- Penelitian di Indonesia menunjukkan pemulung mengumpulkan rata-rata 43,87 kilogram sampah per hari dan berkontribusi pada sekitar 12 persen daur ulang perkotaan.
- Di balik peran penting tersebut, pendapatan rata-rata pemulung hanya mencapai sekitar US$91,7 per bulan, dengan perempuan memperoleh penghasilan jauh lebih rendah.
- Studi biomonitoring di Gresik menemukan 23 bahan kimia berbahaya dalam darah dan urin seluruh perempuan pemilah sampah yang diteliti.
- BPA, ftalat, dan timbal terdeteksi pada pekerja yang setiap hari bersentuhan dengan sampah plastik tanpa perlindungan memadai.
- Peneliti menilai lemahnya tata kelola sampah membuat pekerja informal menjadi kelompok pertama yang menanggung dampak pencemaran plastik.
Di banyak kota Indonesia, pemulung menjadi bagian penting dari rantai pengelolaan sampah. Mereka mengumpulkan botol plastik, kardus, logam, dan berbagai material bernilai ekonomi yang terbuang dari rumah tangga maupun kawasan komersial.
Tanpa kehadiran mereka, sebagian besar material yang masih dapat dimanfaatkan kembali kemungkinan besar akan berakhir di tempat pemrosesan akhir. Namun peran tersebut sering kali berlangsung tanpa pengakuan yang memadai.
Penelitian berjudul Challenges Confronting Waste Pickers in Indonesia: An On-Field Analysis, yang diterbitkan pada 30 Agustus 2021, menggambarkan besarnya kontribusi sektor informal ini, terhadap pengelolaan sampah perkotaan. Studi itu dilakukan melalui survei dan observasi langsung terhadap 178 responden di lima kota Indonesia.
Sebanyak 79 persen responden merupakan pemulung individu. Sisanya terdiri atas pengumpul sampah skala kecil sebanyak 15 persen. Ada juga pengumpul sampah skala menengah sebanyak 6 persen.
Mayoritas responden merupakan laki-laki dengan proporsi mencapai 79 persen. Meski demikian, perempuan tetap menjadi bagian penting dalam aktivitas pengumpulan dan pemilahan sampah yang berlangsung setiap hari.
Penelitian yang dilakukan tiga peneli, Gabriel Andari Kristanto, Dini Kemala, dan Paras Ac Nandhita itu menemukan, setiap pemulung rata-rata mengumpulkan 43,87 kilogram sampah per hari. Jumlah itu menunjukkan besarnya volume material yang dialihkan dari aliran sampah menuju rantai daur ulang.
Material yang berhasil dikumpulkan kemudian dijual kepada pengepul atau industri daur ulang. Dari aktivitas tersebut, sektor informal berkontribusi pada tingkat daur ulang sekitar 12 persen.
Kemudian para peneliti itu menyimpulkan, sektor daur ulang informal memberikan kontribusi substansial, terhadap pengelolaan sampah perkotaan. Peran mereka membantu mengurangi beban pemerintah daerah dalam menangani timbulan sampah yang terus meningkat.
Hanya saja kontribusi mereka tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan dalam bekerja. Padahal pendapatan rata-rata pemulung tercatat hanya sekitar US$91,7 per bulan, atau sekitar Rp 1,5 juta perbulan.
Penelitian juga menemukan adanya kesenjangan pendapatan berdasarkan gender. Pemulung laki-laki memperoleh rata-rata US$128,3 per bulan, sedangkan perempuan hanya sekitar US$69,7 per bulan. Perbandingannya, sekitar Rp2,09 juta per bulan bagi pemulung laki-laki, dan Rp1,14 juta per bulan bagi pemulung perempuan.
Perbedaan itu terjadi meskipun jam kerja keduanya relatif sama. Laki-laki bekerja rata-rata 7,8 jam per hari, sementara perempuan bekerja sekitar 7,6 jam per hari.
Faktor ekonomi menjadi alasan utama masyarakat memasuki pekerjaan ini. Banyak responden mengaku berpindah ke kota besar bersama keluarga demi memperoleh penghasilan yang dapat menopang kebutuhan hidup.
Bagi sebagian keluarga, pekerjaan sebagai pemulung menjadi pilihan yang tersedia ketika akses terhadap pekerjaan formal sangat terbatas. Namun pekerjaan ini juga menghadirkan risiko yang jarang terlihat dalam statistik ekonomi.
#Ketika Sampah Plastik Menjadi Ancaman Kesehatan Pekerja
Risiko yang dialami pemulung, tidak hanya berupa ketidakpastian pendapatan. Paparan berbagai bahan berbahaya pun menjadi perhatian serius para peneliti kesehatan lingkungan. Sebagaimana diketahui, sampah plastik tak lepas dari kandungan yang membahayakan tubuh.
Indonesia sendiri, saat ini menghadapi persoalan besar terkait sampah plastic ini. Berbagai telah kajian menunjukkan, plastik menyumbang sekitar 12 hingga 17 persen dari total sampah nasional.
Sebagian besar sampah plastik belum dikelola secara memadai. Lebih dari 40 persen masih berakhir di lingkungan, dibakar secara terbuka, atau terbawa aliran sungai menuju laut.
Situasi itu tentu menciptakan risiko bagi masyarakat secara umum. Namun kelompok yang menghadapi paparan paling intens adalah mereka yang setiap hari mengumpulkan dan memilah sampah plastik.
Penelitian biomonitoring yang dilakukan oleh Work Environment and Occupational Health (WIOEH) Korea Selatan, Ecological Conservatioan and Wetlands Observatioan (ECOTON), dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga belum lama ini, memberikan gambaran mengenai risiko sampah plastik. Penelitian yang dilakukan terhadap 32 perempuan di Gresik, Jawa Timur, menunjukkan hasil temuan cukup mengkhawatirkan.
Para peserta menjalani pemeriksaan darah dan urin, guna mengidentifikasi keberadaan bahan kimia yang berkaitan dengan paparan plastik.
Sebanyak 23 bahan kimia berbahaya ditemukan pada seluruh peserta penelitian. Kadarnya tercatat lebih tinggi pada kelompok pekerja pemilah sampah dibanding kelompok pembanding.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Ini tidak bisa dianggap sepele,” kata Dr. Won Kim, peneliti utama waktu itu dari WIOEH, 23 November 2025.
Di antara senyawa yang ditemukan, BPA dan ftalat menjadi perhatian utama. Kedua bahan kimia tersebut banyak digunakan dalam berbagai produk plastik yang beredar sehari-hari.
BPA dan ftalat dikenal sebagai senyawa pengganggu hormon. Berbagai penelitian mengaitkannya dengan gangguan metabolisme, kesehatan reproduksi, serta perkembangan janin.
Paparan berulang dalam jangka panjang dapat memengaruhi sistem biologis tubuh. Risiko tersebut menjadi lebih besar ketika seseorang terpapar setiap hari melalui pekerjaan.
Temuan lain yang mencemaskan adalah keberadaan timbal atau Pb pada seluruh peserta penelitian. Kadar timbal yang ditemukan dilaporkan lebih tinggi dibandingkan populasi umum di sejumlah negara maju.
Timbal merupakan logam berat yang telah lama diketahui berdampak buruk terhadap kesehatan manusia. Paparan kronis dapat mengganggu perkembangan otak, menurunkan kemampuan kognitif, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
“Paparan seperti ini tidak boleh dinormalisasi. Ini menyangkut kesehatan perempuan dan masa depan keluarga mereka,” ujar Dr. Lestari Sudaryanti dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Para peneliti menduga paparan berasal dari berbagai sumber. Debu mikroplastik yang terhirup, asap pembakaran sampah, dan kontak langsung dengan plastik terkontaminasi menjadi jalur utama masuknya bahan berbahaya ke dalam tubuh.
#Tata Kelola Sampah yang Belum Melindungi Pekerja Informal
Temuan ini memperlihatkan jika persoalan sampah plastik tidak hanya berkaitan dengan pencemaran lingkungan. Dampaknya juga masuk ke dalam tubuh manusia, terutama kelompok yang berada di garis depan pengelolaan sampah.
Pekerja pemilah sampah sering bekerja dalam kondisi yang jauh dari standar keselamatan kerja. Penggunaan alat pelindung diri masih terbatas dan tidak selalu tersedia.
Banyak pekerja harus memilah sampah dengan perlengkapan sederhana. Sebagian bahkan bekerja tanpa sarung tangan, masker, atau perlindungan yang memadai terhadap debu dan bahan berbahaya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa biaya pengelolaan sampah tidak sepenuhnya tercermin dalam sistem ekonomi formal. Sebagian risiko justru dipindahkan kepada pekerja yang berada di lapisan paling bawah rantai daur ulang.
Penelitian di Indonesia menyimpulkan bahwa integrasi sektor daur ulang informal ke dalam sistem pengelolaan sampah resmi perlu segera dilakukan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pembentukan asosiasi pemulung, dukungan investasi, dan penguatan regulasi.
Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan posisi tawar pekerja sekaligus memperbaiki perlindungan sosial dan keselamatan kerja. Di sisi lain, pemerintah daerah juga dapat memperoleh manfaat melalui peningkatan efisiensi pengelolaan sampah.
Peneliti menilai bahwa pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Sistem tersebut juga harus memastikan bahwa pekerja yang menjalankannya memperoleh perlindungan yang layak.
Temuan biomonitoring di Gresik memperlihatkan konsekuensi ketika perlindungan tersebut tidak tersedia. Paparan bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam tubuh pekerja menjadi indikator bahwa persoalan lingkungan dan kesehatan telah saling terhubung.
“Kalau urin para pekerja sudah penuh senyawa berbahaya, itu artinya ada masalah besar dalam tata kelola sampah kita,” ujar Dr. Daru Setyorini dari ECOTON.
Pernyataan itu menggambarkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar pengelolaan sampah plastik. Di balik angka daur ulang dan berkurangnya timbulan sampah, terdapat ribuan pekerja informal yang setiap hari menanggung risiko kesehatan agar sistem tersebut tetap berjalan.
Mereka membantu menjaga material bernilai ekonomi tetap berada dalam siklus daur ulang. Namun hingga kini, perlindungan terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.***