- Dari gerakan literasi, Zunianto kini membangun pasar herbal untuk menguatkan ekonomi warga penjaga lingkungan.
- Produk herbal Wonosalam dan Lakardowo menjadi jalan baru mempertemukan pelestarian lingkungan dengan kesejahteraan masyarakat setempat.
- Di tengah krisis lingkungan, teh herbal justru membuka peluang ekonomi tanpa menambah tekanan terhadap kawasan hutan.
- Zunianto meyakini menjaga alam dan mengembangkan usaha masyarakat dapat berjalan beriringan melalui hasil hutan bukan kayu.
- Pendampingan warga kini tidak berhenti pada advokasi, tetapi berlanjut membangun pasar bagi produk herbal lokal.
Dalam beberapa hari terakhir, Zunianto (35) tampak disibukkan dengan aktivitas yang berbeda dari rutinitas biasanya. Pria yang selama ini aktif dalam gerakan literasi tersebut, kini menghabiskan banyak waktu untuk memperkenalkan dan memasarkan hasil-hasil hutan dari Wonosalam, Kabupaten Jombang.
Kesibukan barunya ini tak bisa dibilang mencari angin segar. Zunianto melihat banyak produk lokal yang memiliki kualitas premium, namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat serta masih minim akses pasar.
“Itu yang membuat saya tergerak dan kemudian mulai membangun rantai pemasarannya,” kata Zunianto membuka perbincangan, Sabtu (18/7/2026).
#Membangun Nilai Tambah Ekonomi Kerakyatan
Salah satu fokus yang kini digarap oleh Anggota Telapak Badan Teritori (BT) Jawa Bagian Timur ini adalah memasarkan teh bunga kering. Produk herbal ini diolah langsung oleh masyarakat yang terdampak pencemaran di lingkungan tempat tinggal mereka, seperti warga Desa Lakardowo, Jetis, Mojokerto, serta warga yang menetap di sekitar kawasan hutan Wonosalam, Jombang.
“Pemasaran menjadi pilar penting agar hasil produksi masyarakat memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih baik,“ ucap Zunianto yang kini juga memimpin lembaga Trisno Boemi.
Langkah ini, sambung dia, menjadi cara konkret untuk mendampingi masyarakat yang selama ini berupaya mempertahankan ruang hidup mereka dari ancaman pencemaran dan kerusakan hutan. Zunianto menawarkan paradigma baru dalam dunia pergerakan.
“Menurut kami, advokasi itu tidak hanya sebatas mengorganisasi warga untuk berdemonstrasi atau protes. Tetapi bagaimana kita bisa memanfaatkan potensi yang ada di desa tersebut,” tambahnya.

Ia berharap perputaran ekonomi dari pemasaran teh herbal ini dapat menjadi modal mandiri bagi warga untuk terus konsisten menjaga lingkungan mereka. Zunianto juga tidak menampik bahwa inisiatif ekonomi lokal di daerah yang sedang menghadapi krisis lingkungan kerap dipandang sebelah mata.
“Tak jarang ada sinisme yang menuduh pendamping warga hanya mencari kesempatan di tengah konflik lingkungan. Padahal, tanaman herbal di sekitar kita memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan jika dikelola secara berkelanjutan,” tegasnya.
“Sering kali orang hanya fokus melihat krisis lingkungannya, tetapi lupa bahwa masyarakat di dalamnya memiliki pengetahuan tradisional dan sumber daya yang bisa menjadi sumber penghidupan. Kami ingin membuktikan bahwa menjaga alam dan menggerakkan ekonomi lokal bisa berjalan bersama,” ujarnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Mengolah Herbal dengan Pendekatan Hijau
Variasi produk yang dipasarkan kini kian beragam. Tidak sebatas pada teh bunga rosella dan teh bunga telang, Zunianto juga memfasilitasi produksi teh sereh, teh basil, racikan wedang uwuh, hingga teh alang-alang. Seluruh bahan bakunya dipasok oleh warga Lakardowo yang terdampak pencemaran dan masyarakat sekitar hutan Wonosalam.
Meskipun pengelolaan seluruh produk masih dilakukan secara tradisional oleh warga, prosesnya telah dipadukan dengan pemahaman praktik pengelolaan yang ramah lingkungan.

“Pengelolaan tradisional yang dikombinasikan dengan wawasan lingkungan yang benar diharapkan membuat produk kami bukan hanya memberi manfaat kesehatan, tetapi prosesnya tetap ramah bagi alam,” tutur Zunianto.
Melalui skema pemasaran Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan tanaman herbal ini, masyarakat memperoleh peluang meningkatkan pendapatan tanpa harus memberikan tekanan atau kerusakan baru terhadap tegakan kawasan hutan.
#Menjaga Komitmen dan Konsistensi Gerakan
Meski potensinya besar, perjalanan mengembangkan produk lokal ini bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah menjaga kesinambungan serapan pasar sekaligus memastikan masyarakat tetap konsisten menjaga kualitas produksi.
Bagi Zunianto, tantangan terbesar justru bukan berada pada aspek mencari keuntungan materiil semata, melainkan menjaga ruh perjuangan agar komitmen pelestarian lingkungan tetap menjadi tujuan utama.
“Tantangan terbesar bagi kami adalah bagaimana terus memfasilitasi masyarakat agar produk mereka tetap terserap pasar secara konsisten, tanpa kehilangan fokus utama: berjuang bersama menjaga lingkungan,” katanya.
Keberhasilan inisiatif ini tidak lagi diukur dari seberapa banyak kemasan yang terjual di pasar, melainkan saat masyarakat mulai percaya penuh bahwa menjaga hutan dan merawat lingkungan hidup ternyata bisa berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan mereka.***