Maritim Fest 2026 di Kenjeran Park memicu lonjakan omzet UMKM, menggerakkan nelayan, sekaligus menguji infrastruktur digital.
Kepulan asap beraroma gurih bumbu bakaran ikan menyambut ribuan pengunjung yang masuk ke kawasan Kenjeran Park (Kenpark), Surabaya. Sejak dibuka pada Rabu, 20 Mei 2026, gelaran Maritim Fest 2026 mengubah wajah pesisir utara Surabaya menjadi pusat keramaian ekonomi rakyat. Di antara hiruk-pikuk warga yang datang bergelombang, festival ini menghadirkan denyut transaksi yang bergerak cepat dari lapak kecil hingga rantai pasok nelayan.
Acara yang berlangsung sampai 24 Mei 2026 itu digelar dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 sekaligus memperingati Hari Nelayan Nasional. Di bawah matahari pesisir yang keras, pengunjung memenuhi area festival untuk menikmati rangkaian kegiatan seperti Festival Makanan Laut “Samudra Rasa”, Surabaya Beach Run 2026, hingga East Java Maritime Awards 2026.
Di balik panggung hiburan dan edukasi bahari, zona kuliner serta stan kerajinan pesisir menjelma menjadi titik paling padat. Pemerintah Kota Surabaya bersama penyelenggara memberi ruang prioritas pada produk olahan hasil laut asli Kenjeran dan wilayah sekitarnya. Produk yang lazim dijumpai di pasar tradisional kini tampil dengan kemasan lebih profesional, rapi, dan higienis.
Transformasi itu memperlihatkan bagaimana festival maritim dipakai sebagai ruang uji bagi ekonomi lokal: laut tak hanya menjadi bentang wisata, tetapi sumber nilai tambah yang dikapitalisasi melalui olahan pangan dan kerajinan.

#Omzet Naik, UMKM Pesisir Panen Pembeli
Zona kuliner “Samudra Rasa” menjadi magnet utama. Belasan stan berjajar menampilkan berbagai olahan laut modern, dari takoyaki gurita lokal, sate cumi bakar jumbo, sambal goreng lorjuk, hingga kerupuk ikan payus.
Berkah itu dirasakan Dewi, 43 tahun, pemilik stan Dapur Seafood Kenjeran. Pelaku usaha yang sehari-hari memproduksi ikan asap dan kerupuk hasil laut di kawasan Sukolilo Baru itu mengaku omzet melonjak sejak hari pertama festival.
“Alhamdulillah, adanya Maritim Fest 2026 ini benar-benar seperti ketiban rezeki nomplok bagi kami para pelaku usaha kecil di pesisir. Kalau hari biasa jualan di rumah atau pasar, perputarannya lambat, tapi di sini baru dua hari saja saya sudah harus menambah stok ikan segar sampai tiga kali lipat karena antusiasme pengunjung luar biasa,” kata Dewi sembari mengipasi sate cumi dagangannya.
Lonjakan pembeli memaksa pedagang menambah stok lebih cepat. Permintaan datang dari warga Surabaya hingga luar kota.
Dewi menilai fasilitas stan gratis dan promosi besar-besaran ikut memperluas pasar. Menurut dia, kualitas penataan stan memberi dampak langsung pada kenyamanan berdagang dan persepsi konsumen.
“Tahun ini stannya ditata sangat bersih, disediakan aliran listrik yang stabil, dan akses airnya mudah, jadi kami jualan juga merasa nyaman dan higienis. Pembeli saya banyak yang dari Sidoarjo, Gresik, bahkan tadi ada rombongan dari Malang yang sengaja borong sambal lorjuk kemasan untuk oleh-oleh,” ujar Dewi.
Dampak ekonomi juga bergerak ke sektor non-kuliner. Di sisi lain Kenpark, Roni Wijaya, 34 tahun, memamerkan suvenir alat rumah tangga dan dekorasi berbahan limbah kerang. Cermin estetik serta lampu meja dari kerang kapis menarik perhatian pengunjung, terutama kalangan muda dan pemilik kafe yang mencari elemen dekoratif unik.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Limbah laut yang sebelumnya dipandang sisa produksi, di tangan pengrajin berubah menjadi komoditas kreatif bernilai tinggi.

#Sinyal Lemah dan Rantai Ekonomi Nelayan
Di tengah transaksi yang padat, masalah infrastruktur digital muncul. Ketika pengunjung membludak, sinyal internet dinilai tidak stabil. Situasi ini mengganggu transaksi nontunai yang kini dominan di lapangan.
Roni memberi catatan kritis kepada panitia. Menurut dia, modernisasi festival perlu diikuti kesiapan jaringan digital.
“Masukan sedikit untuk panitia, mungkin ke depan sistem sinyal internet atau Wi-Fi khusus untuk mesin EDC dan QRIS pedagang bisa diperkuat lagi. Kadang kalau pengunjung sedang membeludak di malam hari, sinyalnya agak tersendat, padahal sekarang hampir 80 persen pembeli memilih transaksi nontunai atau cashless,” tutur Roni.
Gangguan jaringan itu menjadi ironi di tengah promosi ekonomi digital. Saat transaksi cashless meningkat, kestabilan sinyal berubah menjadi kebutuhan dasar.
Meski demikian, perputaran ekonomi festival memberi dampak berantai bagi kampung nelayan, terutama di Sukolilo Baru. Permintaan bahan baku makanan laut membuat pasokan ikan, udang, kepiting, dan kerang terserap cepat. Rantai distribusi bergerak langsung dari perahu nelayan menuju stan-stan kuliner.
Kondisi ini membantu menahan fluktuasi harga jual di tingkat nelayan. Dengan permintaan yang lebih pasti, hasil tangkapan mendapat pasar lebih cepat dan risiko penumpukan berkurang.
Maritim Fest 2026 memperlihatkan bagaimana ruang wisata dapat berfungsi sebagai penggerak ekonomi pesisir. Pedagang memperoleh pasar, pengrajin mendapat panggung, dan nelayan menikmati efek penyerapan hasil laut. Di Kenjeran, geliat festival membuka satu fakta penting: ekonomi maritim tumbuh ketika ekosistem produksi, distribusi, dan promosi bergerak dalam satu arus.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.