Lewati ke konten

Catatan dari Tepi Kali Surabaya

| 6 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Marcellina Santoso Editor: Supriyadi
  • Aku menyusuri Kali Surabaya untuk belajar. Yang kutemukan justru sungai yang perlahan kehilangan napas akibat pencemaran yang terus dibiarkan.
  • Air yang setiap hari diolah menjadi air minum ternyata mengalir melewati jejak limbah, sampah, dan mikroplastik yang mengkhawatirkan.
  • Di balik tenangnya aliran Kali Surabaya, tersimpan potret krisis yang tersembunyi, tetapi dampaknya mengancam kehidupan kita semua.

Aku punya cerita untuk kalian, tentang Kali Surabaya. Sungai yang menjadi kebutuhan primer warga itu, kini sedang menghadapi masa yang tidak mudah. Membentang dari Bendung Mlirip di Kabupaten Mojokerto sampai ke Kali Mas di Kota Surabaya, aliran airnya seolah menyimpan keluh yang jarang terdengar.

Ini bukan kisah tentang air yang mengalir menuju laut. Yang aku ceritakan ini adalah kisah tentang sungai yang perlahan kehilangan daya hidupnya. Apa yang akan kuceritakan bukan hasil imajinasi, melainkan pengalaman yang kusaksikan sendiri saat menyusuri Kali Surabaya pada Rabu, 1 Juli 2026.

Di sepanjang perjalanan itu, aku melihat sungai yang menjadi sumber air baku bagi warga Kota Surabaya terus menerima tekanan. Pencemaran tidak hanya berasal dari limbah domestik atau sampah rumah tangga yang hanyut mengikuti arus. Di sejumlah titik, aktivitas industri yang berdiri di sepanjang bantaran sungai juga menjadi bagian dari persoalan yang membayangi kualitas air.

Sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya, pemandangan itu menghadirkan kegelisahan. Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa sungai yang begitu penting bagi kehidupan masyarakat saat ini berada dalam kondisi mencemaskan.

Pertanyaan terus muncul di benakku: kepada siapa keresahan ini harus kusampaikan? Sebab, persoalan yang kulihat tampaknya bukan hal baru. Jejaknya telah berlangsung cukup lama, dan kemungkinan besar telah diketahui banyak pihak.

Berbagai penelitian telah berkali-kali mengingatkan kondisi Kali Surabaya. Salah satunya dilakukan ECOTON. Berulang-ulang lembaga lingkungan ini sudah mengingatkan temuannya ihwal pencemaran lewat berbagai penelitian yang sudah banyak dipublikasikan. Membacanya, bukan persoalan isu lingkungan semata, melainkan ancaman nyata terhadap sumber air yang setiap hari dimanfaatkan masyarakat.

Karena itu, bagiku menyusuri Kali Surabaya bukan hanya kegiatan pengambilan sampel, praktik lapangan yang harus aku penuhi. Perjalanan ini bagiku menjadi pengingat jika sungai tidak bisa berbicara membela dirinya sendiri. Kitalah yang harus bersuara, menyampaikan apa yang terjadi. Tentunya mendorong semua pihak agar upaya pemulihan tidak berhenti sebatas wacana.

Bagiku, jika sungai ini terus dibiarkan menanggung beban pencemaran, yang akan merasakan dampaknya bukan hanya ekosistem saja, tetapi juga manusia secara turun-temurun. Ini yang membuat berulang-ulang aku berpikir.

#Tamparan Data Ilmiah

Ternyata apa yang aku amati mengikuti susur sungai ini menjadi kebenaran. Harapan Kali Surabaya setidaknya harus memenuhi standar kualitas air Kelas 1, sebuah status yang menandakan air sungai aman. Tentunya layak digunakan sebagai bahan baku air minum, serta kebutuhan rumah tangga.

Namun kenyataannya sebaliknya. Ketika aku menjumpai hasil uji ukur lewat water quality terhadap sampel air yang kami kumpulkan. Sampel itu berkata, Kali Surabaya telah gagal memenuhi standar tersebut.

Itu bukti jika indikator yang aku bersama teman-teman temukan. Kadar Oksigen Terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) yang kami ukur di lokasi anjlok. Hanya bertengger di angka 2–3 mg/L.

Betapa buruknya angka ini. Jauh dari harapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yang tertulis jelas bahwa kadar DO minimal untuk air Kelas 1 adalah 6 mg/L.

Ketika angka oksigen merosot hingga setengah dari batas minimal. Itu adalah bukti ilmiah bahwa Kali Surabaya sedang kehabisan napas. Akibat dari beban pencemaran yang teramat berat.

Belajar langsung dari sungai, mahasiswa Universitas Brawijaya mengukur kualitas air untuk merekam kondisi nyata Kali Surabaya saat ini. | Dok Penelitian

#Potret Buruk Sepanjang Bantaran

Melihat kondisi air dari kejauhan, tidak akan pernah memberikan gambaran secara utuh, menurutku. Menjelajahi sembilan titik Kali Surabaya telah memperlihatkan kepadaku bagaimana Kali Surabaya dikepung dari berbagai sisi.

Dalam benakku berkata, bahwa sungai ini telah dipaksa menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah begitu saja. Menampung segala dosa aktivitas manusia di sekitarnya.

Di beberapa titik, mataku menangkap cerobong-cerobong pembuangan industri. Cukup besar ukurannya. Sekira 5–6 dim. Itu kira-kiraku saja. Entah yang lain. Yang jelas cerobong besar itu mengalirkan limbahnya langsung ke sungai, tanpa prosedur penyaringan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tidak jauh dari sana, pipa-pipa liar. Perkiraanku ukurannya lebih kecil, 2–4 dim. Menjulur dari permukiman warga. Pipa-pipa itu ikut pula menyumbang air limbah domestik, berbusa tanpa ada filter sama sekali.

Persoalan perilaku masyarakat juga meninggalkan jejak cukup jelas. Ketika kami mengobservasi wilayah Hulu 3, kami disuguhi pemandangan menyedihkan: tumpukan sampah rumah tangga dan popok bayi bekas yang mengapung bebas, hanyut mengikuti arus.

Bagi masyarakat awam, popok hanyalah sampah biasa yang akan hilang terbawa air. Namun bagi kami, itu adalah bom waktu. Sampah plastik dan popok yang terombang-ambing itu perlahan-lahan akan terfragmentasi menjadi partikel mikroplastik—sebuah ancaman tak mudah dilihat mata. Benda itu sangat berpotensi masuk ke dalam tubuh ikan, masuk ke dalam saluran PDAM, dan berakhir di meja makan kita sendiri.

Keadaan yang aku saksikan juga diperparah oleh hilangnya fungsi alami bantaran sungai. Aturan sempadan sungai, tampaknya hanya menjadi ungkapan papan di setiap tempat yang kujumpai. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air yang tertulis di papan, terpasang jelas di bantaran seolah macan ompong belaka.

Aku bersama teman-teman mencatat per titik. Terdapat 100-an lebih bangunan permanen maupun semipermanen. Berdiri dengan jarak yang sangat tidak ideal, bahkan hanya berjarak kurang lebih 5 meter dari bibir sungai. Begitu halnya intake dan cerobong limbah pabrik. Berada seolah tanpa dosa menggunakan bantaran sungai.

Sungai telah kehilangan ruang penyangganya, dan manusia kehilangan jarak aman dari potensi bencana. Begitulah, pikiranku hingga kini masih terngiang.

#Bukan Saling Tutup Mata

Kita sering kali menuntut air bersih saat akan mandi, minum maupun memasak. Namun di saat yang sama, kita kerap tutup mata terhadap apa yang kita buang ke dalam sumber air.

Menyelamatkan Kali Surabaya tidak bisa lagi dibebankan hanya pada satu pundak. Pemerintah harus berani mengambil tindakan tegas, tanpa pandang bulu terhadap industri nakal yang membuang limbahnya ke sungai.

Aturan tata ruang sempadan sungai secara konsisten harus ditegakkan. Namun, regulasi seketat apa pun akan lumpuh, jika kesadaran kolektif masyarakat tidak ikut bergerak. Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan sungai sebagai tempat sampah dan limbah.

Air adalah sumber kehidupan, dan bagaimana kita memperlakukan Kali Surabaya. Apa yang kami saksikan adalah cermin dari bagaimana kita menghargai masa depan kita sendiri.

Pemerintah dan masyarakat harus segera bersinergi, sebelum air yang kita minum sehari-hari benar-benar berubah menjadi racun. Terlambat untuk kita murnikan kembali, ancaman tak bisa terhindarkan.

Tentang Penulis: Marcellina Santoso merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) selama periode 29 Juni – 8 Agustus

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *