Lewati ke konten

MOZAIK: Kali Tebu Menyimpan Riwayat yang Kian Samar

| 6 menit baca |Highlight | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Nama Kali Tebu di Surabaya lahir dari berbagai versi. Warga menyebut jejak kebun tebu, tanggul penahan air, hingga perubahan sungai yang kini dipenuhi kiriman sampah.

Aliran Kali Tebu bergerak pelan di bawah jembatan mulai dari jembatan Pogot melintas Kali Kedinding Tengah, Bulak Banteng hingga Tambak Wedi. Airnya membawa potongan plastik, popok, pembalut, dan busa putih yang menempel di bibir sungai yang penuh sedimentasi.

Sulit membayangkan, jika sungai yang kini akrab dengan tumpukan sampah itu pernah dikenal karena cerita yang jauh lebih sederhana: hamparan tebu.

Tentang Kali Tebu, semua membawa kisah yang samar memang. Bila mengikuti cerita ke setiap orang yang kita jumpai.

Mungkin saja setiap orang memiliki ingatan yang tidak selalu sama. Sehingga membuat ingatan yang ada kerap berbeda.

Ada yang mengingat banyak ditumbuhi deretan tanaman tebu di bantaran sungai, mulai dari Tanah Kali Kedinding hingga Tambak Wedi. Ada yang percaya nama itu berasal dari bentuk tanggul yang memanjang. Sebagian lain hanya menerima nama sungai itu sebagai warisan dari generasi sebelumnya, tanpa pernah benar-benar mengetahui asal-usulnya.

Sampah yang tercegat trash boom di Kali Tebu, Surabaya, setelah pemasangan pada 24–25 April 2026, mencapai 907 kilogram. Tumpukan plastik dan limbah rumah tangga itu menunjukkan besarnya kiriman sampah dari kawasan hulu ke aliran sungai. | Foto: Supriyadi

Ismail (65), misalnya, warga Kali Kedinding Tengah, termasuk orang yang masih menyimpan fragmen cerita itu.

Laki-laki yang telah puluhan tahun tinggal di sekitar sungai itu mengatakan, nama Kali Tebu sudah dikenal setidaknya sejak 1980-an. Pada masa itu, kawasan Kali Tebu belum sepadat sekarang. Rumah-rumah masih berjauhan. Kawasan kiri dan kanan Kali Tebu masih berupa hamparan sawah. Dan di beberapa titik, lahan terbuka dipenuhi tanaman tebu.

“Zaman dulu memang banyak tebu. Dari jembatan sampai ke sana, yang terlihat ya tebu,” kata Ismail sembari menunjuk jembatan Kali Kedinding ke arah utara, yang ia ucapkan ketika sedang melihat pemasangan Barakuda yang dilakukan Tim MOZAIK pada Ahad, 10 Mei 2026.

Dalam ingatannya, anak-anak kampung dulu sering berjalan di tepian sungai sambil melewati rumpun-rumpun tebu yang tinggi. Batangnya rapat dan menjulang, menjadi pemandangan yang begitu biasa sehingga nama Kali Tebu terdengar alami.

“Orang-orang lalu menyebutnya Kali Tebu. Nama itu terus dipakai sampai sekarang,” ujarnya.

Bagi Ismail, cerita itu tidak pernah terasa rumit. Sebutan sungai muncul dari apa yang paling mudah dilihat orang.

#Antara Tebu, Tanggul, dan Tutur Lisan

Cerita yang lebih beragam datang dari Rahmad (60), warga Dukuh Bulak Banteng. Sejak kecil, Rahmad mendengar berbagai versi mengenai nama Kali Tebu. Tidak semuanya berkaitan dengan tanaman. Seperti Kali Tebu yang di sekitar sungai banyak tanaman tebu.

Menurut Rahmad, warga tua di kampungnya pernah bercerita bahwa kata “tebu” juga dapat merujuk pada konstruksi penahan tanah di tepi sungai. Struktur itu memanjang mengikuti aliran air dan berjajar seperti batang tebu.

“Kali Tebu tidak selalu berarti karena di sini banyak tanaman tebu,” kata Rahmad, yang pada saat itu juga tengah menyaksikan Tim MOZAIK mengevakuasi sampah dari hasil cegatan Barakud, Senin, 11 Mei 2026.

Tim MOZAIK memasang barakuda di Kali Tebu, Surabaya, Ahad (10/5/2026). Sehari setelah pemasangan, Senin (11/5/2026), alat penahan sampah ini berhasil menjaring 1,4 ton sampah plastik dan limbah rumah tangga yang terbawa arus dari kawasan hulu. | Foto: Supriyadi

“Ada yang menyebut karena bentuk tanggul atau penahan air di sepanjang sungai, ” ucap Rahmad.

Versi itu hidup berdampingan dengan cerita Ismail. Tidak ada catatan resmi memag, yang menjelaskan mana yang paling tepat. Seperti banyak nama tempat di Surabaya, yang dikenal dengan “budaya arek”. Asal-usul selalu bertahan melalui percakapan di pos ronda, warung kopi, dan obrolan keluarga.

Rahmad mengingat kawasan ini, dahulu juga berfungsi sebagai jalur air penting yang menghubungkan berbagai permukiman di Surabaya Utara. Sungai itu menyalurkan air dari kawasan hulu hingga ke arah Kedung Cowek.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Dulu orang mengenalnya sebagai sungai yang sangat penting. Sekarang yang paling terlihat justru sampah,” ujarnya.

Bahkan Rahmad masih ingat betul, Masjid Amin yang tiap hari menggaungkan sumbangan amal pembangunan masjid dengan alat pengeras suara di dekat jembatan Kali Kendinding kawasan Sidotopo Wetan. Jamaahnya waktu dahulu akan salat menggunakan air Kali Tebu sebagai bersuci.

“Saya ingat. Dulu depan masjid itu ada kubangan untuk wudlu, “ kata Rahmad menunjuk arah masjid. “Terus di bawah sana untuk mandi kerbau. Orang sini dulu kan banyak yang melihara kerbau “.

Dalam pandangan Rahmad, perbedaan cerita tidak mengurangi makna nama itu. Setiap versi menyimpan jejak hubungan warga dengan sungai. Ada yang menekankan bentang alam, ada yang menyoroti pekerjaan teknis membangun tanggul, ada pula yang hanya merekam apa yang dilihat sehari-hari.

“Yang pasti, nama Kali Tebu sudah ada jauh sebelum saya dewasa,” kata Rahmad.

#Sungai yang Kini Mengangkut Sampah

Jika Ismail mengenang rumpun tebu dan Rahmad mendengar kisah tentang tanggul, generasi sekarang lebih sering mengenal Kali Tebu melalui kabar tentang pencemaran.

Sampah yang dijaring tim MOZAIK di Kali Tebu, Surabaya, dipilah dan diaudit mereknya untuk menagih tanggung jawab produsen melalui skema Extended Producer Responsibility sesuai Permen LHK P.75/2019, UU 18/2008, dan PP 81/2012. | Foto: Supriyadi

Sampah rumah tangga menumpuk di sejumlah titik. Plastik kresek, styrofoam, popok, dan sisa kemasan makanan hanyut dari kawasan hulu lalu tertahan di tikungan sungai. Saat hujan deras, volume kiriman meningkat tajam.

Rahmad melihat perubahan itu terjadi perlahan. “Dulu airnya lebih bersih. Sekarang kalau hujan, sampah datang terus,” ujarnya.

Dalam beberapa hari terakhir, sungai itu menjadi perhatian khalayak, setelah tim program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) bentukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) memasang alat penahan sampah dan mengangkat lebih dari satu ton sampah dari aliran sungai.

Bagi warga, pembersihan memunculkan dua kenyataan sekaligus. Pertama, kondisi sungai telah memburuk. Kedua, masih ada harapan untuk memulihkannya.

Di tepi sungai yang sama, Ismail memandangi air yang bergerak pelan di bawah jembatan. Nama Kali Tebu, menurut dia, menyimpan pengingat tentang masa ketika alam lebih dekat dengan kehidupan kampung.

“Dulu orang mengenalnya karena tebunya,” kata Ismail. “Mudah-mudahan nanti dikenal karena sungainya bersih.”

Rahmad memiliki harapan serupa. Cerita tentang asal-usul Kali Tebu, menurut dia, seharusnya tidak berhenti sebagai kenangan semata. Nama itu perlu menjadi alasan untuk menjaga sungai yang telah menjadi bagian dari sejarah Surabaya Utara.

“Kalau namanya tetap diingat, sungainya juga harus dirawat,” tegas Rahmad.

Di antara versi tentang kebun tebu dan kisah tanggul penahan air, Kali Tebu terus mengalir membawa ingatan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Seperti arusnya, cerita itu bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya—kadang jernih, kadang keruh, tetapi tetap hidup di benak warga yang tumbuh di tepiannya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *