Lewati ke konten

Mahasiswa KPI UIN Madura Ubah Ruang Kuliah Jadi Laboratorium Budaya di Pendopo Pamekasan

| 6 menit baca |Ide | 15 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi

Mahasiswa KPI UIN Madura memadukan festival digital, seminar budaya, dan praktik akademik untuk melawan stereotip terhadap masyarakat Madura.

Pendopo Ronggosukowati, Kabupaten Pamekasan, dipenuhi antusiasme generasi muda pada Sabtu, 6 Juni 2026. Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Madura angkatan 2024 menutup rangkaian kegiatan V-Fest 2026 melalui sebuah festival yang menggabungkan kreativitas digital, diskusi budaya, dan praktik akademik berbasis lapangan.

Mengusung tema “Dari Satu Langkah Karya, Menggema Seribu Makna”, V-Fest 2026 tidak hanya hadir sebagai ajang kompetisi antarpelajar dan mahasiswa. Festival ini juga menjadi ruang pembuktian bahwa generasi muda Madura mampu memanfaatkan media kreatif untuk membangun narasi kebudayaan yang lebih kritis dan inklusif.

Sekitar 80 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari mahasiswa internal UIN Madura serta pelajar SMA dan SMK sederajat dari berbagai wilayah di Kabupaten Pamekasan.

Ketua Panitia V-Fest 2026, Maulana Mukhtar Hadi, mengatakan festival tersebut dirancang sebagai wadah terbuka bagi anak muda untuk mengekspresikan gagasan melalui medium visual dan audiovisual.

“Melalui tema ‘Dari Satu Langkah Karya, Menggema Seribu Makna’, kami percaya bahwa setiap karya yang lahir dari kreativitas memiliki nilai, cerita, dan pesan yang mampu menginspirasi banyak orang,” ujar Maulana dalam keterangannya, yang dikutip TitikTerang, Ahad, 7 Juni 2026.

V-Fest 2026 merupakan pengembangan dari program sebelumnya bernama Comphos yang digelar mahasiswa KPI UIN Madura angkatan 2023. Jika sebelumnya hanya berfokus pada fotografi, festival tahun ini diperluas dengan sejumlah cabang baru yang lebih relevan dengan perkembangan media digital.

Panitia menghadirkan tiga kategori utama, yakni lomba fotografi, desain poster, dan mini vlog. Penambahan dua kategori terakhir menunjukkan adanya pergeseran orientasi kegiatan mahasiswa dari sekadar produksi visual menuju komunikasi digital yang lebih kompleks.

Dalam kompetisi mini vlog, peserta dituntut tidak hanya mampu merekam gambar, tetapi juga menyusun narasi singkat yang komunikatif. Sementara dalam lomba desain poster, peserta diuji dalam menerjemahkan isu sosial dan budaya ke dalam bahasa visual yang efektif.

Perluasan kategori itu dinilai penting di tengah meningkatnya konsumsi media digital di kalangan generasi muda. Platform berbasis video pendek dan desain visual kini menjadi sarana utama penyebaran opini, kampanye sosial, hingga pembentukan identitas budaya.

Di lain sisi, V-Fest 2026 juga mencoba menghindari posisi sebagai festival hiburan semata. Panitia memasukkan seminar budaya bertajuk “Stereotip Madura” sebagai salah satu agenda utama kegiatan.

Seminar tersebut menjadi ruang diskusi yang cukup menarik perhatian peserta. Topik mengenai stereotip terhadap masyarakat Madura dipilih karena dianggap masih menjadi persoalan sosial yang terus berulang dalam percakapan publik, baik di media sosial maupun ruang kehidupan sehari-hari.

Panitia menghadirkan Melia Santoso sebagai narasumber utama. Perempuan yang akrab disapa Ci Melia itu memiliki latar belakang keturunan Tionghoa sekaligus darah Madura, sehingga dianggap memiliki perspektif yang dekat dengan pengalaman identitas ganda dan stigma sosial.

Dalam pemaparannya, Ci Melia menyoroti kecenderungan masyarakat untuk menyamaratakan tindakan individu sebagai representasi budaya secara keseluruhan. Menurutnya, pola pikir semacam itu justru memperkuat stereotip yang selama ini melekat pada masyarakat Madura.

“Yang salah bukan Maduranya, tetapi orang yang menggiring opini bahwa seluruh masyarakat Madura seperti itu. Bagi saya, saya sedang melindungi rumah saya sendiri, bukan melindungi oknum-oknumnya,” kata Ci Melia di hadapan peserta seminar.

Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan panjang peserta. Sejumlah mahasiswa mengaku tema seminar terasa dekat dengan pengalaman mereka ketika berinteraksi di luar Madura.

Bagi panitia, seminar budaya menjadi bagian penting dari festival karena media kreatif dinilai memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik. Konten visual dan audiovisual tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi alat untuk memperkuat atau meluruskan opini sosial.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Narasumber Melia Santoso saat menyampaikan materi dalam seminar budaya bertajuk “Stereotip Madura” pada rangkaian V-Fest 2026 di Pamekasan. Diskusi tersebut menyoroti pentingnya membedakan identitas budaya Madura dari tindakan segelintir oknum. | Ulung

#Praktik Akademik di Luar Ruang Kuliah

Di balik pelaksanaan V-Fest 2026, terdapat dimensi akademik yang cukup kuat. Festival tersebut merupakan implementasi langsung dari mata kuliah Fotografi dan Manajemen Public Relations yang diampu dosen KPI UIN Madura, Hafidatul Fauzuna, M.I.Kom.

Mahasiswa tidak hanya diminta memahami teori produksi media dan pengelolaan acara di dalam kelas. Mereka juga dituntut menjalankan seluruh tahapan penyelenggaraan festival secara nyata, mulai dari penyusunan konsep, penggalangan peserta, pengelolaan publikasi, hingga pelaksanaan acara.

Dalam proses itu, mahasiswa belajar menghadapi dinamika kerja lapangan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Mereka harus bernegosiasi dengan berbagai pihak, menyusun strategi komunikasi, hingga memastikan seluruh rangkaian acara berjalan tepat waktu.

Hafidatul Fauzuna menilai pengalaman semacam itu penting karena dunia komunikasi tidak dapat dipahami hanya melalui pembelajaran teoritis. Menurutnya, mahasiswa perlu dibiasakan menghadapi situasi nyata agar memiliki kesiapan profesional setelah lulus.

Ia mengapresiasi kerja kolektif mahasiswa yang mampu mengelola kegiatan berskala kabupaten dengan keterbatasan sumber daya. Baginya, V-Fest bukan hanya penilaian akademik, tetapi juga laboratorium sosial bagi mahasiswa komunikasi.

“Harapan saya, event ini bisa terus berlanjut menjadi ajang tahunan, tidak berhenti sebagai kegiatan perkuliahan semata, tetapi dapat menjadi ruang apresiasi, ruang belajar, dan ruang bertemunya kreativitas mahasiswa,” ujarnya.

Hafidatul juga berharap skala kegiatan dapat berkembang lebih luas pada masa mendatang. Jika saat ini peserta masih didominasi wilayah Kabupaten Pamekasan, ia ingin V-Fest mampu menjangkau tingkat nasional.

Menurutnya, potensi kreativitas generasi muda Madura cukup besar, tetapi masih membutuhkan ruang ekspresi yang konsisten. Festival seperti V-Fest dinilai dapat menjadi medium penting untuk mempertemukan karya, jejaring, dan gagasan lintas daerah.

Para pemenang Lomba Mini Vlog menerima penghargaan dalam rangkaian Closing Ceremony V-Fest 2026 di Pendopo Ronggosukowati, Pamekasan, Jumat (6/6/2026). Kompetisi yang digelar mahasiswa KPI UIN Madura itu menjadi ruang pengembangan kreativitas digital sekaligus media penyampaian pesan sosial dan budaya bagi generasi muda. | Foto: Ulung

#Kreativitas Digital dan Perebutan Narasi Budaya

Pelaksanaan V-Fest 2026 memperlihatkan bagaimana ruang akademik mulai beradaptasi dengan perubahan lanskap komunikasi digital. Generasi muda tidak lagi hanya diposisikan sebagai konsumen media, melainkan juga produsen informasi yang memiliki pengaruh terhadap opini publik.

Di tengah arus konten yang bergerak cepat, kemampuan membuat visual, video pendek, dan pesan komunikasi menjadi keterampilan yang semakin penting. Kompetensi tersebut kini tidak hanya dibutuhkan industri media, tetapi juga dalam aktivitas sosial, budaya, dan pendidikan.

Namun, V-Fest 2026 menunjukkan bahwa kreativitas digital tidak harus terlepas dari isu lokal. Festival ini justru mencoba menghubungkan teknologi media dengan pembahasan identitas budaya Madura yang selama ini kerap dipahami secara simplistis.

Pilihan mengangkat tema stereotip budaya menunjukkan adanya kesadaran mahasiswa bahwa media memiliki pengaruh besar dalam membentuk citra suatu kelompok masyarakat. Di era digital, stigma dapat menyebar jauh lebih cepat melalui potongan video, unggahan media sosial, maupun narasi populer yang berulang.

Karena itu, festival tersebut tidak berhenti pada kompetisi karya visual. V-Fest juga berusaha membangun kesadaran kritis bahwa produksi konten membawa konsekuensi sosial yang nyata.

Bagi mahasiswa KPI UIN Madura, kreativitas tidak hanya diukur dari estetika karya, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan pesan yang lebih reflektif. Di tengah derasnya arus informasi digital, mereka mencoba mengambil posisi sebagai generasi yang tidak sekadar mengikuti tren, tetapi ikut menentukan arah percakapan budaya di ruang publik.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *