Tulisan ini mengajak pembaca memahami cara pandang Prigi Arisandi tentang sungai sebagai ruang kehidupan. Kerusakan sungai bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga tanda memudarnya kepedulian, kebudayaan, dan hubungan manusia dengan alam.
Penulis: Supriyadi, jurnalis pada TitikTerang.co.id, yang di masanya ini sedang kehilangan lelucon
Ada kalimat yang tidak selesai ketika diucapkan. Kalimat itu terus tinggal di kepala, bahkan setelah percakapan berganti arah.
“Ketika sungai kehilangan airnya yang jernih, yang sesungguhnya tercemar bukan hanya alam, melainkan juga nurani manusia.”
Saya lupa persis kapan Prigi Arisandi mengatakannya. Yang saya ingat, kalimat itu muncul belum lama ini, setelah Prigi dipercaya memimpin Perkumpulan Telapak Indonesia hasil Musyawarah Besar di Bogor, 3–5 Juli 2026.
Begitulah ingatan. Sering kali gagal menyimpan tanggal, tetapi lebih setia menyimpan makna.
Prigi bukan tipe orang yang gemar tampil sebagai filsuf. Dalam banyak kesempatan, Prigi justru ceplas-ceplos, penuh humor, bahkan kerap melontarkan guyonan khas arek Suroboyo yang mengingatkan pada Kartolo. Orang yang baru mengenalnya mungkin mengira semua itu hanya gurauan. Namun, setiap kali pembicaraan berbelok ke sungai, nada bicaranya berubah. Ada kesungguhan yang tidak dibuat-buat.
Suatu kali Prigi berkata, “Peradaban selalu tumbuh di tepi sungai. Maka, siapa yang membiarkan sungai mati, sedang mengikis akar peradabannya sendiri.”
Kalimat itu terdengar lugas. Namun, kalimat tersebut mengandung cara pandang yang tidak lagi melihat sungai sebagai saluran air semata. Sungai menjadi ruang tempat manusia bertemu dengan sejarahnya sendiri.
Saya beberapa kali mendengar kalimat-kalimat serupa ketika Prigi berbicara di hadapan mahasiswa yang magang di ECOTON. Kalimat itu diulang berkali-kali. Bukan seperti orang yang sedang meminta orang lain menghafal. Yang saya lihat justru seseorang yang sedang berusaha mengubah cara pandang.
Barangkali itulah yang paling sulit: mengubah cara manusia melihat sesuatu.
Selama sungai hanya dipahami sebagai air yang mengalir, sungai akan selalu dianggap selesai selama alirannya masih ada. Padahal sungai adalah ruang hidup. Di sanalah kebudayaan bertumbuh, ekonomi bergerak, masyarakat membangun sejarah, dan kehidupan berbagai makhluk saling bergantung.
Karena itu, kerusakan sungai tidak pernah berhenti pada air yang keruh atau ikan yang menghilang. Yang ikut pudar adalah hubungan manusia dengan alam yang selama berabad-abad menopang kehidupannya.
Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa ketika diajak berbicara tentang pelestarian lingkungan, sebagian orang justru memilih pasrah? Seolah-olah kerusakan alam akan selesai dengan sendirinya karena semuanya merupakan kehendak Tuhan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBarangkali di situlah letak persoalannya. Kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang tersedia untuk dimanfaatkan, bukan sebagai ruang kehidupan yang harus dirawat bersama.
Prigi pernah mengingatkan bahwa cara berpikir manusia yang hanya mengejar kepentingan jangka pendek membuat sungai mudah dikorbankan. Hutan ditebang, limbah dibuang, sempadan dipersempit, lalu semuanya dianggap harga yang wajar atas nama pembangunan. Yang hilang bukan hanya kualitas lingkungan, melainkan juga kemampuan kita merasakan bahwa sungai memiliki arti bagi kehidupan.
Mungkin cara pandang itu tidak lahir begitu saja.
Kakek Prigi adalah nelayan sungai. Kehidupan keluarganya pernah bergantung pada ikan-ikan yang ditangkap dari Brantas. Ketika kualitas air memburuk dan hasil tangkapan menghilang, yang lenyap bukan hanya mata pencaharian. Ada sebuah dunia yang ikut berubah.
Dari cerita itulah Prigi tumbuh dengan keyakinan bahwa sungai bukan benda mati. Sungai adalah ruang yang harus dihormati.
Barangkali karena itulah, selama hampir tiga dekade melalui ECOTON, langkah Prigi tidak berhenti pada protes. Prigi memilih riset, pendidikan lingkungan, pemantauan kualitas air, hingga melibatkan warga dalam sains partisipatif.
Dari situ saya melihat bahwa, bagi Prigi, perubahan tidak cukup lahir dari kemarahan. Perubahan membutuhkan pengetahuan dan kesadaran yang terus dirawat.
Kini, ketika dipercaya memimpin Perkumpulan Telapak Indonesia, ruang geraknya memang menjadi lebih luas. Namun, saya kira yang berubah hanya cakupan wilayahnya. Cara pandangnya tetap sama.
Brantas masih menjadi rumah tempat semua keyakinan itu berakar.
Barangkali itulah sebabnya saya terus mengingat kalimat yang diucapkan Prigi tentang sungai. Bukan karena susunan katanya indah, melainkan karena kalimat itu mengajak kita melihat sesuatu yang selama ini luput. Sungai ternyata bukan hanya bentang alam yang kebetulan melintas di dekat rumah.
Sungai adalah cermin.
Dan mungkin benar, ketika air sungai kehilangan kejernihannya, yang sesungguhnya sedang kita lihat bukan hanya kerusakan alam, melainkan juga bayangan manusia yang perlahan kehilangan kepedulian terhadap kehidupan yang menopangnya sejak awal.***