Lewati ke konten

MOZAIK: Sampah Kali Tebu Surabaya Masih Meluber

| 4 menit baca |Ekologis | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Marga Bagus

Hampir dua ton sampah terangkut dalam sehari, Kali Tebu tetap meluber karena warga masih membuang sampah ke sungai, belum ada pengelolaan sampah kota berjalan serius.

Tumpukan sampah di perairan Kali Tebu, Surabaya, masih menjadi persoalan serius. Meski tim Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) bentukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) telah mengevakuasi lebih dari dua ton sampah dalam beberapa hari terakhir, volume sampah yang memenuhi badan sungai masih meluber.

Manajer Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, mengatakan kondisi sungai menunjukkan pencemaran yang sudah masif dan akut. Menurut dia, tim membutuhkan waktu panjang untuk membersihkan sungai karena tumpukan sampah masih sangat banyak.

“Kalau melihat sampah yang ada masih menumpuk, kita membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan sungai ini,” kata Amiruddin, Senin, 18 Mei 2026.

Ia berharap proses evakuasi dapat berjalan lancar tanpa kendala teknis maupun cuaca. “Itu harapan kita,” ujar Amiruddin.

Meski sampah terus diangkut setiap hari, warga masih gemar membuang sampah ke sungai dan pemerintah belum menunjukkan pengelolaan serius untuk menghentikan pencemaran Kali Tebu. | Foto: Alaika

Sebagaimana terjadi, Program MOZAIK mulai melakukan intervensi di Kali Tebu sejak 25 April 2026. Upaya ini diawali dengan pemasangan uji coba trash boom yang dirancang mencegat sampah sebelum hanyut ke sungai yang lebih besar dan akhirnya ke laut.

Dalam 24 jam pertama setelah pemasangan, hasilnya langsung terlihat. Tim MOZAIK mencatat 907 kilogram sampah berhasil diangkat dari aliran sungai. Sebanyak 757 kilogram merupakan sampah anorganik yang didominasi plastik sekali pakai, sedangkan 150 kilogram lainnya berupa sampah organik.

Data itu menunjukkan jika plastik menjadi komponen utama pencemar Kali Tebu. Sungai ini menerima limpasan sampah rumah tangga dari kawasan permukiman padat di sekitarnya.

#Barakuda dan Perahu Dikerahkan Angkut Sampah

Pada Senin, 11 Mei 2026, tim sudah melakukan pemasangan barakuda, sarana pencegat terapung. Namun volume sampah yang tertahan di barakuda terus meningkat. Tim melakukan dua kali penirisan dalam sehari.

Penirisan pertama berlangsung pukul 08.30 hingga 12.00 WIB. Dalam kegiatan itu, tim mengangkat 65 karung sampah dengan berat total 883,1 kilogram.

Penirisan lanjutan dilakukan pukul 13.00 hingga 13.45 WIB. Dalam waktu kurang dari satu jam, tim berhasil mengevakuasi tambahan 38 karung dengan berat 552 kilogram.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dengan demikian, total sampah yang diangkat pada hari itu mencapai 1.425,1 kilogram atau sekitar 1,4 ton.

Keesokan harinya, Selasa, 12 Mei 2026, kegiatan melibatkan Komunitas Pemuda Kali Tebu (PEKAT), mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya, dan mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Mereka berhasil mengangkut 1.016 kilogram sampah atau sekitar 80 karung.

Manajer Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahmatullah, memperkirakan volume sampah yang dievakuasi pada Senin, 18 Mei 2026, akan mencapai  mendekati 3 ton dalam satu hari.

“Kalau melihat kapasitas yang ada saat ini, evakuasi sampah kami perkirakan akan mencapai 3 ton lebih untuk satu hari ini saja, “ kata Alaikan. “Sepertinya akan terus meningkat sebab kita sudah menemukan pola kerja kita,” imbuhnya.

Perahu menyusuri dua kilometer dari Jembatan Pogot ke barakuda Kali Kedinding untuk mengevakuasi sampah yang terus menumpuk di Kali Tebu Surabaya. | Dok

Menurut Alaika, efektivitas kerja tim meningkat setelah sistem pengangkutan semakin tertata. Selain memanfaatkan barakuda untuk menahan sampah, tim juga menurunkan perahu agar pengambilan sampah lebih mudah dilakukan di bagian sungai yang sulit dijangkau dari tepi.

“Melihat sampah yang semakin menumpuk ini, kami menurunkan perahu untuk memudahkan mengambil sampah,” ujar dia.

Besarnya volume sampah yang terus tertahan, lanjut Alaika, karena masih banyaknya masyarakat membuang sampah ke sungai. Hal membuat aliran sampah dari permukiman belum berhenti. Temuan ini menegaskan, pembersihan sungai saja tidak cukup.

Dalam hal ini Alaika menegaskan, tanpa pengurangan sampah dari sumbernya dan perbaikan sistem pengelolaan sampah kota, Kali Tebu akan terus dipenuhi plastik meskipun evakuasi dilakukan setiap hari.

“Maka kami mengajak, masyarakat untuk mengelola sampah dengan baik. Jangan membuang sampah di Kali Tebu. Agar Kali Tebu menjadi sungai yang bersih dan bisa dimanfaarkan, “ ucap Alaika. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *