Gas metana sampah organik kota Indonesia menekan agenda iklim daerah, Dwijo Warsito mendorong peta jalan pengurangan emisi segera disusun kebijakan
Forum Zero Waste Academy (ZWA) di Surabaya 19–21 Mei 2026, menghadirkan pertemuan pemerintah daerah, pegiat lingkungan, organisasi masyarakat sipil, perencana pembangunan dari sejumlah kota Indonesia. Agenda menempatkan gas metana timbunan sampah organik sebagai sorotan krisis iklim jarang masuk prioritas kebijakan daerah.
Namun ada sosok menarik perhatian dari pertemuan tersebut. Yaitu, Koordinator TPS3R Kota Surabaya, Dwijo Warsito. Ia banyak menyoal pola lama pengelolaan sampah di beberapa tempat, termasuk di Surabaya.
Dwijo bahkan menyebut, pengelolaan sampah masih didominasi kiriman langsung sampah organik ke tempat pemrosesan akhir, tanpa pemilahan terlebih dahulu dari rumah tangga.
Situasi ini menurut dia, menciptakan akumulasi emisi metana. Terjadi proses pembusukan tanpa oksigen.
“Masih banyak sampah organik langsung masuk begitu saja ke TPA, tanpa pemilahan. Ini sangat memprihatinkan. Karena kita tahu, kondisi ini metana muncul dari timbunan yang dibiarkan membusuk. Solusi wajib, kita harus memulai pemilahan dari rumah tangga,” kata Dwijo dikutip TitikTerang, Selasa, 26 Mei 2026.
Dwijo menyebut, hal ini karena terjadi kesenjangan nyata antara perencanaan rencana aksi iklim daerah dengan praktik di beberapa tempat pengelolaan sampah. “Banyak kota masih menempatkan sampah sebagai isu kebersihan, bukan sumber emisi gas rumah kaca. Padahal sangat berdampak langsung pada kesehatan publik, beban anggaran, serta kualitas lingkungan perkotaan, “ jelasnya.
Dalam forum yang juga mencatat minimnya integrasi agenda iklim ke sistem persampahan daerah ini. Dwijo melihat, perencanaan pengurangan emisi cenderung berjalan terpisah, tanpa keterhubungan dengan sistem pemilahan, pengolahan organik, serta pengurangan residu di tingkat sumber. “Jadinya pengelolaan sampah cenderung sporadis tidak efektif, “ ujarnya.
Dwijo berharap, ada pendekatan TPS3R tampil sebagai studi kasus utama. Sistem pemilahan sumber, pengolahan sampah organik, serta reduksi residu sebelum masuk TPA dinilai mampu menekan potensi terbentuknya metana secara signifikan.
Selanjutnya Dwijo menjelaskan, perubahan tidak hanya terkait target kebijakan, melainkan disiplin operasional, kesiapan fasilitas, serta keterlibatan warga dalam pemilahan harian.
“Kunci utama ada pada rumah tangga. Ketika pemilahan berjalan konsisten, beban TPA turun, emisi ikut turun,” kata Dwijo tegas.

#TPS3R Surabaya, Model Kendali Emisi Daerah
Sebagaimana sebelumnya diberitakan, bahwa Aliansi Zero Waste Indonesia bersama mitra YPBB, Gita Pertiwi, PPLH Bali, Ecoton, Dietplastik Indonesia, serta Nol Sampah, telah mendorong penyusunan peta jalan pengurangan metana yang terhubung dengan sistem pengelolaan sampah organik di tingkat pemerintah daerah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Dari hasil ini Dwijo menilai, pengukuran emisi sektor persampahan masih lemah. Data inventarisasi gas rumah kaca di banyak daerah, belum memisahkan kontribusi sampah organik secara detail.
“Kondisi ini membuat intervensi kebijakan sulit diarahkan secara presisi dan implementatif, “ ucap Dwijo.
Selain itu, pendanaan pengelolaan sampah juga masih berat pada pengangkutan serta penanganan akhir. “Investasi pada pemilahan sumber, komposting, serta pengurangan sampah organik rumah tangga masih minim perhatian anggaran, ‘ terang Dwijo.
Setelah diskusi berlangsung, peserta diajak mendatangi Pusat Daur Ulang (PDU) Jambangan. Di tempat inilah menjadi titik pengamatan utama forum. Fasilitas ini memperlihatkan proses pemilahan material sisa, pengolahan organik, serta upaya menekan residu menuju TPA Benowo.
Kunjungan lain berlangsung di Pondok Manggala, RW 5, Kelurahan Balasklumprik, Wiyung. Kawasan yang menunjukkan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Warga melakukan pemilahan sejak dari rumah tangga. Sampah organik diolah menjadi kompos, sebagian dimanfaatkan untuk budidaya maggot dengan nilai ekonomi tambahan.
Sebagai Koordinator TPS3R Surabaya Dwijo pun aktif memandu diskusi di lokasi, memperlihatkan proses kompos, pola pemilahan, serta alur pengolahan organik. Peserta forum menunjukkan ketertarikan pada praktik langsung, terutama pada skema pengurangan residu sebelum masuk TPA.
Forum menutup rangkaian diskusi dengan dorongan kuat agar pemerintah daerah mempercepat pemilahan wajib, memperluas TPS3R, serta menyusun peta jalan pengendalian emisi sektor persampahan secara terukur.
“Tanpa perubahan di tingkat hulu, timbunan sampah organik akan terus menjadi sumber metana yang memperburuk krisis iklim perkotaan di Indonesia,” pungkas Dwijo. ***