Permainan ular tangga dipakai siswa SDIT Ya Bunayya Gresik untuk memahami bahaya mikroplastik dan membangun kepedulian terhadap sungai.
Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) menggelar edukasi lingkungan bagi siswa ekstra ekologi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ya Bunayya Gresik melalui media permainan ular tangga, Sabtu, 23 Mei 2026. Kegiatan ini ditujukan untuk mengenalkan bahaya mikroplastik sekaligus membangun kebiasaan ramah lingkungan sejak usia sekolah.
Sekolah yang berlokasi di Dusun Sidowaras, Desa Lebaniwaras, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik itu rutin menggelar kegiatan ekstra ekologi setiap Sabtu. Dalam sesi kali ini, sebanyak 15 siswa kader lingkungan mengikuti pembelajaran interaktif yang dikemas dalam permainan edukatif.
Muhammad Rofi’ul Ihsan, mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya yang mendampingi kegiatan, mengatakan media ular tangga dipilih karena memudahkan siswa memahami isu lingkungan melalui cara yang sederhana.
“Metode permainan membuat anak-anak lebih mudah memahami persoalan lingkungan yang sering dianggap rumit. Saat belajar sambil bermain, mereka lebih cepat menangkap hubungan antara sampah, sungai, dan mikroplastik,” kata Rofi’ul.
Menurut Rofi’ul, pembelajaran itu diarahkan agar siswa memahami mikroplastik sebagai salah satu sumber pencemaran lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui papan ular tangga, siswa diajak mengenali hubungan antara sampah rumah tangga, saluran air, sungai, hingga ancaman mikroplastik terhadap ekosistem.
Kotak bertanda tangga menggambarkan kebiasaan baik seperti memilah sampah, membawa botol minum isi ulang, serta menggunakan wadah makan sendiri. Adapun kotak bergambar ular mewakili perilaku yang merusak lingkungan, seperti membuang sampah ke sungai atau memakai plastik sekali pakai berlebihan.
“Setiap langkah permainan berisi instruksi, pertanyaan, dan konsekuensi yang berkaitan dengan perilaku ekologis,” ujar Rofi’ul.

#Siswa Belajar Ancaman Mikroplastik
Muhamad Faizul Adhim, mahasiswa Universitas Negeri Malang yang juga ikut mendampingi kegiatan, menilai metode belajar berbasis permainan membantu siswa memahami dampak plastik terhadap lingkungan secara lebih konkret.
“Anak-anak lebih cepat menangkap alur persoalan saat pembelajaran dibuat sederhana. Dari bungkus jajanan, plastik bisa masuk ke drainase, lalu terbawa ke sungai dan pecah menjadi mikroplastik,” kata Faizul.
Menurut Faizu, pengetahuan dasar tentang mikroplastik penting diperkenalkan sejak sekolah dasar karena kebiasaan penggunaan plastik banyak terbentuk dari aktivitas sehari-hari.
“Ini sangat penting dikenalkan kepada siswa mulai dini. Sejak dini siswa harus mengenal tentang lingkungan dengan cara permainan yang mengasyikkan, “ ucap Faizul.
Selama kegiatan berlangsung, siswa terlihat aktif melempar dadu, berpindah kotak, membaca instruksi, lalu menjawab pertanyaan dari fasilitator. Suasana kelas dipenuhi diskusi dan antusiasme.
Kaila, siswi kelas 3B, menilai pembelajaran melalui ular tangga membuat materi lebih menarik.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Belajarnya lebih asyik, jadi gampang paham soal mikroplastik,” kata Kaila.
Akilah, siswi kelas 4B, juga mengaku materi lebih mudah dipahami.
“Lebih gampang memahami dan tidak bikin bosan,” ujar Akilah.
Pendekatan itu dipakai untuk menanamkan hubungan sebab-akibat. Sampah kecil yang dibuang sembarangan dapat terbawa air hujan, masuk ke saluran drainase, lalu mengalir ke sungai.

#Sekolah Dorong Kebiasaan Ramah Lingkungan
Guru SDIT Ya Bunayya Gresik, Ustadzah Husna, mengatakan sekolah mendukung kegiatan edukasi lingkungan yang melibatkan siswa secara aktif.
“Anak-anak perlu memahami persoalan sampah sejak dini. Media ular tangga membuat proses belajar lebih hidup dan mudah diterima,” kata Husna.
Menurut Husna, pengurangan plastik sekali pakai perlu dibiasakan melalui aktivitas sederhana di sekolah, seperti membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, dan menjaga kebersihan lingkungan kelas.
Program ekstra ekologi di SDIT Ya Bunayya Gresik juga diarahkan untuk membentuk kader lingkungan sekolah. Para siswa didorong menyampaikan pesan kebersihan dan perlindungan sungai kepada keluarga serta lingkungan sekitar.
Bagi ECOTON, sekolah menjadi ruang penting dalam pendidikan lingkungan. Anak-anak dinilai memiliki peran besar dalam mendorong perubahan kebiasaan rumah tangga.
Wilayah Gresik masih menghadapi persoalan sampah plastik yang berkaitan dengan aliran sungai, kawasan permukiman, serta aktivitas konsumsi domestik. Sampah plastik yang masuk ke drainase berpotensi terbawa ke sungai lalu terurai menjadi partikel mikroplastik.
Melalui media ular tangga, konsep pencemaran diterjemahkan ke bahasa yang lebih mudah dipahami anak. Permainan sederhana dipakai untuk menjelaskan bahwa benda kecil seperti sedotan, kantong plastik, dan bungkus makanan dapat berdampak panjang terhadap lingkungan.
Pada akhir sesi, siswa diminta menyebut satu kebiasaan yang ingin diubah setelah mengikuti kegiatan. Sebagian memilih mengurangi plastik sekali pakai, membawa tempat makan sendiri, serta menjaga sungai dari sampah rumah tangga.***