- Data 2025 menunjukkan hanya 21,8 persen dari 20 DAS prioritas memenuhi baku mutu, Telapak mengajak Gen Z memulihkan sungai Indonesia.
- Program BioGenZ DAS Sehat 2027–2028 menargetkan 4.000 Gen Z, 10 DAS, 400 laporan, dan 20 aksi restorasi berbasis bioindikator.
- Sebanyak 62,5 persen sungai tercemar ringan, Telapak mendorong Gen Z menjadi citizen science menjaga DAS melalui pemantauan bioindikator nasional.
Kondisi sungai di Indonesia masih menghadapi tekanan serius akibat pencemaran. Data pemantauan tahun 2025 menunjukkan hanya 21,8 persen sungai di 20 Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas yang memenuhi baku mutu air. Menjawab tantangan tersebut, lahir gagasan “BioGenZ DAS Sehat: Gen Z Jaga Detak Jantung Sungai Indonesia”, sebuah program dua tahun yang mengajak generasi muda menjadi citizen science untuk memantau kesehatan sungai melalui bioindikator.
Program yang dirancang berlangsung pada 2027–2028 ini menempatkan Gen Z sebagai aktor utama dalam pemantauan kualitas sungai, edukasi lingkungan, hingga mendorong aksi restorasi berbasis data. Pendekatan tersebut dinilai mampu mempercepat rehabilitasi DAS dengan biaya yang lebih efisien sekaligus memperluas partisipasi masyarakat.
Berdasarkan data pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025 pada hampir 2.000 titik pantau di 20 DAS prioritas, sebanyak 62,5 persen sungai berstatus tercemar ringan, 13,7 persen tercemar sedang, dan 2 persen tercemar berat. Hanya 21,8 persen yang memenuhi baku mutu air.
Meski Indeks Kualitas Air nasional mencapai 71,78 poin, masih terdapat ketimpangan kondisi sungai. Sebanyak 1.066 titik pemantauan mengalami perbaikan dibanding tahun sebelumnya, sementara 841 titik justru menunjukkan penurunan kualitas.
Pencemaran dipicu berbagai faktor, mulai dari erosi dan sedimentasi akibat lahan kritis di wilayah hulu, limbah rumah tangga, industri, perkebunan, hingga aktivitas pertambangan. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya banjir, menurunnya keanekaragaman hayati perairan, serta munculnya berbagai penyakit yang berkaitan dengan kualitas air.
#Bioindikator Jadi Kunci Pemantauan
Program BioGenZ DAS Sehat mengusung metode pemantauan menggunakan bioindikator, khususnya makroinvertebrata bentik seperti larva mayfly, stonefly, dan caddisfly.
Organisme tersebut dikenal sensitif terhadap perubahan kualitas lingkungan. Keberadaannya menunjukkan kondisi sungai yang masih baik, sedangkan dominasi organisme yang toleran terhadap pencemaran, seperti cacing air tertentu, menjadi indikator adanya tekanan kualitas air.
Metode bioindikator telah banyak diterapkan dalam berbagai penelitian di Indonesia, termasuk di DAS Citarum, Brantas, Bengawan Solo, dan sejumlah sungai lainnya. Berbeda dengan pengujian kimia yang hanya menggambarkan kondisi sesaat, bioindikator mampu mencerminkan kesehatan ekosistem sungai dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Melalui pendekatan ini, peserta akan melakukan pengambilan sampel sederhana, mengidentifikasi organisme menggunakan panduan visual maupun aplikasi digital, kemudian mengunggah hasil pengamatan ke dalam sistem basis data nasional.
#Libatkan 4.000 Gen Z
Selama dua tahun pelaksanaan, program menargetkan pelatihan sedikitnya 4.000 pelajar, mahasiswa, komunitas pemuda, dan pegiat lingkungan sebagai citizen science.
Selain itu, akan dibentuk tim pemantau aktif di sedikitnya 10 DAS prioritas, menghasilkan lebih dari 400 laporan bioindikator, serta mendorong 20 aksi restorasi dan advokasi berbasis hasil pemantauan lapangan.
Program juga menargetkan jangkauan kampanye digital mencapai 10 juta orang melalui media sosial, platform digital, dan kolaborasi dengan komunitas Gen Z.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelWilayah prioritas meliputi DAS Citarum, Brantas, Bengawan Solo, Musi, Kapuas, serta sejumlah DAS kritis lainnya di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
#Citizen Science untuk Pemulihan DAS
Pelaksanaan program dibagi menjadi dua tahap.
Tahun pertama difokuskan pada penyusunan standar nasional bioindikator, pengembangan platform digital, pelatihan master trainer, serta implementasi di lima DAS percontohan.
Sementara tahun kedua diarahkan pada perluasan wilayah pemantauan, pengembangan fitur digital, penyelenggaraan kompetisi nasional “BioDAS Gen Z Challenge”, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan berdasarkan hasil pemantauan selama dua tahun.
Program ini juga mengintegrasikan hasil monitoring dengan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan, penanaman vegetasi riparian, aksi bersih sungai, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan daerah.
Kolaborasi dirancang melibatkan kementerian terkait, pemerintah daerah, perguruan tinggi, sekolah, komunitas lingkungan, sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), serta organisasi masyarakat sipil.
#Jaga Sungai, Jaga Masa Depan
DAS tidak hanya membutuhkan investasi infrastruktur, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat, terutama generasi muda yang akrab dengan teknologi digital.
Melalui pendekatan citizen science, data kualitas sungai diharapkan dapat dikumpulkan secara berkelanjutan sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan dan aksi pemulihan di tingkat lokal.
Program BioGenZ DAS Sehat diharapkan menjadi model kolaborasi nasional yang mampu memperkuat rehabilitasi DAS sekaligus membangun budaya kepedulian terhadap sungai sejak usia muda.
“Sungai sehat berarti generasi yang sehat.” Dengan semangat tersebut, Gen Z didorong menjadi bagian dari gerakan menjaga sungai Indonesia agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat dan ekosistem di masa depan.***