- Mikroplastik ditemukan di seluruh titik pengamatan Kali Tebu hingga kawasan hilir Tambak Wedi.
- Konsentrasi tertinggi mencapai 123 partikel, menunjukkan akumulasi pencemaran menuju muara laut.
- Kadar oksigen terlarut di beberapa lokasi turun di bawah 2 mg/L.
- Penelitian terbaru memperlihatkan ancaman pencemaran sungai kini meluas hingga rantai makanan laut.
Ketika para ilmuwan di California berhasil mendeteksi mikroplastik berukuran hanya 20 mikron atau sekitar seperempat lebar rambut manusia di perairan Teluk San Francisco, penelitian yang dilakukan di Surabaya menunjukkan persoalan yang tak kalah mengkhawatirkan. Kali Tebu, sungai yang mengalir dari kawasan pusat kota menuju pesisir Surabaya Utara, kini menjadi jalur akumulasi mikroplastik yang berpotensi mengalir hingga ke laut.
Berbagai penelitian yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan pencemaran di Kali Tebu, tidak hanya berasal dari limbah domestik dan aktivitas industri. Partikel plastik berukuran sangat kecil telah ditemukan di air, udara, dan sedimen lingkungan sekitar sungai.
Temuan di sungai yang memiliki panjang 4,46 kilometer itu, persoalan sampah plastik tidak berhenti ketika sampah menghilang dari pandangan manusia. Di dalam sungai, plastik yang terfragmentasi terus bergerak, mengikuti aliran air menuju wilayah hilir dan akhirnya bermuara ke Selat Madura.
Penelitian Muhammad Rofi’ul Ihsan melalui program studi independen di Ecological Conservation and Wetlandas Observatioan (Ecoton), menjadi salah satu gambaran paling jelas tentang kondisi sungai.
Hasil penelitiannya, Rofi’ul menemukan keberadaan mikroplastik di seluruh stasiun pengamatan yang berada di sepanjang Kali Tebu.

#Mikroplastik Meningkat Drastis Menuju Hilir
Penelitian yang dilakukan di lima stasiun itu, mewakili kondisi sungai dari bagian hulu hingga hilir. Jumlah partikel mikroplastik saat itu, ditemukan menunjukkan pola peningkatan yang cukup mencolok.
Pada Stasiun 1, misalnya, ditemukan 40 partikel mikroplastik. Jumlahnya meningkat menjadi 52 partikel di Stasiun 2. Begitu juga selanjutnya, pada Stasiun 3, jumlahnya melonjak menjadi 107 partikel. Meski di stasiun 4 hanya mencatat 88 partikel.
Tetapi ditemukan dengan jumlah lagi, yaitu Stasiun 5. Dengan 123 partikel mikroplastik di kawasan Tambak Wedi.
Daru temuan itu memperlihatkan, jika telah terjadi kecenderungan akumulasi pencemaran menuju bagian hilir sungai. Kecenderaungannya, semakin dekat dengan muara, semakin besar jumlah partikel plastik yang ditemukan.
Fenomena ini menunjukkan, jika Kali Tebu tidak hanya menerima pencemar dari satu lokasi tertentu saja. Tetapi sungai itu sudah menjadi jalur pengangkutan berbagai jenis sampah plastik dari kawasan permukiman, perdagangan, dan aktivitas ekonomi di sepanjang alirannya.
Hal ini dibuktikan dengan temuan fragmen plastik di setiap seluruh lokasi penelitian. Jenis film dan foam, terutama. Menunjukkan peningkatan cukup signifikan di kawasan hilir. Karena memiliki aktivitas manusia lebih tinggi.
Partikel berbentuk pellet juga ditemukan. Meski dalam jumlah lebih kecil. Saat itu Rofi’ul menduga pellet tersebut berkaitan dengan aktivitas industri plastik yang berada di sekitar daerah aliran sungai.
Temuan itu memperlihatkan, sumber pencemaran Kali Tebu tidak berasal dari satu sektor saja. Tetapi dari rumah tangga, kawasan perdagangan, aktivitas industri, hingga sistem drainase perkotaan. Hal ini sangat berpotensi menjadi penyumbang mikroplastik ke dalam badan sungai.

#Temuan Surabaya Mengulang Pola yang Terjadi di Dunia
Apa yang terjadi di Kali Tebu, memiliki kemiripan dengan hasil penelitian internasional yang dipublikasikan oleh San Francisco Estuary Institute (SFEI) pada 18 Juni 2026.
Penelitian yang berhasil mendeteksi mikroplastik berukuran 20 mikron atau 0,02 milimeter itu, sepuluh kali lebih kecil, jika dibanding batas deteksi yang sebelumnya digunakan dalam berbagai studi.
Ilmuwan utama SFEI, Diana Lin, menyebut mikroplastik berasal dari berbagai sumber yang sering kali tidak disadari masyarakat.
Partikel tersebut, kata Diana Lin, dapat berasal dari keausan ban kendaraan, serat pakaian sintetis, debu rumah tangga, makanan, hingga berbagai produk plastik yang terurai.
Penelitian SFEI juga menemukan impasan air hujan perkotaan yang mengandung mikroplastik ratusan kali lebih tinggi dibandingkan air limbah.
Ketika hujan turun, partikel-partikel masuk ke saluran drainase dan akhirnya menuju badan air.
#Pola serupa dapat ditemukan di Surabaya.
Kali Tebu merupakan sungai perkotaan, melintasi kawasan padat penduduk di Kota Surabaya. Hulu sungai ini terhubung dengan Sungai Mas dari Kayun membentang ke kawasan utara Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rangkah hingga bagian paling utara Kota Surabaya, tepatnya di Kelurahan Tambak Wedi. Kelurahan yang berbatasan kawasan pesisir.
Secara geografis, aliran sungai membelah sejumlah wilayah permukiman. Pada bagian selatan, sisi barat sungai berada di wilayah Kecamatan Simokerto, sedangkan sisi timur masuk Kecamatan Tambaksari.
Selanjutnya sebagian besar bentang Kali Tebu, mengalir melalui wilayah Kecamatan Kenjeran sebelum bermuara ke laut.
Beragam beban pencemaran masuk melalui saluran-saluran sekunder. Kemudian terbawa mengikuti arus sungai menuju hilir.
Melihat kondisi ini bisa dikatakan Kali Tebu merupakan jalur transportasi berbagai polutan, limbah domestik, nutrien, logam berat, dan mikroplastik, pada akhirnya bermuara ke kawasan pesisir Surabaya Utara dan perairan Selat Madura.
Perbedaannya, penelitian di San Francisco telah mampu mengukur partikel yang jauh lebih kecil dibanding penelitian di Surabaya ini. Bisa jadi karena para peneliti masih fokus mikroplastik ukuran lebih besar dengan pengamatan metode laboratorium sederhana.
Karena itulah, jumlah mikroplastik yang ditemukan di Kali Tebu ini, kemungkinan belum menggambarkan keseluruhan partikel yang sebenarnya terdapat di dalam air.

#Oksigen Air Terus Menurun
Selain menghitung mikroplastik, penelitian Muhammad Rofi’ul Ihlasan juga mengukur sejumlah parameter kualitas air. Hasil pengukuran menunjukkan suhu air masih berada dalam kisaran normal.
Nilainya berkisar antara 30,9 hingga 32,2 derajat Celsius. Parameter pH juga tergolong netral dengan rentang 7,04 hingga 7,19.
Namun gambaran berbeda terlihat pada kadar dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut. Di beberapa titik pengamatan, terutama wilayah hilir, nilai DO tercatat berada di bawah 2 mg/L.
Kondisi ini menunjukkan rendahnya kandungan oksigen yang tersedia bagi organisme perairan. Rendahnya kadar oksigen merupakan salah satu indikator utama pencemaran perairan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSemakin tinggi beban pencemar organik yang masuk ke sungai, semakin besar kebutuhan oksigen untuk proses penguraian. Akibatnya, organisme akuatik harus hidup dalam kondisi yang semakin sulit.
Penelitian juga menemukan nilai Total Dissolved Solids (TDS) meningkat menuju hilir. Nilai tertinggi mencapai 679 mg/L.
Tingginya TDS menunjukkan, banyaknya zat terlarut yang masuk ke badan air. Sumbernya dapat dipastikan berasal dari limbah rumah tangga, aktivitas perdagangan, industri, maupun berbagai sumber pencemar lainnya.
#Fosfat Tinggi dan Jejak Lama Pencemaran
Penelitian lain yang dilakukan mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya memperlihatkan gambaran yang tidak jauh berbeda.
Penelitian yang mengukur kadar fosfat dan klorin bebas itu, banyak ditemukan pada enam titik pengamatan di Kali Tebu. Seluruh titik menunjukkan konsentrasi fosfat yang melampaui baku mutu.
Nilai terendah ditemukan pada Titik 1 sebesar 4,2 mg/L. Sementara konsentrasi tertinggi tercatat pada Titik 3 dengan nilai 8,1 mg/L.
Angka tersebut jauh di atas batas yang direkomendasikan untuk menjaga kualitas perairan., berdasarkan PP No. 22 Tahun 2021.
Tingginya kadar fosfat biasanya berkaitan dengan limbah deterjen, limbah domestik, pupuk, maupun aktivitas industri.
Kelebihan fosfat dapat memicu eutrofikasi. Kondisi itu menyebabkan pertumbuhan alga berlebihan yang kemudian mempercepat penurunan oksigen di dalam air.
Berbeda dengan fosfat, parameter klorin bebas menunjukkan hasil yang rendah. Seluruh titik pengamatan mencatat nilai 0,00 mg/L. Artinya tidak ditemukan indikasi pencemaran klorin yang signifikan pada lokasi penelitian.
Meski demikian, rendahnya kadar klorin tidak mengubah gambaran umum mengenai kondisi Kali Tebu. Parameter lain tetap menunjukkan adanya tekanan pencemaran yang cukup tinggi.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya yang dilakukan pada 2018.
Pemantauan kualitas air di Rumah Pompa Tambak Wedi pada 2017 menunjukkan nilai Biological Oxygen Demand (BOD5) mencapai 25 mg/L. Angka ini lebih dari dua kali lipat baku mutu sungai kelas III yang ditetapkan sebesar 12 mg/L.
Chemical Oxygen Demand (COD) juga mencapai 123 mg/L. Nilai ini melampaui ambang baku mutu sebesar 100 mg/L. Sementara kadar dissolved oxygen hanya berkisar antara 2,4 hingga 2,6 mg/L.
Temuan ini menunjukkan bahwa yang terjadi, persoalan rendahnya oksigen terlarut sebenarnya telah berlangsung sejak lama.
Ketika penelitian terbaru menemukan DO, bahkan berada di bawah 2 mg/L pada beberapa titik, muncul pertanyaan mengenai efektivitas dan upaya pengendalian pencemaran yang selama ini dilakukan.

#Dari Sungai ke Laut
Kali Tebu bermuara ke kawasan pesisir Surabaya Utara. Artinya, seluruh pencemar yang terbawa aliran sungai memiliki peluang masuk ke ekosistem laut. Inilah yang membuat temuan mikroplastik menjadi penting.
Penelitian internasional menunjukkan, mikroplastik telah memasuki rantai makanan laut di berbagai wilayah dunia.
Tim peneliti Point Blue Conservation Science yang bekerja sama dengan NOAA, menemukan sekitar 69 persen ikan teri utara mengandung mikropartikel plastik.
Lebih dari 90 persen ikan rockfish muda yang diperiksa, juga menunjukkan hasil serupa. Partikel, bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Marine Pollution Bulletin pada 2020 menunjukkan mikroplastik dapat mengganggu pertumbuhan dan reproduksi krill serta organisme laut lainnya.
Begitu halnya, studi yang dilakukan University of New Hampshire pada 2024. Sutudi ini menemukan mikroplastik dapat menempel pada fitoplankton yang berperan penting dalam siklus karbon global. Akibatnya, kemampuan laut menyerap karbon dapat terganggu.
Temuan-temuan ini menandakan bahwa pencemaran mikroplastik bukan hanya persoalan estetika lingkungan semata. Karena dampak yang terjadi dapat menjangkau rantai makanan, kesehatan organisme laut, dan fungsi ekologis perairan.
Di Surabaya, berbagai data menunjukkan, Kali Tebu masih menjadi salah satu jalur utama masuknya pencemar ke kawasan pesisir.
Akumulasi mikroplastik yang meningkat menuju Tambak Wedi, memperlihatkan bagaimana sampah plastik dari kawasan perkotaan bergerak perlahan menuju laut.
Ketika penelitian di California mulai mampu mendeteksi partikel lebih kecil dari sehelai rambut manusia. Temuan di Kali Tebu menunjukkan bahwa sumber pencemaran itu, sudah berada di depan mata.
Mikroplastik ditemukan di air yang mengalir, di udara yang dihirup, dan di sepanjang jalur sungai yang menghubungkan kota dengan laut.
Data dari berbagai penelitian yang dilakukan dalam rentang hampir satu dekade ini. Telah memperlihatkan satu pola yang konsisten. Kali Tebu masih menghadapi tekanan pencemaran yang cukup serius. Mikroplastik menjadi lapisan persoalan baru yang melengkapi masalah lama yang terjadi. Limbah domestik, rendahnya kualitas air, dan tingginya beban pencemaran yang mengalir menuju pesisir Surabaya.***