Lewati ke konten

Satu Aliran, Tiga Wajah: Mengapa Hilir Kali Surabaya Menanggung Beban Pencemaran Terbesar?

| 5 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Aprillianti Nafiah Editor: Supriyadi
  • 310 partikel mikroplastik per meter kubik ditemukan di hilir Kali Surabaya, tertinggi sepanjang aliran sungai.
  • Kali Surabaya mengalir melintasi tiga kota, tetapi pencemaran dari satu wilayah ikut bergerak hingga ke wilayah berikutnya.
  • Sebanyak 644 filamen dan 370 fiber ditemukan di Kali Surabaya, menandai ancaman mikroplastik yang terus meningkat.
  • Penelitian 2025 menemukan 100 partikel mikroplastik menempel pada daun bantaran, menandakan pencemaran telah menyebar ke lingkungan sekitar.
  • Hulu masih relatif terjaga, tengah dibayangi industri, hilir menanggung akumulasi pencemaran dengan mikroplastik mencapai 4.310 partikel per meter kubik.

 

Sebagai mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Brawijaya, saya memandang Kali Surabaya tidak hanya dikatakan aliran air alami yang mengalir dari dataran tinggi (hulu), menuju tempat yang lebih rendah, seperti danau, laut, atau sungai lainnya.

Sungai yang menghubungkan wilayah Mojokerto, Gresik, dan Surabaya itu, kini memperlihatkan bagaimana perubahan penggunaan lahan. Juga aktivitas manusia membentuk kualitas lingkungan di sepanjang daerah alirannya.

Perbedaan kondisi yang saya amati, menunjukkan persoalan sungai tidak dapat dipahami secara terpisah antara hulu, tengah, dan hilir.

Kali Surabaya di mana salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, membawa air dari wilayah hulu menuju Surabaya. Karena alirannya saling terhubung, setiap aktivitas yang terjadi di satu titik, memberikan pengaruh terhadap wilayah lain. Sampah, limbah, maupun partikel pencemar tidak berhenti di lokasi asalnya. Tetapi terus bergerak mengikuti arus.

Menurut saya, fakta ini menjadi alasan, mengapa pengelolaan sungai harus dilakukan secara menyeluruh. Kita tidak dapat berharap kualitas hilir membaik, apabila persoalan di bagian atas masih terus terjadi.

#Hulu yang Masih Terjaga

Di wilayah Mojokerto, saya melihat kondisi hulu masih relatif lebih baik dibandingkan segmen lainnya. Vegetasi di bantaran masih cukup banyak. Ruang masih terbuka di sekitar sungai. Belum sepenuhnya tergantikan bangunan.

Namun, kondisi ini bukan berarti kawasan hulu bebas dari perhatian. Justru di sinilah kualitas aliran sungai mulai ditentukan. Apa pun yang masuk ke badan sungai pada bagian awal akan terbawa menuju wilayah tengah dan hilir.

Ketika memasuki kawasan Gresik, kondisi sungai mulai berubah. Permukiman berkembang di beberapa titik bantaran. Belum lagi aktivitas industri. Menjadi tekanan cukup nyata terhadap lingkungan sungai.

Saya menemukan adanya saluran pembuangan dari kegiatan industri. Saluran kira-kira sebesar 4 – 5 dim. Membuang limbahnya langsung ke sungai.

Mahasiswa melakukan pengukuran kualitas air Kali Surabaya untuk menilai kondisi lingkungan dan tingkat pencemaran pada lokasi penelitian. | Dok. Penelitian

Pembuangan limbah langsung ke sungai ini, memperlihatkan bahwa Kali Surabaya dalam kondisi tidak aman. Karena tidak hanya membawa air dari hulu. Tetapi juga menerima tambahan beban pencemar sepanjang perjalanan alirannya.

Di wilayah Surabaya, kondisi kembali berubah. Permukiman tumbuh semakin padat di sepanjang bantaran. Sehingga interaksi masyarakat dengan sungai, terjadi secara langsung hampir setiap hari.

Semakin dekat aktivitas manusia dengan sungai, semakin besar pula peluang masuknya sampah maupun air limbah. Pada saat yang sama, wilayah hilir juga menerima berbagai material yang telah terbawa dari bagian atas sungai.

#Mikroplastik Jadi Ancaman

Persoalan Kali Surabaya tidak hanya dapat dilihat dari persaolaan sampah saja. Tetapi bagaimana sampah yang mengapung di permukaan air itu. Sudah menjadi  ancaman yang lebih sulit diamati, yaitu mikroplastik.

Mikroplastik merupakan serpihan plastik, berukuran sangat kecil, 1 μm (mikrometer) sampai 5 mm (milimeter). Berasal dari pecahan kantong plastik, botol, kemasan makanan, maupun serat tekstil. Ukuran yang sangat kecil itu, membuat mudah terbawa arus dan sulit dikenali tanpa penelitian.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Penelitian yang pernah dilakukan Putri, Nurhalimah, dan Azzahra (2022) di sepanjang Kali Surabaya.  Menemukan 644 partikel mikroplastik berbentuk filamen dan 370 partikel berbentuk fiber. Temuan yang paling menarik perhatian saya adalah konsentrasi mikroplastik. Tertinggi berada di wilayah hilir. Jumlahnya mencapai 4.310 partikel per meter kubik air.

Data ini menunjukkan bahwa hilir menjadi tempat berkumpulnya berbagai partikel, terbawa selama perjalanan sungai. Dengan kata lain, pencemaran di bagian bawah tidak selalu berasal dari wilayah itu sendiri.

Penelitian Wijaya dan Trihadiningrum (2019) juga memperlihatkan hal lain. Jumlah mikroplastik berbeda pada setiap segmen sungai. Konsentrasi tertinggi di permukaan air ditemukan di Driyorejo, sebesar 13,33 partikel per meter kubik, sebelum berubah pada lokasi berikutnya.

Menurut saya, variasi partikel itu, menunjukkan aktivitas manusia di setiap wilayah memberikan pengaruh terhadap kondisi sungai. Semakin besar tekanan dari penggunaan lahan, semakin besar pula peluang bertambahnya pencemar masuk ke badan air.

#Sungai Harus Dijaga

Yang membuat saya semakin prihatin adalah temuan Ningsih, Ramadhani, dan Febberliani (2025). Dalam penelitinnya menemukan mikroplastik tidak hanya berada di air. Tetapi juga menempel pada daun di bantaran Kali Surabaya.

Sebanyak 83 partikel berbentuk fiber, 11 partikel berbentuk film, dan enam partikel berupa fragmen berhasil diidentifikasi. Daun bambu menjadi vegetasi dengan jumlah mikroplastik terbanyak, yaitu 30 partikel.

Temuan ini menurut saya, memperlihatkan pencemaran plastic yang terjadi. Telah menyebar lebih luas daripada yang selama ini dibayangkan. Mikroplastik dapat berpindah melalui air maupun udara, sehingga keberadaannya tidak selalu tampa mata.

Karena itu, saya berpendapat kualitas sungai tidak dapat dinilai hanya dari warna air, juga derasnya aliran. Air tampak bersih belum tentu bebas dari pencemar berukuran mikroskopis.

Menjaga Kali Surabaya membutuhkan tanggung jawab bersama. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membuang sampah ke sungai, memastikan limbah diolah sebelum dibuang, serta menjaga vegetasi bantaran merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap orang.

Pada akhirnya, Kali Surabaya memperlihatkan tiga wajah yang berbeda. Tetapi tetap berada dalam satu aliran yang sama. Selama kita masih memandang hulu, tengah, dan hilir sebagai persoalan yang terpisah. Pencemaran akan terus berpindah mengikuti arus. Sebaliknya, ketika sungai diperlakukan sebagai satu kesatuan ekosistem. Upaya pemulihan akan memiliki peluang lebih besar untuk berhasil.***

Tentang Penulis: Aprillianti Nafiah merupakan mahasiswa Agroekoteknologi, Universitas Brawijaya. Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) selama periode 25 Juni – 30 September 2026.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *