- Penelitian menemukan 10 partikel mikroplastik per jam di udara Bulukumba, meningkat lima kali lipat dibandingkan 2025.
- Enam lokasi diuji, dengan kontaminasi tertinggi mencapai 15 partikel mikroplastik per jam di dua kawasan.
- Sebanyak 49 partikel mikroplastik ditemukan, terdiri dari 28 fragmen dan 21 fiber di enam lokasi.
- Tiga sungai utama Bulukumba dilaporkan darurat sampah plastik, mengancam kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
- Pengamatan selama 1 jam di enam lokasi mengungkap mikroplastik udara hingga 15 partikel per jam.
UDARA Kota Bulukumba, Sulawesi Selatan, tak lagi hanya menghadapi persoalan debu dan polusi kendaraan. Partikel mikroplastik kini ditemukan mengambang di udara dan jumlahnya meningkat tajam dibandingkan penelitian serupa pada September 2025.
Temuan itu diperoleh Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah atau ECOTON bersama aliansi komunitas Festival 3 Sungai Bulukumba melalui penelitian kontaminasi mikroplastik di udara pada 10–11 Agustus 2026.
Penelitian dilakukan di enam lokasi, yakni Jalan Panjaitan, Taman Kota Bulukumba, depan Kantor Bupati Bulukumba, depan Kantor DPRD Bulukumba, Pantai Merpati, serta Desa Kahayya sebagai lokasi kontrol.
Peneliti mikroplastik ECOTON, Sofi Azilan Aini, mengatakan rata-rata ditemukan sekitar 10 partikel mikroplastik dalam satu jam pengamatan. Angka tersebut meningkat sekitar lima kali lipat dibandingkan penelitian pada September 2025 yang menemukan rata-rata dua partikel per jam.
“Dari enam lokasi yang kami uji, kadar mikroplastiknya rata-rata 10 partikel mikroplastik dalam satu jam, sedangkan penelitian tahun 2025 hanya ditemukan dua partikel mikroplastik per jam,” ujar Sofi.
Kontaminasi tertinggi ditemukan di kawasan dengan aktivitas manusia yang relatif padat. Di depan Kantor Bupati Bulukumba dan kawasan Taman Kota, misalnya, jumlah mikroplastik mencapai 15 partikel per jam.
Juru Bicara Panitia Festival 3 Sungai, Aidil Faidzin, menjelaskan penelitian dilakukan menggunakan tisu basah yang ditempatkan dalam cawan petri selama satu jam untuk menangkap partikel yang jatuh dari udara.
“Untuk menangkap mikroplastik di udara, kami menggunakan tisu basah dalam cawan petri dan meletakkannya di enam lokasi selama satu jam, kemudian memeriksanya dengan mikroskop digital dengan pembesaran 1.000 kali,” kata Aidil.

#Fragmen Mendominasi
Hasil identifikasi menunjukkan fragmen menjadi jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan. Sebanyak 28 partikel fragmen ditemukan dari enam lokasi penelitian.
Jenis terbanyak kedua adalah fiber dengan 21 partikel.
Fragmen merupakan serpihan plastik yang dapat terbentuk dari degradasi berbagai material plastik di lingkungan. Di kawasan perkotaan, sumbernya juga dapat berkaitan dengan aktivitas transportasi, termasuk keausan material ban, serta pembakaran sampah plastik yang tidak sempurna.
Sementara itu, fiber banyak dikaitkan dengan serat tekstil sintetis. Serat polyester atau PET dapat terlepas dari pakaian, karpet, jok kendaraan, upholstery, maupun material sintetis lainnya akibat gesekan dan degradasi.
Di depan Kantor Bupati, jenis fragmen disebut banyak ditemukan di lokasi yang memiliki aktivitas manusia dan kendaraan tinggi. Di kawasan Taman Kota, peneliti menemukan mikroplastik jenis foam yang diduga berkaitan dengan material styrofoam.
Styrofoam yang digunakan sebagai wadah makanan dan kemasan dapat mengalami fragmentasi akibat paparan sinar matahari, abrasi, serta aktivitas manusia.
#Sungai Berubah Menjadi Tempat Sampah
Peningkatan mikroplastik di udara Bulukumba tidak dapat dilepaskan dari persoalan pengelolaan sampah di daratan.
Aktivis lingkungan Lingkar Observasi Pendidikan Lingkungan (LOPI) Bulukumba, Hermayanto, mengatakan masih banyak sampah plastik yang ditemukan tercecer di lingkungan.
“Dalam pantauan kami, sampah plastik seperti tas plastik, popok, sachet, styrofoam dan beragam sampah plastik sekali pakai dibuang sembarangan di dalam sungai, di tepi jalan, semak-semak, saluran air dan di tepi jalan,” ujar Hermayanto.
Menurut dia, keterbatasan sarana dan buruknya sistem pengelolaan sampah membuat sebagian masyarakat masih membuang sampah ke ruang terbuka, termasuk badan sungai.

Temuan lapangan tersebut diperkuat investigasi tim ECOTON bersama aktivis lingkungan pendukung Festival 3 Sungai. Tiga sungai utama Bulukumba—Sungai Bialo, Sungai Bijawang dan Sungai Balantieng—disebut berada dalam kondisi darurat sampah plastik.
Peneliti ECOTON, Amirudin Muttaqin, menilai sungai semestinya menjadi sumber kehidupan masyarakat, bukan tempat pembuangan sampah.
“Sungai-sungai di Bulukumba harusnya menjadi sumber kehidupan, bukan tempat sampah,” ujar Amirudin.
Menurut dia, sampah plastik yang dibuang ke lingkungan akan terpapar sinar matahari, mengalami pelapukan dan fragmentasi. Material tersebut kemudian dapat berubah menjadi partikel yang lebih kecil, termasuk mikroplastik.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Ditambah lagi kegiatan pembakaran sampah plastik semakin membuat udara Bulukumba tercemar mikroplastik,” katanya.
Amirudin, yang merupakan alumni Wageningen University, Belanda, juga menjelaskan pembakaran plastik secara tidak sempurna dapat menghasilkan residu dan partikel berukuran sangat kecil yang berpotensi tersebar ke lingkungan.

Cawan petri diletakkan di depan Kantor DPRD Bulukumba untuk menangkap partikel mikroplastik di udara dan ditemukan tiga partikel fiber. | Dok. ECOTON
#Dari Ban hingga Pembakaran Sampah
Penelitian mikroplastik di udara menunjukkan kontaminasi di ruang terbuka dapat berasal dari berbagai sumber.
Pertama, aktivitas transportasi, terutama gesekan material karet ban dengan permukaan jalan. Kedua, degradasi material plastik yang terpapar lingkungan. Ketiga, pembakaran sampah plastik. Sementara mikroplastik berbentuk fiber lebih sering dikaitkan dengan pelepasan serat dari tekstil sintetis.
Karena itu, persoalan mikroplastik di udara tidak cukup dilihat sebagai persoalan sampah plastik yang terlihat oleh mata. Sampah yang telah terfragmentasi menjadi partikel berukuran sangat kecil dapat berpindah melalui udara dan berpotensi terhirup manusia.
#Potensi Ancaman Kesehatan
Mikroplastik di udara juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan. Partikel yang terhirup dapat berinteraksi dengan epitel saluran pernapasan dan berpotensi memicu respons inflamasi atau peradangan.
Sofi menjelaskan paparan partikel mikroplastik perlu diwaspadai karena dapat berkaitan dengan respons imun dan stres oksidatif pada tubuh.
“Partikel mikroplastik dapat berinteraksi dengan epitel saluran napas dan memicu respons inflamasi atau peradangan, berakibat iritasi ringan dan reaksi imun, menyebabkan stres oksidatif yang bisa memicu kematian sel dan tidak berfungsinya imun tubuh,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kemungkinan interaksi mikroplastik dengan sistem hormonal. Menurut Sofi, gangguan pada sistem hormonal perlu mendapat perhatian karena hormon memiliki peran penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh.
“Pada kasus tertentu, masuknya mikroplastik ke dalam tubuh dapat memengaruhi hormon, padahal tubuh manusia dikendalikan oleh hormon,” katanya.
Ia menyebut gangguan hormonal dapat berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan, antara lain diabetes mellitus, gangguan menstruasi serta gangguan kesuburan pada laki-laki maupun perempuan.
Namun, temuan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks ilmiah bahwa dampak kesehatan mikroplastik pada manusia masih terus diteliti. Bukti mengenai mekanisme biologis dan besarnya risiko pada tingkat paparan lingkungan masih berkembang.
#Pengelolaan Sampah Harus Dibenahi
Aliansi Festival 3 Sungai merekomendasikan sejumlah langkah untuk menekan sumber mikroplastik di Bulukumba.
Pertama, pemerintah perlu memperbanyak dan memperbaiki sarana pengelolaan sampah agar masyarakat memiliki akses membuang sampah secara layak dan tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan.
Kedua, penegakan hukum terhadap pembakaran sampah plastik perlu diperkuat. Aktivitas pembakaran sampah secara terbuka memiliki dampak terhadap kualitas udara dan telah diatur dalam kerangka pengelolaan sampah nasional.
Ketiga, pemerintah daerah perlu menyusun kebijakan yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai sekaligus mendorong penggunaan bahan yang dapat digunakan kembali.
Keempat, pemantauan mikroplastik di udara perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui perkembangan kontaminasi dan menentukan sumber pencemar yang paling dominan.
Temuan peningkatan mikroplastik di udara Bulukumba menjadi alarm bahwa persoalan sampah tidak berhenti ketika sampah hilang dari pandangan. Plastik yang dibuang ke sungai, semak atau dibakar di ruang terbuka dapat berubah bentuk dan berpindah ke media lingkungan lain.
Di tengah ancaman perubahan pola iklim dan potensi datangnya El Nino, kualitas lingkungan perkotaan menjadi persoalan yang semakin penting. Bagi Bulukumba, udara yang dihirup warga kini membawa persoalan baru: jejak plastik yang tak kasatmata.***