Belasan ton sampah diangkat dari Kali Tebu, sementara mikroplastik ditemukan pada seluruh sampel ikan yang diteliti di Brantas. Jejak pencemaran itu mengarah pada ancaman yang lebih besar: terkikisnya biodiversitas sungai.
Plastik kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai limbah yang mencemari sungai, pantai, dan laut. Kajian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Biodiversity, 11 Juni 2026 menunjukkan bahwa plastik telah berkembang menjadi ancaman nyata bagi keanekaragaman hayati global.
Temuan global menunjukkan ribuan spesies terdampak plastik. Di Jawa Timur, jejak ancaman itu telah ditemukan nyata di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

#Dari Temuan Global ke Sungai Lokal
Tim peneliti internasional yang dipimpin Matthew S. Savoca menyimpulkan bahwa ribuan spesies di berbagai belahan dunia telah tercatat berinteraksi dengan sampah plastik. Interaksi tersebut terjadi melalui proses tertelan maupun terlilit, dengan dampak buruk yang masif:
- Gangguan makan dan pencernaan.
- Gangguan sistem reproduksi.
- Perubahan perilaku satwa.
- Cedera internal hingga kematian organisme.
Temuan tersebut muncul di tengah meningkatnya produksi dan pembuangan plastik secara global. Berbagai laporan internasional memperkirakan sekitar 52,1 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahun. Di laut dunia sendiri diperkirakan terdapat sekitar 24,4 triliun partikel mikroplastik yang telah teridentifikasi berdampak pada lebih dari 4.000 spesies laut.
Bagi Indonesia, temuan itu bukan semata-mata peringatan ilmiah yang terjadi jauh di luar negeri. Kajian Nature menunjukkan bahwa selama beberapa dekade, penelitian mengenai plastik memang lebih banyak berfokus pada lingkungan laut. Namun dalam sepuluh tahun terakhir, bukti pencemaran plastik di ekosistem air tawar dan daratan meningkat secara signifikan.
Para peneliti menyebut bahwa sebagian besar bukti yang tersedia saat ini masih berada pada tingkat individu organisme. Dampak terhadap populasi dan ekosistem secara keseluruhan memang belum sepenuhnya terpetakan. Namun, terdapat pola yang konsisten: Semakin tinggi paparan plastik dalam suatu lingkungan, semakin besar risiko gangguan biologis yang dialami organisme di dalamnya.
“Hubungan antara paparan plastik di lingkungan dengan penurunan kebugaran individu dan konsekuensinya terhadap populasi merupakan salah satu frontier penting penelitian saat ini,” tulis para peneliti dalam jurnal tersebut.
#Jejak Mikroplastik di Tubuh Ikan Brantas
Temuan global tersebut menjadi sangat relevan ketika dibandingkan dengan kondisi sungai-sungai di Jawa Timur. Penelitian mengenai mikroplastik di DAS Brantas—yang menjadi tulang punggung kehidupan lebih dari 20 juta penduduk—menunjukkan bahwa pencemaran tidak lagi berada pada tahap awal. Partikel plastik telah masuk ke dalam rantai makanan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBerikut adalah data akumulasi mikroplastik pada ekosistem DAS Brantas yang berhasil dihimpun dari berbagai penelitian beberapa tahun terakhir:

#Kontaminasi Total pada Sampel Biota
Penelitian berikutnya menemukan fakta yang lebih luas dan mengkhawatirkan: 100% sampel ikan yang diperiksa dari Sungai Brantas positif mengandung mikroplastik. Tidak ada satu pun individu yang terbebas dari kontaminasi.
Partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter ($<5\text{ mm}$) tersebut ditemukan bersarang pada dua bagian tubuh utama ikan:
- Saluran Pencernaan: Rata-rata ditemukan 25,22 partikel per ekor, mengindikasikan mikroplastik telah tertelan bersama makanan alami.
- Insang: Rata-rata ditemukan 21,54 partikel per ekor, membuktikan bahwa paparan juga masuk langsung dari air yang melewati sistem pernapasan.
Jenis plastik yang paling dominan ditemukan berupa serat sintetis, fragmen plastik, dan film plastik tipis yang umumnya berasal dari aktivitas domestik serta limbah perkotaan. Pada wilayah hilir yang lebih padat, tingkat kontaminasi bahkan melonjak drastis hingga mencapai 11 hingga 345 partikel mikroplastik di dalam satu tubuh ikan.

#Kali Tebu dan Hulu Masalah yang Terabaikan
Untuk memahami bagaimana mikroplastik ini bisa menembus jaringan kehidupan dan memengaruhi fungsi ekosistem DAS Brantas, perhatian perlu diarahkan ke saluran-saluran kecil di perkotaan. Salah satunya adalah Kali Tebu di Kecamatan Kenjeran, Surabaya.
Sungai kecil yang mengalir di tengah kawasan permukiman padat penduduk ini selama bertahun-tahun menjadi jalur utama masuknya berbagai jenis sampah domestik—seperti botol plastik, kantong belanja, kemasan makanan, popok sekali pakai, hingga styrofoam—sebelum akhirnya mengalir menuju Kali Surabaya dan bermuara ke sistem DAS Brantas.
Besarnya volume kebocoran sampah di hulu ini terpotret nyata dari aksi lingkungan yang dilakukan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton):
- 13,4 Ton Sampah berhasil diangkat dari fasilitas penahan sampah (trash boom) yang dipasang di Kali Tebu, Kelurahan Sidotopo Wetan.
- Pembersihan ini merupakan bagian dari program MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage), yang fokus pada pengurangan sampah dari sumbernya, pemantauan rutin, edukasi, dan penanganan berbasis komunitas.
Namun, trash boom hanya mampu menjaring sampah berukuran besar. Plastik yang lolos dan terus terpapar panas matahari, hujan, serta gesekan arus akan mengalami fragmentasi menjadi mikroplastik. Berbeda dengan sampah makro yang bisa dipungut manual, mikroplastik ini tidak kasat mata, sulit dieksplorasi dari air, dan bertahan di lingkungan dalam waktu yang sangat lama.
Data pengangkatan belasan ton sampah di Kali Tebu menegaskan bahwa hulu masalahnya berada di kawasan permukiman, tempat sampah pertama kali bocor ke lingkungan. Selama aliran sampah dari sumbernya tidak dikendalikan seketat mungkin, anak-anak sungai perkotaan akan terus menjadi koridor yang menghubungkan aktivitas harian manusia dengan hancurnya biodiversitas di perairan yang lebih luas.***