Lewati ke konten

MOZAIK: Evakuasi 6, 5 Ton Sepekan, Warga Masih Buang Sampah di Kali Tebu

| 4 menit baca |Mikroplastik | 6 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmajaya Editor: Supriyadi

Sampah terus mengalir ke Kali Tebu meski patroli berlangsung, memperlihatkan lemahnya pengawasan dan rendahnya kesadaran warga Surabaya.

Budaya membuang sampah ke Kali Tebu di Surabaya masih berlangsung di tengah operasi patroli dan evakuasi yang dilakukan tim MOZAIK bentukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Dalam sepekan terakhir, tim menemukan warga tetap membuang sampah ke sungai, termasuk pada siang hari.

Manager Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahmatullah mengatakan, praktik membuang sampah masih terlihat langsung saat tim melakukan pengawasan di sungai.

“Kita melihat sendiri ternyata masih juga ada warga yang membuang sampah di Kali Tebu. Meski kita berjibaku melakukan evakuasi, warga juga belum sadar melihat kerja kita,” kata Alaika, Selasa, 19 Mei 2026.

Menurut Alaika, perilaku membuang sampah ke sungai tidak hanya berlangsung malam hari seperti yang selama ini diceritakan warga sekitar. Tim juga mendapati pembuangan sampah terjadi saat siang hari.

“Kemarin kita tahu ada warga membuang sampah. Waktu kita tegur dan mau ditanyai, malah pergi,” ujar Alaika.

Dari lantai tiga base camp MOZAIK yang menghadap langsung ke aliran sungai, tim patroli juga kerap melihat aktivitas pembuangan sampah di malam hari. Sebagian warga melempar sampah langsung ke aliran sungai. Sebagian lain meletakkan kantong sampah di bibir sungai agar terbawa arus air.

“Kalau malam teman-teman evakuasi sampah sering duduk di lantai tiga. Tempatnya terbuka dan langsung terlihat ke sungai. Dari situ sering terlihat warga membuang sampah,” kata Alaika.

Tim Mozaik dan relawan dari kalangan mahasiswa sedang memilah sampah di TPS3R Kedung Cowek Bulak | Foto: Supriyadi

 

#Sampah Masih Mengalir Setiap Hari

Selama tujuh hari operasi evakuasi, tim MOZAIK mencatat total sampah yang diangkat dari Kali Tebu mencapai sekitar 6,5 ton. Rata-rata sampah yang terangkut mencapai 1,5 ton per hari.

Volume sampah yang terus meningkat memperlihatkan aliran sungai masih menerima kiriman sampah dan limbah rumah tangga dari kawasan permukiman di sekitar Kali Tebu. Sampah yang tertahan didominasi plastik sekali pakai, styrofoam, botol minuman, kemasan makanan, potongan kayu, dan limbah domestik lain.

Dalam 24 jam pertama sejak pemasangan alat penahan sampah atau trash barrier, tim mencatat 907 kilogram sampah berhasil dievakuasi. Dari jumlah tersebut, 757 kilogram berupa sampah anorganik dan 150 kilogram sampah organik.

Dominasi sampah anorganik menjadi perhatian utama karena menunjukkan tingginya akumulasi plastik dan material sulit terurai di aliran sungai.

Koordinator Evakuasi Trash Boom, Heri Purnomo, menyebut hasil itu sebagai gambaran kondisi riil Kali Tebu. “Dalam waktu 24 jam saja kami sudah melihat dominasi sampah anorganik yang sangat tinggi. Ini menjadi alarm bahwa persoalan plastik di Kali Tebu cukup serius,” kata Heri pada Sabtu, 25 April 2026.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Operasi penirisan sampah berikutnya dilakukan pada Senin, 11 Mei 2026. Tim MOZAIK mengevakuasi total 1.425,1 kilogram sampah dari alat penjaring Barakuda yang dipasang di Kali Tebu.

Pada penirisan pukul 08.30 hingga 12.00 WIB, tim mengangkat 65 karung dengan berat 883,1 kilogram. Penirisan lanjutan pukul 13.00 hingga 13.45 WIB menghasilkan tambahan 38 karung atau 552 kilogram sampah.

Alaika menilai volume sampah yang tertangkap alat penjaring menunjukkan pencemaran di Kali Tebu masih tinggi. “Kalau melihat hasil penirisan ini, menunjukkan sampah di Kali Tebu masih utuh, belum berkurang. Volumenya memperlihatkan persoalan serius,” kata Alaika.

Menurut dia, aliran sungai terus menerima pasokan sampah baru setiap hari. Kondisi itu memperlihatkan pengendalian sumber pencemar di tingkat rumah tangga belum berjalan efektif.

“Sampah datang terus setiap hari. Artinya sumber pencemar dari permukiman dan aktivitas rumah tangga di sekitar aliran sungai masih belum terkendali,” ujar Alaika.

Trash Barrier yang dipasang tim MOZAIK untuk mencegat sampah plastik meluas ke laut. | Foto: Supriyadi

#Desakan Pembentukan Satgas Kali Tebu

Temuan berulang selama patroli membuat tim MOZAIK mendesak Pemerintah Kota Surabaya membentuk satuan tugas khusus untuk pengawasan Kali Tebu. Pengawasan ini, kata Alaika, perlu dilakukan secara rutin. karena upaya evakuasi sampah belum cukup menghentikan kebiasaan warga membuang limbah ke sungai.

“Penanganan pencemaran Kali Tebu harus dimulai dari pengurangan sampah di tingkat rumah tangga. Pengawasan di sepanjang aliran sungai juga perlu diperkuat, supaya pembuangan sampah ke sungai bisa ditekan,” kata Alaika.

Pemasangan trash barrier dan alat penjaring Barakuda memang membantu menahan sampah yang terbawa arus. Akan tetapi, alat tersebut hanya bekerja di hilir setelah sampah telanjur masuk ke badan sungai.

Data evakuasi selama sepekan memperlihatkan persoalan utama berada pada sumber pencemar yang masih aktif. Sampah plastik sekali pakai terus mendominasi material yang terjaring, memperlihatkan rendahnya pemilahan sampah dan tingginya penggunaan kemasan sekali pakai di kawasan permukiman sekitar Kali Tebu.

Kondisi sungai yang terus menerima aliran sampah juga memperbesar risiko pencemaran mikroplastik di perairan perkotaan. Plastik yang terpapar panas matahari dan arus air berpotensi terfragmentasi menjadi partikel kecil yang sulit dikendalikan.

Hingga pekan ketujuh operasi evakuasi, tim MOZAIK masih menemukan bungkusan plastik sampah baru datang dari arah permukiman setiap hari. Situasi itu membuat kerja pengangkatan sampah berlangsung seperti siklus tanpa akhir: sampah diangkat pada pagi hari, lalu kembali mengalir beberapa jam kemudian.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *