecoton dan Pekat tentu ada batas waktunya. Yang terpenting bagaimana pemerintah kota menindaklanjuti gerakan ini menjadi kebijakan dan kerja jangka panjang,” kata Fikser.

Pemerintah Kota Surabaya, menurut Fikser, tengah menyiapkan pemasangan penahan sampah di setiap RW yang dilalui Kali Tebu. Langkah itu ditujukan untuk memudahkan pengawasan dan memastikan tanggung jawab pengelolaan sampah dibagi hingga tingkat lingkungan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Selama ini warga di hilir merasa disalahkan karena sampah menumpuk. Kami akan memasang penahan sampah di tiap RW yang dialiri Kali Tebu,” ujar Fikser.

Instalasi kran mikroplastik dipasang di bantaran Kali Tebu, Surabaya, sebagai peringatan kepada masyarakat bahwa remahan plastik berukuran sangat kecil telah mencemari sungai dan mengancam kesehatan warga di sepanjang aliran Kali Tebu. | Foto: Supriyadi

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya juga mendorong penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) mengenai pengelolaan dan perlindungan Kali Tebu. Regulasi ini, kata Fikser, diharapkan menjadi landasan pengendalian pencemaran sekaligus memperkuat koordinasi antarwilayah.

#Sampah Plastik Diidentifikasi hingga Mikroplastik

Tim Pekat mencatat, sampah yang terjaring didominasi plastik sekali pakai, styrofoam, kemasan makanan, dan limbah rumah tangga lain. Temuan mereka menunjukkan jika sungai masih dipandang warga sebagai tempat pembuangan sampah.

Manager Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, mengatakan Barakuda akan dipasang secara permanen. Sampah yang tertangkap akan ditiriskan setiap dua hari sekali, lalu dipindahkan ke TPS3R Kedung Cowek, Bulak.

Tim Program MOZAIK bersama Komunitas Pemuda Kali Tebu (Pekat) mengevakuasi sampah plastik yang telah ditimbang dari Kali Tebu, Surabaya, untuk diangkut ke TPS3R Kedung Cowek, Bulak, sebagai bagian dari proses pemilahan dan brand audit sumber pencemaran plastik. | Foto: Supriyadi

“Setelah penirisan, kami akan melakukan brand audit untuk mengidentifikasi sumber sampah plastik. Lokasi brand audit dilakukan di TPS3R Kedung Cowek,” kata Amiruddin.

Program MOZAIK merupakan inisiatif kolaboratif yang menggabungkan pemantauan sampah, pendidikan masyarakat, dan advokasi kebijakan. Pemasangan Barakuda di Kali Tebu ditujukan untuk memetakan sumber pencemaran dan menekan aliran sampah plastik menuju laut.

Kondisi sungai juga memunculkan keprihatinan dari mahasiswa. Ladya Dwi Kurnia Putri, mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya, mengaku sedih melihat banyaknya sampah plastik yang menutupi aliran sungai.

“Sedih dan prihatin dengan kondisi sampah plastik di Kali Tebu,” kata Ladya saat di lokasi Kali Tebu.

Muhammad Rofiul Ihsan, mahasiswa Biologi Unesa mengingatkan, pencemaran di Kali Tebu telah mencapai tingkat mikroplastik. Menurut dia, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap sungai.

Berdasar penelitian yang dilakukan Rofiul telah menemukan partikel mikroplastik di seluruh titik pengamatan. Jumlah tertinggi tercatat di Stasiun 5, kawasan hilir Tambak Wedi, dengan 123 partikel.

Temuan Rofiul menunjukkan, sampah plastik yang dibuang ke sungai tidak hilang, melainkan terurai menjadi partikel yang semakin sulit dikendalikan.

Melihat kondisi Kali Tebu, Rofiul berharap kondisi seperti itu harus menjadi peringatan bagi masyarakat dan Pemerintah Kota Surabaya.

Menurut dia, perubahan perilaku warga dan penyediaan sarana pengelolaan sampah yang memadai perlu dilakukan bersamaan agar pencemaran tidak terus meningkat.

“Masyarakat harus lebih menghargai sungai dan tidak memperlakukan sungai sebagai tempat sampah. Pemerintah harus menyediakan sarana tempat sampah yang memadai,” ujar Rofiul.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *