Lewati ke konten

Jenggala Gelar Eco-Cinema di Probolinggo, Bahas Jejak Fast Fashion dan Mikroplastik di Sungai Indonesia

| 5 menit baca |Mikroplastik | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi

Diskusi lingkungan di Probolinggo mengungkap hubungan konsumsi pakaian sintetis, pencemaran mikroplastik, serta tantangan pengelolaan sampah nasional.

Hampir seluruh sungai Indonesia kini tercemar mikroplastik. Temuan tersebut mengemuka dalam Eco-Cinema dan Talkshow Ekologi yang diselenggarakan Jejaring Jaga Alam (Jenggala) di Kabupaten Probolinggo, Sabtu, 20 Juni 2026.

Dalam forum tersebut, Manajer Kampanye dan Edukasi Ecological Conservation and Wetlands (Ecoton), Alaika Rahmatullah, memaparkan hasil Ekspedisi Sungai Nusantara 2022. Penelitian itu dilakukan di berbagai wilayah Indonesia.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa 98 persen sungai di Indonesia telah terkontaminasi mikroplastik,” kata Alaika dalam rilis yang diterima TitikTerang, Ahad, 21 Juni 2026.

Ia menyebut sebagian besar partikel yang ditemukan berupa fiber atau serat. Jenis ini mencapai 58 persen dari total mikroplastik yang teridentifikasi.

Temuan tersebut mengarahkan perhatian pada sumber pencemaran yang selama ini kurang dibahas. Salah satunya berasal dari industri tekstil dan pola konsumsi masyarakat terhadap pakaian berbahan sintetis.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 70 peserta itu juga menghadirkan perwakilan pemerintah daerah dan sektor industri. Diskusi berlangsung setelah pemutaran film dokumenter Menolak Punah karya jurnalis Dandhy Laksono dan Aji Yahuti.

Film tersebut membahas dampak lingkungan dari industri fast fashion. Fokus utamanya mencakup peningkatan sampah tekstil dan pencemaran mikroplastik.

Narasumber dari Ecoton, Alaika Rahmatullah, memaparkan materi dalam Eco-Cinema dan Talkshow Ekologi di Probolinggo, Sabtu (20/6/2026). Paparan tersebut menyoroti hasil riset pencemaran mikroplastik di sungai Indonesia. | Foto: Jenggala

#Jejak Serat Sintetis di Aliran Sungai

Menurut Alaika, pakaian berbahan poliester, nilon, dan akrilik menjadi salah satu penyumbang mikroplastik. Serat halus dapat terlepas ketika pakaian dicuci.

Partikel tersebut kemudian masuk ke saluran air. Dari rumah tangga, aliran bergerak menuju sungai dan akhirnya bermuara ke laut.

Berbeda dengan sampah plastik berukuran besar, mikroplastik sulit terlihat. Namun keberadaannya semakin banyak ditemukan dalam penelitian lingkungan.

Fiber juga memiliki karakter yang sulit terurai. Serat sintetis dapat bertahan lama dalam ekosistem perairan.

Dominasi mikroplastik jenis fiber menunjukkan adanya hubungan antara pola konsumsi fesyen dan pencemaran sungai. Semakin tinggi penggunaan tekstil sintetis, semakin besar potensi pelepasan serat ke lingkungan.

Alaika menjelaskan bahwa persoalan tersebut tidak berhenti pada kualitas air. Mikroplastik kini ditemukan dalam berbagai komponen rantai makanan.

Partikel dapat dikonsumsi plankton. Organisme tersebut kemudian dimakan ikan dan biota lain.

Pada tahap berikutnya, mikroplastik berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui makanan. Jalur ini menjadi perhatian banyak peneliti di berbagai negara.

“Yang mengerikan mikroplastik saat ini juga ditemukan di tubuh manusia, bahkan masuk darah, dan otak,” ujarnya.

Meski dampak kesehatan masih terus diteliti, sejumlah penelitian menunjukkan adanya potensi risiko biologis. Karena itu, isu mikroplastik tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan lingkungan.

Pemutaran film dokumenter Menolak Punah karya jurnalis Dandhy Laksono dan Aji Yahuti dalam Eco-Cinema Jenggala di Probolinggo, Sabtu (20/6/2026), mengangkat isu lingkungan dan krisis mikroplastik. | Foto: Jenggala

#Regulasi Ada, Tantangan Tetap Besar

Sementara itu, Kepala Bidang Penataan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo, Yusdi Afandi dalm sesi berikutnya, mengatakan pemerintah telah memiliki instrumen pengurangan sampah.

Salah satunya melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019. Regulasi tersebut mengatur peta jalan pengurangan sampah oleh produsen.

Menurut Yusdi, produsen perlu bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Tanggung jawab itu mencakup produk maupun kemasannya.

Namun kebijakan tidak dapat berjalan sendiri. Pemerintah membutuhkan dukungan dunia usaha dan masyarakat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja,” kata Yusdi.

Ia menilai pengurangan sampah harus dilakukan sejak sumbernya. Pendekatan tersebut dianggap lebih efektif dibanding hanya berfokus pada pengelolaan akhir.

Dalam diskusi yang sama, Alaika juga mengingatkan persoalan lain. Indonesia masih menghadapi masuknya sampah impor.

Masuknya sampah dari luar negeri menambah beban sistem pengelolaan sampah nasional. Kondisi tersebut terjadi ketika berbagai daerah masih berupaya mengatasi timbulan sampah domestik.

Menurut Alaika, perubahan perilaku konsumsi menjadi bagian penting dari solusi. Masyarakat perlu mengurangi penggunaan barang sekali pakai.

Ia juga mengajak publik menggunakan barang lebih lama. Termasuk menghindari pembelian pakaian yang hanya didorong perubahan tren.

“Kita harus mulai mengurangi sampah sejak dari rumah,” ujarnya.

Peran gerakan komunitas menjadi penting dalam upaya pengurangan sampah dan edukasi lingkungan berbasis masyarakat di tengah meningkatnya ancaman mikroplastik. | Foto: Jenggela

#Peran Industri dan Gerakan Komunitas

Persoalan sampah dan mikroplastik tidak hanya berkaitan dengan konsumen. Sektor industri juga memiliki peran penting.

Manajer Key Account Ignatius Ian Avianto mengatakan pengawasan menjadi faktor yang menentukan. Kepatuhan perusahaan sangat bergantung pada mekanisme kontrol yang berjalan.

Menurutnya, perusahaan memiliki kemampuan mengatur perilaku internal. Langkah tersebut dapat diterapkan melalui kebijakan pengurangan dan pemilahan sampah.

“Kalau di industri, aspek pengawasan terhadap industri ini sangat penting,” kata Ian.

Ia menambahkan bahwa perusahaan juga memiliki tanggung jawab sosial. Program lingkungan perlu dijalankan secara berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, komunitas menjadi bagian penting. Mereka berfungsi membangun kesadaran publik sekaligus mendorong perubahan perilaku.

Jenggala menjadi salah satu kelompok yang aktif menjalankan kegiatan tersebut. Organisasi ini mengembangkan edukasi lingkungan berbasis masyarakat.

Selain diskusi publik, Jenggala mengembangkan pengelolaan sampah organik rumah tangga. Program itu dilakukan melalui budidaya maggot Black Soldier Fly atau BSF.

Metode tersebut digunakan untuk mengolah sisa makanan dan sampah organik. Tujuannya mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Pendekatan ini dinilai sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Sampah dipandang sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan.

Diskusi di Probolinggo memperlihatkan bahwa pencemaran mikroplastik tidak berdiri sendiri. Persoalan itu terkait dengan pola produksi, konsumsi, dan pengelolaan sampah.

Temuan tingginya kontaminasi mikroplastik di sungai Indonesia menunjukkan bahwa masalah tersebut telah memasuki fase yang luas. Karena itu, pengurangan sampah dari sumbernya menjadi langkah yang terus didorong oleh pemerintah, komunitas, dan pegiat lingkungan.

Di tengah meningkatnya konsumsi produk tekstil sintetis, sungai menjadi ruang yang merekam dampak aktivitas manusia. Dari sanalah muncul peringatan bahwa perubahan gaya hidup dan tata kelola sampah menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *