Riset Amerika menemukan mikroplastik pada hampir seluruh seafood konsumsi. Sungai Surabaya memperlihatkan penyusutan spesies ikan dari hulu ke hilir.
Kabut tipis masih menggantung di atas Pantai Barat Amerika Serikat ketika kapal riset bergerak perlahan memotong laut Oregon. Burung camar turun rendah, sesekali menukik ke permukaan air. Dari kejauhan, laut tampak tenang. Sulit membayangkan ada lapisan masalah yang terus bergerak di bawah permukaan.
Di dek kapal, para peneliti menyusun hasil tangkapan ke dalam wadah pendingin. Salmon Chinook, herring Pasifik, lamprey, sampai udang merah muda dikumpulkan untuk satu tujuan: mencari partikel yang tak terlihat mata manusia.
Dari luar, tubuh ikan terlihat normal. Sisik mengilap. Daging tampak segar. Tidak ada tanda mencolok yang membuat orang curiga ketika bahan pangan itu masuk pasar, restoran, lalu sampai ke meja makan.
Hasil laboratorium memperlihatkan cerita lain.
Riset dari Portland State University yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Toxicology menemukan hampir seluruh sampel seafood mengandung partikel mikroplastik. Dari 182 individu yang diperiksa, 180 di antaranya positif mengandung partikel antropogenik mikroskopik.
Jumlah itu nyaris penuh.
Penelitian berjudul From the Ocean to Our Kitchen Table: Anthropogenic Particles in the Edible Tissue of U.S. West Coast Seafood Species memotret jalur panjang limbah plastik, dari rumah tangga menuju laut, lalu kembali lagi ke tubuh manusia lewat konsumsi harian.
“Jika kita membuang dan menggunakan produk yang melepaskan mikroplastik, partikel itu akan masuk ke lingkungan lalu diserap makhluk yang kita konsumsi,” kata Elise Granek, profesor ilmu lingkungan dan manajemen sekaligus peneliti utama, dikutip Nation of Change, 24 Januari 2025.
“Apa yang kita lepaskan ke lingkungan pada akhirnya kembali ke piring makan kita, ” ucapnya.

Ucapan Elise tidak bermaksud mengancam. Ia hanya ingin memperlihatkan temuannya. Jika mikroplastik sudah bergerak jauh melampaui isu sampah visual di laut. Partikel itu masuk ke jaringan tubuh organisme hidup. Masuk diam-diam. Ukurannya terlalu kecil untuk dikenali tanpa alat.
Saat melakukan penelitian, bersama timnya, ia mengambil sampel dari dua jalur berbeda. Sebagian berasal langsung dari kapal riset milik NOAA dan Oregon Department of Fish and Wildlife. Sebagian lain diambil dari pasar ritel, tempat seafood didistribusikan sebelum dibeli konsumen.
Pilihan metode itu membuka kemungkinan lain. Kontaminasi tidak hanya datang dari laut. Jalur distribusi pangan ikut memberi tambahan partikel plastik ke tubuh ikan.
#Serat Plastik dari Rumah Tangga
Di laboratorium, jaringan ikan dan udang dihancurkan menggunakan larutan KOH 10 persen untuk meluruhkan material organik. Sisa partikel lalu disaring memakai filter berukuran 20 mikrometer. Setelah itu, mikroskop mengambil alih pekerjaan manusia.
Sebagian partikel diuji memakai teknologi μFTIR untuk mengetahui jenis polimer plastik yang terkandung di dalamnya.
Hasilnya tidak merata antar spesies.
Udang merah muda mencatat konsentrasi tertinggi. Sampel pasar ritel mengandung 12,6 partikel per gram jaringan. Sampel kapal riset mencapai 10,67 partikel per gram.
Salmon Chinook berada jauh di bawah angka itu. Sampel kapal hanya menunjukkan 0,03 partikel per gram. Produk ritel 0,02.
Perbedaan itu menunjukkan setiap spesies memiliki pola akumulasi berbeda. Organisme penyaring air menyerap partikel lebih banyak dibanding predator besar.
“Udang merah muda memiliki konsentrasi mikroplastik tertinggi, sedangkan salmon Chinook terendah,” tulis peneliti dalam laporan.
Herring Pasifik tercatat mengandung 1,08 partikel per gram. Lamprey remaja sungai 0,99. Lamprey dewasa laut 0,60. Lingcod ritel 0,09 dan lingcod kapal 0,02.
Angka kecil itu menyimpan persoalan panjang.
Mikroplastik tidak mudah keluar dari sistem biologis. Partikel dapat masuk melalui makanan, air, bahkan udara. Dalam sejumlah penelitian, mikroplastik ditemukan mampu berpindah dari saluran pencernaan menuju jaringan tubuh lain.
Bentuk partikel paling dominan berupa serat, mencapai 81 persen. Fragmen berada di angka 18 persen. Film plastik hanya 0,4 persen.
Jejaknya mengarah ke aktivitas domestik sehari-hari.
Pakaian sintetis seperti poliester menjadi salah satu sumber utama pelepasan mikroplastik. Setiap pencucian dapat melepaskan jutaan serat mikroskopik ke saluran air. Instalasi pengolahan limbah domestik belum mampu menyaring seluruh partikel itu.
Alirannya lalu bergerak menuju sungai, masuk muara, kemudian tersebar ke laut.
“Serat menjadi bentuk dominan pada hampir seluruh spesies,” tulis tim peneliti.
Warna partikel didominasi putih dan bening hingga 72 persen. Hitam dan biru masing-masing 13 persen. Sebagian lain muncul dalam ukuran sangat kecil, lebih halus dibanding butiran pasir.
Pada titik tertentu, partikel plastik berubah menjadi sesuatu yang nyaris tak terlihat, tapi tetap aktif bergerak di dalam rantai makanan.
Perbedaan menarik muncul pada ikan lingcod. Produk ritel menunjukkan konsentrasi 0,09 partikel per gram, lebih tinggi dibanding sampel kapal 0,02. Peneliti menduga proses distribusi pangan ikut memberi tambahan kontaminasi.
Pembungkus plastik, alat produksi, ruang penyimpanan, sampai udara fasilitas pengolahan ikut menjadi sumber partikel mikroplastik.
“Proses distribusi kemungkinan menambah masuknya mikroplastik pada produk pangan laut,” tulis laporan penelitian.
Lamprey menunjukkan pola lain. Lamprey remaja sungai memiliki konsentrasi lebih tinggi dibanding lamprey dewasa laut. Habitat dan pola makan mempengaruhi tingkat akumulasi.
Dari situ terlihat satu hal penting: mikroplastik tidak bergerak secara acak. Jalurnya mengikuti sistem kehidupan manusia sendiri.
Produksi, konsumsi, distribusi, limbah, lalu kembali lagi ke pangan.

#Sungai Surabaya Kehilangan Banyak Spesies
Di Indonesia, tanda tekanan ekologis muncul dari Sungai Surabaya.
Penelitian lintas universitas yang dilakukan akhir Desember 2025 sampai Januari 2026 mencatat penurunan jumlah spesies ikan dari hulu menuju hilir. Tiga titik pengamatan digunakan: Mlirip sebagai hulu, Krian di bagian tengah, dan Jagir sebagai hilir.
Hasil survei memperlihatkan pola yang cukup tajam.
Hulu mencatat 34 spesies ikan air tawar asli. Bagian tengah turun menjadi 24 spesies. Hilir tinggal 17 spesies.
“Penurunan jumlah spesies menunjukkan tekanan ekologis makin kuat di bagian hilir sungai,” kata Prigi Arisandi, salah satu peneliti, Jumat, 29 Mei 2026.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSebanyak 35 spesies ikan air tawar asli masih ditemukan sepanjang aliran Sungai Surabaya dari Mojokerto hingga Surabaya. Kelompok Cyprinidae menjadi famili paling dominan dengan 11 spesies.
Kelompok ini dikenal cukup adaptif terhadap perubahan kualitas lingkungan.
Sebaliknya, spesies sensitif hanya ditemukan di bagian hulu. Mahseer dan lais tidak lagi muncul di wilayah hilir. Area hilir justru didominasi spesies toleran air payau seperti kepala timah.
Pola itu memperlihatkan perubahan struktur komunitas ikan yang terus bergeser.
Data historis memperlihatkan situasi lebih serius.
Sebanyak 12 spesies yang pernah dicatat ahli ikan Pieter Bleeker pada periode 1842–1860 tidak lagi ditemukan dalam survei terbaru.
“Beberapa spesies tidak lagi muncul dalam pengamatan lapangan,” kata Prigi.
Perubahan itu tidak terjadi dalam satu atau dua tahun. Sungai mengalami tekanan panjang selama puluhan hingga ratusan tahun.
Penelitian juga mencatat berbagai faktor penyebab penyusutan biodiversitas. Pintu air menghambat migrasi alami ikan. Jalur reproduksi terputus karena tidak tersedia koridor pergerakan yang memadai.
Di saat yang sama, spesies invasif masuk dan mengambil ruang ekologis ikan lokal.
Persaingan berlangsung di level habitat, pakan, hingga ruang hidup.
Tekanan lain datang dari limbah domestik dan industri di sepanjang bantaran sungai. Aktivitas manusia mempersempit habitat alami dan mengubah karakter perairan.
Secara fisik, parameter kualitas air masih terlihat dalam batas toleransi umum. Suhu berkisar 29–32 derajat Celsius. pH antara 6,5–7,3. Oksigen terlarut 5,5–6,8 miligram per liter.
Angka itu tampak normal jika dilihat sekilas.
Masalah muncul ketika struktur komunitas ikan dibandingkan antara hulu dan hilir.
“Komposisi spesies menunjukkan perubahan signifikan dari hulu ke hilir,” kata Prigi.
Di banyak sungai, tekanan ekologis memang tidak selalu muncul lewat perubahan warna air yang dramatis. Kadang tanda awal justru terlihat dari hilangnya spesies sensitif secara perlahan.
Ikan menjadi penanda biologis paling jujur.
Ketika spesies tertentu hilang, sungai sedang memberi sinyal ada sesuatu yang berubah dalam sistem ekologinya.
#Dari Sungai ke Tubuh Manusia
Dua penelitian dari wilayah berbeda memperlihatkan pola yang saling terhubung.
Sungai kehilangan biodiversitas. Laut menyimpan mikroplastik di tubuh organisme. Manusia masuk di ujung rantai yang sama lewat konsumsi harian.
Mikroplastik tidak hanya membawa dirinya sendiri. Partikel plastik dapat menyerap bahan kimia lain seperti ftalat dan PFAS, kelompok senyawa yang dikenal sulit terurai di lingkungan.
Dalam banyak studi toksikologi, paparan senyawa itu dikaitkan dengan gangguan hormon, stres oksidatif, hingga peradangan pada organisme hidup.
“Risiko ekologis dan kesehatan manusia perlu menjadi perhatian serius,” tulis peneliti dalam laporan Amerika.
Produksi plastik global terus meningkat setiap tahun. Sebagian besar digunakan sekali pakai lalu dibuang menjadi limbah.
Sungai menjadi jalur utama pengangkut plastik menuju laut.
Di wilayah pesisir, sampah plastik perlahan pecah akibat panas matahari, ombak, dan gesekan. Potongan besar berubah menjadi fragmen lebih kecil. Lalu menjadi mikroplastik. Sebagian bahkan mencapai ukuran nanoplastik yang jauh lebih sulit dilacak.
Pada fase itu, plastik berubah dari benda terlihat menjadi partikel tak kasatmata.
Organisme laut menyerap partikel saat makan atau bernapas. Ikan kecil dimakan predator lebih besar. Rantai itu terus bergerak naik hingga akhirnya masuk ke tubuh manusia.
Yang membuat situasi terasa rumit, seafood tetap tampak normal ketika dijual di pasar.
Tidak ada tanda visual yang memperlihatkan daging ikan sedang membawa partikel sintetis berukuran mikroskopik.
Mikroplastik bekerja diam-diam.
Di dapur rumah tangga, ikan dibersihkan seperti biasa. Digoreng, dibakar, direbus. Tidak ada suara alarm yang muncul ketika partikel plastik ikut masuk bersama makanan.
Riset dari Amerika dan Sungai Surabaya memperlihatkan satu pola penting: pencemaran tidak berhenti di lokasi limbah dibuang.
Sampah plastik bergerak melewati sungai, laut, rantai makanan, industri distribusi, lalu kembali lagi ke tubuh manusia.
Siklus itu terus berlangsung setiap hari, bahkan ketika sebagian besar orang tidak melihatnya secara langsung.
Di bawah permukaan air yang tampak tenang, ada jalur panjang partikel sintetis yang terus berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain.
Dan jalur itu belum menunjukkan tanda berhenti.***

Davin Jauhar Bernarddien, mahasiswa Prodi Ilmu kelautan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, angkatan 2023, sekarang sedang menjalani studi independent di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), berkontribusi dalan tulisan artikel ini.