- Siswa SMA Negeri 18 Surabaya mengikuti edukasi lingkungan menyusuri Kali Surabaya sejauh 1,5 kilometer.
- Pembelajaran Kali Surabaya menggabungkan materi ekologi, sejarah, sampah, dan praktik langsung menyusuri sungai.
- Program Sekolah Aliran Sungai mengajak pelajar mengenali fungsi sungai serta menjaga lingkungan sekitar.
- Edukasi lingkungan mendorong siswa tidak membuang sampah dan berani menegur pelaku pencemaran sungai.
- Sosialisasi Kali Surabaya dilakukan bergantian dengan sasaran sekolah, pertambangan, hingga kalangan industri.
SISWA SMA Negeri 18 Surabaya menyusuri Kali Surabaya dalam pembelajaran lingkungan. Mereka diajak mengenali fungsi sungai sekaligus melihat kondisi lingkungan dari dekat.
Pembelajaran berlangsung melalui program Sekolah Aliran Sungai. Materinya mencakup ekologi, sejarah, kehidupan masyarakat, serta pengelolaan sampah.
Direktur Konsorsium Lingkungan Hidup (KLH) Jawa Timur, Imam Rochani mengatakan edukasi dimulai dengan materi di tepi sungai. Setelah itu, siswa diajak melihat langsung kondisi Kali Surabaya menggunakan perahu.
“Kita ngajak pada mereka untuk tidak buang sampah ke sungai,” kata Rochani saat dihubungi, Selasa (15/9/2026).
Ia juga mengajak siswa menggunakan tempat sampah dan melakukan pemilahan. Pelajar diharapkan mampu menjaga lingkungan dan mengingatkan tetangga.
Pemahaman mengenai fungsi sungai penting diberikan sejak sekolah. Pengetahuan itu mencakup hubungan sungai dengan kehidupan masyarakat dan ekosistem.
Usai menerima materi, siswa mengikuti praktik lapangan dengan menyusuri sungai. Perjalanan berlangsung sekitar satu hingga satu setengah kilometer.

Rute dimulai dari kawasan Rolag menuju bawah Jembatan Tol Gunung Sari. Siswa juga diperkenalkan dengan persoalan sampah dan eceng gondok.
Perjalanan dilakukan dalam tiga trip menggunakan dua perahu. Setiap perjalanan membawa sekitar 15 siswa.
“SMA Negeri 18 menjadi salah satu sekolah yang mengikuti program. Pada jadwal berikutnya, akan diikuti siswa SMP Negeri 21. Dan sudah terjadwal ikut belajar,” ujar Rochani.
Rochani mengatakan sekolah peserta diganti secara berkala setiap pekan. Sebelumnya, kegiatan juga melibatkan siswa dari SMA Negeri 3.
Program lingkungan itu tidak hanya menyasar pelajar. Sosialisasi juga diarahkan ke pembuangan limbah industri.
“Kalau kita lakukan sosialisasi, pentingnya dengan kejadian-kejadian kemarin,” ujar Rochani, yang juga menyebutkan jika Kali Surabaya beberapa pekan terakhir tercemar pascakebakaran PT WINGS Group pada Jumat, 4 September 2026.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelIa menjelaskan materi untuk industri nantinya akan disampaikan bersama data lingkungan. “Sementara ini siswa mendapatkan pengenalan mengenai kondisi dan fungsi sungai,” jelas Rochani.
#Siswa Mulai Berani Bicara soal Pencemaran
Salah satu peserta, Arbi Eja Sailendra, siswa kelas X SMA Negeri 18, mengatakan kegiatan itu membuatnya memahami Kali Surabaya lebih dekat.
Arbi sebelumnya mengetahui Kali Surabaya, tetapi belum memahami seluruh fungsinya. Setelah mengikuti materi, ia mengetahui hubungan sungai dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika ditanya mengenai kondisi sungai, Arbi menilai Kali Surabaya tidak terlalu tercemar. Ia melihat kondisi sungai ketika mengikuti perjalanan hingga kawasan eceng gondok.

Namun, Arbi mengetahui adanya persoalan pencemaran di Kali Surabaya. Ia juga mendapat penjelasan mengenai pencemaran setelah kejadian kebakaran.
Menurut Arbi, pembuangan limbah pabrik ke sungai tidak dapat dibenarkan. Ia menilai pencemaran harus dihentikan agar kondisi sungai tetap terjaga.
“Ya, nggak boleh dicemari. Harusnya di-stop,” kata Arbi.
Setelah mengikuti edukasi, Arbi berencana menegur orang yang membuang sampah ke sungai. Ia mengaku belum berani menegur perusahaan karena merasa skalanya terlalu besar.
“Kalau perusahaan terlalu besar, saya nggak berani,” ujar Arbi.
Rochani mengatakan sosialisasi akan terus dilakukan dengan sasaran berbeda. Sekolah akan dikenalkan bagaiman industry membuang limbahnya langsung ke badan sungai.
Bagi pelajar, pembelajaran di sungai menjadi cara mengenalkan langsung ekosistem yang ada. Harapannya, pengetahuan itu mendorong perubahan perilaku terhadap lingkungan sekitar.***