Pengolahan batok kelapa menjadi asap cair memberi pengalaman lapangan bagi mahasiswa sekaligus menguji efektivitas teknologi sederhana.
Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM), menguji pemanfaatan limbah batok kelapa menjadi asap cair. Gelaran praktik berlangsung di Perumahan Talon Permai, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, RT 03 Talon Permai pada Ahad, 14 Juni 2026.
Kegiatan menjadi bagian dari Mata Kuliah Pengolahan Limbah yang menitikberatkan pada penerapan teknologi pengelolaan limbah organik di tingkat masyarakat. Praktik itu tidak hanya menghasilkan produk asap cair, tetapi juga mengungkap sejumlah kendala teknis yang memengaruhi efisiensi produksi.
Hasil praktikum menunjukkan rendemen asap cair yang diperoleh baru mencapai sekitar 20 persen dari target yang diharapkan.
Menurut dosen pengampu mata kuliah, Adyos Bobby Chandra, kegiatan dirancang tujuannya, agar mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
“Selain memahami teori, mahasiswa juga diharapkan mampu mengidentifikasi kendala teknis di lapangan dan merumuskan solusi yang aplikatif bagi masyarakat,” kata Adyos dalam keterangan yang diterima TitikTerang, Kamis, 18 Juni 2026.
Kegiatan praktik itu dilaksanakan dengan pendampingan Heri, warga RT 03 Talon Permai. Sementara mahasiswa terlibat dalam seluruh rangkaian proses, mulai dari persiapan bahan baku hingga pemurnian produk akhir.
Bagi program studi, praktik semacam ini menjadi bagian penting dalam mempertemukan konsep akademik dengan realitas di lokasi sesungguhnya.
“Jadi keterlibatan langsung mahasiswa, tidak hanya mempelajari proses produksi. Tetapi juga melakukan evaluasi terhadap faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan teknologi pengolahan limbah, “ jelas Adyos.
#Dari Batok Kelapa Menjadi Asap Cair
Batok kelapa dipilih sebagai bahan baku utama karena ketersediaannya melimpah dan kerap dianggap sebagai limbah yang memiliki nilai ekonomi rendah. Melalui proses tertentu, limbah tersebut dapat diubah menjadi produk yang memiliki berbagai manfaat.
Tahap pertama dimulai dengan membersihkan dan mengeringkan batok kelapa. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi kadar air sehingga proses pembakaran berlangsung lebih stabil.
Setelah itu, batok kelapa dimasukkan ke dalam alat pirolisis. Pada proses ini, bahan dipanaskan dalam kondisi minim oksigen sehingga mengalami penguraian termal tanpa terbakar sempurna.
Pirolisis menghasilkan tiga produk utama, yakni asap, arang, dan tar. Asap yang terbentuk kemudian dialirkan menuju sistem pendingin melalui pipa kondensasi.
Ketika suhu menurun, asap berubah menjadi cairan yang dikenal sebagai asap cair mentah. Cairan tersebut kemudian ditampung dalam wadah tertutup untuk menjalani proses pengendapan.
Proses pengendapan bertujuan memisahkan tar dan partikel berat yang terbawa selama pembakaran. Endapan akan terkumpul di bagian bawah wadah, sedangkan cairan yang lebih jernih berada di bagian atas.

Cairan jernih tersebut kemudian disaring sebelum memasuki tahap pemurnian. Mahasiswa menggunakan proses destilasi untuk mengurangi kandungan senyawa yang tidak diinginkan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelHasil akhirnya berupa asap cair yang lebih bersih dan aman digunakan. Produk ini memiliki potensi pemanfaatan yang cukup luas, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian.
Menurut tim mahasiswa, asap cair dapat digunakan sebagai pengawet alami produk pangan. Selain itu, cairan tersebut juga memiliki sifat antibakteri dan antijamur.
Pemanfaatan lain mencakup pestisida organik ramah lingkungan, penghilang bau limbah organik, hingga bahan pendukung dalam pembuatan pupuk organik cair. Potensi tersebut menjadikan asap cair sebagai salah satu produk turunan limbah yang memiliki nilai tambah.
#Evaluasi Kendala Produksi di Lapangan
Meski seluruh tahapan berhasil dilaksanakan, hasil produksi belum sesuai dengan target yang ditetapkan. Tim mahasiswa menemukan sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab rendahnya rendemen asap cair.
Salah satu kendala utama berasal dari sistem kondensasi yang belum bekerja secara optimal. Akibatnya, sebagian asap yang dihasilkan tidak berhasil diubah menjadi cairan.
Mahasiswa juga menemukan beberapa sambungan alat yang kurang rapat. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian asap keluar sebelum mencapai sistem pendingin.
Faktor lain yang turut memengaruhi hasil produksi adalah kondisi alat yang belum sepenuhnya steril. Kebersihan peralatan dinilai berpengaruh terhadap efektivitas proses dan kualitas produk yang dihasilkan.
Menurut tim mahasiswa, temuan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi pengolahan limbah tidak hanya ditentukan oleh konsep, tetapi juga oleh ketelitian dalam aspek teknis.
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, mereka merekomendasikan sejumlah perbaikan untuk kegiatan serupa di masa mendatang. Perbaikan itu mencakup peningkatan kinerja sistem kondensasi, penguatan sambungan pipa, dan penerapan prosedur kebersihan alat yang lebih ketat.
Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas asap cair yang dihasilkan. Evaluasi itu juga dapat menjadi dasar pengembangan teknologi pengolahan limbah yang lebih efektif di tingkat masyarakat.
Melalui praktik lapangan ini, mahasiswa memperoleh gambaran langsung mengenai tantangan pengelolaan limbah organik. Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat lingkungan dan potensi ekonomi.
Program ini juga menjadi bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan teknologi sederhana yang dapat diterapkan secara luas. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pengelolaan limbah yang berkelanjutan, pengalaman semacam ini menjadi ruang pembelajaran yang relevan bagi calon pengelola sumber daya lingkungan.***
Artikel ini disusun oleh Dwi Kartini, Meir Tsabita Rihadatul Aisy, Fikri Iqbal Rahmatullah, Dwi Ayu Lestari, Aswinnia Buatan, dan Mohammad Rafil Maulana Putra, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), dan telah melalui proses penyuntingan redaksi.