Riset mahasiswa lintas kampus mengungkap mikroplastik telah mencemari udara, sungai, organisme hidup, hingga cairan reproduksi manusia.
Penelitian para mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur mengungkap jejak pencemaran mikroplastik kini tidak lagi terbatas di sungai dan laut. Partikel plastik berukuran mikroskopis itu ditemukan di udara, perairan, organisme hidup, hingga cairan semen manusia.
Temuan tersebut dipresentasikan dalam Seminar Hasil PKL Environmental Insights 2026 yang diselenggarakan organisasi lingkungan ECOTON di Gresik, Kamis (4/6). Kegiatan ini diikuti sekitar 30 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, pegiat lingkungan, dan masyarakat umum.
Seminar mempertemukan hasil penelitian mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Fokus kajian meliputi mikroplastik, kualitas air sungai, limbah industri, hingga dampak pencemaran terhadap kesehatan reproduksi manusia.
Founder ECOTON, Prigi Arisandi, mengatakan temuan-temuan tersebut memperlihatkan pencemaran plastik telah memasuki fase yang lebih serius. Menurut dia, persoalan plastik kini bukan lagi sekadar isu pengelolaan sampah.
“Ketika mikroplastik ditemukan di udara, sungai, hewan, hingga tubuh manusia, maka ini bukan lagi sekadar persoalan sampah. Ini adalah persoalan kesehatan masyarakat dan masa depan generasi mendatang,” ujar Prigi.

#Mikroplastik Terhirup Setiap Hari
Penelitian mengenai mikroplastik udara dilakukan Arifia Nur Fadhilah, mahasiswa Biologi UNESA, di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Penelitian itu menemukan 106 partikel mikroplastik di seluruh titik pengamatan, termasuk di ruang terbuka hijau.
Partikel yang ditemukan didominasi bentuk filamen dengan ukuran terkecil mencapai 5,05 mikrometer. Ukuran tersebut dinilai berpotensi masuk ke saluran pernapasan manusia.
Arifia menemukan mikroplastik dengan warna hitam, biru, merah, putih, kuning, hingga merah muda. Berdasarkan sejumlah studi terbaru yang ia rujuk, mikroplastik berpigmen memiliki kemampuan menyerap radiasi matahari lebih besar dibanding partikel tanpa pigmen.
Kondisi itu diduga dapat memperburuk pemanasan atmosfer, terutama di wilayah padat aktivitas manusia. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa keberadaan vegetasi belum sepenuhnya mampu menahan penyebaran partikel mikroplastik di udara.
“Mikroplastik kini ada di mana-mana. Baik di kawasan yang banyak vegetasi, padat penduduk, maupun wilayah dengan aktivitas kendaraan yang tinggi. Perbedaannya hanya pada jumlahnya, tetapi hampir semua orang saat ini menghirup mikroplastik setiap hari,” kata Arifia.
Temuan ini memperlihatkan perubahan karakter pencemaran plastik. Jika sebelumnya limbah plastik lebih banyak dibahas sebagai persoalan visual dan sampah padat, kini ancamannya bergerak dalam bentuk partikel yang sulit terlihat namun mudah terhirup manusia.
#Sungai Menjadi Penampung Limbah Domestik
Persoalan pencemaran juga terlihat dalam penelitian mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan UINSA mengenai kondisi Kali Tebu Surabaya. Penelitian dilakukan Dafin Jawahier bersama tim magang mahasiswa.
Mereka menemukan penumpukan sampah di area trash boom berpotensi memperburuk kualitas air akibat akumulasi limbah domestik yang tertahan dalam waktu lama. Jenis sampah yang ditemukan antara lain botol minuman keras, pembalut sekali pakai, dan popok sekali pakai.
Menurut Dafin, temuan tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap fungsi sungai dan fasilitas pengendalian sampah. Trash boom, kata dia, justru dipersepsikan sebagai lokasi pembuangan akhir.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Masih ada anggapan bahwa trash boom adalah tempat membuang sampah. Padahal alat ini dipasang untuk menahan sampah agar dapat diangkat dan tidak terus mencemari sungai hingga ke hilir,” ujar Dafin.
Ia menambahkan pemulihan sungai tidak akan berhasil tanpa perubahan perilaku masyarakat. Sungai, menurutnya, masih diperlakukan sebagai ruang pembuangan limbah domestik sehari-hari.
Meski demikian, penelitian menunjukkan kualitas air setelah melewati area trash boom cenderung lebih baik dibandingkan sebelum sampah tertahan. Temuan ini memperlihatkan fasilitas pengendali sampah tetap memiliki fungsi penting dalam menekan pencemaran di aliran sungai perkotaan.
Sementara itu, penelitian mahasiswa Universitas Brawijaya menemukan indikasi pencemaran di sekitar outlet limbah industri kertas. Farida Febriani Tampubolon dan Tripani Anastasia Togatorop mencatat lima parameter kualitas air melampaui baku mutu, yakni DO, TSS, amonia, fosfat, dan klorin.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kematian ikan, ledakan alga, dan penurunan kualitas ekosistem perairan. Penelitian ini menambah daftar tekanan lingkungan yang saat ini dihadapi sungai-sungai di kawasan industri.

#Ancaman Baru pada Kesehatan Reproduksi
Temuan yang paling menyita perhatian dalam seminar berasal dari penelitian Sri Astika, mahasiswa Biologi UNESA. Dalam studi pendahuluannya, Sri mendeteksi keberadaan mikro- dan nanoplastik pada seluruh sampel cairan semen manusia yang dianalisis.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa paparan plastik tidak hanya terjadi di lingkungan luar, tetapi telah memasuki sistem biologis manusia. Mikroplastik diduga masuk melalui makanan, air minum, maupun udara yang terkontaminasi.
Sri menjelaskan berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan mikroplastik berpotensi memicu stres oksidatif, mengganggu keseimbangan hormon, serta merusak DNA. Paparan jangka panjang juga diduga memengaruhi kualitas sperma dan tingkat kesuburan pria.
“Mikroplastik yang kami temukan dalam cairan semen menjadi alarm baru bagi kesehatan reproduksi,” kata Sri Astika.
Ia menilai dampak pencemaran plastik tidak hanya dirasakan generasi saat ini. Risiko gangguan reproduksi dapat memengaruhi kesehatan generasi berikutnya apabila paparan berlangsung terus-menerus tanpa pengendalian.
Rangkaian penelitian yang dipresentasikan dalam Environmental Insights 2026 menunjukkan pencemaran plastik kini bergerak melampaui persoalan sampah kasat mata. Mikroplastik telah hadir di udara yang dihirup manusia, sungai yang menjadi sumber air, hingga bagian paling sensitif dalam tubuh manusia sendiri.
Temuan-temuan tersebut memperkuat desakan perlunya pengurangan plastik sekali pakai, pembenahan tata kelola sampah, serta penguatan pengawasan lingkungan. Tanpa langkah pengendalian yang lebih serius, ancaman mikroplastik diperkirakan akan terus menyebar dalam ruang hidup manusia tanpa mudah disadari.***
Artikel ini merupakan pers rilis yang disusun oleh Amalia Fibrianty, M.I.Kom, Divisi Publikasi ECOTON, dan telah melalui proses penyuntingan redaksi.