Partikel plastik di udara memperkuat pemanasan global. Kali Tebu Surabaya memperlihatkan bagaimana sampah berubah menjadi ancaman iklim baru.
Mikroplastik memasuki fase baru dalam krisis lingkungan global. Fragmen plastik yang melayang di atmosfer itu, terbukti menyerap panas matahari, sekaligus memperkuat pemanasan bumi.
Temuan terbaru menempatkan sampah plastik, salah satu agen iklim yang selama ini luput dari perhatian publik maupun pemerintah.
Studi yang dipublikasikan jurnal Nature Climate Change pada 4 Mei 2026 menunjukkan mikroplastik dan nanoplastik di atmosfer menghasilkan gaya pemaksaan radiasi sebesar 0,039 watt per meter persegi. Nilai itu setara 16,2 persen dampak pemanasan yang ditimbulkan karbon hitam atau jelaga, salah satu polutan paling kuat dalam mempercepat perubahan iklim.
“Temuan utama penelitian ini menunjukkan efek pemanasan mikroplastik jauh lebih besar daripada efek pendinginannya. Kami sangat yakin terhadap hasil laboratorium, meski jumlah partikel plastik di atmosfer global masih menjadi ketidakpastian besar,” kata Profesor ilmu bumi dari Duke University, Drew Shindell dikutip Livescience, 13 Mei 2026.
Penelitian itu mengungkapkan, partikel plastik berwarna gelap, memiliki kemampuan menyerap cahaya jauh lebih tinggi. Jika dibanding plastik bening atau putih.
Pada panjang gelombang 550 nanometer, indeks bias rata-rata partikel mencapai 1,49–0,22i dengan koefisien penyerapan 74,8 kali lebih besar dibanding partikel plastik tanpa pigmen.
Hal ini menunjukan asumsi lama yang selama ini menganggap pengaruh mikroplastik terhadap iklim relatif kecil, mulai runtuh. Setelah warna dan sifat optik plastik dimasukkan ke model atmosfer, partikel sintetis tersebut ternyata lebih banyak menyerap panas dibanding memantulkannya.
“Secara keseluruhan, mikroplastik di atmosfer kemungkinan menyerap lebih banyak panas daripada memantulkannya,” ujar Shindell.

#Sampah Kali Tebu Fantastis
Apa yang ditemukan para peneliti sebenarnya dapat dilihat dari kondisi sehari-hari di Kali Tebu. Sungai di kawasan perkotaan Surabaya itu, kini berubah menjadi jalur distribusi sampah plastik dari permukiman, pasar, hingga aktivitas rumah tangga.
Plastik yang tertahan di aliran air terus bergesekan dengan lumpur, batu, panas matahari, dan arus sungai. Dalam prosesnya, plastik tidak benar-benar hilang. Material itu pecah menjadi serpihan lebih kecil yang jauh lebih sulit dikendalikan.
Manager Data dan Informasi program MOZAIK bentukan Ecoton, Alaika Rahmatullah, menyebut peningkatan volume sampah yang tertahan setelah pemasangan alat penjaring Barakuda menunjukkan beban pencemaran plastik di Kali Tebu berada pada level serius.
“Peningkatan sampah yang tertahan di Barakuda menunjukkan Kali Tebu membawa beban plastik sangat besar. Plastik itu tidak hilang, tetapi terus terpecah menjadi mikroplastik yang jauh lebih berbahaya,” kata Alaika, Rabu, 13 Mei 2026.
Alex yang juga peneliti di Ecoton ini mencatat, lonjakan sampah dalam dua periode pemasangan alat penjaring menunjukkan angka cukup fantastis. Pada uji coba trash boom selama 24 jam, 24-25 April 2026, tim mengevakuasi 907 kilogram sampah dari aliran sungai.
Dari jumlah tersebut, 757 kilogram merupakan sampah anorganik dengan dominasi plastik sekali pakai, sedangkan 150 kilogram berupa sampah organik.
Data itu memperlihatkan tekanan pencemaran di sungai perkotaan terus meningkat akibat pola konsumsi plastik yang tak terkendali dan lemahnya sistem pengelolaan sampah.
Situasi lebih mencolok terlihat pada pemasangan Barakuda, 10-11 Mei 2026. Dalam penirisan pukul 08.30–12.00 WIB, tim mengangkat 65 karung atau 883,1 kilogram sampah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPenirisan lanjutan pukul 13.00–13.45 WIB menghasilkan tambahan 38 karung dengan berat 552 kilogram. Total evakuasi hari pertama mencapai 1.425,1 kilogram atau sekitar 1,4 ton.
Pada hari kedua, 12 Mei 2026, tim kembali mengangkut 1.016 kilogram sampah atau sekitar 80 karung.
“Data evakuasi di Kali Tebu menunjukkan persoalan ini sangat serius. Dalam dua periode pemasangan Barakuda, kami mengangkat lebih dari dua ton sampah, didominasi plastik sekali pakai yang terus terurai menjadi mikroplastik dan berpotensi mencemari udara serta memperparah krisis iklim,” ujar Alaika.
#Plastik Tak Lagi Berhenti di Sungai
Selama bertahun-tahun, sampah plastik dipandang sebatas persoalan kebersihan kota. Cara pandang itu mulai usang. Mikroplastik sekarang ditemukan di air minum, udara, tubuh manusia, hingga sistem iklim bumi.
Dalam konteks Surabaya, Kali Tebu menjadi potret kegagalan tata kelola sampah perkotaan. Sungai dipaksa menanggung limbah dari konsumsi harian warga kota. Ketika hujan datang, sampah bergerak ke hilir menuju laut. Saat cuaca panas meningkat, plastik mengalami degradasi dan terpecah menjadi partikel mikro yang melayang di udara.
“Selama ini orang melihat sampah plastik hanya sebagai masalah kebersihan. Padahal plastik sudah masuk ke air, udara, tubuh manusia, dan bahkan ikut memerangkap panas yang mempercepat perubahan iklim,” kata Alaika.
Paradoks pembangunan kota modern terlihat jelas di sini. Konsumsi plastik meningkat cepat, sementara kapasitas pengelolaan sampah berjalan tertatih. Sungai berubah fungsi menjadi saluran pembuangan sampah. Plastik sekali pakai terus diproduksi dalam jumlah besar, lalu dibuang tanpa sistem pemulihan yang memadai.
Kondisi demikian memperlihatkan persoalan plastik dan krisis iklim, saling bertemu di ruang yang sama. Sampah tidak lagi berhenti sebagai limbah visual di sungai, melainkan berubah menjadi partikel atmosferik yang ikut memanaskan bumi.

#Radiasi Capai 1,34 Watt per Meter Persegi
Model global dalam penelitian tersebut menunjukkan konsentrasi mikroplastik di permukaan atmosfer mencapai 4,18 partikel per meter kubik. Untuk nanoplastik, konsentrasinya diperkirakan mencapai 3,67 nanogram per meter kubik.
Wilayah Gyre Subtropis Pasifik Utara mencatat dampak paling tinggi, dengan gaya pemaksaan radiasi mencapai 1,34 watt per meter persegi. Nilai tersebut sekitar 4,7 kali lebih besar dibanding karbon hitam lokal.
Temuan itu mengubah cara pandang terhadap sampah plastik. Plastik tidak hanya mencemari sungai dan laut, melainkan juga bekerja sebagai agen iklim yang mempercepat pemanasan global. Pada saat bersamaan, sejumlah penelitian lain menunjukkan mikroplastik turut mengganggu kemampuan laut menyerap karbon dioksida.
Indonesia menghadapi tantangan besar karena produksi dan konsumsi plastik sekali pakai masih tinggi. Sungai-sungai perkotaan, termasuk Kali Tebu di Surabaya, menjadi jalur utama yang membawa limbah menuju laut sekaligus atmosfer.
Penelitian terbaru tentang mikroplastik atmosferik semestinya menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Penanganan sungai tidak cukup berhenti pada pengerukan atau normalisasi aliran air. Persoalan utama berada di hulu: produksi plastik sekali pakai yang terus meningkat dan budaya konsumsi yang sulit dikendalikan.
Apa yang terjadi di Kali Tebu hari ini merupakan potret kecil dari krisis ekologis yang lebih besar. Dari aliran sungai yang keruh hingga langit di atas kota, plastik berubah menjadi mesin pemanas bumi yang dibangun manusia sendiri. ***