Lewati ke konten

Mikroplastik Masuk ke Makanan Bayi

| 5 menit baca |Mikroplastik | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Release

Riset Greenpeace menemukan ribuan partikel mikroplastik dalam makanan bayi kemasan pouch. Alarm muncul dari ruang paling sensitif: pangan anak.

Bahaya mikroplastik kian dekat dengan kehidupan sehari-hari. Temuan terbaru Greenpeace International menunjukkan partikel plastik berukuran sangat kecil itu telah masuk ke salah satu ruang paling sensitif: makanan bayi. Lewat uji laboratorium, organisasi lingkungan itu menemukan mikroplastik pada seluruh sampel makanan bayi berbentuk pouch yang diteliti.

Produk ini sudah lama memenuhi rak-rak supermarket. Selama bertahun-tahun, kemasan pouch dipasarkan sebagai simbol kepraktisan bagi keluarga muda. Tinggal sobek, tekan, lalu puree buah atau bubur halus mengalir ke sendok. Bagi banyak orang tua, kemasan itu terasa bersih, ringkas, dan aman. Namun riset yang dikomisikan Greenpeace justru membuka ironi di balik kemudahan itu: plastik diduga ikut masuk bersama makanan yang dikonsumsi bayi.

Temuan yang dirilis pada 20 Mei 2026 itu, menemukan jumlah yang mencolok. Dalam satu pouch Gerber, peneliti memperkirakan terdapat lebih dari 5.000 partikel mikroplastik. Pada pouch Happy Baby Organics, angkanya bahkan menembus 11.000 partikel.

Arah temuan peneliti mengarah pada lapisan plastik bagian dalam kemasan yang bersentuhan langsung dengan puree. Wadah yang semestinya menjaga makanan justru diduga menjadi sumber kontaminasi.

#Jejak Plastik dari Dalam Kemasan

Persoalan tidak berhenti pada mikroplastik. Laboratorium juga mendeteksi sejumlah senyawa kimia pada makanan dan kemasan. Salah satu sampel Gerber menunjukkan adanya zat yang berpotensi mengganggu sistem endokrin, sistem yang berperan penting dalam mengatur hormon, pertumbuhan, serta perkembangan tubuh.

Dalam setiap gram makanan bayi yang diuji, peneliti menemukan rata-rata hingga 54 partikel mikroplastik pada produk Gerber dan 99 partikel pada Happy Baby Organics. Jika diterjemahkan ke ukuran rumah tangga, jumlah itu setara sekitar 270 partikel mikroplastik per sendok teh pada Gerber dan 495 partikel per sendok teh pada Happy Baby Organics.

Riset itu juga menyoroti keterkaitan antara polyethylene—bahan plastik yang lazim dipakai sebagai pelapis pouch—dengan sebagian mikroplastik yang ditemukan di dalam makanan.

Bagi kalangan kesehatan lingkungan, hasil ini menambah kekhawatiran lama soal paparan plastik sejak usia dini.

Dr. Leo Trasande, Direktur Divisi Pediatri Lingkungan di NYU Grossman School of Medicine sekaligus pimpinan Center for the Investigation of Environmental Hazards di NYU Langone Health, menilai paparan seperti ini sudah lama menjadi perhatian.

“Menemukan mikroplastik dan bahan kimia pengganggu hormon dalam makanan bayi adalah bentuk paparan dini yang selama bertahun-tahun sudah kami peringatkan. Meski mengkhawatirkan, ini baru sebagian kecil dari masalah yang jauh lebih besar, “ kata Trasnde dalam rilisnya, yang dikutip TitikTerang, Sabtu. (23/5/2026).

“Informasi yang tersedia sebenarnya sudah cukup untuk mendorong tindakan cepat. Jika serius melindungi kesehatan anak, perusahaan tidak bisa terus menyajikan plastik bersama makanan, terutama pada fase awal kehidupan,” ujarnya.

Hal ini menujukkan, bahwa berentanan bayi berada pada fase biologis yang sangat sensitif. Tubuh mereka lebih kecil, penyerapan zat bisa lebih tinggi, sementara otak dan sistem saraf berkembang cepat. Dalam fase seperti itu, paparan kecil kerap dipandang lebih serius dibanding pada orang dewasa.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Dari Lorong Supermarket ke Tekanan Regulasi

Temuan laboratorium ini membawa persoalan ke skala industri pangan bayi global. Dalam beberapa tahun terakhir, squeeze pouch tumbuh menjadi bentuk kemasan dominan: praktis, mudah dibawa, dan cocok dengan ritme hidup keluarga urban.

Menurut Greenpeace, pada 2025 kemasan pouch menguasai sekitar 37 persen pasar makanan bayi global berdasarkan volume, dengan pertumbuhan sekitar 8 persen per tahun. Di sisi lain, kemasan multilapis fleksibel seperti ini dikenal sulit didaur ulang dan menjadi penyumbang limbah plastik jangka panjang.

Secara global, sektor kemasan menyumbang sekitar 40 persen produksi plastik dunia.

Lindsey Jurca, Senior Plastics Campaigner Greenpeace USA, menilai hasil pengujian laboratorium memperlihatkan persoalan yang tak pernah tertulis di label produk.

“Setiap pouch yang kami uji membawa satu bahan yang tidak pernah dicantumkan Gerber di label: mikroplastik. Gerber menjanjikan ‘apa pun untuk bayi’. Kami meminta satu hal sederhana: hentikan menyajikan mikroplastik sebagai santapan anak,” kata Jurca.

Greenpeace menilai beban pengawasan tak semestinya diletakkan pada orang tua. Banyak keluarga membeli produk itu karena percaya pada sistem pangan modern, label keamanan, dan reputasi merek besar. Ketika risiko justru datang dari material kemasan, sorotan pun bergeser ke produsen dan regulator.

Organisasi itu mendesak Gerber menguji seluruh produknya terhadap mikroplastik dan membuka hasilnya ke publik. Mereka juga meminta penyusunan jadwal bertahap untuk menghapus pouch plastik dari lini makanan bayi dan beralih ke sistem kemasan pakai ulang yang lebih aman.

“Melihat ini kami meminta untuk dilakukannya uji seluruh produk yang ada dan membukan hasilnya ke publik. Tujuannya agar publik tahu, “ ucap Jurca.

Desakan lain juga diarahkan ke pemerintah Amerika Serikat. Greenpeace meminta pengesahan Ensuring Safe and Toxic-Free Foods Act untuk menutup celah regulasi bahan kimia dalam pangan, serta Microplastics Safety Act yang mendorong FDA meneliti dampak mikroplastik pada makanan dan air, terutama bagi anak.

Dalam hal ini Jurca menyebut temuannya mempertebal urgensi pembatasan plastik global.“Jika plastik di makanan bayi belum cukup menjadi batas peringatan, lalu di mana garisnya? Dasar untuk intervensi sudah jelas dan waktunya sekarang, “ katanya.

“Riset ini menambah bukti yang terus berkembang tentang keberadaan mikroplastik di tubuh manusia, darah, hingga bayi. Situasi itu memperlihatkan kebutuhan mendesak atas Perjanjian Plastik Global yang membatasi produksi plastik tak terkendali serta menghapus bahan kimia berbahaya dari rantai pangan,” jelas Jurca.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *