- Jembatan Petekan yang dahulu menjadi penghubung penting jalur darat dan sungai kini tidak lagi berfungsi. Kondisi fisiknya terus menurun di tengah pesatnya aktivitas industri dan logistik kawasan utara Surabaya.
- Sebagai salah satu peninggalan teknologi transportasi awal abad ke-20, jembatan ini menyimpan sejarah perkembangan pelabuhan Surabaya. Namun, minimnya pemanfaatan dan konservasi memunculkan kekhawatiran akan hilangnya jejak identitas maritim kota.
Jembatan Petekan di Surabaya kini terbengkalai, kehilangan fungsi, dan menjadi simbol memudarnya perhatian terhadap warisan maritim kota.
Surabaya dibangun dari sejarah panjang perdagangan sungai dan pelabuhan. Namun di kawasan Kalimas Baru, Surabaya Utara, salah satu infrastruktur penting yang pernah menopang aktivitas tersebut kini berdiri tanpa fungsi. Jembatan Petekan, cagar budaya peninggalan kolonial Belanda, tampak membeku di tengah kawasan industri yang terus berkembang.
Struktur besi tua yang dahulu dikenal dengan nama Ophaalbrug itu pernah menjadi bagian penting dari sistem transportasi Surabaya. Teknologi jembatan angkat yang dimilikinya memungkinkan kapal-kapal dagang melintasi Kali Mas menuju kawasan pelabuhan pedalaman tanpa mengganggu mobilitas di daratan.
Kini, sistem mekanik pengangkat jembatan tidak lagi beroperasi. Badan jembatan tetap terkunci, sementara bagian-bagian besinya menunjukkan tanda-tanda korosi akibat usia dan paparan lingkungan pesisir.
Keberadaan Jembatan Petekan menjadi pengingat bahwa Kali Mas pernah memegang peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi Surabaya. Sebelum aktivitas pelabuhan terkonsentrasi di Tanjung Perak, aliran sungai ini menjadi jalur utama pergerakan barang dari laut menuju pusat perdagangan kota.
Pada awal abad ke-20, pembangunan jembatan tersebut mencerminkan upaya menyesuaikan kebutuhan transportasi darat dengan lalu lintas kapal yang padat. Teknologi hidrolik yang digunakan saat itu termasuk maju untuk zamannya dan menunjukkan pentingnya Surabaya sebagai salah satu pusat perdagangan di Hindia Belanda.
Perubahan orientasi pembangunan kota perlahan mengurangi peran sungai sebagai jalur distribusi utama. Modernisasi transportasi darat setelah kemerdekaan membuat pergerakan logistik lebih banyak bergantung pada jalan raya dan kendaraan bermotor.
Bersamaan dengan perubahan itu, frekuensi penggunaan sistem angkat Jembatan Petekan terus menurun. Mekanisme yang dahulu menjadi keunggulan teknologinya akhirnya berhenti berfungsi dan tidak lagi digunakan hingga sekarang.
#Warga Menilai Identitas Maritim Kian Terabaikan
Kondisi jembatan saat ini memunculkan keprihatinan sejumlah warga yang tinggal di sekitar kawasan Perak Barat. Mereka menilai bangunan tersebut bukan sekadar infrastruktur lama, melainkan bagian dari sejarah perkembangan Surabaya sebagai kota pelabuhan.
Kusnan (62), warga Perak Barat dan mantan pelaut tradisional, mengingat Jembatan Petekan sebagai salah satu ikon kawasan utara Surabaya. Menurutnya, keberadaan jembatan yang dapat membuka dan menutup secara otomatis pernah menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
“Waktu saya kecil dulu, Jembatan Petekan ini ikon kejayaan daerah sini. Orang-orang bangga kalau cerita punya jembatan yang bisa membuka-tutup otomatis kayak di luar negeri,” katanya.
Menurut Kusnan, kondisi saat ini berbeda jauh dibanding masa lalu. Banyak generasi muda yang melintasi kawasan tersebut tanpa mengetahui sejarah maupun fungsi teknologi yang pernah dimiliki jembatan itu.

Ia menilai minimnya perhatian terhadap situs tersebut menunjukkan berkurangnya kesadaran akan pentingnya sejarah maritim Surabaya. Padahal, menurutnya, sungai dan pelabuhan merupakan fondasi utama pertumbuhan kota sejak masa lampau.
Kekhawatiran juga muncul terkait kemungkinan hilangnya pengetahuan sejarah bagi generasi mendatang. Tanpa upaya pelestarian yang memadai, nilai edukatif yang terkandung dalam bangunan itu dikhawatirkan semakin sulit dipahami masyarakat.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Kalau cuma dibiarkan berkarat begini tanpa pernah diperbaiki atau dimanfaatkan sebagai ruang edukasi, anak-anak nanti tidak akan tahu kalau Surabaya pernah punya teknologi seperti ini,” ujarnya.
#Terhimpit Aktivitas Industri dan Logistik
Di sisi lain, kawasan sekitar Jembatan Petekan kini berkembang sebagai pusat aktivitas industri, pergudangan, dan logistik. Arus kendaraan berat yang keluar masuk pelabuhan menjadi pemandangan sehari-hari di wilayah tersebut.
Bagi sebagian pekerja yang menggantungkan hidup pada sektor logistik, keberadaan jembatan tidak lagi memiliki fungsi langsung dalam aktivitas mereka. Fokus utama lebih tertuju pada kelancaran distribusi barang dan efisiensi perjalanan.
Slamet Riyadi (41), sopir truk kontainer yang rutin melintasi kawasan pelabuhan, mengaku jarang memikirkan aspek sejarah Jembatan Petekan saat bekerja.
“Setiap hari saya lewat bawah jembatan ini bawa truk logistik dari Tanjung Perak. Fokus utama kami bagaimana barang cepat sampai tujuan tanpa terjebak macet,” katanya.
Menurut Slamet, kondisi fisik jembatan yang tidak terawat serta minimnya informasi publik membuat banyak orang menganggapnya hanya sebagai bangunan tua yang berada di tepi jalan.
Pengamat pelestarian kawasan bersejarah kerap menilai kondisi semacam ini terjadi ketika ruang industri tumbuh lebih cepat dibanding upaya konservasi. Akibatnya, bangunan bersejarah kehilangan keterhubungan dengan masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Jembatan Petekan saat ini masih berdiri sebagai salah satu penanda penting sejarah transportasi Surabaya. Meski tidak lagi menjalankan fungsi awalnya, keberadaannya menyimpan catatan tentang masa ketika sungai menjadi urat nadi perdagangan kota.
Pertanyaan yang tersisa adalah sejauh mana warisan tersebut akan dipertahankan. Di tengah laju pembangunan dan ekspansi industri, masa depan Jembatan Petekan akan menjadi salah satu indikator bagaimana Surabaya menempatkan sejarah maritimnya dalam agenda pembangunan kota.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.