Lewati ke konten

Puluhan Ton Sampah Terangkat, Mikroplastik dan Fosfat Kali Tebu Surabaya Tetap Kritis

| 8 menit baca |Kali Tebu | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Lebih dari 27 ton sampah diangkat dari Kali Tebu selama Mei–Juni 2026. Namun, mikroplastik tetap ditemukan di air, udara, dan berpotensi tersimpan dalam sedimen.
  • Data MOZAIK mencatat 11.579,77 kilogram sampah terkumpul pada 11–26 Mei 2026. Pembersihan lanjutan 20–21 Juni mengevakuasi sekitar 16 ton sampah tambahan.
  • Pemantauan menunjukkan sampah masih masuk setiap hari. Volume tertinggi mencapai 1.572 kilogram pada 13 Mei, sedangkan 20 Mei tercatat sekitar 1.202 kilogram.
  • Penelitian menemukan mikroplastik di seluruh titik Kali Tebu. Jumlah tertinggi mencapai 123 partikel di hilir Tambak Wedi, menunjukkan akumulasi menuju muara.
  • Studi udara mencatat 103 partikel mikroplastik pada enam lokasi. Kadar fosfat berkisar 4,2–8,1 mg/liter, melampaui baku mutu nasional.

Sedikitnya 27 ton sampah berhasil diangkat dari Kali Tebu, Surabaya, dalam kurun sekitar satu bulan terakhir. Meski demikian, berbagai penelitian menunjukkan persoalan pencemaran di sungai tersebut belum berakhir karena mikroplastik telah ditemukan di air, udara, dan diduga tersimpan dalam sedimen sungai.

Data Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) bentukan ECOTON mencatat sebanyak 11.579,77 kilogram sampah berhasil dievakuasi melalui pemasangan trash boom di segmen tengah Kali Tebu selama periode 11–26 Mei 2026.

Sebulan kemudian, operasi pembersihan yang melibatkan 30 petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, petugas kebersihan Kecamatan Kenjeran, dan tim MOZAIK kembali mengangkat sekitar 16 ton sampah selama dua hari, pada 20–21 Juni 2026.

Akumulasi dari dua kegiatan tersebut menunjukkan lebih dari 27 ton sampah berhasil dicegah mengalir lebih jauh ke sistem sungai yang bermuara ke Selat Madura.

Volume sampah yang berhasil diangkat juga memperlihatkan bahwa aliran limbah domestik ke Kali Tebu masih berlangsung setiap hari. Sampah terus masuk meski pembersihan dilakukan secara berkala.

Pemantauan lapangan menunjukkan jumlah sampah yang masuk ke sungai berfluktuasi. Pada 13 Mei 2026, volume sampah mencapai sekitar 1.572 kilogram atau setara 141 karung dalam sehari.

Dua hari kemudian jumlah itu turun menjadi sekitar 255 kilogram. Namun penurunan tersebut tidak berlangsung lama, karena volume sampah kembali meningkat dan beberapa kali melampaui satu ton per hari.

Kenaikan kembali terlihat pada 19 – 21 Mei. Dalam rentang tiga hari tersebut, lebih dari tiga ton sampah berhasil diangkat dari aliran sungai.

Pada 20 Mei saja, volume sampah tercatat mencapai sekitar 1.202 kilogram. Angka itu menunjukkan besarnya beban sampah yang masih masuk dari kawasan permukiman di sekitar daerah aliran sungai.

Karakteristik sampah yang ditemukan didominasi limbah rumah tangga. Kantong plastik sekali pakai, kemasan makanan dan minuman, botol plastik, styrofoam, popok, serta berbagai kemasan konsumsi harian menjadi komponen utama.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pencemaran plastik di Kali Tebu bukan berasal dari satu kejadian tertentu. Sampah masuk secara berulang melalui aktivitas sehari-hari masyarakat dan lemahnya pengelolaan limbah di tingkat sumber.

Operasi pembersihan yang dilakukan DLH Surabaya bersama Kecamatan Kenjeran dan tim MOZAIK memang berhasil mengurangi timbunan sampah yang menutupi permukaan sungai.

Aliran air yang sebelumnya tertutup sampah kembali terlihat. Namun perubahan visual itu tidak serta-merta menunjukkan kondisi lingkungan sungai telah pulih.

Sampah rumah tangga dan plastik tercegat trash boom sebelum terbawa lebih jauh di aliran Kali Tebu. | Foto: Fully Syafi

#Sampah Terangkat, Ancaman Mikroplastik Tetap Tersisa

Keberhasilan mengangkat puluhan ton sampah memunculkan pertanyaan mendasar,  mengenai kondisi pencemaran yang tidak terlihat. Salah satu ancaman yang mendapat perhatian adalah mikroplastik yang berukuran sangat kecil dan sulit dipisahkan dari lingkungan perairan.

Gambaran mengenai persoalan tersebut terlihat dalam penelitian terbaru yang dilakukan Cochin University of Science and Technology (Cusat) di Kochi, India.

Kota pesisir itu memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan banyak kawasan perkotaan berkembang di Asia. Permukiman padat dan sistem drainase terbuka menjadi jalur utama kebocoran sampah menuju badan air.

Penelitian tersebut menemukan konsentrasi mikroplastik di air drainase berkisar antara 39,65 hingga 56,28 partikel per liter.

Jumlah yang lebih tinggi ditemukan pada sedimen. Setelah musim hujan, konsentrasi mikroplastik di sedimen berkisar antara 450,22 hingga 545,79 partikel per kilogram.

Pada periode sebelum musim hujan, konsentrasinya bahkan mencapai 785,88 partikel per kilogram.

Temuan itu menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya mengalir bersama air. Sebagian besar partikel dapat mengendap dan tersimpan dalam lapisan sedimen selama bertahun-tahun.

Peneliti Cusat, Amal R, menjelaskan bahwa kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi cenderung memiliki konsentrasi mikroplastik lebih besar.

Menurut dia, tingginya konsumsi plastik dan pengelolaan sampah yang belum memadai menjadi faktor utama kebocoran limbah ke lingkungan.

“Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui tanaman yang dibudidayakan di lahan tercemar maupun melalui air yang diminum,” kata Amal seperti dikutip Times of India, 5 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa mikroplastik tidak hanya menjadi polutan tersendiri. Partikel tersebut juga dapat membawa berbagai kontaminan lain yang menempel pada permukaannya.

Logam berat dan senyawa kimia berbahaya dapat berpindah mengikuti pergerakan mikroplastik di lingkungan perairan.

Penelitian di Kochi juga menemukan bahwa sebagian mikroplastik berasal dari keausan ban kendaraan bermotor yang terbawa limpasan air hujan ke sistem drainase.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pencemaran mikroplastik merupakan hasil berbagai aktivitas perkotaan yang saling berkaitan.

Amal juga menyoroti pengelolaan sedimen hasil pembersihan drainase yang dinilai belum optimal. Sedimen yang diangkat umumnya hanya dipindahkan ke lokasi penampungan tanpa perlakuan khusus untuk menghilangkan mikroplastik.

“Meski otoritas membersihkan sampah dari drainase, pengelolaannya belum dilakukan dengan baik. Sampah yang telah diangkat kembali masuk ke saluran melalui aliran air hujan,” ujarnya.

Menurut Amal, hingga kini belum terdapat ambang batas yang disepakati secara global mengenai jumlah mikroplastik yang aman bagi lingkungan maupun kesehatan manusia.

Bagi Kali Tebu, temuan tersebut menjadi peringatan bahwa persoalan pencemaran tidak berhenti pada sampah yang terlihat mengapung di permukaan.

Jika mikroplastik telah terbentuk dan mengendap di dasar sungai, partikel tersebut berpotensi terus bergerak mengikuti arus menuju sungai yang lebih besar, kawasan pesisir Surabaya, hingga Selat Madura.

Infografis jumlah sampah yang berhasil diangkat dari Kali Tebu selama operasi pembersihan. | Desain AI

#Mikroplastik Ditemukan dari Hulu hingga Hilir

Indikasi keberadaan mikroplastik di Kali Tebu sebenarnya telah ditemukan melalui penelitian yang dilakukan Muhammad Rofi’ul Ihsan, mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya saat mengikuti program studi independen di ECOTON.

Penelitian dilakukan pada lima titik pengamatan dari hulu hingga hilir sungai. Hasilnya menunjukkan mikroplastik ditemukan di seluruh lokasi sampling.

“Kami menemukan total partikel mikroplastik di setiap titik, dengan jumlah tertinggi di Stasiun 5 wilayah hilir Tambak Wedi sebanyak 123 partikel,” kata Rofi’ul.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dalam penelitiannya, tercatat 40 partikel mikroplastik di Stasiun 1, sebanyak 52 partikel di Stasiun 2, lalu 107 partikel di Stasiun 3.

Jumlah tersebut kemudian tercatat 88 partikel di Stasiun 4 dan meningkat menjadi 123 partikel di Stasiun 5 yang berada di kawasan hilir.

Distribusi itu menunjukkan kecenderungan akumulasi mikroplastik menuju bagian hilir sungai.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil terus terbawa aliran air dan terakumulasi di wilayah muara.

Kondisi itu juga memperkuat dugaan bahwa sebagian mikroplastik dari Kali Tebu berpotensi bermuara ke kawasan pesisir Surabaya dan Selat Madura.

Hingga saat ini belum ada penelitian khusus yang memetakan kandungan mikroplastik pada sedimen Kali Tebu.

Padahal pengujian sedimen dan kolom air dapat memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai tingkat pencemaran yang tersimpan setelah bertahun-tahun menerima beban sampah plastik dari kawasan perkotaan.

Tumpukan sampah memenuhi aliran Kali Tebu Surabaya, memicu pencemaran dan potensi terbentuknya mikroplastik. | Foto: Fully Syafi

#Mikroplastik di Udara dan Fosfat Tinggi Perburuk Kondisi Sungai

Persoalan pencemaran di Kali Tebu tidak hanya ditemukan di dalam air. Penelitian mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya menunjukkan keberadaan mikroplastik di udara sekitar sungai.

Penelitian dilakukan oleh Davin Jauhar B, Ardina M, Intan Aura Cinta, Dito Herdianto, Elsa Pratiwi, dan Dewi Fitriana saat mengikuti program studi independen di ECOTON.

Tim peneliti melakukan pengamatan di enam lokasi, yakni Makam Rangkah, Bulak Banteng, Trash Boom, Tanah Merah, Simokerto, dan Kapas Jaya.

Hasil penelitian menunjukkan mikroplastik ditemukan di seluruh titik pengamatan.

Secara keseluruhan, sedikitnya 103 partikel mikroplastik berhasil diidentifikasi selama penelitian berlangsung.

Ketua tim penelitian, Davin Jauhar B, mengatakan keberadaan mikroplastik di semua lokasi menunjukkan bahwa pencemaran telah meluas ke lingkungan sekitar sungai.

“Kami menemukan mikroplastik pada seluruh lokasi pengamatan. Temuan ini menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil telah menyebar ke lingkungan sekitar sungai dan berpotensi terpapar kepada masyarakat melalui udara yang mereka hirup setiap hari,” kata Davin.

Lokasi dengan jumlah partikel tertinggi ditemukan di Simokerto dengan 37 partikel. Sementara jumlah terendah tercatat di kawasan Trash Boom dengan lima partikel.

Penelitian juga menemukan dua bentuk utama mikroplastik, yakni fiber dan fragmen.

Dari kedua jenis tersebut, fiber menjadi bentuk yang paling dominan.

Menurut Davin, dominasi fiber menunjukkan kuatnya pengaruh aktivitas manusia terhadap pencemaran mikroplastik di kawasan tersebut.

Serat mikroplastik diduga berasal dari tekstil sintetis, aktivitas rumah tangga, serta degradasi berbagai produk plastik yang digunakan sehari-hari.

Selain meneliti mikroplastik, tim juga menguji kualitas air di sejumlah titik sekitar Kali Tebu.

Hasil pengujian menunjukkan seluruh sampel memiliki kadar fosfat yang melampaui baku mutu air kelas I, II, dan III sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.

Konsentrasi fosfat tertinggi ditemukan pada titik ketiga dengan nilai mencapai 8,1 miligram per liter.

Adapun konsentrasi terendah tercatat sebesar 4,2 miligram per liter.

“Kadar fosfat yang tinggi menunjukkan adanya tekanan pencemaran yang cukup serius terhadap kualitas air. Kondisi ini berpotensi memicu eutrofikasi dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan,” ujar Davin.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Kali Tebu jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar timbunan sampah yang terlihat di permukaan.

Kajian DLH Kota Surabaya pada 2018 juga pernah menemukan tingginya tingkat pencemaran bakteri Escherichia coli atau E-coli di sungai tersebut.

Kajian itu mengaitkan pencemaran dengan kondisi sanitasi kawasan yang belum merata.

DLH mencatat sekitar 983 rumah di sekitar Kali Tebu belum memiliki akses sanitasi yang layak dan berpotensi melakukan praktik buang air besar sembarangan.

Kondisi tersebut menunjukkan keterkaitan antara pengelolaan sampah, sanitasi permukiman, dan kualitas lingkungan perairan.

Puluhan ton sampah memang telah berhasil diangkat dari Kali Tebu. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa tantangan pemulihan sungai masih berlangsung.

Keberadaan mikroplastik di air, udara, dan kemungkinan akumulasinya di sedimen memperlihatkan bahwa pencemaran tidak selalu terlihat secara kasatmata.

Upaya menghentikan aliran sampah dari sumber tetap menjadi langkah penting. Pada saat yang sama, penelitian mengenai mikroplastik dan kualitas lingkungan sungai diperlukan untuk memahami beban pencemaran yang masih tersimpan dan terus bergerak mengikuti aliran air menuju pesisir Surabaya dan Selat Madura.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *