Empat puluh hari di ECOTON mengubah cara pandang Nadhira terhadap sungai, mikroplastik, sampah, dan kehidupan masyarakat yang tumbuh berdampingan dengan lingkungan tercemar.
SELAMA 29 Juni–8 Agustus 2026, Nadhira Alifia Nuranisya menjalani magang di ECOTON. Mahasiswa Program Studi Agroekoteknologi Universitas Brawijaya itu awalnya ingin mengenal sisi lain persoalan lingkungan. Namun, 40 hari di lapangan mengubah cara pandangnya terhadap sungai, sampah, mikroplastik, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Pengalaman itu semakin kuat ketika Nadhira bersama Tripani Anastasia Togatorop, Farida Febriani Tampubolon, dan Stien Angelie Manuhutu mengikuti kegiatan di Kali Tebu Surabaya pada 27 Juli–3 Agustus 2026. Ketiganya merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya. Aprillianti Nafiah dari program yang sama dengan Nadhira, Program Studi Agroekoteknologi.
Berikut petikan wawancara TitikTerang dengan Nadhira Alifia Nuranisya mengenai pengalaman magang, penelitian mikroplastik, keterlibatannya dalam program MOZAIK dan REFILIN, hingga perubahan cara pandangnya terhadap persoalan lingkungan.[*]

Bisa memperkenalkan diri terlebih dahulu? Ceritakan nama lengkap, asal daerah, dan mengapa memilih kuliah di Program Studi Agroekoteknologi Universitas Brawijaya.
Saya Nadhira Alifia Nuranisya. Saya lahir di Pacitan pada 12 Desember 2004 dan berasal dari Tulungagung. Saya memilih Program Studi Agroekoteknologi karena sejak SMA saya sangat menyukai pelajaran Biologi dan ingin mengambil jurusan yang masih berkaitan dengan ilmu tersebut.
Setelah masuk kuliah, ternyata ilmu yang dipelajari jauh lebih kompleks, terutama yang berkaitan dengan tanaman dan lingkungan. Awalnya saya sempat merasa salah jurusan karena materi yang dipelajari cukup sulit dan luas. Namun, setelah menjalani enam semester, saya justru mulai merasa nyaman dan menemukan dunia saya di sini.
Di perkuliahan saya tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pengalaman untuk mengeksplorasi alam. Saya memang suka berkelana, menikmati alam, dan melihat dunia dari berbagai sudut. Salah satu hal yang saya syukuri dari pilihan jurusan ini adalah kesempatan untuk memahami lingkungan secara lebih luas, bukan hanya dari buku atau ruang kelas.
Apa yang membuat Anda tertarik mengikuti program magang di ECOTON? Apakah ada pengalaman atau kepedulian tertentu terhadap isu lingkungan yang melatarbelakanginya?
Magang di ECOTON sebenarnya merupakan pilihan kedua saya ketika menentukan tempat magang. Namun, entah kenapa, ketika pertama kali mendengar nama ECOTON, saya merasa seperti mendapat kesempatan untuk melihat sisi lain dari lingkungan yang selama ini belum banyak saya pelajari di perkuliahan.
Ketertarikan itu mungkin berangkat dari kebiasaan saya sejak kuliah yang memang senang dengan alam dan ingin mengeksplorasi berbagai persoalan lingkungan. Awalnya saya tidak tahu secara pasti apa yang akan saya pelajari di ECOTON. Namun, setelah menjalani sekitar 40 hari di sini, saya menyadari banyak hal yang bisa saya pelajari.
Salah satunya adalah cara saya memandang sungai. Sebelumnya, sungai mungkin hanya saya lihat sebagai bagian dari lingkungan yang biasa saja. Setelah terjun langsung ke lapangan, saya mulai menyadari bahwa sungai juga bisa mengalami kondisi yang buruk dan membutuhkan perhatian.
Hal yang paling membuat saya prihatin adalah ketika melihat kondisi Kali Tebu Surabaya. Di sana, masyarakat tetap menjalani aktivitas sehari-hari meskipun kondisi sungai di sekitar mereka sangat memprihatinkan. Sebagai orang yang baru pertama kali datang ke sana, saya sempat bertanya dalam hati, bagaimana masyarakat bisa menjalani kehidupan berdampingan dengan kondisi lingkungan seperti itu?
Namun, setelah saya pikirkan lagi, mungkin persoalannya tidak sesederhana soal mau atau tidak mau peduli. Bisa jadi ada masyarakat yang tidak memiliki pilihan lain dan terpaksa menerima kondisi tersebut. Dari situ saya belajar bahwa persoalan lingkungan juga berkaitan dengan kondisi sosial dan pilihan hidup masyarakat.
Saya merasa kondisi sungai tidak akan menjadi seperti itu jika manusia memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap lingkungan. Karena itu, pengalaman di Kali Tebu membuat saya semakin memahami bahwa persoalan lingkungan tidak bisa hanya dilihat dari kondisi alamnya, tetapi juga dari perilaku dan sistem kehidupan manusia yang ada di sekitarnya.

Selama magang di ECOTON, apa saja tugas dan tanggung jawab yang paling sering Anda kerjakan? Bagaimana pengalaman tersebut berbeda dengan pembelajaran di bangku kuliah?
Selama menjalani magang di ECOTON, saya terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penelitian, pemantauan kualitas lingkungan, serta edukasi mengenai pencemaran sungai.
Kegiatannya mulai dari survei lokasi, pengambilan sampel sedimen dan daun vegetasi riparian di Kali Surabaya, preparasi sampel di laboratorium, identifikasi mikroplastik menggunakan mikroskop, mengolah data, hingga mencari jurnal untuk mendukung penelitian. Saya juga mengikuti sejumlah kegiatan edukasi dan pemantauan kualitas sungai bersama tim ECOTON.
Kalau dibandingkan dengan perkuliahan, perbedaannya cukup terasa. Di kampus, saya lebih banyak belajar teori dan melakukan praktikum dengan kondisi yang relatif terkontrol. Sementara di ECOTON, saya benar-benar turun ke lapangan dan berhadapan langsung dengan kondisi sungai, masyarakat, serta berbagai persoalan yang tidak selalu bisa diprediksi.
Saya belajar bahwa penelitian tidak selalu berjalan sesuai rencana. Dari pengalaman itu saya menjadi lebih teliti, terbiasa bekerja dalam tim, dan belajar menyelesaikan persoalan yang muncul di lapangan.
Ada satu pengalaman yang cukup berkesan ketika saya pertama kali mengikuti sosialisasi di SDN 192 Gresik. Saya merasa gugup dan takut berbicara dengan orang-orang yang belum saya kenal. Setelah kegiatan selesai, saya berbincang dengan teman-teman magang dan kami saling menceritakan kesulitan masing-masing.
Teman-teman memberikan masukan dan dorongan bahwa sebenarnya saya bisa melakukannya. Setelah itu, saya kembali mengikuti sosialisasi di MTsN 2 Sidoarjo. Di kegiatan kedua, saya sudah jauh lebih nyaman menyampaikan materi. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keberanian juga bisa tumbuh karena dukungan orang-orang di sekitar kita.
Anda terlibat dalam penelitian analisis mikroplastik di Kali Surabaya. Bisa dijelaskan bagaimana proses pengambilan sampel hingga analisis dilakukan, serta apa tantangan terbesarnya?
Prosesnya diawali dengan survei lokasi untuk menentukan titik pengambilan sampel yang dapat mewakili kondisi hulu, tengah, dan hilir Kali Surabaya. Kami menggunakan Google Earth untuk membantu menentukan lokasi. Setelah itu, kami didampingi Pak Prigi (Prigi Arisandi, pendiri ECOTON sekaligus mentor mahasiswa magang), untuk mengambil sampel sedimen dan daun vegetasi riparian di sembilan titik.
Selama perjalanan menuju lokasi pengambilan sampel, saya juga banyak mengamati kondisi lingkungan di sepanjang Kali Surabaya. Saya melihat bagaimana aktivitas manusia, kendaraan, permukiman, dan sungai saling berdekatan.
Pengambilan sampel juga tidak selalu mudah. Salah satu titik di bagian hulu Kali Surabaya cukup sulit dijangkau karena kondisi lokasinya terjal dan berada di sekitar jalan. Di sana, saya melihat kondisi bantaran yang masih dipenuhi sampah plastik dan botol kaca.
Sampel yang sudah diambil kemudian dibawa ke laboratorium untuk dipreparasi. Sampel diproses untuk memisahkan partikel yang diduga mikroplastik, kemudian diamati menggunakan mikroskop.
Awalnya saya mengira proses preparasi akan berlangsung cepat. Ternyata prosesnya cukup panjang dan membutuhkan waktu hampir dua minggu hingga masuk ke tahap identifikasi. Setelah itu dilakukan identifikasi berdasarkan bentuk, ukuran, dan jumlah partikel mikroplastik sebelum datanya dianalisis.
Menurut saya, salah satu tantangan terbesar adalah menjaga agar sampel tidak mengalami kontaminasi selama proses pengambilan maupun analisis. Karena ukurannya sangat kecil, mikroplastik dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk pakaian, alat, atau udara, sehingga proses penelitian membutuhkan ketelitian tinggi.
Selain itu, proses identifikasi juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tidak cukup hanya dua atau tiga hari. Untuk mengidentifikasi dan memastikan karakteristik partikel, dibutuhkan waktu sekitar satu minggu atau lebih, tergantung tahapan yang dilakukan.
Dari hasil pengamatan di Kali Surabaya, apa temuan atau fakta yang paling membekas bagi Anda terkait pencemaran mikroplastik?
Hal yang paling membekas bagi saya adalah menyadari bahwa mikroplastik benar-benar ada di lingkungan yang selama ini kita lihat sehari-hari, termasuk di sedimen sungai dan permukaan daun vegetasi riparian.
Saya kemudian berpikir tentang vegetasi di sekitar bantaran sungai yang sebagian mungkin masih dimanfaatkan atau dikonsumsi masyarakat. Selama ini banyak orang menganggap pencemaran plastik hanya sebatas sampah yang terlihat. Padahal, partikel yang tidak kasatmata justru bisa tersebar di berbagai komponen lingkungan.
Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa persoalan sampah plastik jauh lebih kompleks daripada yang saya bayangkan sebelumnya. Saya bahkan sempat merasa khawatir dengan aktivitas sehari-hari yang masih menggunakan plastik.
Awalnya saya berpikir, apa yang harus saya lakukan agar keberadaan mikroplastik tidak mengganggu aktivitas sehari-hari saya? Setelah lama memikirkan hal itu, saya menyadari bahwa persoalannya juga berkaitan dengan gaya hidup dan pilihan yang saya buat sendiri.
Setelah mengikuti penelitian mikroplastik dan menjalani sekitar 40 hari dengan kebiasaan mengurangi penggunaan plastik selama berada di lingkungan ECOTON, saya mulai berkomitmen untuk mengubah kebiasaan dari diri sendiri.
Saya tahu mengedukasi orang lain juga penting, tetapi untuk saat ini saya ingin memulainya dari diri sendiri. Saya tidak ingin hanya meminta orang lain berubah sementara saya sendiri belum melakukan perubahan.
Anda juga terlibat dalam program Kali Tebu MOZAIK. Apa peran yang Anda jalankan dalam kegiatan tersebut, dan bagaimana Anda melihat dampaknya bagi masyarakat maupun kondisi sungai?
Di program MOZAIK, saya tergabung dalam tim REFILIN yang mengajak masyarakat, khususnya di Kampung MOZAIK, untuk mengurangi penggunaan kemasan sachet.
Kami memperkenalkan sistem isi ulang untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti sabun cuci piring, sabun pel, dan pelembut pakaian, dengan menggunakan wadah yang dapat dipakai kembali.
Saya melihat respons yang cukup positif dari sebagian warga. Ada warga yang mulai tertarik menggunakan sistem isi ulang karena selain dapat mengurangi sampah plastik, harganya juga relatif lebih hemat.
Namun, tidak semua masyarakat memberikan respons yang sama. Ada juga yang kurang tertarik dan cenderung menganggap program REFILIN sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting. Menurut saya, bagian tersebut memang berada di luar kendali kami. Kami bisa memberikan informasi dan edukasi, tetapi keputusan untuk berubah tetap berada di tangan masing-masing orang.
Selama sekitar satu minggu berada di Kampung MOZAIK, saya melihat bahwa dinamika masyarakat sangat beragam. Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa tidak semua orang memiliki tingkat kepedulian yang sama terhadap lingkungan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBagi saya, perubahan memang membutuhkan proses. Yang bisa dilakukan adalah terus memberikan informasi, menyediakan pilihan yang lebih mudah, dan memberi contoh melalui kebiasaan sehari-hari.
Selain itu, Anda ikut dalam kegiatan REFILIN yang mendorong penggunaan sistem isi ulang. Menurut Anda, seberapa efektif pendekatan ini dalam mengurangi sampah plastik sekali pakai?
Menurut saya, pendekatan seperti REFILIN cukup efektif karena yang diubah bukan hanya cara orang membuang sampah, tetapi juga kebiasaan dalam menggunakan produk.
Dengan sistem isi ulang, penggunaan kemasan plastik sekali pakai dapat dikurangi sejak awal. Tantangannya tentu adalah mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah lama terbiasa menggunakan produk sekali pakai.
Ketika mengikuti kegiatan REFILIN, saya melihat bahwa perubahan sederhana seperti membawa wadah sendiri dan mengisi ulang produk ternyata memiliki makna yang lebih besar jika dilakukan secara konsisten.
Satu kemasan plastik mungkin terlihat kecil dan tidak berarti. Namun, jika satu orang menggunakan beberapa kemasan sekali pakai setiap minggu dan kebiasaan yang sama dilakukan oleh ribuan bahkan jutaan orang, jumlah sampah yang dihasilkan tentu menjadi sangat besar.
Karena itu, menurut saya, sistem isi ulang menawarkan cara untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Bukan menunggu plastik menjadi sampah terlebih dahulu, tetapi mengurangi kemungkinan sampah itu muncul sejak awal.
Namun, saya juga menyadari bahwa efektivitas sistem ini sangat bergantung pada kebiasaan masyarakat. Kita sudah terlalu lama hidup dalam budaya yang serba praktis. Membeli produk dalam kemasan sekali pakai terasa cepat dan mudah.
Sementara itu, membawa wadah sendiri, mencari tempat isi ulang, atau mengingat untuk menggunakan kembali kemasan membutuhkan sedikit usaha tambahan. Tantangan terbesarnya bukan hanya menyediakan fasilitas, tetapi membuat masyarakat merasa bahwa kebiasaan isi ulang adalah sesuatu yang normal, mudah, dan layak dilakukan.
Karena itu, menurut saya, REFILIN akan semakin efektif jika didukung fasilitas yang mudah dijangkau, harga yang kompetitif, pilihan produk yang beragam, serta edukasi yang dilakukan secara konsisten.
Masyarakat perlu melihat bahwa menggunakan sistem isi ulang bukan berarti hidup menjadi lebih sulit. Justru, itu bisa menjadi bentuk tanggung jawab sederhana terhadap lingkungan. Perubahan kecil dalam kebiasaan konsumsi dapat menghasilkan dampak besar jika dilakukan bersama-sama.

Sebagai mahasiswa Agroekoteknologi, bagaimana Anda melihat keterkaitan antara kesehatan lingkungan perairan, pencemaran mikroplastik, dan sektor pertanian?
Menurut saya, ketiganya saling berkaitan. Air sungai sering dimanfaatkan untuk irigasi pertanian. Karena itu, ketika kualitas sungai terganggu, kondisi tersebut berpotensi berkaitan dengan lingkungan pertanian yang menggunakan sumber air tersebut.
Dalam jangka panjang, pencemaran lingkungan perairan juga perlu diperhatikan karena dapat berhubungan dengan kualitas tanah, tanaman, dan rantai makanan. Karena itu, menjaga kualitas lingkungan perairan merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Saya semakin memahami hal tersebut ketika mengikuti kegiatan pemantauan sungai di salah satu outlet pembuangan limbah industri. Saya melihat lokasi pembuangan tersebut berada tidak jauh dari lahan pertanian. Pemandangan itu cukup membuat saya terpukul.
Di satu sisi ada lahan yang menjadi tempat petani menanam dan menggantungkan hasil produksinya. Di sisi lain terdapat aliran air dari kawasan industri yang kemudian bergabung dengan lingkungan perairan di sekitarnya.
Saat melihat kondisi tersebut, muncul banyak pertanyaan dalam pikiran saya. Ke mana air itu akan mengalir setelah meninggalkan outlet? Apa yang terjadi jika aliran tersebut kemudian masuk ke sungai atau saluran yang juga digunakan untuk irigasi?
Saya memang tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa setiap air buangan industri berbahaya atau pasti mencemari lahan pertanian. Ada standar dan proses pengolahan limbah yang harus dipenuhi. Namun, melihat begitu dekatnya hubungan antara kawasan industri, sungai, dan lahan pertanian membuat saya semakin sadar bahwa lingkungan bekerja sebagai satu kesatuan.
Apa yang kita buang ke air tidak serta-merta hilang. Air terus mengalir, melewati berbagai tempat, dan membawa berbagai material di dalamnya. Pada akhirnya, air tersebut dapat kembali bersentuhan dengan tanah, tanaman, hewan, dan manusia.
Dari pengalaman itu, saya semakin memahami bahwa menjaga sungai bukan hanya soal membuat air terlihat bersih. Menjaga sungai juga berarti menjaga tanah tempat pangan ditanam, menjaga kualitas lingkungan pertanian, dan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Sungai dan pertanian memang terlihat seperti dua hal yang berbeda, tetapi keduanya terhubung melalui aliran air. Ketika satu bagian lingkungan mengalami pencemaran, dampaknya dapat bergerak ke bagian lainnya.
Karena itu, menurut saya, upaya menjaga kualitas air dan mengurangi pencemaran, termasuk pencemaran mikroplastik, harus menjadi bagian dari pembicaraan mengenai masa depan pertanian yang berkelanjutan.
Selama magang, adakah pengalaman di lapangan yang paling berkesan atau mengubah cara pandang Anda terhadap persoalan lingkungan di Indonesia?
Pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah ketika melihat langsung kondisi beberapa titik di Kali Surabaya yang masih dipenuhi sampah dan menerima berbagai aktivitas manusia di sekitarnya.
Sebelumnya saya hanya membaca tentang pencemaran melalui jurnal atau berita. Namun, ketika melihat langsung kondisi di lapangan, saya sadar bahwa persoalan lingkungan bukan sesuatu yang jauh atau hanya ada dalam tulisan. Masalah itu nyata dan dampaknya dirasakan oleh masyarakat.
Ketika berdiri di tepi sungai dan melihat kondisi air, tumpukan sampah, permukiman, serta berbagai aktivitas manusia yang begitu dekat dengan aliran sungai, perasaannya berbeda.
Saya merasa sedih dan prihatin karena sungai yang seharusnya menjadi bagian penting dari kehidupan justru harus menerima begitu banyak beban dari aktivitas manusia.
Yang semakin membuat saya berpikir adalah ketika melihat permukiman dan lahan pertanian berada di sekitar aliran sungai. Saat itu saya menyadari bahwa pencemaran sungai bukan hanya tentang air yang terlihat kotor.
Ada masyarakat yang hidup berdampingan dengan sungai, ada petani yang membutuhkan air untuk lahannya, dan ada kemungkinan dampak yang dapat berlanjut ke tanah, tanaman, hingga rantai makanan.
Pengalaman itu mengubah cara pandang saya bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas peneliti atau pemerintah. Semua orang memiliki peran, sekecil apa pun itu.
Setelah menyelesaikan magang di ECOTON, apa harapan dan rencana Anda ke depan? Apakah ingin tetap menekuni penelitian lingkungan, advokasi, atau bidang lain yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam?
Setelah menyelesaikan magang di ECOTON, saya ingin tetap mendalami penelitian lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan pencemaran dan dampaknya terhadap ekosistem serta kehidupan masyarakat.
Selama magang, saya semakin sadar bahwa persoalan lingkungan di Indonesia bukan hanya besar, tetapi juga sangat kompleks. Banyak hal yang terlihat sederhana, seperti sampah, pencemaran air, atau limbah, ternyata memiliki hubungan dengan kesehatan lingkungan, pertanian, kehidupan masyarakat, hingga keberlanjutan sumber daya alam.
Pengalaman di ECOTON membuat saya merasa masih banyak hal yang perlu diteliti, dipahami, dan dikembangkan. Saya ingin terus belajar bagaimana pencemaran terjadi, bagaimana dampaknya menyebar di lingkungan, serta bagaimana hasil penelitian dapat digunakan untuk mendorong perubahan.
Bagi saya, penelitian bukan hanya tentang mengumpulkan data atau menghasilkan tulisan ilmiah. Penelitian juga harus menjadi cara untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat dan mencari jalan agar ilmu tersebut dapat memberikan manfaat.
Ke depan, saya tidak ingin ilmu yang saya peroleh berhenti di ruang penelitian. Saya ingin membawanya lebih dekat kepada masyarakat melalui edukasi, kegiatan pengabdian, kampanye lingkungan, maupun kolaborasi dengan berbagai pihak.
Saya percaya hasil penelitian akan jauh lebih berarti ketika informasi yang ditemukan dapat dipahami masyarakat dan mendorong mereka untuk lebih peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Perubahan tidak cukup hanya melalui data, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan keterlibatan manusia.
Saya juga tertarik mempelajari pengelolaan sumber daya alam yang lebih berkelanjutan. Menurut saya, persoalan lingkungan sangat berkaitan dengan bagaimana manusia memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Saya ingin memahami bagaimana pembangunan, pertanian, industri, dan kebutuhan masyarakat dapat berjalan tanpa harus mengorbankan kualitas lingkungan untuk generasi berikutnya.
Harapan saya, pengalaman magang di ECOTON bukan menjadi akhir dari keterlibatan saya dalam isu lingkungan, tetapi justru menjadi salah satu titik awal. Saya ingin terus membawa rasa ingin tahu dan kepedulian yang tumbuh selama berada di lapangan ke tahap berikutnya dalam pendidikan maupun karier.
Mungkin kontribusi saya nantinya tidak selalu besar. Namun, saya ingin memastikan bahwa apa pun bidang yang saya tekuni, saya tetap memiliki ruang untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.***