Lewati ke konten

Menyusuri Kali Surabaya, Marcellina Santoso Gugah Kesadaran Generasi Muda Jaga Sungai

| 6 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Marcellina Santoso menyaksikan langsung pencemaran Kali Surabaya dan mengajak generasi muda peduli terhadap masa depan sungai.
  • Magang di ECOTON membuka mata Celli terhadap ancaman sampah, mikroplastik, dan rendahnya oksigen Kali Surabaya.
  • Dari sembilan titik pengamatan, Celli menemukan persoalan sungai sekaligus memahami pentingnya menjaga kualitas air bersama.
  • Rendahnya DO Kali Surabaya membuat Celli prihatin dan mendorongnya mengajak generasi muda menjaga lingkungan.
  • Pengalaman menyusuri Kali Surabaya mengubah kebiasaan Celli sekaligus memperkuat kepeduliannya terhadap kelestarian sumber daya air.
Marcellina Santoso, mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya, mengikuti kegiatan Microplastic Journey ECOTON di sekolah. | Foto: Fully Syafi

MARCELLINA Santoso, yang akrab disapa Celli, mengenal persoalan sungai dari bangku kuliah. Sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya, ia mempelajari pengelolaan sumber daya air, konservasi, serta berbagai persoalan pencemaran perairan. Namun, pengetahuan itu mendapat pengalaman baru ketika Celli turun langsung menyusuri Kali Surabaya.

Melalui program magang di ECOTON, Celli terlibat dalam pengambilan sampel air, pengukuran kualitas perairan, identifikasi mikroplastik di laboratorium, pengolahan data, hingga pemantauan kondisi sungai bersama tim. Dari sejumlah titik pengamatan, ia melihat langsung tumpukan sampah, limbah domestik, aktivitas di sempadan sungai, serta indikasi pencemaran yang memengaruhi kondisi perairan.

Temuan kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) sebesar 2–3 mg/L membuat perhatiannya semakin tertuju pada kondisi Kali Surabaya. Rendahnya kadar oksigen dapat memengaruhi kehidupan ikan dan organisme air lainnya. Bagi Celli, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengendalian pencemaran dan pemulihan sungai. Sebab sungai menjadi sumber air baku bagi masyarakat.

Pengalaman di lapangan juga mengubah kebiasaannya. Ia mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler, lebih disiplin memilah sampah, dan semakin menghargai keberadaan air bersih. Dari Kali Surabaya, Celli belajar bahwa menjaga sungai membutuhkan kerja bersama pemerintah, industri, masyarakat, akademisi, organisasi lingkungan, serta generasi muda.

Berikut wawancara TitikTerang dengan Marcellina Santoso mengenai pengalaman magang, penelitian kualitas air, dan pandangannya terhadap masa depan Kali Surabaya.[*]

Marcellina Santoso berbincang dengan Moritz Constantin Lauten, mahasiswa Biologi Leipzig University, Jerman, dalam diskusi mikroplastik. | Foto: Supriyadi

Bisa memperkenalkan diri?

Perkenalkan, nama saya Marcellina Santoso asal saya dari Sidoarjo. Saya mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya. Saya memilih program studi ini karena memiliki ketertarikan terhadap pengelolaan sumber daya air, konservasi lingkungan, serta ingin berkontribusi dalam mengatasi berbagai permasalahan pencemaran perairan di Indonesia.

Mengapa memilih magang di ECOTON?

Saya memilih magang di ECOTON karena organisasi ini memiliki komitmen yang kuat dalam perlindungan sungai dan lahan basah. Saya ingin belajar langsung mengenai penelitian lingkungan, pemantauan kualitas air, serta memahami kondisi sungai secara nyata melalui kegiatan lapangan.

Apa kesan pertama ketika melihat langsung kondisi Kali Surabaya?

Kesan pertama saya cukup prihatin di pikiran saya tidak seburuk itu sebelum ke lapang. Saat di lapang  saya melihat masih banyak sampah dan indikasi pencemaran di beberapa titik. Kondisi tersebut sesuai dengan informasi yang saya pelajari sebelumnya, tetapi melihat langsung di lapangan memberikan pengalaman yang jauh lebih nyata dan membuka mata saya terhadap kompleksitas permasalahan sungai.

Selama magang, kegiatan apa saja yang paling sering Anda lakukan?

Selama magang saya terlibat dalam pengambilan sampel air di beberapa titik, melakukan pengukuran kualitas air, membantu identifikasi mikroplastik di laboratorium, mengolah data hasil penelitian, serta mengikuti berbagai kegiatan pemantauan sungai bersama tim ECOTON.

Marcellina Santoso melakukan uji langsung kualitas air di aliran Muara Kali Tengah, Driyorejo. | Foto: TIM

 Penelitian menunjukkan kadar Dissolved Oxygen (DO) Kali Surabaya hanya 2–3 mg/L, jauh di bawah baku mutu kelas I sebesar ≥6 mg/L. Apa makna angka tersebut bagi masyarakat awam?

Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas air Kali Surabaya sudah kurang baik. Kandungan oksigen yang rendah dapat mengganggu kehidupan ikan dan organisme air lainnya. Bagi masyarakat, kondisi ini menjadi tanda bahwa sungai telah mengalami pencemaran sehingga perlu dikelola dan dipulihkan bersama.

 Bagaimana proses pengambilan sampel di sembilan titik, mulai Mlirip, Mojokerto hingga Karang Pilang, Surabaya?

Pengambilan sampel dilakukan secara bertahap di sembilan titik pengamatan dengan prosedur yang sama agar data dapat dibandingkan. Tantangan terbesar adalah kondisi cuaca yang berubah-ubah, akses menuju lokasi yang tidak selalu mudah, serta menjaga agar sampel tetap sesuai prosedur hingga dianalisis di laboratorium.

Dari hasil observasi, apa saja sumber pencemaran yang paling banyak Anda temukan?

Sumber pencemaran yang paling sering saya temui adalah limbah domestik, sampah plastik, serta aktivitas di sekitar sempadan sungai yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan. Selain itu, keberadaan limbah industri juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas air di beberapa lokasi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

 Apa pengalaman paling berkesan selama melakukan penelitian di Kali Surabaya?

Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika melihat secara langsung banyaknya sampah dan mikroplastik yang terdapat di sungai. Pengalaman tersebut membuat saya semakin sadar bahwa pencemaran sungai merupakan masalah serius yang membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak.

Sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan, apa pelajaran paling penting yang Anda peroleh dari magang di ECOTON?

Saya belajar bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah harus didukung dengan pengalaman lapangan. Selain kemampuan teknis, saya juga belajar pentingnya kerja sama tim, ketelitian dalam penelitian, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Kali Surabaya menjadi sumber air baku bagi sekitar 632 ribu sambungan pelanggan PAM Surya Sembada. Apa yang Anda rasakan ketika mengetahui kualitas air sungai ini sudah tidak memenuhi baku mutu kelas I?

Saya merasa prihatin karena sungai yang menjadi sumber air bagi banyak masyarakat justru mengalami penurunan kualitas. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian pencemaran harus menjadi prioritas agar kualitas air dapat terus terjaga.

 Menurut Anda, siapa yang memiliki tanggung jawab terbesar untuk memulihkan Kali Surabaya?

Menurut saya, semua pihak memiliki tanggung jawab. Pemerintah berperan dalam pengawasan dan penegakan aturan, industri harus mengelola limbah dengan baik, masyarakat perlu menjaga kebersihan sungai, dan akademisi serta organisasi lingkungan dapat memberikan edukasi serta penelitian sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Bagaimana pengalaman bekerja bersama tim peneliti, relawan, dan aktivis lingkungan selama magang?

Saya sangat senang dapat bekerja bersama mereka. Saya belajar mengenai pentingnya kolaborasi, komunikasi, saling membantu, dan semangat untuk terus menjaga lingkungan demi kepentingan bersama.

Marcellina Santoso dan Maya Anindya Maheswari Ladina mempresentasikan inventarisasi biodiversitas Kali Surabaya dan rekomendasi konservasi. | Foto: Supriyadi

Setelah terjun langsung ke lapangan, apakah ada perubahan kebiasaan pribadi terkait penggunaan plastik, pengelolaan sampah, atau konsumsi air?

Ya. Saya menjadi lebih bijak dalam menggunakan plastik sekali pakai, lebih disiplin memilah sampah, membawa tumbler sendiri, serta lebih menghargai pentingnya menjaga kualitas air di lingkungan sekitar.

 Apa harapan Anda terhadap masa depan Kali Surabaya dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan?

Saya berharap kualitas air Kali Surabaya dapat terus membaik, jumlah sampah dan pencemaran berkurang, ekosistem sungai kembali sehat, serta masyarakat semakin peduli dalam menjaga kebersihan sungai.

 Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada generasi muda agar lebih peduli terhadap sungai dan lingkungan?

Generasi muda memiliki peran besar dalam menjaga lingkungan. Mulailah dari hal-hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan ikut serta dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *