Lewati ke konten

Riset Pennsylvania & Surabaya: Plastik Tak Pernah Hilang, Hanya Mengecil dan Mengintai Manusia

| 6 menit baca |Mikroplastik | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Penelitian di Pennsylvania, Amerika Serikat, dan Surabaya, Indonesia, menunjukkan mikroplastik telah menyebar luas di air, udara, dan sedimen.
  • Temuan ini memperkuat kekhawatiran, polusi plastik bukan lagi persoalan laut semata, melainkan telah masuk ke sistem lingkungan daratan dan ruang hidup manusia.

 

Temuan terbaru dari Pennsylvania memperlihatkan mikroplastik telah menjadi bagian dari sistem perairan daratan jauh sebelum mencapai laut. Partikel berukuran sangat kecil itu kini ditemukan hampir di seluruh lapisan sedimen sungai dan danau yang diteliti.

Penelitian yang dipimpin Nathaniel Warner bersama Lisa Emili dan Raymond Najjar menunjukkan sebaran mikroplastik yang luas di berbagai wilayah perairan negara bagian tersebut.

Studi yang mencakup Raystown Lake, Conemaugh River Lake, hingga kawasan awal Delaware Estuary, menunjukkan partikel plastik tidak hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan, tetapi juga hadir di wilayah pedesaan. Data tersebut dikutip dari Penn State Institute of Energy and the Environment.

“Mikroplastik hampir ditemukan di mana-mana,” demikian kesimpulan para peneliti dalam laporan yang dirilis pada 16 Juni 2026.

Rata-rata ditemukan sekitar 1.125 partikel mikroplastik per pon sedimen atau setara 2.500 per kilogram. Namun, angka tersebut tidak konsisten antar lokasi, menunjukkan kompleksitas jalur distribusi plastik di lingkungan.

Di wilayah yang jauh dari pusat industri seperti Raystown, tingkat kontaminasi tercatat tidak jauh berbeda dengan kawasan dekat Philadelphia. Temuan ini menggeser asumsi lama bahwa polusi plastik terutama terjadi di wilayah perkotaan.

Jenis plastik yang dominan adalah polypropylene dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk sekali pakai. Selain itu, partikel dari keausan ban kendaraan juga menjadi sumber signifikan.

Para peneliti tengah menelusuri bagaimana plastik berpindah dan terdistribusi kembali di sepanjang daerah aliran sungai. Penelitian ini membantu mengungkap perjalanan sampah plastik dari sumbernya hingga terakumulasi di berbagai ekosistem perairan, termasuk lokasi yang jauh dari pusat aktivitas manusia. | Foto: Penn State Institute of Energy and the Environment

#Sedimen Sungai dan Paradox Plastik

Di tingkat global, ilmuwan masih menghadapi “missing plastic paradox”, yakni kesenjangan antara jumlah plastik yang diproduksi dan yang ditemukan di laut.

Lebih dari 500 juta ton plastik diproduksi setiap tahun. Namun hanya sebagian kecil yang didaur ulang, sementara sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir atau lingkungan terbuka.

Di Amerika Serikat, sekitar 48 juta ton sampah plastik dihasilkan setiap tahun. Sekitar 86 persen masuk ke landfill, sementara tingkat daur ulang hanya 5–6 persen.

Sebagian besar plastik tersebut terurai menjadi mikroplastik melalui proses degradasi jangka panjang. Partikel ini berukuran sangat kecil, bahkan hingga skala nanometer.

Lebih dari 80 persen sampah plastik yang tidak terkelola diperkirakan berpindah melalui sungai menuju kawasan pesisir. Namun, jumlah plastik yang ditemukan di laut tidak sebanding dengan estimasi tersebut.

Penelitian di Pennsylvania mencoba menjelaskan ketimpangan itu dengan menelusuri sedimen sungai dan danau sebagai arsip lingkungan.

Lapisan sedimen menyimpan jejak historis akumulasi plastik, dengan lapisan bawah mewakili periode lama dan lapisan atas yang lebih baru.

Dengan teknik isotop lead-210 dan cesium-137, peneliti dapat menentukan waktu pengendapan setiap lapisan sedimen.

Hasilnya menunjukkan akumulasi mikroplastik meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun sejak 1950-an, seiring lonjakan produksi plastik global.

Estuari, yang selama ini dianggap sebagai penahan alami, ternyata tidak cukup efektif menghentikan pergerakan mikroplastik menuju laut. Sebagian besar plastik yang “hilang” diduga tersimpan di sistem perairan daratan yang belum sepenuhnya terpetakan.

Mikroplastik di Kali Tebu bukan ancaman masa depan, tetapi kenyataan hari ini. Dari air sungai, udara, hingga air kran, partikel plastik telah masuk ke ruang hidup manusia. Saatnya kurangi plastik sekali pakai dan kelola sampah lebih bijak. | Desain AI

#Kali Tebu dan Paparan Perkotaan

Di Indonesia, kondisi serupa terpantau di Kali Tebu, Surabaya. Sungai kecil di kawasan padat penduduk itu menjadi titik akumulasi limbah domestik yang berlangsung terus-menerus.

Lembaga lingkungan Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON), yang selama ini fokus dengan sungai itu, tel melakukan pengujian mikroplastik sekaligus evakuasi sampah plastik di sungai tersebut.

Lewat program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang melibatkan siswa SMPN 58 Surabaya pada 19 Mei 2026. Dalam hasil pengujiannya, menunjukkan mikroplastik ditemukan hampir di seluruh media lingkungan di sana. Mulai air sungai, udara, air kran, hingga daun di sekitar sekolah.

Pada sampel air Kali Tebu, dari 10 liter air ditemukan 19 partikel mikroplastik yang terdiri atas fiber, filamen, dan fragmen.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di udara sekitar sungai, delapan partikel mikroplastik juga terdeteksi. Hal itu menunjukkan paparan tidak hanya melalui air, tetapi juga jalur inhalasi.

Bahkan pada air kran sekolah, partikel mikroplastik masih ditemukan dalam jumlah kecil, menandakan sebaran telah masuk ke sistem air domestik.

Manager Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahmatullah, saat itu menyebut sungai sebagai sumber utama penyebaran mikroplastik di kawasan perkotaan.

“Setiap hari kami menemukan sekitar satu ton sampah di sungai. Dominannya plastik, popok sekali pakai, dan styrofoam,” ujarnya.

Ia menambahkan, mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui air, udara, dan rantai makanan, dengan dampak jangka panjang yang masih diteliti.

Penelitian mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, Muhammad Rofi’ul Ihsan, memperkuat temuan tersebut melalui studi di lima titik Kali Tebu.

Jumlah mikroplastik meningkat dari hulu ke hilir, dengan puncak 123 partikel di titik terakhir pengamatan.

Dominasi fiber mengindikasikan kuatnya kontribusi limbah rumah tangga, terutama dari cucian pakaian sintetis.

Fragmen dan film lebih banyak ditemukan di wilayah hilir yang padat aktivitas manusia, menunjukkan akumulasi tekanan lingkungan.

Karung-karung berisi sampah plastik hasil pembersihan Kali Tebu, Surabaya, menumpuk setelah dievakuasi dari aliran sungai. Pemandangan ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak hilang begitu saja, melainkan terus terakumulasi jika tidak dikelola dengan baik sejak dari sumbernya. | Foto: Fully Syafi

#Tekanan Ekologis dan Sinyal Perubahan

Selain mikroplastik, kualitas air menunjukkan tekanan ekologis serius. Nilai oksigen terlarut di beberapa titik turun di bawah 2 mg/L.

Sementara total padatan terlarut (TDS) mencapai 679 mg/L di bagian hilir, menandakan tingginya beban pencemar.

Kepala Laboratorium ECOTON, Rafikan Aprilianti, sebagaimana dikutip TitikTerang pada Senin, 27 April 2026. menyebut kondisi tersebut sebagai tanda penurunan kualitas ekologis.

“Secara fisik terlihat normal, tetapi secara biologis sudah terganggu,” ujarnya.

Di tengah situasi tersebut, peneliti mencatat adanya indikasi perubahan kecil di Pennsylvania. Konsentrasi mikroplastik di sedimen terbaru menunjukkan penurunan ringan.

Fenomena ini diduga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran publik dan perbaikan sistem pengelolaan sampah, meski dampaknya masih terbatas.

Di Surabaya, pendekatan edukasi mulai diperkuat melalui pelibatan siswa dalam riset mikroplastik di lapangan.

ECOTON menegaskan, solusi tidak cukup hanya bertumpu pada teknologi pembersihan. Perubahan perilaku dari sumber rumah tangga dinilai menjadi kunci utama.

Dari Pennsylvania hingga Kali Tebu, pola yang muncul serupa: mikroplastik telah menyebar di udara, air, dan sedimen, melampaui batas geografis dan administratif.

Pada titik ini, plastik tidak bisa dikatan persoalan sampah semata. Tetapi sudah menjadi bagian dari perubahan sistem ekologis. Keberlangsungannya sangat perlahan namun terus menguat.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *