- Aksi Komunitas: Festival Tiga Sungai Bulukumba mempertemukan pemuda, komunitas, dan pegiat lingkungan dalam aksi menjelajahi Sungai Bijawang untuk mendokumentasikan kekayaan hayati yang masih terjaga.
- Keanekaragaman Hayati: Sedikitnya 21 jenis tumbuhan pangan, obat tradisional, dan tanaman penyangga ekosistem ditemukan tumbuh alami di sepanjang bantaran Sungai Bijawang.
- Ruang Edukasi: Jelajah Sungai Bijawang menjadi ruang edukasi lapangan yang memperlihatkan hubungan erat antara masyarakat dengan keanekaragaman hayati Daerah Aliran Sungai (DAS).
- Kolaborasi Pelestarian: ECOTON bersama berbagai komunitas mendorong generasi muda terlibat langsung dalam upaya pelestarian sungai di Bulukumba.
- Pentingnya Konservasi: Temuan flora lokal menunjukkan Sungai Bijawang masih menyimpan biodiversitas penting yang perlu dijaga sebagai sumber pangan, kesehatan, dan penyangga lingkungan.
SUASANA Daerah Aliran Sungai (DAS) Salo’ Bijawang di Desa Bonto Nyeleng, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, berubah menjadi ruang belajar terbuka pada pukul 13.00 WITA, Minggu (26/7/2026). Puluhan pemuda bersama berbagai komunitas menyusuri aliran sungai dalam kegiatan Jelajah Sungai Bijawang.
Kegiatan yang merupakan agenda utama Festival Tiga Sungai ini mengangkat isu pelestarian Sungai Bialo, Bijawang, dan Balantieng. Tujuannya adalah mendokumentasikan kekayaan hayati yang masih bertahan di sepanjang bantaran sungai. Sedikitnya 21 jenis tumbuhan yang memiliki manfaat sebagai obat tradisional, pangan, rempah, hingga penyangga ekosistem berhasil diidentifikasi selama penelusuran.
“Jelajah Sungai Bijawang ini setidaknya menjadi ruang belajar bersama untuk mengenali potensi biodiversitas, sekaligus mengajak masyarakat menjaga sungai sebagai sumber kehidupan,” ujar Amiruddin Muttain dari ECOTON dalam siaran persnya, Senin (27/7/2026).
Festival Tiga Sungai, lanjut Amir, merupakan gerakan kolaboratif yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat guna meningkatkan kepedulian terhadap kondisi sungai di Bulukumba.
“Kegiatan ini tidak hanya didukung oleh ECOTON, tetapi juga kolaborasi berbagai komunitas seperti Siring Bambu, Kebun Bersama, Kelas Konservasi, Raha Siring, serta para pegiat seni dan pemuda pecinta lingkungan,” ungkap Amir.

#Inventarisasi Tumbuhan Lokal di Bantaran Sungai
Sepanjang penelusuran, para peserta berhenti di sejumlah titik untuk mengidentifikasi tanaman yang tumbuh alami di sekitar sungai. Sebagian besar tanaman tersebut telah lama dimanfaatkan masyarakat melalui pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.
Daun galingkang menjadi salah satu temuan penting karena dikenal dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi penyakit kulit seperti kurap dan gatal-gatal.
“Penjelajah juga menemukan serru-serru bembe. Sejak lama tanaman ini digunakan oleh masyarakat sekitar Sungai Bijawang untuk membantu penyembuhan luka melalui pengetahuan lokal yang terus diwariskan,” jelas Amir.
Selain itu, peserta mendokumentasikan pohon radda dan biraeng yang kulit batangnya dimanfaatkan sebagai obat tradisional, di mana kulit biraeng dipercaya membantu mengontrol kadar gula darah. Ditemukan pula lahuna yang dimanfaatkan sebagai obat luka organ dalam. Tanaman atakka juga tumbuh di kawasan sungai; daunnya kerap digunakan dalam tradisi lokal sebagai pelengkap prosesi pindah rumah yang dipercaya memberikan kesejukan.
Keberadaan beragam tanaman ini menunjukkan bahwa kawasan Sungai Bijawang tidak hanya berfungsi sebagai saluran air, tetapi juga menyimpan sumber daya hayati yang bernilai budaya dan kesehatan bagi masyarakat setempat.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Sungai Menjadi Penopang Pangan dan Ekosistem
Jelajah Sungai Bijawang turut mencatat berbagai tanaman pangan yang tumbuh di sepanjang bantaran. Lengkuas, cabai, pepaya, pakis, daun sassang, pisang, kopi, serta tanaman pangan lokal lainnya menjadi bagian dari vegetasi yang dimanfaatkan masyarakat sehari-hari.
“Keanekaragaman tumbuhan di Sungai Bijawang tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga menopang kehidupan masyarakat. Kopi memiliki nilai ekonomi, sedangkan pakis, daun sassang, lengkuas, dan cabai dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan bumbu dapur warga,” kata Amir.
Peserta juga mendokumentasikan pepohonan besar yang memiliki fungsi ekologis penting. Pohon aren, misalnya, menghasilkan nira untuk gula aren dan buah kolang-kaling, sekaligus berperan menahan erosi bantaran sungai. Jenis pohon bance dan terro juga tumbuh alami di sepanjang aliran. Buah terro dapat dikonsumsi, sedangkan getahnya digunakan masyarakat untuk menangkap burung hama di area persawahan.
Pohon rao menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi, sementara batang bampeng dimanfaatkan sebagai bahan tali-temali dan akarnya digunakan sebagai obat tradisional untuk batu saluran kemih. Selain itu, kayu pali memiliki nilai ekonomi sebagai bahan kerajinan tradisional.
Keanekaragaman vegetasi tersebut memperlihatkan pentingnya kawasan riparian sebagai penyangga kehidupan. Akar pepohonan membantu menjaga kestabilan tanah, mengurangi risiko longsor, sekaligus menyediakan habitat bagi berbagai organisme sungai.

#Mendorong Pelestarian Sungai Berbasis Masyarakat
Selain mendokumentasikan flora, Jelajah Sungai Bijawang menjadi ruang kolaborasi antar komunitas dalam membangun kesadaran lingkungan. Peserta berdiskusi mengenai fungsi ekologis sungai, pemanfaatan tumbuhan lokal, hingga pentingnya menjaga kebersihan daerah aliran sungai.
Suasana gotong royong terlihat sepanjang kegiatan ketika peserta saling berbagi pengetahuan lokal mengenai tanaman yang ditemukan. Pengetahuan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem Sungai Bijawang.
Temuan berbagai jenis flora menunjukkan biodiversitas Sungai Bijawang masih relatif terjaga. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi upaya konservasi, sekaligus pengingat bahwa tekanan akibat perubahan penggunaan lahan dan pencemaran dapat mengancam keberlangsungan ekosistem jika tidak diantisipasi sejak dini.
Melalui Festival Tiga Sungai, masyarakat diajak melihat sungai sebagai ruang kehidupan yang menyediakan air, pangan, obat tradisional, dan jasa lingkungan. Keterlibatan generasi muda diharapkan mampu memperkuat gerakan pelestarian sungai secara berkelanjutan.***