Lewati ke konten

Tiga Titik, Tiga Cerita dari Kali Surabaya

| 5 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Fio Atmadja

Monitoring di tiga outlet Kali Surabaya menemukan perbedaan warna air, aroma, dan kondisi bantaran yang mencerminkan beragam aktivitas sekitar.

Jika sungai dapat menyampaikan apa yang dialaminya setiap hari, mungkin kisahnya tidak hanya tentang air yang mengalir. Monitoring yang saya lakukan di tiga outlet kawasan Driyorejo dan Sumengko, Kabupaten Gresik, menunjukkan bahwa setiap titik memiliki karakteristik yang berbeda.

Hari itu, Kamis, 25 Juni 2026, saya mengamati warna air, aroma yang tercium, kondisi bantaran sungai, hingga aktivitas yang berlangsung di sekitarnya. Pengamatan tersebut memberi saya pemahaman awal bahwa kondisi sungai tidak bisa dinilai hanya dari satu lokasi.

“Setiap titik memiliki karakteristik berbeda sehingga harus dilihat secara menyeluruh. Jika hanya mengamati satu titik, saya rasa sulit mendapatkan gambaran yang utuh mengenai kondisi sungai,” demikian kesimpulan yang muncul dalam benak saya saat melakukan observasi di Kali Surabaya.

#Menyusuri Sungai, Melihat Kondisi dari Dekat

Sebagai mahasiswa yang sedang menjalani Studi Independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), saya merasa perlu melihat langsung kondisi sungai. Saya tidak ingin hanya mengetahui Kali Surabaya dari berita, laporan penelitian, atau cerita teman-teman yang lebih dahulu melakukan pemantauan lapangan.

Pagi itu saya memulai perjalanan menuju outlet pertama, saluran pembuangan PT. Dayasa Aria Prima di Driyorejo. Dari tepi sungai saya melihat air mengalir cukup deras dengan warna cokelat susu yang mendominasi permukaan.

Awalnya saya berusaha fokus pada warna dan arus air. Namun tidak lama kemudian aroma yang cukup menyengat mulai tercium. Bau itu membuat saya beberapa kali menahan napas saat melakukan pengamatan.

Di sepanjang bantaran sungai, perhatian saya kemudian tertuju pada sejumlah sampah plastik yang tersangkut di antara rumput dan semak. Sebagian berupa bungkus makanan ringan dan kemasan minuman sekali pakai yang terbawa arus lalu tertahan oleh vegetasi di tepi sungai.

Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa persoalan sungai tidak hanya berkaitan dengan kualitas air. Perilaku manusia dalam mengelola sampah juga meninggalkan jejak yang nyata di sepanjang aliran sungai.

#Dari Bantaran Hijau hingga Air yang Mengilap

Perjalanan berlanjut menuju outlet kedua, yaitu saluran pembuangan PT. Adiprima Suraprinta di Jalan Raya Wringinanom, Sumengko, Kecamatan Wringinanom. Secara visual, kondisi air di lokasi ini tidak jauh berbeda dengan titik sebelumnya.

Air tampak berwarna cokelat susu dan mengalir cukup deras. Daun-daun kering, ranting, serta enceng gondok terlihat mengikuti arus menuju hilir.

Meski demikian, suasana bantaran sungainya memberikan kesan yang berbeda. Vegetasi tumbuh relatif rapat dengan dominasi pohon pisang, semak belukar, dan tumbuhan liar lainnya.

Koridor hijau itu membentang di sepanjang tepian sungai. Bagi saya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian fungsi alami bantaran sungai masih bertahan sebagai ruang penyangga bagi ekosistem perairan.

Pepohonan dan tumbuhan liar tidak hanya memperkuat tepi sungai dari risiko erosi, tetapi juga menyediakan habitat bagi berbagai organisme yang bergantung pada lingkungan perairan.

Karakter yang paling berbeda saya temukan di outlet ketiga, yakni saluran pembuangan PT. Daesang Ingredients Indonesia di Driyorejo. Dari kejauhan, warna air terlihat lebih pucat dibandingkan dua lokasi sebelumnya.

Kondisi Kali Surabaya di salah satu titik pemantauan kawasan Driyorejo, Gresik. Warna air, vegetasi bantaran, dan aktivitas di sekitarnya menjadi bagian penting dalam memahami kesehatan sungai secara menyeluruh. | Foto: Nadhira Alifia Nuranisya

Permukaan air tampak mengilap dan menyerupai lapisan tipis minyak. Di sekitar lokasi juga tercium aroma yang mengingatkan saya pada campuran bau amis dan besi berkarat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ketika melakukan observasi dari jarak dekat, percikan air sempat mengenai kaki saya. Setelahnya muncul sensasi licin pada kulit yang bertahan beberapa saat. Aroma yang berasal dari air itu juga masih terasa meski saya telah menjauh dari lokasi pengamatan.

Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami keterbatasan pengamatan visual. Apa yang terlihat, tercium, dan terasa hanya memberikan petunjuk awal mengenai kondisi sungai.

Saya tidak bisa menyimpulkan penyebab dari karakteristik air tersebut hanya berdasarkan pengamatan lapangan. Analisis laboratorium tetap diperlukan untuk mengetahui kandungan air dan memastikan kondisi sebenarnya secara ilmiah.

#Sampah, Ikan, dan Pelajaran di Tepi Sungai

Selain mengamati kondisi air, perjalanan menuju lokasi monitoring juga memperlihatkan persoalan lain yang tidak kalah penting. Di beberapa titik saya menemukan area yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah tanpa pengelolaan yang memadai.

Tumpukan sampah terlihat tidak jauh dari aliran sungai. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas lingkungan sekaligus menambah tekanan terhadap ekosistem perairan.

Melihat kondisi itu secara langsung membuat saya berpikir bahwa sungai sesungguhnya merekam berbagai aktivitas yang berlangsung di sekitarnya. Mulai dari kegiatan industri, aktivitas permukiman, hingga kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.

Namun saya menyadari bahwa hubungan antara aktivitas tersebut dan kondisi sungai tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan pengamatan sesaat. Dugaan semacam itu tetap membutuhkan penelitian yang lebih mendalam agar dapat dibuktikan secara ilmiah.

Di sela monitoring, saya sempat berbincang dengan Agus, seorang warga yang sedang memancing di tepi sungai. Ia memiliki pandangan tersendiri mengenai kondisi sungai yang setiap hari ia datangi.

“Sungainya masih bagus ini, Mbak. Soalnya hasil tangkapan ikan di sini juga masih banyak,” katanya.

Pernyataan Agus menunjukkan bahwa masyarakat memiliki cara tersendiri dalam menilai kesehatan lingkungan. Bagi para pemancing, keberadaan ikan masih menjadi indikator penting bahwa sungai tetap mampu mendukung kehidupan.

Saya melihat pandangan warga sebagai bagian penting dari informasi lapangan. Namun pengalaman tersebut perlu dipadukan dengan hasil observasi dan pengujian ilmiah agar menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi Kali Surabaya.

Dari monitoring ini saya belajar bahwa sungai tidak pernah berdiri sendiri. Kondisinya selalu berkaitan dengan aktivitas yang terjadi di sekitarnya.

Karena itu, menjaga kualitas sungai bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga lingkungan. Kepedulian masyarakat, sekecil apa pun bentuknya, tetap memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sungai untuk masa depan.***

Naskah ini ditulis oleh Nadhira Alifia Nuranisya, mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Brawijaya (UB) yang sedang menjalani program Studi Independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *