Lewati ke konten

Pengalaman Susur Kali Surabaya: Ternyata Air Baku Warga Kota Tak Aman

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 21 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Maya Anindya Maheswari Ladina Editor: Fio Atmadja
  • Penelitian di sembilan titik membuktikan kualitas air Kali Surabaya tidak lagi memenuhi baku mutu Kelas 1 untuk air baku.
  • Pengukuran menunjukkan kadar oksigen terlarut hanya 2–3 mg/L, jauh di bawah standar minimum yang ditetapkan pemerintah nasional.
  • Mikroplastik semakin banyak ditemukan di wilayah hilir akibat penumpukan sampah plastik sepanjang bantaran sungai hingga permukiman padat.
  • Peneliti menemukan dugaan pencemaran berasal dari limbah industri, limbah domestik, serta lemahnya penataan ruang di sempadan sungai.
  • Pengalaman menyusuri sungai mengubah cara pandang saya tentang air yang setiap hari mengalir ke rumah-rumah masyarakat Surabaya.

Rabu, 1 Juli 2026, menjadi pengalaman pertama saya menyusuri Kali Surabaya bersama teman-teman dari Universitas Brawijaya. Sejak pagi kami bergerak dari wilayah hulu di Mlirip, Mojokerto, sampai berakhir di Karang Pilang, Surabaya, untuk mengambil sampel air di sembilan titik pengamatan.

Sebelum mengikuti penelitian ini, saya menganggap sungai hanyalah aliran air yang melewati permukiman. Saya tidak pernah benar-benar memikirkan jika air yang mengalir di hadapan kami, setiap hari merupakan sumber utama air baku yang diolah untuk memenuhi kebutuhan warga Surabaya.

Pandangan itu seketika berubah, ketika pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menjelaskan jika Kali Surabaya memiliki peran penting sebagai pemasok air baku bagi layanan air baku di warga Surabaya. Penjelasan itu membuat saya mulai melihat, sungai bukan hanya sebagai bentang alam. Tapi bagian terpenting dari kehidupan manusia.

Namun, pertanyaan lain segera muncul. Bagaimana jika sumber air yang setiap hari dimanfaatkan masyarakat ternyata kualitasnya terus menurun?

#Temuan di Lokasi yang Sulit Diabaikan

Selama pengambilan sampel, kami mengukur sejumlah parameter kualitas air, mulai dari Electrical Conductivity (EC), Dissolved Oxygen (DO), pH, suhu, turbidity, hingga Total Dissolved Solids (TDS). Seluruh data kemudian kami padukan dengan analisis penginderaan jauh untuk memperoleh gambaran kondisi sungai.

Hasilnya, menunjukkan kondisi memprihatinkan. Kadar Dissolved Oxygen (DO) hanya berkisar 2–3 mg/L, sementara Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 menetapkan baku mutu minimal 6 mg/L untuk air Kelas 1.

Angka menggambarkan tingginya beban pencemaran yang diterima sungai. Semakin rendah kadar oksigen terlarut, semakin besar tekanan terhadap ekosistem perairan dan semakin berat pula proses pengolahan air baku.

Mahasiswa Universitas Brawijaya mengukur kualitas air Kali Surabaya di bantaran sungai sebagai bagian penelitian kondisi air baku. Foto: Dokumen Penelitian

Perubahan kondisi sungai juga terlihat secara nyata. Di wilayah hulu, air masih tampak relatif jernih, meski kami jumpai sampah organik. Ketika perjalanan berlanjut ke hilir, pemandangan berubah menjadi tumpukan sampah plastik yang memenuhi bantaran sungai.

Sampah plastik itulah yang berpotensi terurai menjadi mikroplastik. Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat terbawa arus dan menjadi salah satu ancaman bagi kualitas air baku.

#Menunggu Langkah Nyata Selamatkan Sungai

Dari hasil pengamatan di lokasi, kami mengidentifikasi tiga persoalan utama yang terus membebani Kali Surabaya. Dugaan pembuangan limbah industri tanpa pengolahan, limbah domestik yang langsung mengalir ke sungai, serta pelanggaran tata ruang menjadi faktor yang saling berkaitan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Prigi Arisandi mengingatkan bahwa persoalan tata ruang tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan. Menurutnya, “Pengelolaan tata ruang kota memberikan dampak besar pada lingkungan.”

Pengalaman menyusuri Kali Surabaya membuat saya memahami bahwa kualitas air tidak ditentukan satu faktor saja. Sungai merekam seluruh aktivitas manusia yang berlangsung dari hulu hingga hilir.

Karena itu, pemulihan Kali Surabaya memerlukan langkah yang lebih konkret. Penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan, penyediaan sistem pengelolaan limbah domestik, serta peningkatan kesadaran masyarakat perlu berjalan secara bersamaan.

Sehabis observasi. Saya membawa lebih dari data penelitian. Perjalanan itu meninggalkan satu kesadaran, jika kualitas air yang mengalir ke rumah-rumah warga, sangat tergantung pada bagaimana kita memperlakukan sungai hari ini.

Menyelamatkan Kali Surabaya bukan hanya tugas pemerintah atau pegiat lingkungan. Tetapi sudah merupkan tanggung jawab bersama, agar sumber air baku tetap layak dimanfaatkan generasi mendatang.***

Tentang Penulis: Maya Anindya Maheswari Ladina merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) selama periode 29 Juni – 8 Agustus 2026.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *