Lewati ke konten

MOZAIK: Residu Plastik Global Mengendap di Kali Tebu Surabaya

| 12 menit baca |Eksploratif | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadjaya Editor: Marga Bagus

Dominasi sampah residu di Kali Tebu Surabaya memperlihatkan krisis plastik global kini langsung mengancam kesehatan warga perkotaan setiap hari.

Sebanyak 13.433,77 kilogram sampah dievakuasi dari trashboom di Kali Tebu segmen tengah Surabaya selama 11–30 Mei 2026. Dalam dua puluh hari pemantauan itu, rata-rata 895,6 kilogram sampah diangkat setiap hari atau setara 89 karung.

Data tersebut berasal dari pemantauan Tim Mission for Zero Plastic Leakage (Mozaik) bentukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Temuan itu memperlihatkan sungai perkotaan kini menjadi lokasi akumulasi utama residu konsumsi rumah tangga yang sulit diproses ulang.

Manager Data dan Informasi Mozaik, Alaika Rahmatullah, mengatakan sebagian besar sampah yang ditemukan tergolong residu. Dari total 6.199,78 kilogram sampah yang berhasil dipilah, sebanyak 4.967,27 kilogram atau 80,1 persen masuk kategori residu.

“Dominasi komposisi sampah sungai di Kali Tebu termasuk kategori residu yang tidak bernilai ekonomis dan sulit diproses,” kata Alaika, Rabu (3/6/2026).

Jenis residu yang ditemukan meliputi popok sekali pakai, pembalut, kemasan multilapis, plastik sekali pakai, kain bercampur lumpur, hingga berbagai material yang tidak diminati industri daur ulang. Hanya sekitar tiga persen sampah yang masih masuk kategori dapat didaur ulang.

Komposisi tersebut menunjukkan persoalan sampah sungai tidak lagi sekadar berkaitan dengan perilaku membuang sampah sembarangan. Struktur produksi plastik modern menghasilkan material yang memang dirancang sulit diproses ulang setelah digunakan.

Alaika menilai pola konsumsi plastik sekali pakai terus memperbesar beban sungai perkotaan. Material yang gagal dikelola di tingkat rumah tangga akhirnya mengalir melalui saluran drainase menuju badan air.

“Sampah di Kali Tebu secara spesifik adalah darurat pembuangan popok. Sebanyak 74,61 persen dari total residu atau 59,78 persen dari seluruh sampah yang dipilah merupakan popok dan pembalut,” ujarnya.

Menurut dia, tingginya jumlah popok dan pembalut menunjukkan praktik pembuangan langsung sampah domestik ke sungai masih berlangsung di kawasan permukiman sekitar.

Sampah hasil evakuasi dari trashboom Kali Tebu, Surabaya. Proses penimbangan dilakukan untuk memetakan volume dan komposisi sampah sungai yang didominasi residu plastik sekali pakai, popok, serta limbah rumah tangga yang sulit didaur ulang. | Foto: Fully Syafii

Kondisi di Kali Tebu muncul bersamaan dengan meningkatnya produksi plastik global. Berbagai penelitian internasional memperkirakan timbulan sampah plastik dunia terus meningkat jika tidak ada perubahan kebijakan dan pola konsumsi.

Kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances oleh Amy L. Brooks, Shunli Wang, dan Jenna R. Jambeck menunjukkan China pernah menerima sekitar 45 persen total sampah plastik dunia sejak 1992. Ketika negara itu melarang impor limbah plastik pada 2017, rantai perdagangan sampah global langsung terguncang.

Penelitian tersebut memperkirakan sekitar 111 juta ton sampah plastik akan “tergusur” hingga 2030 akibat kebijakan China. Volume itu hampir setara separuh total limbah plastik yang pernah diperdagangkan secara global sejak 1988.

Larangan impor China memperlihatkan satu fakta penting: sistem daur ulang global selama ini bergantung pada kemampuan negara berkembang menerima limpahan sampah negara maju. Ketika pintu itu ditutup, krisis plastik menjadi semakin terlihat.

#Sungai Perkotaan Menjadi Penampung Residu

Data Kali Tebu memperlihatkan bagaimana sungai perkotaan berubah menjadi tempat akhir berbagai jenis residu konsumsi masyarakat kota. Sampah yang gagal dipilah dan diolah dari rumah tangga akhirnya terkumpul di badan air.

Dari total sampah yang dipilah Mozaik, hanya 188,69 kilogram yang masih memiliki potensi didaur ulang. Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding residu dan sampah organik yang ditemukan.

Sampah organik tercatat mencapai 1.043,82 kilogram atau sekitar 16,8 persen. Material tersebut didominasi daun, ranting, kayu, dan sisa biomassa lain yang terbawa arus.

Namun persoalan terbesar justru berasal dari residu nonorganik. Banyak produk menggunakan kombinasi plastik multilapis dan aluminium yang sulit dipisahkan sehingga tidak memiliki nilai ekonomi bagi industri daur ulang.

Dalam praktiknya, pemulung maupun pelaku industri daur ulang cenderung hanya mengambil material dengan nilai jual tinggi seperti PET, HDPE, atau logam. Sementara residu lainnya berakhir di tempat pembuangan akhir, dibakar, atau hanyut ke sungai.

Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Surabaya. Kota-kota berkembang di Asia Tenggara menghadapi pola serupa ketika volume sampah meningkat lebih cepat dibanding kemampuan pengelolaan.

Di kawasan permukiman padat, saluran drainase sering menjadi jalur tercepat membuang limbah rumah tangga. Saat hujan turun, sampah terbawa aliran menuju sungai utama.

Trashboom dipasang untuk menahan sampah agar tidak bergerak menuju saluran yang lebih besar dan akhirnya bermuara ke laut. Namun volume sampah yang terus muncul setiap hari menunjukkan sumber persoalan belum terselesaikan.

Dalam waktu dua puluh hari, hampir satu ton sampah diangkat setiap hari hanya dari satu segmen sungai. Angka tersebut memperlihatkan tingginya tekanan sampah domestik terhadap sistem perairan perkotaan.

Kondisi itu juga menunjukkan keterbatasan pendekatan penanganan di hilir. Evakuasi sampah membantu menahan pencemaran, tetapi tidak menghentikan munculnya sampah baru.

Sebagian besar residu yang diangkat akhirnya tetap dibuang ke tempat pemrosesan akhir. Di banyak wilayah Indonesia, keterbatasan kapasitas TPA memicu praktik pembakaran terbuka sebagai cara tercepat mengurangi volume sampah.

Persoalan itu menjadi perhatian berbagai peneliti kesehatan lingkungan. Penelitian berjudul The Open Burning of Plastic Wastes is an Urgent Global Health Issue menyebut pembakaran terbuka kini menjadi salah satu sumber pencemaran udara berbahaya di negara berpendapatan rendah dan menengah.

Penelitian tersebut memperkirakan sekitar 40–65 persen sampah padat perkotaan di negara berkembang dibakar secara terbuka. Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya layanan pengangkutan sampah.

“Sekitar dua miliar orang di seluruh dunia tidak mendapatkan layanan pengumpulan sampah padat perkotaan,” tulis penelitian yang dipimpin Gauri Pathak dari Aarhus University, Denmark.

Dalam banyak kasus, pembakaran dilakukan karena dianggap murah dan cepat. Namun praktik tersebut menghasilkan partikel halus dan senyawa beracun yang membahayakan kesehatan.

Ketika plastik dibakar, material itu melepaskan karbon monoksida, stirena, hidrogen sianida, dioksin, dan hidrokarbon aromatik polisiklik. Berbagai zat tersebut berkaitan dengan gangguan pernapasan, kanker, penyakit kardiovaskular, hingga gangguan reproduksi.

Partikel halus hasil pembakaran dapat masuk jauh ke paru-paru dan aliran darah manusia. Dampaknya sering berlangsung perlahan melalui paparan harian dalam kadar rendah.

Penelitian tersebut menegaskan pembakaran terbuka tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan perilaku individu. Banyak komunitas tidak memiliki akses pengangkutan sampah memadai sehingga pembakaran menjadi pilihan terakhir.

Abu hasil pembakaran juga membawa ancaman lain. Kandungan logam berat dan senyawa toksik dapat mencemari tanah serta air tanah dalam jangka panjang.

Situasi itu memperlihatkan bagaimana sungai, udara, dan kesehatan masyarakat saling terhubung dalam rantai pencemaran yang sama. Sampah yang awalnya dibuang ke saluran air akhirnya kembali menjadi ancaman melalui udara dan makanan.

Dari lebih 13 ton sampah yang dievakuasi, sekitar 80 persen merupakan residu seperti popok, plastik sekali pakai, dan kemasan multilapis yang sulit didaur ulang. Temuan ini memperlihatkan sungai perkotaan kini menjadi penampung utama limbah konsumsi rumah tangga sekaligus bagian dari persoalan sampah plastik global. | Desain AI

#Pergeseran Sampah Dunia ke Asia Tenggara

Persoalan sampah plastik di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perubahan perdagangan limbah global setelah China menghentikan impor sampah plastik pada 2018.

Sebelum kebijakan itu berlaku, China menerima sekitar 45 persen impor sampah plastik dunia. Negara-negara maju memanfaatkan biaya pengolahan murah di Asia untuk mengurangi tekanan domestik terhadap fasilitas daur ulang dan landfill mereka.

Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, hingga Kanada menjadi eksportir utama limbah plastik dunia selama puluhan tahun. Hong Kong berperan sebagai jalur transit utama menuju China daratan.

Penelitian terbaru mengenai perdagangan sampah plastik global periode 1988–2022 menunjukkan dunia telah mengekspor sekitar 255 juta ton limbah plastik selama 35 tahun terakhir.

Ketika China menutup impor melalui kebijakan “National Sword”, ekspor sampah plastik dunia langsung turun hampir 36 persen dalam satu tahun. Namun arus limbah tidak berhenti.

Sebaliknya, perdagangan limbah berpindah ke negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia, Vietnam, dan Thailand. Negara-negara tersebut kemudian menghadapi lonjakan impor sampah plastik dalam waktu singkat.

Malaysia bahkan sempat menjadi importir sampah plastik terbesar dunia setelah kebijakan China berlaku. Penelitian mencatat lonjakan impor ke Asia Tenggara meningkat lebih dari 70 persen pada 2018.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana industri limbah global bergerak mencari negara dengan regulasi lebih longgar dan biaya pengolahan lebih murah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Negara berkembang menghadapi tekanan besar karena menerima limpahan sampah plastik global tanpa kapasitas pengelolaan memadai,” tulis penelitian tersebut.

Indonesia kemudian berubah menjadi negara net importir sampah plastik. Sebagian limbah masuk sebagai bahan baku industri daur ulang, tetapi banyak pula yang tercampur residu dan sulit diproses.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat perdagangan sampah plastik global pada 2024 masih mencapai sekitar 9,34 juta ton metrik. Angka tersebut menunjukkan perpindahan limbah lintas negara tetap berlangsung dalam skala besar.

Penelitian lain menemukan peningkatan polusi udara di sekitar lokasi pembuangan terbuka di Indonesia setelah larangan impor China berlaku. Studi tersebut menggunakan pemantauan satelit dan pelacakan kapal kargo untuk melihat pola perpindahan limbah.

Hasilnya menunjukkan particulate matter atau partikel halus meningkat rata-rata 3,3 persen di sekitar lokasi pembuangan besar pada 2018–2019 dibanding proyeksi normal berdasarkan data sebelumnya.

Kenaikan tertinggi mencapai 1,68 mikrogram per meter kubik. Dalam studi kesehatan global, peningkatan tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit paru kronis, kanker paru-paru, dan infeksi saluran pernapasan bawah.

Pada 2020, World Economic Forum bersama pemerintah Indonesia memperkirakan sekitar 48 persen sampah plastik di Indonesia masih dibakar secara terbuka.

Praktik tersebut terjadi karena keterbatasan fasilitas pengelolaan dan mahalnya biaya pengangkutan. Di tingkat lokal, pembakaran sampah rumah tangga masih menjadi cara umum mengurangi timbunan harian.

Persoalan kemudian tidak berhenti pada pencemaran udara. Mikroplastik hasil pembakaran dan pelapukan sampah kini ditemukan di tanah, sungai, laut, hingga makanan manusia.

Penelitian yang dilakukan Ecoton di sentra industri tahu Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo pada 20 Mei 2025, menyoroti tingginya pencemaran udara akibat praktik pembakaran sampah plastik sebagai bahan bakar produksi tahu.

Riset tersebut menemukan udara di sekitar kawasan industri tahu Tropodo mengandung partikel mikroplastik dan polusi udara berbahaya dalam konsentrasi tinggi. Salah satu temuan paling menonjol adalah kadar particulate matter PM2.5 yang tercatat mencapai 1063 μg/m³, jauh melampaui baku mutu kualitas udara yang ditetapkan pemerintah maupun pedoman kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pembakaran campuran sampah plastik, kayu, dan sabut kelapa dilakukan pelaku industri karena biaya bahan bakar dinilai lebih murah dibanding kayu bakar murni atau energi lain. Namun praktik tersebut menghasilkan asap pekat yang mengandung partikel halus, abu beracun, serta senyawa kimia berbahaya.

Ecoton juga menemukan partikel mikroplastik di lingkungan sekitar area produksi tahu. Mikroplastik tersebut diduga berasal dari pembakaran berbagai jenis plastik rumah tangga yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Paparan PM2.5 dalam kadar tinggi diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pernapasan, penyakit kardiovaskular, iritasi paru-paru, hingga kanker. Partikel berukuran sangat kecil itu dapat masuk jauh ke sistem pernapasan manusia dan terbawa ke aliran darah.

Abu pembakaran juga ditemukan di area produksi. Temuan tersebut memperlihatkan sampah plastik tidak berhenti sebagai limbah lingkungan, tetapi masuk kembali ke rantai konsumsi manusia.

Berbagai penelitian internasional juga telah menemukan mikroplastik dalam darah, paru-paru, plasenta, dan air minum manusia. Dampak jangka panjangnya masih terus diteliti.

Profesor Richard Thompson OBE FRS, pendiri sekaligus Kepala International Marine Litter Research Unit di University of Plymouth, mengatakan polusi plastik telah menjadi persoalan lingkungan global yang memengaruhi kesehatan manusia, ekonomi, dan lingkungan.

“Penelitian ini menyediakan bukti penting untuk memandu industri dan pembuat kebijakan mengenai titik fokus yang dibutuhkan dalam mengatasi polusi plastik,” ujarnya.

Menurut Thompson, plastik makanan dan minuman menjadi prioritas utama penanganan di 93 persen negara di dunia. Temuan tersebut memperlihatkan dominasi kemasan sekali pakai dalam pencemaran global.

Peneliti utama studi sampah pantai global, Dr. Max Kelly, juga menilai pengurangan konsumsi kemasan sekali pakai menjadi langkah penting menghadapi krisis plastik dunia.

“Mengumpulkan dataset sampah laut dalam skala sebesar ini merupakan pekerjaan yang kompleks. Namun, untuk pertama kalinya, hal itu memungkinkan kami memetakan jenis sampah yang paling banyak ditemukan di garis pantai di seluruh dunia,” kata Kelly.

Pemilahan sampah hasil evakuasi dari Kali Tebu di TPS3R Kedung Cowek, Surabaya. Mayoritas sampah yang dipilah merupakan residu plastik sekali pakai, popok, dan limbah rumah tangga yang sulit didaur ulang. Data pemantauan menunjukkan dominasi residu mencapai lebih dari 80 persen dari total sampah yang terkumpul di sungai perkotaan tersebut. | Foto: Fully Syafii

#Pengurangan Plastik Dinilai Mendesak

Indonesia mulai memperketat impor limbah sejak 2021 dengan membatasi jalur masuk melalui pelabuhan tertentu. Pada 2025, pemerintah melarang impor sampah plastik sepenuhnya.

Malaysia juga memperketat impor limbah dengan hanya menerima pengiriman dari negara yang meratifikasi Konvensi Basel. Uni Eropa bahkan melarang ekspor sampah plastik ke negara berkembang mulai November 2026.

Meski demikian, banyak peneliti menilai larangan impor belum cukup menyelesaikan persoalan. Produksi plastik global terus meningkat setiap tahun.

Produksi plastik dunia meningkat dari sekitar dua juta ton pada 1950 menjadi lebih dari 322 juta ton pada 2015. Secara kumulatif, total produksi plastik global mencapai 8,3 miliar ton hingga 2017.

Masalahnya, hanya sekitar sembilan persen plastik yang benar-benar berhasil didaur ulang secara global. Sebagian besar lainnya berakhir di tempat pembuangan akhir, dibakar, atau bocor ke lingkungan.

Kemasan sekali pakai menjadi penyumbang utama krisis tersebut. Plastik makanan, minuman, dan produk konsumsi harian dipakai hanya dalam hitungan menit, tetapi limbahnya bertahan ratusan tahun.

Penelitian global menunjukkan sekitar 61 persen sampah di pantai dunia berasal dari plastik sekali pakai. Mayoritas berupa kemasan makanan dan minuman.

Daur ulang sendiri menghadapi keterbatasan kapasitas. Di Amerika Serikat dan Kanada, fasilitas pengolahan diperkirakan hanya mampu meningkatkan kapasitas daur ulang sekitar 35–44 persen tergantung jenis plastik.

Pada 2021, tingkat daur ulang plastik domestik Amerika Serikat diperkirakan hanya sekitar lima hingga enam persen. Angka itu menunjukkan sebagian besar plastik tetap berpotensi menjadi sampah.

Karena itu, para ahli menilai pengurangan plastik sekali pakai harus berjalan bersamaan dengan pembenahan sistem pengelolaan limbah. Beban penanganan tidak bisa hanya diletakkan pada konsumen.

Sejumlah negara mulai mendorong sistem penggunaan ulang kemasan untuk mengurangi produksi plastik sekali pakai. Skema tanggung jawab produsen juga mulai diterapkan di berbagai wilayah.

Melalui mekanisme tersebut, perusahaan diwajibkan membayar biaya pengelolaan atas kemasan yang mereka hasilkan. Dana itu digunakan untuk membangun infrastruktur pengelolaan sampah dan program pengurangan limbah.

Namun implementasi kebijakan masih berjalan lambat. Di Indonesia, tantangan terbesar berada pada tingginya volume residu dan lemahnya pemilahan dari sumber.

Data Kali Tebu menunjukkan material yang benar-benar dapat didaur ulang hanya sebagian kecil dari keseluruhan timbulan sampah. Kondisi tersebut membuat sungai terus menerima beban sampah baru setiap hari.

Evakuasi melalui trashboom membantu mencegah pencemaran meluas ke laut. Namun pendekatan itu tetap berada pada tahap akhir dari rantai persoalan.

Masalah utama berada pada sistem produksi dan konsumsi yang menghasilkan sampah lebih cepat dibanding kemampuan pengelolaannya. Selama pola tersebut tidak berubah, sungai-sungai perkotaan akan terus menjadi penampung residu konsumsi kota.

Kali Tebu memperlihatkan bagaimana krisis plastik global kini hadir dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga kota. Sampah tidak lagi berhenti di tempat pembuangan akhir, tetapi masuk ke sungai, udara, makanan, hingga tubuh manusia.

Data dari satu segmen sungai di Surabaya itu juga memperlihatkan bahwa persoalan plastik bukan semata urusan kebersihan lingkungan. Krisis tersebut telah berkembang menjadi persoalan kesehatan publik, tata kelola kota, dan ketimpangan sistem ekonomi global.

Selama produksi plastik sekali pakai terus meningkat dan sistem pengelolaan limbah tertinggal, sungai-sungai perkotaan akan tetap menjadi ruang akhir tempat residu konsumsi manusia mengendap setiap hari.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *