Lewati ke konten

Ketika Air Dijaga dengan Doa: Manganan Sumur Watu Menjaga Tradisi, Alam, dan Kebersamaan Warga

| 3 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi

Tradisi Manganan Sumur Watu di Desa Trenggulunan menjadi ungkapan syukur sekaligus doa menjaga sumber air dan kebersamaan masyarakat lintas generasi.

Penulis: Muhammad Rizky Fathoni,  Anggota Publikasi dan Dokumentasi KKN-TK Kelompok 10 Universitas Bojonegoro

 

Tradisi Manganan (Sedekah Bumi) Sumur Watu kembali digelar masyarakat Desa Desa Trenggulunan, Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegeoro. Tradisi tahunan ini bukan acara seremoni semata. Tetpai lebih dari itu, sebagai ungkapan rasa syukur Tuhan Yang Maha Esa atas

Menurut tokoh masyarakat setempat Yamin, acara ini sebagai wujud atas syukur atas keberadaan sumber mata air yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga. Sekaligus doa agar Sumur Watu tetap lestari dan terus mengalir bagi generasi mendatang.

“”Tradisi ini mengajarkan kami jika menjaga sumber air tidak cukup dengan Tindakan. Tetapi juga dengan rasa syukur dan doa. Selama Sumur Watu tetap lestari, kehidupan masyarakat pun akan terus berjalan,” tutur Yamin, pada Kamis, Juli 2026.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB ini, diikuti mahasiswa dari Kelompok 10 Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-TK) Universitas Bojonegoro. Mahasiswa bersama masyarakat bergotong royong mempersiapkan seluruh rangkaian acara.

Yamin yang biasa dikenal Mbah Modien Yahmin, mengatakan persiapan telah dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi bagian penting dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

“Sejak pukul 07.00 WIB warga bersama mahasiswa sudah bergotong royong menyiapkan seluruh rangkaian acara. Ini memang tradisi yang selalu dikerjakan bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas berkah sumber air yang diberikan,” ujar Mbah Yahmin.

Dalam prosesi Manganan Sumur Watu, terdapat tradisi andom panggang, yakni membagikan sebagian hidangan dari tumpeng sebagai simbol penghormatan kepada bumi dan warisan para leluhur. Setelah doa bersama dipanjatkan, warga kemudian saling bertukar berkat atau makanan yang dibawa dari rumah masing-masing.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tradisi tersebut tidak hanya memperkuat nilai spiritual masyarakat, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Suasana kebersamaan tampak dalam setiap rangkaian kegiatan, ketika masyarakat berkumpul tanpa memandang usia untuk berbagi makanan dan memperkuat ikatan silaturahmi.

Bagi masyarakat Desa Trunggulunan, Sumur Watu memiliki arti penting karena menjadi sumber air yang menopang kebutuhan sehari-hari sekaligus mengairi lahan pertanian. Oleh karena itu, pelaksanaan Manganan menjadi bentuk penghormatan terhadap alam yang selama ini memberi kehidupan.

Mbah Yahmin berharap tradisi tersebut terus dilestarikan seiring upaya menjaga keberlangsungan sumber mata air.

“Harapan kami sederhana, semoga Sumur Watu tetap lestari, airnya tidak pernah berhenti mengalir, sehingga bisa terus dimanfaatkan oleh masyarakat dan menjadi berkah bagi anak cucu di masa depan,” tuturnya.

Keikutsertaan mahasiswa Kelompok 10 KKN-TK Universitas Bojonegoro dalam kegiatan tersebut menjadi pengalaman lapangan yang memperkaya pemahaman mereka mengenai hubungan antara budaya dan lingkungan. Mahasiswa tidak hanya menyaksikan prosesi adat, tetapi juga melihat bagaimana nilai gotong royong, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sumber daya alam hidup dalam keseharian masyarakat.

Tradisi Manganan Sumur Watu menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan.

“Di tengah berbagai tantangan terhadap keberlanjutan sumber daya air, masyarakat Desa Trunggulunan mempertahankan kearifan lokal sebagai pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya dilakukan melalui tindakan fisik, tetapi juga melalui nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi, “ ujarnya***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *