Lewati ke konten

RICON Taipei Taiwan, Aeshnina Azzahra Aqilani Tagih Komitmen Global Stop Polusi Plastik

| 6 menit baca |Sorotan | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  •  Lebih dari 37 ribu anggota Rotary dari 140 negara berkumpul di Taipei, membahas lingkungan, kemanusiaan, dan aksi generasi muda.
  • Pegiat muda Indonesia membawa isu mikroplastik dan keadilan lingkungan ke Rotary International Convention 2026 di Taiwan.

Pegiat lingkungan muda Indonesia, Aeshnina Azzahra Aqilani atau lebih dikenal dengan panggilan Nina, menyerukan tindakan global yang lebih tegas terhadap pencemaran plastik dalam Rotary International Convention (RICON) 2026 di Taipei, Taiwan, yang berlangsung 13–17 Juni 2026.

Di hadapan peserta dari berbagai negara, Nina menegaskan, krisis plastik bukan ancaman yang akan terjadi di masa depan, melainkan persoalan yang sedang dihadapi generasi saat ini.

Nina menjadi keynote speaker bersama tiga narasumber internasional dalam sesi EndPlasticSoup bertemakan Taking Action to Solve Plastic Pollution Together. Mereka adalah Direktur End Plastic Soup Australia Melanie Lewis, perwakilan India Saurav Purkayastha, serta pendiri EndPlasticSoup asal Belanda, Gert-Jan van Dommelen.

Forum yang membahas dampak pencemaran plastik terhadap kesehatan manusia, termasuk ancaman mikroplastik, serta kaitannya dengan perubahan iklim, juga membahas hilangnya keanekaragaman hayati, dan penurunan kualitas air, tanah, serta udara.

“Ketika kita berbicara tentang plastik dalam lingkungan kita, kita tidak berbicara tentang masalah masa depan. Kami berbicara tentang apa yang anak-anak sedang alami sekarang,” kata Nina di depan peserta konvensi di ruang 701 B di Taipei Exhibition Center 2 dalam Sesi Breakout pada Senin, 15 Juni 2026.

Pernyataan itu menjadi salah satu pesan utama dalam sesi yang mempertemukan kalangan pegiat lingkungan dan anggota Rotary dari berbagai negara. Nina menekankan bahwa dampak mikroplastik sudah dirasakan sejak fase paling awal kehidupan manusia.

Untuk menggambarkan situasi tersebut, ia memperlihatkan ilustrasi seorang bayi di dalam wadah transparan. Ilustrasi itu digunakan untuk menunjukkan bagaimana generasi baru berpotensi terpapar mikroplastik bahkan sebelum dilahirkan.

Persoalan plastik, kata Nina, tidak lagi dapat dipandang semata sebagai masalah sampah. Tetapi telah berkembang menjadi isu kesehatan publik, lingkungan, dan keadilan sosial yang saling berkaitan.

“Saya membawa ilustrasi seorang bayi di dalam toples sebagai gambaran bahwa generasi kita telah dibebani mikroplastik bahkan sebelum lahir. Sejak awal kehidupan, mereka sudah hidup berdampingan dengan pencemaran plastik,” ujar Nina, warga Kabupaten Gresik ini.

Aeshnina Azzahra Aqilani berfoto bersama anggota Rotary dari berbagai negara usai menghadiri agenda Rotary International Convention 2026 di Taipei, Taiwan. Foto: River Warriors.

#Mikroplastik dan Ancaman bagi Generasi Mendatang

Dalam penjelasannya, Nina mengatakan bahwa mikroplastik kini ditemukan di berbagai komponen lingkungan. Partikel tersebut dapat memasuki rantai makanan melalui air, tanah, maupun organisme yang dikonsumsi manusia.

Selanjutnya ia juga banyak menyoroti dampak mikroplastik terhadap anak-anak dan bayi sebagai kelompok yang paling rentan. Menurut mahasiswa HI Universitas Airlangga ini, generasi muda tumbuh di tengah lingkungan yang telah terpapar plastik dalam berbagai bentuk.

Sesi EndPlasticSoup juga membahas berbagai penelitian yang mengaitkan pencemaran plastik dengan gangguan kesehatan, termasuk gangguan sistem hormon. Selain itu, peserta mendiskusikan keterkaitan antara polusi plastik, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Dalam sesi diskusi, seorang peserta memberikan apresiasi terhadap paparan Nina. Ia kemudian mengajak seluruh audiens menunjukkan komitmen terhadap upaya pengurangan plastik.

“Jika Anda percaya bahwa orang muda seharusnya memiliki peran untuk melakukan aksi plastik, tepuk tangan,” ujar Nina yang kini menjalani usia 18 tahun ini.

Ajakan tersebut disambut tepuk tangan peserta yang memenuhi ruangan. Pembicara kemudian menegaskan bahwa dukungan tersebut bukan sekadar simbolik.

“Sekarang Anda sudah membuat janji, bukan? Kami akan menagih komitmen itu,” katanya yang disambut tawa dan tepuk tangan audiens.

Bagi Nina, keterlibatan generasi muda memiliki arti penting karena kelompok inilah yang akan menghadapi konsekuensi lingkungan paling panjang. Karena itu, ia menilai anak muda perlu ditempatkan sebagai bagian dari solusi, bukan hanya sebagai pihak yang menerima dampak.

Melalui berbagai kegiatan pendidikan lingkungan, Nina berupaya membangun kesadaran sejak usia sekolah. Ia meyakini perubahan perilaku dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Aeshnina Azzahra Aqilani menunjukkan ilustrasi paparan mikroplastik pada bayi kepada peserta Rotary International Convention 2026 di Taipei. Foto: Dok River Warriors.

#Dari River Warriors ke Panggung Dunia

Dalam forum tersebut, Nina juga memperkenalkan organisasi yang dipimpinnya, River Warriors. Kelompok ini berfokus pada upaya mengurangi pencemaran plastik serta mengkampanyekan penghentian ekspor sampah plastik dari negara maju ke negara-negara Global South.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Menurut Nina, persoalan sampah plastik tidak dapat dilepaskan dari ketimpangan global. Banyak negara berkembang menghadapi beban pengelolaan limbah yang berasal dari luar wilayah mereka.

Selama beberapa tahun terakhir, River Warriors aktif melakukan kampanye kesadaran lingkungan sekolah di Indonesia.

Program yang mencakup edukasi tentang bahaya plastik sekali pakai, pengurangan sampah, dan perubahan pola konsumsi itu, juga telah mempromosikan solusi praktis, seperti kantin sekolah bebas plastik.

Menurutnya, sekolah dapat menjadi ruang penting untuk membangun budaya yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Aktivisme yang dijalankan Nina telah mendapat perhatian internasional. Pada 2025, ia menjadi finalis International Children’s Peace Prize dan meraih penghargaan kedua atas kontribusinya dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap pencemaran plastik.

Ia juga terlibat dalam sejumlah forum internasional yang membahas lingkungan dan perubahan iklim. Di antaranya adalah COP26 serta perundingan Perjanjian Plastik Global yang berlangsung di Ottawa dan Busan.

Dalam berbagai kesempatan, Nina menyampaikan surat dan seruan kepada pemerintah Indonesia maupun pemimpin dunia. Surat itu bertujuan agar mereka mengambil langkah lebih serius untuk menghentikan pencemaran plastik dari sumbernya.

Ia berpendapat perubahan jangka panjang memerlukan kebijakan yang kuat dan konsisten. “Suara kami kuat. Kami memiliki hak untuk berbicara dan didengar. Jadi jangan takut untuk berdiri membela planet ini,” kata Nina sebagaimana dikutip Environmental Sustainability Rotary Action Group, Volume 15 pada Mei 2026.

Aeshnina Azzahra Aqilani (kanan) berdiskusi dengan peserta Rotary International Convention 2026 setelah menyampaikan seruan pengurangan polusi plastik dan perlindungan generasi muda dari ancaman mikroplastik di Taipei, Taiwan. Foto: Dok. River Warriors.

#Isu Plastik dalam Agenda Lingkungan Rotary

Pembahasan mengenai pencemaran plastik dalam RICON 2026 telah menjadi agenda pembahasan acara tersebut. Rotary melalui jaringan EndPlasticSoup telah mengembangkan berbagai proyek lingkungan yang melibatkan lebih dari 1.000 klub di 67 negara.

Program-program tersebut mencakup pendidikan lingkungan, pengurangan sampah plastik, perubahan perilaku masyarakat, hingga pengembangan proyek komunitas yang berkelanjutan. Fokusnya adalah mendorong aksi lokal yang dapat memberikan dampak global.

Dalam konvensi yang berlangsung di Taipei itu, isu keanekaragaman hayati juga mendapat perhatian khusus. Berbagai sesi membahas konservasi pesisir, restorasi habitat, dan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Salah satu publikasi Rotary yang beredar selama konvensi mengulas kerjasama antara Rotary dan National Shellfisheries Association di Amerika Serikat. Pertemuan tersebut mempertemukan peneliti, pelaku industri, petani akuakultur, dan anggota Rotary untuk membahas tantangan lingkungan yang dihadapi kawasan pesisir.

Topik yang dibahas mencakup pemanfaatan teknologi Environmental DNA (eDNA), restorasi kerang dan tiram, konservasi habitat, serta peningkatan ketahanan ekosistem pesisir. Diskusi tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian Rotary terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.

Bagi EndPlasticSoup, pencemaran plastik merupakan salah satu ancaman utama terhadap keanekaragaman hayati. Sampah plastik yang memasuki sungai dan laut dapat merusak habitat serta mengganggu rantai makanan berbagai spesies.

Karena itu, forum di Taipei tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan. Konvensi ini juga menjadi arena untuk membangun jejaring aksi antara komunitas, ilmuwan, aktivis, dan organisasi pelayanan dari berbagai negara.

Di tengah ribuan peserta yang hadir dari seluruh dunia, suara seorang aktivis muda asal Indonesia mendapat ruang yang setara. Dari panggung Rotary International Convention 2026, Nina membawa pesan bahwa krisis plastik tidak mengenal batas negara dan membutuhkan tanggung jawab bersama.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa perjuangan melawan pencemaran plastik tidak hanya berlangsung di ruang diplomasi internasional. Ia juga dimulai dari sekolah, sungai, komunitas lokal, dan keberanian generasi muda untuk menyuarakan perubahan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *