Lewati ke konten

Lima Mahasiswa UB Berbagi Cerita Setelah Mengayuh Refelin di Kali Tebu Surabaya

| 4 menit baca |Kali Tebu | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Lima mahasiswa Universitas Brawijaya mengayuh Refelin menyusuri Kali Tebu sambil mengedukasi warga mengurangi plastik sekali pakai.
  • Program magang Refelin membawa lima mahasiswa Universitas Brawijaya belajar langsung mengelola sampah bersama masyarakat Kali Tebu.
  • Gang sempit, panas Surabaya, dan karakter warga menjadi tantangan lima mahasiswa saat menjalankan program Refelin.
  • Lima mahasiswa lintas disiplin menguji teori kampus melalui aktivitas Refill Keliling di tengah permukiman padat Kali Tebu.
  • Pengalaman Refelin menunjukkan pengelolaan sampah membutuhkan pengetahuan teknis, kemampuan beradaptasi, dan pemahaman terhadap karakter masyarakat setempat.

PANAS terik Kota Surabaya menyengat kulit ketika roda tiga kendaraan Refelin perlahan merayap di gang-gang sempit kawasan Kali Tebu. Di atas pedal dan kemudi, lima mahasiswa Universitas Brawijaya beradu tangkas menelusuri padatnya permukiman. Langkah kaki warga, aroma sampah yang menyengat dari aliran Kali Tebu, dan riuh celoteh warga setempat menjadi ruang kelas terbuka tempat mereka menyerap realitas secara langsung.

Kelima mahasiswa ini datang dari disiplin ilmu berbeda. Tripani Anastasia Togatorop, Farida Febriani Tampubolon, dan Stien Angelie Manuhutu menempuh pendidikan di Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, sementara Nadhira Alifia Nuranisya dan Aprillianti Nafiah berasal dari Program Studi Agroekoteknologi.

Stien mengkampanyekan Refelin melalui gerakan isi ulang untuk mencegah penggunaan plastik sekali pakai. | Foto: M Iffan

Melalui program magang Refelin, mereka terjun ke lapangan mengikuti aktivitas Refill Keliling—salah satu inisiatif ECOTON yang berfokus pada pemangkasan sampah plastik sekali pakai. Mengandalkan sepeda roda tiga, mereka menyisiri sudut-sudut kampung di sepanjang Kali Tebu untuk mengkampanyekan plastik sekali pakai, sekaligus berdialog dengan warga.

Bagi Tasia, tantangan terbesar muncul saat pertama kali menyapa masyarakat lokal. Berada jauh dari kampung halamannya di Sumatera Utara, ia dituntut cepat membaca ritme serta kultur warga Surabaya Utara.

“Ini tantangan tersendiri bagi saya sebagai orang luar daerah. Saya dari Sumatera Utara dan harus beradaptasi dulu dengan warga di sepanjang Kali Tebu sebelum bisa menjalankan kegiatan dengan nyaman,” ungkap Tasia, Jumat malam (7/8/2026).

Akses di lapangan memang tak menyisakan banyak ruang gerak. Jalanan sempit dan himpitan dinding rumah kerap membuat sepeda roda tiga tersangkut. Sehingga butuh kehati-hatian ekstra saat mengayuh. Namun di luar hambatan fisik, proses akulturasi budaya menjadi bumbu cerita tersendiri.

Farida, yang juga berdarah Sumatera, merasakan hal serupa. Ia mencermati karakter sosial yang khas dari masyarakat di kawasan pesisir ini.

“Di sini Surabaya Utara dikenal religius, dan saya pun berusaha menyesuaikan cara berkomunikasi agar menyatu dengan warga,” tutur Farida. Setiap kali kalimat itu selesai diucapkan, gelak tawa teman-temannya pecah, yang langsung ditanggapi Farida dengan celetukan, “Sudah…”

Jika Tasia dan Farida perlu waktu berstrategi mencari pola komunikasi yang pas, Stien memilih merespons dinamika lapangan dengan gaya santai khas Indonesia Timur. Mahasiswa asal Ambon ini melewati setiap tikungan gang dan kebingungan warga dengan senyum lebar.

Warga menerima edukasi isi ulang, kemudian mempraktikkannya dalam keseharian untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. | Foto: M Iffan

“Kalau saya mengalir saja. Orang Ambon kan begitu, toh,” kelakar Stien yang kembali memancing tawa hangat di tengah suasana malam itu.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Keragaman asal-usul ini memperkaya interaksi mereka di lapangan. Meski begitu, sengatan iklim Surabaya tetap menjadi ujian fisik yang berat. Nadhira, gadis kalem asal Tulungagung, mengakui betapa hawa panas kota ini cukup menguras stamina.

“Yang tidak kuat itu hawanya di sana,” kata Nadhira sambil melempar senyum tipis, yang seketika diangguki oleh April.

#Bertolak ke Kampus

Sabtu, 8 Agustus 2026, menjadi garis akhir perjalanan magang Nadhira dan April sebelum bertolak kembali ke kampus mereka di Malang. Jejak roda tiga yang mereka kemudikan meninggalkan catatan penting mengenai kompleksitas pengelolaan sampah di perkotaan.

Farida dan Stien berinteraksi dengan warga, menjelaskan pentingnya Refelin untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. | Foto: M Iffan

Manajer Operasional Refelin, Jofan, menilai kehadiran kelima mahasiswa ini menjadi jembatan penting yang menghubungkan teori akademis dengan dinamika riil masyarakat.

“Kegiatan di lapangan memberi pengalaman langsung kepada mahasiswa. Mereka melihat sendiri bagaimana pengelolaan sampah berjalan di tengah permukiman, sekaligus belajar berkomunikasi dan beradaptasi dengan masyarakat,” terang Jofan.

Pengalaman di Kali Tebu bukti urusan sampah tak sebatas kalkulasi teknis atau hitungan tonase semata. Tapi di balik tumpukan sampah yang tersangkut di aliran air, terdapat pola kebiasaan warga, tantangan geografis permukiman, serta jalinan interaksi sosial yang saling mengikat.

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya ini pulang membawa satu pemahaman utuh: merawat lingkungan selalu berawal dari ketulusan memahami manusia di dalamnya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *